"aku terima syaratmu, tapi terima juga syaratku, kael.."
mahiya melotot kesal,pria dingin itu hanya mengangguk datar.
"okeyyy..deal"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
"selamat pa‐"
"nggak usah macem-macem kael, syarat oma nggak bisa diganggu gugat"
Mahiya langsung terdiam, nggak jauh beda dengan gaby yang berdiri di sampingnya, ikutan kicep.
Suara wanita tua yang sedang duduk di atas ranjang itu, nggak menggelegar memang, tapi auranya bikin sport jantung.
Mahiya masih cengo, mau ngucapin salam lagi, takut kena damprat. Cowok gagah yang berdiri membelakangi mereka saja, nggak bisa berkata-kata.
Mahiya melangkah, tapi lengannya kerasa di tahan gaby yang menggeleng. Gadis berhijab itu menaikkan alisnya sebelah, nggak perlu bertanya, kalau emang dah berteman paham-paham aja maksud gerakan alis, gaby cuman berbisik.
"sabar!, ntar kita juga kena damprat mau lo"
Mahiya menarik nafasnya, sesak. Sejak kapan profesi mereka di kacangin kek gini, mereka kek benda gaib, nggak kelihatan.
"mau apa kalian?"
Mahiya dan gaby serentak menoleh, ternyata di sudut kamar itu, ada seorang lagi cowok yang berdiri, mahiya mengerutkan keningnya. Sepertinya ia pernah deh ngelihat tuh cowok yang melotot ke arah mereka.
Yah, mata mahiya membola. Itu cowok yang sok serem 2 hari kemaren, wajahnya lumayan cakep sih, tapi judes amat kek emak-emak lagi pms.
Wanita tua dan pria yang berdiri di depannya serentak menoleh ke arah pintu, mata mereka memicing keheranan menatap penuh tanya.
"saya tidak memanggil perawat, untuk apa kalian kemari?"
Wajah wanita tua itu kelihatan penasaran, suaranya lembut, tapi tetap aja jantung mahiya dan gaby jedag-jedug nggak karuan kek lagi jatuh cinta.
Mahiya melangkah maju, terasa tubuhnya di dorong gaby. Memang sialan si gaby, main dorong aja, numbalin mahiya.
"anu..buk, kami cuman mau cek kesehatan ibu" jawab mahiya gugup, semakin gugup karena cowok yang berdiri di depan wanita tua itu, menatapnya lama.
Kerutan di kening kael semakin berlipat, tatapannya menunjukkan serasa ia mengenal gadis berhijab itu.
Mahiya, malah semakin gugup. Menelan salivanya pun terasa kesat, tenggorokannya mendadak tersumbat.
Wajah kael tiba-tiba cerah, bola matanya berbinar indah, seperti ada taburan konfeti keluar dari matanya.
"sayang!" serunya tiba-tiba mengagetkan semua yang berada di ruangan itu. Kael melangkah tegap, menghampiri mahiya yang cengo kek kambing kesambet jin.
"aku udah bilang kan kalau kamu di tempatkan di ruangan ini, ngomong ke aku, biar aku bisa kenalin kamu ke oma"
Wajah mahiya cengo habis, otaknya langsung ngeblank. Mana tu cowok tiba-tiba meraih tangannya, dan memandangi mahiya dengan binar-binar indah.
Mahiya manut-manut aja, ketika cowok itu menariknya ke arah ranjang wanita tua yang menatap mereka penasaran.
"aku belum ngenalin mahiya ke oma, karena dia masih kuliah oma"
Mahiya mendongak, keterkejutannya belum sepenuhnya hilang, malah nambah. Dari mana cowok cakep ini tahu kalau namanya mahiya. Ah iya mahiya lupa, diakan pakai badge.
Wanita tua itu menatap mereka bergantian, sorot matanya penuh selidik dan ketidak percayaan. Walau kael berusaha senatural mungkin, tapi mahiya jelas-jelas canggung.
Otak mahiya sedang berpikir keras, dia harus bagaimana ini coba. Ikut akting atau tetap bloon aja, mahiya merasa tengkuknya mendadak dingin.
"kael..siapa dia?"
Suara wanita tua itu menyadarkan mahiya dan mengembalikannya ke alam nyata, mahiya kembali menelan salivanya.
"maaf oma, kael nggak berani mengenalkan mahiya karena kael belum membicarakan hal ini dengannya, iyakan sayang?"
