(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 3)
Setelah menaklukkan Benua Kuno, Han Luo dan Long Tian bertujuan menginjakkan kaki di Cakrawala Suci—pusat dunia kultivasi yang sesungguhnya.
Di benua super-masif ini, kekuatan Jiwa Baru Lahir hanyalah prajurit biasa, dan para dewa Pemutus Roh menguasai langit. Menjadi buronan faksi raksasa akibat kematian Jian Wuji, Han Luo terpaksa menyembunyikan taringnya.
Dan saat rahasia sebenarnya di balik 'Dao Langit' dan Penjara Benua Kuno mulai terkuak, Han Luo bersiap menyalakan api pemberontakan terbesarnya. Di negeri para dewa, gerhana akan membuktikan bahwa ia mampu menelan matahari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencurian Bintang
Tiga hari berlalu dalam ketegangan yang mencekik Kota Gerbang Astral.
Rumor yang disebarkan oleh jaringan Geng Laba-Laba Besi bekerja dengan sangat efektif. Kabar burung bahwa "Bai Ze si Pembantai Berambut Perak" terlihat menaiki kapal menuju Kepulauan Utara membuat Klan Bintang Jatuh mengerahkan enam puluh persen pasukan elit mereka keluar dari kota. Mereka termakan umpan itu bulat-bulat, dibutakan oleh amarah atas kematian pewaris mereka, Tuan Muda Yan.
Sementara itu, di Distrik Tikus yang kumuh, "Kakek Tua Xie Yan" yang sakit-sakitan secara resmi menghilang dari peredaran, beralasan penyakitnya kambuh dan dia butuh istirahat total.
Namun pada kenyataannya, pada tengah malam di hari ketiga, tiga sosok bayangan melesat menembus distrik-distrik Kota Gerbang Astral, menuju langsung ke puncak kemegahan kota: Kediaman Utama Klan Bintang Jatuh.
Han Luo (masih dalam wujud Xie Yan, tapi bergerak dengan kelincahan iblis) memimpin di depan. Di belakangnya, Long Tian (Hei Mian) bergerak tanpa suara, sementara Xue'er—gadis Roh Es Primordial—digendong di punggung Long Tian, tubuhnya dibungkus jubah tebal untuk menyembunyikan hawa dinginnya.
Mereka berhenti di atas atap sebuah menara pengawas yang telah dikosongkan.
Di depan mereka, terhampar istana raksasa Klan Bintang Jatuh. Namun, tujuan mereka bukan istana itu, melainkan struktur setengah bola raksasa yang berada di halaman belakang kediaman, dijaga oleh formasi cahaya keemasan yang berkedip-kedip.
Kubah Inti Bintang Jatuh.
"Penjagaan di luar terlihat ketat," Long Tian berbisik melalui transmisi suara. "Ada dua regu patroli tingkat Jiwa Baru Lahir Awal yang berputar setiap lima belas menit. Formasi pelindungnya juga... sangat padat. Jika kita menyentuhnya, alarm akan berbunyi di seluruh kota."
Han Luo tersenyum tipis di balik keriput palsunya.
"Formasi ini dirancang untuk menahan serangan fisik dan intrusi spiritual, Hei Mian," Han Luo mengeluarkan sebuah gulungan peta giok—kristalisasi dari memori Tuan Muda Yan. "Tapi ia tidak dirancang untuk menahan darah dagingnya sendiri."
Han Luo menjentikkan jarinya, mengeluarkan sebuah botol kecil berisi darah merah keemasan. Itu adalah darah yang dia peras dari mayat Tuan Muda Yan.
"Waktu kita sempit. Patriark Klan Bintang Jatuh saat ini sedang berada di titik terdalam kultivasi tertutupnya. Dia telah memutus semua koneksi sensoriknya dengan dunia luar agar tidak terdistraksi."
Han Luo menoleh ke Long Tian dan Xue'er.
"Ayo masuk."
Mereka melompat turun dari atap, meluncur bagaikan kelelawar hitam di malam hari, dan mendarat tepat di depan dinding formasi cahaya keemasan itu. Dua detik lagi, regu patroli akan melewati sudut bangunan.
Han Luo tidak membuang waktu. Dia meneteskan darah Tuan Muda Yan ke telapak tangannya, lalu memadukannya dengan Qi Hampa-nya, dan menekankan telapak tangannya ke dinding formasi.
Zzzrtt...
Formasi itu mengenali kode genetik pewaris klan. Bukannya membunyikan alarm, formasi itu justru melunak dan membuka sebuah celah setinggi manusia.
Mereka bertiga melesat masuk tepat sebelum regu patroli berbelok di sudut.
"Sempurna," bisik Han Luo.
Di dalam kubah, suhu meningkat drastis. Udara terasa berat dan panas, seolah mereka sedang berjalan ke dalam tungku pandai besi raksasa. Bau ozon dan belerang sangat menyengat.
Mereka menuruni tangga pualam hitam yang berliku-liku menuju perut bumi.
