NovelToon NovelToon
SENTUHAN SANG MAFIA

SENTUHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.

Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"

"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Suasana di lorong rumah sakit itu mendadak mendingin, lebih dingin dari hembusan pendingin ruangan yang menusuk kulit. Para dokter dan perawat masih sibuk di dalam kamar Nenek Zela, namun Darrel sudah menyeret pergelangan tanganku menjauh ke sudut koridor yang sepi.

Wajahnya merah padam. Urat-urat di lehernya menegang, tanda bahwa amarah yang ia tahan sejak di pemakaman tadi akhirnya mencapai titik didih.

"Apa yang kau pikirkan, Lily?!" bentaknya. Suaranya rendah namun menggelegar, membuat beberapa orang yang lewat menoleh ketakutan sebelum akhirnya Leo memberi isyarat agar mereka menjauh. "Aku membawamu ke sini untuk menjenguknya, bukan untuk membunuhnya dengan pertanyaan-pertanyaan bodohmu!"

"Aku hanya ingin tahu kebenaran, Darrel! Nenek bilang namaku Emily! Dia bilang kakakku tidak bersalah!" teriakku di sela tangis yang pecah.

Darrel mencengkeram kedua bahuku, mendorongku pelan hingga punggungku membentur dinding rumah sakit. Ia menatapku dengan tatapan yang sangat tajam, seolah ingin melubangi ingatanku.

"Dengarkan aku baik-baik," desisnya tepat di depan wajahku. "Nenekmu sudah tua. Pikirannya sudah kacau karena penyakit dan usia. Apa pun yang dia katakan tadi hanyalah ilusi dari masa lalu yang ingin dia percayai agar dia bisa mati dengan tenang."

"Tapi dia menyebut nama Emily! Dia bilang Livingston dan Grisham dulu bersahabat!"

"Cukup!" Darrel memotong perkataanku dengan keras. Ia mendekatkan wajahnya, deru napasnya yang panas menerpa kulitku. "Namamu adalah Liana Sabrina. Kau dengar? Kau adalah gadis yatim piatu yang bekerja di toko bunga, yang sekarang menjadi Nyonya Grisham. Selamanya kau akan menjadi Liana."

"Kenapa kau begitu takut jika aku adalah Emily?" tanyaku dengan suara bergetar.

Darrel terdiam sejenak, matanya berkilat penuh emosi yang sulit didefinisikan. "Karena Emily Livingston sudah tiada. Dia mati bersamaan dengan runtuhnya kejayaan keluarganya belasan tahun lalu. Begitu juga dengan Evelyn. Mereka adalah hantu, Lily. Dan kau tidak boleh menghidupkan hantu di rumah Grisham jika kau ingin tetap bernapas."

"Kau berbohong... kau menutupi sesuatu dariku!"

"Aku melindungimu!" potongnya lagi. Kali ini suaranya melemah namun terasa lebih mengancam. "Jika Erlan mendengar kau menyebut nama Emily atau membela Evelyn, dia tidak akan segan-segan mengirimmu ke lubang yang sama dengan kakakku. Jangan pernah percaya pada igauan orang tua yang sedang sekarat."

Ia melepaskan cengkeramannya dan mengusap wajahnya dengan frustrasi. Dari dalam kamar, seorang dokter keluar dengan wajah lesu, memberikan isyarat bahwa kondisi Nenek sudah stabil namun tetap kritis.

"Leo, siapkan kepulangan Nyonya ke mansion," perintah Darrel tanpa menoleh padaku. "Dan pastikan tidak ada lagi pembicaraan tentang masa lalu di rumah ini. Siapa pun yang berani menyebut nama Livingston di depan istriku, aku sendiri yang akan mencabut lidahnya."

**

Mobil melaju menjauh dari rumah sakit dengan kecepatan yang membuat jantungku serasa tertinggal di belakang. Di kursi belakang, aku terus memukul-mukul jok depan, memohon pada pria berwajah batu itu.

"Leo, kumohon! Putar baliknya mobilnya! Nenek sedang kritis, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja!" teriakku di sela isak tangis yang menyesakkan dada.

Leo tetap menatap lurus ke jalanan, kedua tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat stabil. "Maaf, Nyonya. Perintah Tuan Muda sudah jelas. Saya harus membawa Anda kembali ke kediaman sekarang juga demi keamanan Anda."

"Keamanan apa?! Darrel hanya ingin menjauhkan aku dari kebenaran! Leo, aku memerintahkanmu sebagai Nyonya Grisham, putar mobilnya!"

