Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Siang harinya, di tengah kesibukan rumah sakit, Arka menyempatkan diri untuk menghubungi istrinya. Ia melangkah ke sudut koridor yang lebih tenang sebelum menekan tombol panggil pada ponselnya.
"Halo, Assalamualaikum Sayang," sapa Arka saat sambungan telepon terhubung.
"Waalaikumsalam, Mas. Ada apa? Kamu sudah makan siang?" tanya Lilis di seberang telepon.
"Ini baru mau makan. Oh iya, Lis, sepertinya aku pulang sore hari ini. Pasien di sini cukup padat, jadi tidak bisa pulang lebih awal seperti rencana tadi pagi," ucap Arka memberi kabar.
Lilis terdengar memakluminya. "Iya, nggak apa-apa, Mas. Selesaikan saja dulu tugasmu. Jangan lupa makan Mas."
"Iya sayang."
"Ohh iya. Nanti pulang bareng Tiara ya. Sudah aku katakan tadi ke dia buat jemput kamu," lanjut Arka.
Lilis terdiam sejenak, merasa agak sungkan. "Emang nggak ngerepotin, Mas? Tiara kan mungkin juga ada urusan lain," tanya Lilis memastikan.
"Nggak kok, Tiara sendiri yang bilang senggang hari ini dan mau jemput kamu sekalian beli keperluan Ibu. Kamu tunggu saja di sana ya," jelas Arka menenangkan istrinyaa.
"Ya sudah kalau begitu, mas."
"Jangan lupa kabari kalau sudah sampai rumah ya," ucap Arka lembut sebelum akhirnya menutup telepon dengan Lilis.
Sementara itu di tempat Lilis, ia baru saja memasukkan ponselnya ke dalam tas ketika Hana datang menghampirinya.
"Lilis! Belum pulang?" bertanya Hana sambil merapikan tas bahunya.
"Kamu pulang sama siapa? Mau nebeng nggak?"
Lilis tersenyum ramah menyambut tawaran temannya itu. "Makasih, Han. Tapi hari ini nggak deh kayaknya. Adik ipar aku yang jemput soalnya. Aku pulang ke rumah mertua aku soalnya."
Hana mengernyitkan dahi, sedikit penasaran karena biasanya Lilis langsung pulang ke rumahnya sendiri bersama Arka. "Emang kenapa? Kok tumben mendadak ke rumah mertua?"
"Ibu mertua aku lagi sakit, Han," jawab Lilis.
Hana mengangguk-angguk paham, raut wajahnya berubah menjadi penuh simpati mendengar penjelasan Lilis.
"Oh, ya ampun... pantesan," ucap Hana lembut.
"Titip salam ke ibu mertua ya, Lis. Semoga beliau cepat sembuh."
Lilis tersenyum tulus mendengar doa dari temannya itu. "Amin, makasih banyak ya, Han. Nanti aku sampaikan ke Ibu."
"Sama-sama, Lis. Kalau begitu aku pamit duluan ya, mumpung cuacanya lagi cerah nih takut keburu mendung," kata Hana sambil melambaikan tangannya ringan dan mulai melangkah pergi meninggalkan koridor.
"Iya, Han. Hati-hati di jalan!" seru Lilis melepas keberangkatan temannya, sebelum akhirnya ia berjalan menuju gerbang depan untuk menunggu jemputan Tiara.
Tidak lama setelah Hana pergi, Lilis berjalan menuju gerbang depan dan duduk di salah satu kursi besi yang disediakan di sana. Sambil menunggu jemputan Tiara, ia mengeluarkan ponselnya dan mulai memainkannya, sekadar memeriksa pesan masuk atau membaca berita.
Saat sedang fokus menatap layar ponsel, sebuah bayangan mendekat. Elham datang dan langsung menyapa Lilis.
"Belum pulang, Mbak Lilis?" sapa Elham dengan nada suara yang berusaha terdengar ramah.
Mendengar suara itu, Lilis hanya menunduk, merasa kurang nyaman. Ia segera mengunci layar ponselnya dan menjauhkan sedikit posisinya.
Elham kemudian bertanya lagi, "Kenapa belum pulang?"
Lilis langsung menjawab dengan singkat tanpa menatap balik, "Sudah mau dijemput."
Bukannya menjauh setelah mendapat jawaban dingin, Elham justru menawarkan diri.