Pria tampan itu bertanya dengan wajah sumringah seindah mungkin, kedipan mata cowok itu seakan meminta mahiya mengikuti permainannya.
Kael dengan santainya memeluk bahu mahiya, sontak gadis itu tersentak, gerakan kagetnya itu hanya kael yang menyadarinya. Sang nenek, yang mengamati mereka berdua, masih kelihatan tak percaya.
Tapi bukan mahiya namanya kalau nggak jago akting, gadis itu mengubah mimik wajahnya dengan cepat. Mata indahnya mengerjab-erjab, seakan sedang malu-malu kucing.
"iya, oma. Maaf"
Suaranya yang mencicit, kedengaran sempurna di telinga kael. Mendadak hati pria itu merasa lega, sekilas matanya yang berwarna coklat kehijauan itu melirik.
'jago juga nih cewek'
Kael nyengir di depan neneknya yang masih mengerutkan kening. Wanita tua itu melambaikan tangan, meminta mahiya mendekat.
"tinggalkan kami berdua.." perintahnya lembut, tapi bagi mahiya terasa seperti vonis mati untuknya.
Kael, pria itu hendak menolak. Tapi mata sang nenek sangat tak bisa dibantah, cowok itu mengode rifki, mengajaknya keluar. Gaby, jangan ditanya gimana syoknya gadis itu.
Saat ini, biji mata gadis itu serasa ingin melompat, beribu tanya di kepalanya minta dikeluarkan. Gaby, gadis itu ingin bertahan di dalam kamar, menunggu mahiya si gadis penuh kejutan, tapi mata rifki dan kael, memaksa gadis itu ikut beranjak pergi.
"kael..." panggil sang nenek, saat pintu akan menutup.
"kamu jangan kemana-kemana, tunggu di luar"
Kael saka laksana, pria tampan itu cuman bisa mengangguk pasrah, dia sudah pasrah kalau namanya di hapus dari daftar waris sang nenek, apalagi kalau jawaban gadis berhijab itu nanti nggak sesuai, bisa-bisa kael di depak keluar dari rumah, tanpa sehelai benangpun.
Kael menoleh, menatap mahiya dengan sorot penuh pengharapan, hembusan nafasnya terdengar sangat pasrah.
Matanya menatap mahiya yang juga menatapnya memohon pertolongan, lagi-lagi kael mendesah kasar. 100% kael yakin, kalau siang ini dia harus siap-siap keluar dari rumah.
"kenapa kael?"
Rifki yang bosan mendengar dengkusan nafas pasrah itu, melirik tanpa iba.
"makanya mikir, kalaupun harus cewek itu yang akan kamu manfaatin, seharusnya kita briefing dulu, nggak asal comot kek tadi. Nah sekarang kamu pusing sendirikan?"
Kael menoleh kesal, bukannya simpati malah semakin membuat kepalanya pusing tujuh keliling, kael mendengkus kasar.
"trus apa gunanya kepalamu kalau bukan untuk membantuku berpikir?"
Rifki terkekeh, wajah tampan cowok itu tidak tersinggung. Walau ucapan kael sering tajam, sebenarnya hati pria itu hangat. Rifki tahu, kael memiliki mulut setajam silet itu, semua karena cinta pertamanya.
"kamu yang cari masalah, kamu yang selesaiin sendiri, aku ogah. Semburan oma jauh lebih berbisa dari bisa ular kobra, bisa-bisa karierku tinggal nama doang"
"hhhhhhh.." dengus kael lagi, wajah tampannya kelihatan sangat kesal. Ujung matanya melirik tajam, ke arah rifki dan pintu kamar omanya bergantian.
"kamu emang teman nggak guna!, makan gaji buta doang tiap bulan. Nirempati lo"
Rifki semakin terbahak, wajah kesal kael sangat indah di mata jahatnya. Suara tawanya semakin membuat wajah kael seperti jeruk purut, walau nggak ngaruh sih sebenarnya, karena tetap saja, kael terlihat tampan maksimal.
Kael dan rifki menoleh cepat, ketika mahiya keluar dari kamar neneknya.
Wajah mahiya yang kelihatan datar, malah semakin membuat jantung kael jedag-jedug nggak karuan. Berhasil atau gagal nih cewek, nyelamatin hidupnya.
"sayang..., kamu di panggil oma"
Kael melotot kaget, cengiran gadis cantik berhijab itu terlihat meyakinkan.
Bersambung..