NovelToon NovelToon
Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Diceraikan Karena Mandul, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:347.8k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.

Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.

Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.

Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?

Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Lima

Semua masih terlihat sama pagi itu kecuali satu hal, Hana mulai sadar, ia perlahan akan digantikan.

Pagi datang seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai, menyapu lembut kamar yang masih terasa dingin. Hana sudah bangun lebih dulu. Ia duduk sejenak di tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai, seperti mencoba memastikan dirinya benar-benar siap menjalani hari ini.

Percakapan semalam masih terngiang jelas di kepalanya. Tentang pilihan. Tentang kemungkinan jika dirinya yang perlahan mulai tergeser.

Hana menarik napas panjang, lalu berdiri. Ia tidak ingin larut terlalu lama. Setidaknya, tidak pagi ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, ia berjalan ke dapur. Tangannya mulai bergerak otomatis, mengambil bahan, menyalakan kompor, menyiapkan sarapan. Semua terasa begitu familiar, seperti rutinitas yang selama ini ia jalani tanpa banyak berpikir.

Tapi hari ini terasa ada yang berbeda. Bukan dari apa yang ia lakukan, tapi dari apa yang ia rasakan. Rumah ini terasa sepi dan ia merasa asing.

Meski begitu, ia tetap memasak. Nasi goreng sederhana, telur dadar, dan teh hangat kesukaan Farhan. Ia juga menyiapkan bekal makan siang seperti biasanya berupa nasi, ayam kecap, dan tumis sayur. Semua tetap sama.

Seolah-olah dengan menjaga semuanya tetap berjalan seperti biasa, ia bisa menahan sesuatu agar tidak benar-benar runtuh.

Tak lama kemudian, Farhan keluar dari kamar. Ia sudah rapi, mengenakan kemeja kerja seperti biasanya. Wajahnya datar, sulit ditebak.

“Pagi,” ucap Hana pelan.

“Pagi,” jawab Farhan singkat.

Tidak ada lanjutan percakapan. Tidak ada pembahasan tentang semalam. Seolah keduanya sepakat untuk menaruh semua itu di sudut yang tidak disentuh, setidaknya untuk sekarang. Mereka sarapan dalam diam.

Hanya suara sendok yang beradu dengan piring sesekali terdengar. Hana sesekali melirik Farhan, tapi tidak berani membuka pembicaraan.

Farhan pun sama. Ia fokus pada makanannya, sesekali meneguk teh, tanpa benar-benar menatap Hana.

Setelah selesai, Farhan berdiri.

“Aku berangkat,” ucapnya singkat.

Hana mengangguk. Ia segera mengambil kotak bekal yang sudah ia siapkan, lalu memberikannya pada suaminya.

“Ini bekalnya, Mas.”

Farhan menerimanya tanpa banyak bicara. “Iya.”

Tak ada ucapan terima kasih. Tak ada senyum. Seperti semua hanya rutinitas.

Beberapa detik kemudian, suara pintu tertutup terdengar. Farhan sudah pergi.

Hana berdiri di ruang makan, menatap kursi kosong di depannya. Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia menahannya. Ia sudah terlalu lelah untuk menangis pagi-pagi.

Di kantor, Farhan mencoba menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan.

Tumpukan berkas, email yang harus dibalas, dan rapat yang silih berganti cukup membantu mengalihkan pikirannya. Setidaknya untuk beberapa jam.

Namun, di sela-sela kesibukan itu, bayangan Hana tetap muncul. Tatapan mata yang penuh luka.

Suara lirih yang menahan tangis. Dan kalimat yang terus terngiang, “Aku tidak akan jadi penghalang kebahagiaan Mas.”

Farhan menghela napas panjang. Ia memijat pelipisnya pelan. Belum sempat pikirannya benar-benar tenang, ponselnya bergetar. Nama “Mama” muncul di layar.

Farhan ragu sejenak, lalu mengangkatnya. “Iya, Ma.”

“Farhan, kamu lagi sibuk?” suara Mama Meri terdengar seperti biasa, tenang, tapi tegas.

“Lumayan, Ma. Kenapa?”

“Mama mau makan siang bareng kamu. Kamu bisa, kan?”

Farhan terdiam sejenak, lalu menjawab, “Bisa, Ma.”

“Bagus. Mama tunggu di restoran langganan kita, ya.”

“Iya, Ma.”

Telepon terputus.

Farhan menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas lagi. Ia tahu, pertemuan ini tidak akan sekadar makan siang biasa.

Restoran itu cukup ramai siang itu, tapi tetap terasa nyaman seperti biasanya. Farhan melangkah masuk, matanya langsung mencari sosok mamanya.

Dan ia menemukannya. Duduk di meja dekat jendela. Tapi tidak sendiri.

Langkah Farhan sempat terhenti. Di samping Mama Meri, duduk seorang perempuan yang ia kenal. Chika. Farhan mengerutkan kening sesaat, lalu tetap melangkah mendekat.

“Ma,” sapanya.

Mama Meri tersenyum. “Farhan, sini duduk.”

Farhan duduk, matanya sempat melirik ke arah Chika.

“Siang, Mas,” sapa Chika dengan senyum manis.

“Siang,” jawab Farhan singkat. Ada sedikit kecanggungan di udara, tapi Mama Meri seolah tidak peduli.

“Sudah pesan?” tanya Farhan.

“Sudah. Mama pesankan yang biasa kamu suka,” jawab Mama Meri santai.

Tak lama, makanan datang. Mereka mulai makan, tapi percakapan terasa ringan, sekilas tentang pekerjaan, tentang keluarga lain.