Semakin dalam mereka turun, cahaya keemasan yang menyilaukan mulai terlihat memancar dari dasar kawah bawah tanah.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah balkon observasi yang menghadap langsung ke jantung kubah.
Pemandangan di bawah sana membuat napas Long Tian tertahan.
Di dasar kawah raksasa, mengalir sebuah sungai energi yang tidak terbuat dari air, melainkan dari partikel-partikel cahaya keemasan yang padat layaknya pasir bercahaya. Ini adalah Nadi Bintang Meteorit, sumber kekuatan absolut Klan Bintang Jatuh.
Di tengah-tengah sungai cahaya itu, melayang sebuah platform batu obsidian.
Di atas platform tersebut, duduk bersila seorang pria tua dengan rambut putih panjang yang berkibar meski tidak ada angin. Kulitnya memancarkan pendaran keemasan yang kuat, dan auranya begitu masif hingga membuat ruang di sekitarnya sedikit terdistorsi.
Patriark Klan Bintang Jatuh. Tingkat: Jiwa Baru Lahir Puncak (Menuju Pemutus Roh).
"Dia sedang menyerapnya," bisik Long Tian tegang. "Energi di tubuhnya... jika dia berhasil menembus batas malam ini, dia akan menjadi setengah dewa. Kita tidak punya peluang melawannya secara fisik."
"Siapa yang bilang kita akan bertarung fisik?" Han Luo menyeringai, matanya yang abu-abu mati memancarkan kelicikan iblis.
"Saat seorang kultivator berada di puncak terobosan besar, jiwa mereka adalah yang paling rentan. Dia telah membuka seluruh Dantiannya untuk menerima aliran Nadi Bintang. Jika kita menyerangnya secara frontal, dia akan terbangun dan meledakkan kita berkeping-keping karena refleks pertahanan."
Han Luo menoleh ke gadis kecil berambut perak di sampingnya.
"Xue'er. Ini giliranmu."
Gadis Roh Es itu mengangguk patuh. Mata kosmiknya yang tanpa pupil menatap ke arah Patriark di bawah sana.
"Tuan," suara Xue'er jernih di benak Han Luo. "Hawa panas di bawah sana sangat kuat. Tapi... aku bisa membekukan waktu aliran energinya di titik kritis."
"Tepat," Han Luo melepaskan jubah luarnya. "Aku tidak akan memotong aliran Nadi Bintang itu darinya. Aku akan membiarkannya terus mengalir ke dalam tubuhnya... tapi aku akan menyadap pipa pembuangannya."
Han Luo melompat turun dari balkon dengan ringan, mendarat di pinggiran sungai cahaya keemasan itu. Dia berjalan mendekati platform obsidian tanpa mengeluarkan suara langkah sedikit pun, dibantu oleh Langkah Hantu Tanpa Jejak-nya.
Dia berhenti tepat tiga meter di belakang punggung Patriark Klan Bintang Jatuh.
Panas radiasi dari tubuh Patriark itu cukup untuk membakar kulit fana, tapi Inti Emas Gerhana Han Luo, yang telah menyatu dengan esensi Jantung Iblis Es, menelan panas itu dengan mudah.
Han Luo mengangkat tangan kirinya (lengan tulang iblisnya). Dia memadatkan Qi Hampa di ujung jari-jarinya, menciptakan lima jarum energi yang tak kasat mata.
"Xue'er, bekuan formasi ruangnya sekarang."
Di atas balkon, gadis kecil itu merentangkan kedua tangannya.
WUUUSSSHH!
Sebuah domain es absolut yang tidak menurunkan suhu fisik, melainkan membekukan persepsi spasial, turun menyelimuti platform obsidian itu.
Dalam pikiran Patriark Klan Bintang Jatuh yang sedang bermeditasi dalam, segalanya terasa damai. Dia merasa energi bintang mengalir lancar, tidak menyadari bahwa sebuah lapisan es konseptual baru saja mengisolasi kulit punggungnya dari dunia luar.
JLEB!
Han Luo menusukkan kelima jari kirinya langsung ke titik-titik meridian utama di tulang belakang sang Patriark.
Karena formasi spasialnya dibekukan oleh Xue'er, Patriark itu bahkan tidak merasakan jarum-jarum energi itu menembus tubuhnya!
"Sekarang," bisik Han Luo, matanya berkilat buas. "Makan malam dimulai."
Domain Hampa: Parasit Bintang.
Han Luo tidak memutus aliran Nadi Bintang yang masuk ke Dantian Patriark. Sebaliknya, dia menciptakan sebuah "saluran bypass" tepat di belakang Dantian pria tua itu.
Energi Bintang Meteorit murni yang baru saja diproses dan dimurnikan oleh Dantian sang Patriark, bukannya disimpan untuk menembus batas ke Ranah Pemutus Roh... malah disedot paksa keluar melalui meridian punggungnya, langsung masuk ke lengan kiri Han Luo, dan ditelan bulat-bulat oleh Bayi Jiwa Gerhana milik Han Luo.
ZRRRNGGG!
Tubuh Han Luo bergetar hebat. Matanya membelalak.