"Mau saya temani tunggu jemputannya, Mbak?"
Lilis makin merasa risi. Dengan tegas namun tetap berusaha sopan, ia menolak, "Nggak usah, Pak. Sebentar lagi datang."
Lilis memalingkan wajahnya ke arah jalan raya, berharap mobil Tiara segera muncul. Di dalam hatinya, Lilis merasa aneh sekali dengan sikap anak pemilik yayasannya ini. Sebagai atasan, Elham dirasanya terlalu mencampuri urusan pribadinya dan bersikap sok akrab, padahal mereka tidak memiliki kedekatan khusus di luar urusan pekerjaan.
Elham yang menangkap gelagat risi dari Lilis akhirnya tersenyum canggung dan mengangguk pelan. "Ya sudah kalau gitu, saya duluan, Mbak. Assalamualaikum," pamitnya mencoba mencairkan suasana sebelum melangkah pergi.
"Waalaikumsalam," jawab Lilis pelan, nyaris berbisik.
Bertepatan setelah Elham membalikkan badan, sebuah mobil yang sangat Lilis kenali berhenti tepat di depan gerbang. Itu adalah Tiara yang datang menjemputnya. Melihat penyelamatnya telah tiba, Lilis segera bangkit dari kursi kayu tempatnya duduk tadi dengan perasaan lega.
Namun, sebelum melangkah mendekati mobil, Lilis sempat melirik ke arah Elham yang berjalan menjauh, lalu beralih menatap kaca depan mobil Tiara.
Dalam hati Lilis merasa sedikit cemas, "Tiara pasti melihat pria itu tadi." Lilis hanya berharap adik iparnya itu tidak salah paham atau menanyakan hal yang macam-macam tentang interaksinya dengan Elham barusan.
......................
Malam harinya, Lilis tengah menemani Kirana makan malam di dalam kamar. Berbeda dari malam sebelumnya, Kirana sudah tampak jauh lebih baik, wajahnya tidak lagi sepucat kemarin dan binar matanya telah kembali.
Saat Lilis hendak mengambilkan sendok untuk menyuapinya, Kirana menolak halus karena tak mau disuapi lagi.
"Nggak usah disuapi lagi, Lis. Ibu sudah kuat kok makan sendiri. Alhamdulillah badan Ibu sudah enakan," ucap Kirana sambil tersenyum tulus dan mengambil alih mangkuk buburnya dari tangan Lilis.
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Mas Arka sama Ayah pasti senang banget kalau tahu kondisi Ibu sudah seadanya ini," jawab Lilis lega, lalu duduk di kursi samping ranjang.
Sembari menikmati makan malamnya, Kirana menatap menantunya dengan penuh perhatian, lalu membuka obrolan baru.
"Bagaimana rasanya ngajar, Lis?" tanya Kirana.
"Senang dan campur aduk, Bu. Kadang seru lihat tingkah anak-anak, tapi kadang butuh kesabaran ekstra juga," tuturnya jujur.
Kirana terkekeh pelan, tatapannya menerawang seolah mengingat masa lalu. "Dulu waktu masih muda, Ibu juga bercita-cita jadi guru," kenang Kirana dengan senyum tipis.
"Tapi ya sudahlah. Sekarang Ibu juga bahagia hidup sama kalian semua di rumah ini. Menjadi ibu dan melihat kalian tumbuh sudah lebih dari cukup."
Setelah menyelesaikan makan malamnya dan meminum seteguk air, Kirana kembali menatap Lilis.
"Lis... maaf ya kalau Ibu lancang. Tapi, apa kamu sudah isi?" tanya Kirana lembut.
Lilis agak tersipu, lalu menggeleng pelan dengan sopan. "Belum, Bu."
Kirana langsung tersenyum hangat agar menantunya tidak merasa terbebani. "Nggak apa-apa. Kalian kan baru sebulan menikah," ucap Kirana menenangkan.
Ibu mertuanya itu kemudian menggenggam lembut tangan Lilis. "Ibu cuma mau mengatakan, Ibu sama sekali tak memaksa. Anak itu karunia dan rezeki dari Allah. Kapan pun waktunya tiba, kita terima dengan rasa syukur. Yang penting sekarang kalian berdua sehat-sehat," tutur Kirana.
suka aja sama ceritanya.