"Tuan Muda Darrel adalah prioritas tertinggi saya, Nyonya. Dan saat ini, emosi Anda sedang tidak stabil. Itu berbahaya," jawabnya datar tanpa intonasi.

Aku meraung frustrasi, menarik-narik gagang pintu mobil yang ternyata sudah dikunci secara otomatis dari sistem pusat. Aku merasa seperti tawanan yang sedang dibawa menuju sel isolasi. Sepanjang perjalanan, aku hanya bisa melihat pepohonan dan lampu jalan yang kabur karena air mataku yang terus mengalir.

Begitu mobil berhenti di depan lobi mansion, Leo segera turun dan membukakan pintu untukku. Begitu kaki ku menyentuh lantai, aku mencoba berlari menuju gerbang, namun langkahku terhenti saat tangan kekar Leo menyambar lenganku.

"Lepaskan aku, Leo! Aku harus kembali!" aku meronta, memukul bahunya sekuat tenaga.

"Saya mohon maaf atas kelancangan saya, Nyonya," ucap Leo dengan suara rendah yang terdengar tulus namun tegas.

Tanpa mempedulikan rontaanku, Leo mencengkeram pergelangan tanganku cukup kuat untuk menyeretku masuk ke dalam mansion. Beberapa pelayan yang melihat kejadian itu hanya bisa berdiri mematung dengan kepala tertunduk. Aku merasa sangat terhina, diperlakukan seperti pengacau di rumahku sendiri.

Kami menaiki tangga dengan cepat. Sesampainya di depan pintu kamarku, Leo membukanya dan mendorongku masuk secara perlahan namun pasti.

"Leo, jangan lakukan ini! Jangan kunci aku!" pintaku saat melihatnya mundur ke arah pintu.

Leo menatapku sejenak, ada sedikit gurat penyesalan di matanya. "Tuan Muda akan segera kembali setelah urusan di rumah sakit selesai. Untuk saat ini, Anda harus tetap di sini. Ini demi kebaikan Anda, Emily... maksud saya, Nyonya Liana."

Mendengar dia hampir menyebut nama Emily membuatku tertegun sejenak. Sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, pintu besar itu tertutup rapat.

Cklek.

Suara kunci yang diputar dari luar terdengar seperti vonis hukuman mati. Aku berlari dan menggedor pintu itu sekuat tenaga. "Leo! Buka! Aku membencimu! Aku membenci Darrel!"

Aku merosot ke lantai di balik pintu yang terkunci, menenggelamkan wajahku di antara kedua lutut. Di kamar yang mewah ini, aku merasa lebih kesepian daripada saat aku masih menjadi gadis toko bunga yang miskin. Aku terjepit di antara Darrel yang menghapus identitasku, Erlan yang menginginkan darahku, dan kenyataan bahwa namaku mungkin benar-benar Emily Livingston—seorang hantu yang seharusnya sudah mati.

**

Malam merayap masuk ke dalam kamar, membawa kegelapan yang terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Aku masih duduk bersandar di balik pintu yang terkunci, tidak memedulikan lampu kamar yang belum dinyalakan. Pipiku terasa kaku karena air mata yang sudah mengering, meninggalkan jejak perih.

Suara kunci diputar memecah keheningan. Martha masuk dengan langkah ragu-ragu, membawa nampan berisi sup hangat dan segelas susu. Di tangannya yang lain, ia membawa handuk bersih.

"Nyonya Liana... mari, biarkan saya membantu Anda membersihkan diri. Air hangat sudah siap," ucap Martha dengan suara lembut yang bergetar.

Aku tidak bergeming. Tatapanku kosong menghadap jendela besar yang menampilkan siluet pepohonan hitam. "Di mana Darrel, Martha? Kenapa dia belum pulang? Bagaimana keadaan nenekku?"

"Tuan Muda masih di rumah sakit, Nyonya. Leo menjaga di depan. Sekarang, makanlah sedikit saja..." Martha meletakkan nampan di atas nakas dan mencoba menyentuh bahuku.

"Aku tidak mau!" aku menepis tangannya dengan kasar. "Aku tidak butuh makan! Aku ingin melihat nenek! Dia satu-satunya orang yang memilikiku di dunia ini, Martha! Jika dia pergi, aku tidak punya siapa-siapa lagi!"

"Nyonya, tolong jangan begini. Tuan Muda Darrel pasti sedang melakukan yang terbaik," Martha mencoba membujuk, menyodorkan mangkuk sup itu ke arahku.