"Luar biasa," batin Han Luo, harus menggigit bibirnya agar tidak tertawa keras. "Kualitas energi ini... ini adalah esensi bintang yang telah difilter oleh seorang Jiwa Baru Lahir Puncak. Murni. Padat. Sempurna!"
Di atas platform, Patriark Klan Bintang Jatuh masih memejamkan mata dengan senyum tipis di bibirnya.
Dalam halusinasinya yang diciptakan oleh meditasinya sendiri, dia merasa sedang menyerap energi dengan sangat lancar. Namun anehnya, seberapa banyak pun dia menyerap energi Nadi Bintang, Dantiannya terasa tidak pernah penuh. Batas menuju Pemutus Roh yang seharusnya sudah pecah, entah kenapa terasa terus menjauh.
"Hanya sedikit lagi... Langit mengujiku... Aku harus menyerap lebih keras!" batin sang Patriark, memompa hisapannya lebih gila-gilaan.
Dan semakin keras Patriark itu memompa energi dari sungai cahaya, semakin deras pula energi itu mengalir melewati tubuhnya untuk berakhir di dalam perut Han Luo.
Patriark raksasa itu telah direduksi secara harfiah menjadi sebuah "pompa" untuk Sang Dalang!
Di atas balkon, Long Tian menyaksikan pencurian tingkat dewa ini dengan keringat dingin mengucur di pelipisnya.
Dia pernah melihat perampokan berdarah, pembantaian masal, dan taktik licik. Tapi menyelinap di belakang monster setengah dewa yang sedang bermeditasi dan merampok kultivasinya langsung dari punggungnya tanpa membangunkannya?
"Senior Bai..." gumam Long Tian, kesulitan menemukan panggilan yang tepat. "Pria ini... dia benar-benar meludahi wajah Langit itu sendiri."
Lima belas menit berlalu. Setengah jam berlalu.
Sungai cahaya keemasan dari Nadi Bintang Meteorit itu mulai meredup. Alirannya yang tadinya deras kini mengecil menjadi aliran sungai yang sekarat.
Tubuh Patriark Klan Bintang Jatuh mulai mengerut. Vitalitasnya tersedot habis karena dia memaksakan diri memompa energi kosong.
Sementara itu, tubuh Han Luo memancarkan aura emas dan hitam yang begitu pekat. Inti Emas Gerhana-nya berdenyut bahagia, semakin padat dan berat, mendorong fondasi kultivasi Han Luo semakin dekat menuju titik puncak yang tak tertembus orang biasa.
"Hampir habis," batin Han Luo.
Tiba-tiba, alis Patriark Klan Bintang Jatuh berkedut.
Insting bertahan hidup dari seorang ahli Jiwa Baru Lahir Puncak akhirnya menembus ilusi pembekuan Xue'er. Dia menyadari bahwa Dantiannya bukan saja tidak penuh, melainkan benar-benar kosong melompong, dan ada sesuatu yang menusuk punggungnya!
"S-SIAPAAAA?!" raung sang Patriark, matanya terbuka lebar, memancarkan cahaya emas yang mengamuk.
"Waktunya habis," Han Luo menyeringai.
Sebelum Patriark itu bisa meledakkan auranya atau berbalik untuk menyerang, Han Luo memadatkan sisa energi Hampa di jari-jarinya yang masih tertancap di meridian pria tua itu.
"Tidurlah, Pak Tua. Kau sudah bekerja keras menyaring minumanku."
BOOM!
Han Luo melepaskan ledakan Qi Es murni langsung ke dalam sistem saraf pusat sang Patriark dari jarak nol.
"GHKK!" Patriark itu memuntahkan darah hitam yang langsung membeku menjadi kristal es. Matanya yang baru saja terbuka, kembali melotot kaku. Tubuhnya membeku dari dalam ke luar dalam seperseribu detik, mengunci raungannya selamanya di dalam tenggorokan esnya.
Seorang penguasa faksi raksasa... mati bahkan sebelum dia bisa melihat wajah pembunuhnya.
Han Luo mencabut tangannya. Tubuh beku Patriark itu hancur menjadi serpihan debu emas-es dan luruh ke atas platform obsidian.
Nadi Bintang Meteorit di bawah mereka kini sepenuhnya padam. Kubah Inti itu telah mati.
Han Luo berdiri tegak. Dia merentangkan kedua tangannya, menghirup udara yang kini kehilangan tekanan spiritualnya.
"Satu klan raksasa telah dikeringkan. Benua ini benar-benar prasmanan yang luar biasa."
Han Luo menoleh ke atas balkon, menatap Long Tian yang masih terkejut.
"Ayo, Hei Mian. Bawa Xue'er. Pekerjaan kita di tempat ini sudah selesai. Besok pagi, saat mereka menemukan mayat beku ini... Kota Gerbang Astral akan runtuh dalam kekacauan."
Sang Dalang membalikkan badannya, berjalan keluar dari kawah gelap itu, bersiap untuk mengalihkan pandangannya ke target yang jauh lebih besar di Cakrawala Suci.