Sampai akhirnya, Mama Meri meletakkan sendoknya. “Farhan,” panggilnya.

Farhan langsung tahu arah pembicaraan ini, “Iya, Ma.”

“Kamu sudah pikirkan soal yang kemarin?”

Farhan menarik napas pelan. “Masih aku pikirkan, Ma.”

Mama Meri menatapnya serius. “Jangan terlalu lama. Ini bukan hal kecil.”

Farhan diam. Mama Meri melanjutkan, “Mama hanya ingin yang terbaik buat kamu. Kamu butuh keturunan. Itu penting.”

Chika yang sejak tadi diam, hanya menunduk, tapi sesekali melirik Farhan.

“Kalau istrimu tidak bisa menerima …,” lanjut Mama Meri, suaranya lebih tegas, “lebih baik kalian pisah.”

Farhan langsung menegang. “Ma .…”

“Daripada kamu terus menunda sesuatu yang jelas kamu butuhkan,” potong Mama Meri.

Suasana meja itu mendadak terasa lebih berat. Farhan menatap piringnya, lalu mengangkat wajahnya perlahan.

“Aku akan pikirkan, Ma,” ucapnya akhirnya.

Mama Meri mengangguk, seolah cukup puas dengan jawaban itu. Makan siang dilanjutkan, tapi rasanya sudah tidak sama lagi. Setelah makan, Farhan kembali ke kantor

Sore menjelang malam saat Farhan akhirnya pulang. Langit sudah gelap, lampu-lampu jalan mulai menyala. Ia memarkir mobilnya di depan rumah, lalu masuk dengan langkah sedikit lelah.

Hana sedang berada di ruang tamu. Ia menoleh saat mendengar pintu dibuka.

“Mas sudah pulang?”

“Iya,” jawab Farhan sambil melepas sepatu.

Hana berdiri, lalu berjalan mendekat. “Mas …,” panggilnya pelan. Farhan menoleh.

“Mana kotak bekalnya?” tanya Hana.

Farhan mengerutkan kening. “Bekal?”

“Iya … kotak bekal yang aku kasih pagi tadi.”

Farhan terdiam beberapa detik, lalu berkata, “Memang aku bawa?”

Hana terlihat bingung. “Loh … Mas kenapa tanya gitu? Kan Mas bawa tadi.”

Farhan menghela napas pelan. “Aku tadi makan sama klien. Lupa kalau bawa bekal.”

Kalimat itu sebenarnya sederhana. Tapi cukup untuk membuat sesuatu di dalam hati Hana kembali terasa jatuh.

“Oh …,” jawab Hana pelan.

Ia berusaha tersenyum, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan kekecewaan.

“Ya sudah,” lanjutnya, mencoba terdengar biasa. “Nanti kotaknya aku ambil di tas Mas.”

Farhan hanya mengangguk. Hening kembali menyelimuti mereka. Beberapa detik berlalu sebelum Hana kembali berbicara.

“Mas sudah makan, ya?”

“Sudah.”

Hana mengangguk pelan. “Aku belum. Tapi … temani aku makan malam, ya?”

Farhan menatapnya sejenak. “Iya.”

Hana tersenyum kecil, lalu berjalan ke dapur. Ia menyiapkan makanan, menata piring, seperti biasa. Seperti tidak terjadi apa-apa. Anggap saja semuanya masih utuh. Padahal di dalam dirinya, perlahan, ada sesuatu yang mulai retak.

1
Yunita Sophi
berubah lah jd baik Chika... klo kamu jahat kasian anak mu
Yunita Sophi
semoga Chika sadar dan tau diri dgn orang yg menolong nya... orang tua nya aja angkat tangan... ayo Chika kamu harus jd orang baik... balaslah orang baik dgn kebaikan jgn malah mengacau kan klo kamu mau hidup tenang..
Yunita Sophi
ada yah orang tua seperti itu... kasian bayi nya tdk tau masalah nya
Yunita Sophi
dulu waktu pertama datang dia bilang kerja di luar kota... dan orang tua nya jg orang berkecukupan... tau nya emang dia otang biasa
Ida Nur Hidayati
udah baca ini mama reni
Radya Arynda
walah tamat
ken darsihk
Tamat ya mam terimakasih mam buku ini sampai tamat
Ending yng bagus semua nya bahagia 😍😍
Enny Suhartini
terimakasih kakak 🙏
Patrick Khan
trimakasih ceritanya mam..😍😍
Vie
yang bulan madu siapa, yang ngasuh siapa 🤣🤣🤣🤣
Vie
ya kali Arsaka juga mau baby moon.. masa kamu pergi, bos nya gak ikutan juga, pasti iri lah Arsaka juga 😂😂😂😂😂
Vie
kamu mau dihajar sama Hana... masa kamu bulan madu sama Arsaka 🤣🤣🤣🤣🤣 terus para istrinya nasibnya gimana itu nanti 🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
karena jawaban dari anak kecil selalu jujur 😂😂😂😂
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Vie
🤣🤣🤣🤣🤣
Teh Yen
trim kasih thor .... critanya bagus
Mama Reni: kembali kasih
total 1 replies
Teh Yen
selamat Han d findy
Vie
kamu kalah sama 2 bayi 😂😂😂😂😂
Vie
ya ampun.. aku kira setelah chika tiada, hatinya aka sedikit luruh, mau mengurus jenazah anak satu2nya itu.. ihhh ya Allah bener2 tega ya kalian... 😡😡
Vie
ya iya lah, memang kau berharap apa. kalian harap chika akan menitipkan anaknya pada kakek dan nenek yang tidak mau mengakuinya? mikir dong .. gemes aku sama ortu nya chika.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!