Amarah dan rasa frustrasi yang kupendam sejak siang tadi meledak begitu saja. Aku menyambar mangkuk itu dan melemparkannya ke lantai.

PRANG!

Porselen mahal itu hancur berkeping-keping, kuah sup yang panas terpercik ke karpet dan ujung jubah mandiku. Martha terlonjak kaget, menutup mulutnya dengan tangan.

"Kenapa dia melakukannya padaku, Martha?! Kenapa?!" teriakku histeris. "Kenapa dia bisa menjadi malaikat yang memelukku dengan hangat di pagi hari, lalu berubah menjadi iblis yang mengurungku di malam hari? Kadang aku merasa dia mencintaiku, tapi di saat lain, dia menatapku seolah aku adalah sampah yang harus dia hapus dari muka bumi!"

Aku mencengkeram rambutku sendiri, meraung dalam kehancuran. "Dosa apa yang dilakukan keluargaku? Apa salahku? Jika memang aku begitu hina karena nama Livingston, kenapa mereka tidak membunuhku saja bersama orang tuaku dulu? Kenapa aku harus dibiarkan hidup hanya untuk menjadi piala yang diperebutkan oleh monster-monster seperti mereka?!"

Martha jatuh berlutut di depanku, ia mulai menangis melihat keadaanku yang hancur. "Nyonya, saya mohon... jangan bicara begitu. Tuan Muda... dia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkan perasaannya. Hidupnya penuh dengan luka."

"Luka?!" aku tertawa getir di sela isak tangis. "Dia punya luka, tapi dia menghancurkan hidupku untuk menutupinya! Dia menghapus namaku! Dia membohongiku tentang kakakku! Dia membuatku merasa gila!"

Aku membenamkan wajah di antara lutut, suaraku melemah menjadi rintihan yang menyayat hati. "Aku lebih baik mati, Martha. Aku lebih baik mati daripada harus menjadi Emily yang dibenci atau Liana yang palsu. Aku ingin pulang... aku ingin ke toko bunga... aku ingin Ayah..."

Martha tidak berani menjawab lagi. Ia hanya bisa duduk di sana, menemaniku dalam kegelapan di antara pecahan porselen dan aroma sup yang mendingin. Di luar, suara angin malam menderu, seolah ikut meratapi nasib seorang gadis yang kehilangan identitasnya di dalam sangkar emas milik klan Grisham.

***

Bersambung...

1
Nda
di tunggu double up nya thor
Mita Paramita
debut pertama Lily di pesta mafia🤨 semoga disana Ketemu Evelyn
Nanik Arifin
sebenarnya Darrel itu lembut. apalagi untuk ukuran ketua Klan. Lily aj yg suka memancing amarah & rasa cemburu
Mita Paramita
Darrel berubah jadi suami siaga
Mia Camelia
tambah dong 1 chapteer lgi ?😂😂😂teka teki lily banyak sekali thor🤣🤣🤣
Mita Paramita
lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Vanni Sr
gimnaaa reaksi erlaaan , gmna danteee
Mia Camelia
darrel kok jadi kasar bgini yah ??? cinta gak sih🤣🤣🤣
MissSHalalalal: terbakar api cemburu kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
darrel posesif banget🤣, abis lily nya juga sih nyebut2 mulu damian, kan jadi cemburu tuh👍
Mita Paramita
kasian Lily 😭😭😭
Mia Camelia
darrel horror banget klo lagi cemburu😂😂😂
Vanni Sr
ko seolah olah darel blm prnh berhubungan sm lily sihh ,terus itu ko bilg ny clon istri
Mita Paramita
lanjut Thor double up 💪💪💪
Mia Camelia
alex jahat gak 🤣🤣🤣
Mita Paramita
keajaiban datang akhirnya Dante bangun juga🤨🤨🤨 lanjut Thor double up 🔥🔥🔥
Vanni Sr
seruuuu , haduh knp cm 1 sihhhh kak
MissSHalalalal: author masih ada keperluan di dunia nyata nih kak. 🙏 tenang saja, tiap hari update kok. 😍
total 1 replies
Mita Paramita
kasian sekali Lily takdir nya terkurung dalam sangkar emas 😭
Mita Paramita
ingatan Lily mulai pulih 🤨 masih misterius siapa yang nembak Dante? mungkinkah Lily yang nembak Dante???🤣🤣 lanjut Thor satu episode lagi please 🔥🔥🔥
Mia Camelia
alex kemana thor ???🤔 saksi kunci kah 🤔🤔
Mita Paramita
Thor... novel ny seru banget jadi penasaran terus 😘😘😘 lanjut Thor 🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!