NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Transmigrasi Ratu Kiamat Ke Tahun 1960

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

bukan novel terjemahan!!
buku ini merupakan novel dengan tema tahun 1960 dengan protagonis pria yang mungkin akan terlambat. bagi yang suka wanita kuat yang tidak pernah lemah, silahkan coba membaca.

Sinopsis:
bagaimana jika seorang ratu kiamat penguasa dunia bertransmigrasi ke tahun 1960? dengan gelar ratu iblis yang selalu melekat di dirinya karena latihan kejam milik nya. bagaimana kehidupan dia selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7 hari pertama pelatihan hidup

Para petinggi militer yang mengamati perkembangan Jinyu selama tiga bulan terakhir akhirnya mengambil keputusan: anak ini butuh tantangan yang lebih besar. Bukan karena ia nakal, tapi karena bakatnya terlalu mencolok. Tingginya yang kini 1,4 meter di usia 5 tahun, kemampuannya yang melampaui peserta lain, dan julukan "Ratu Iblis" yang melekat padanya, semua itu membuat para instruktur berpikir ulang.

"Mungkin kita tidak bisa mengajarnya lagi," kata Pelatih Wu pada rapat dewan instruktur. "Dia sudah melampaui kurikulum kita."

Komandan Lei mengangguk. "Setuju. Karena itu, aku usulkan ujian terakhir. Dua minggu di hutan terdalam. Sendirian. Hanya dengan pisau dan korek api."

"Tapi Komandan, dia baru 5 tahun—"

"Usia tidak relevan untuk anak itu." Komandan Lei menatap peta hutan di depannya. "Hutan ini belum pernah dimasuki manusia selama puluhan tahun. Harimau, ular, beruang, semuanya ada. Jika dia bisa bertahan dua minggu, dia lulus dengan predikat tertinggi."

Musim dingin telah tiba di pegunungan. Salju tipis mulai turun di puncak-puncak tertinggi, angin berembus lebih kencang dari biasanya. Di kamp pelatihan, suasana berbeda dari hari-hari biasa. Para peserta berkumpul di lapangan utama, tapi wajah mereka tegang.

Komandan Lei berdiri di depan, di sampingnya Pelatih Wu dan beberapa instruktur lain. Di belakang mereka, sebuah peta besar terbentang, menunjukkan wilayah hutan terdalam yang belum pernah dijamah peserta mana pun.

"Su Jinyu, maju."

Jinyu melangkah ke depan. Semua mata tertuju padanya. Dalam tiga bulan, ia sudah tumbuh pesat. Tinggi 1,4 meter, rambut cokelat sebahu, mata keemasan yang semakin tajam. Di usianya yang baru 5 tahun, ia sudah seperti anak 9 tahun. Posturnya tegap, wajahnya datar seperti biasa.

"Selama tiga bulan, kau menunjukkan kemampuan luar biasa," Komandan Lei memulai. "Kau unggul di semua latihan, mengalahkan peserta yang lebih tua, bahkan membuat para instruktur kewalahan."

Beberapa instruktur tersenyum getir. Mereka ingat betapa sering Jinyu menantang mereka sparing dan menang.

"Karena itu, para petinggi memutuskan kau layak mendapat ujian khusus." Komandan Lei menunjuk peta. "Hutan terdalam. Luasnya 50 kilometer persegi, penuh dengan satwa liar, medan ekstrem, dan suhu bisa mencapai minus 10 derajat di malam hari. Kau akan bertahan di sana selama 14 hari. Sendirian."

Sunyi. Para peserta saling pandang. Xia Feng membelalak, Lin Yue menutup mulut.

"Jinyu, kau boleh menolak," lanjut Komandan Lei. "Ini bukan kewajiban."

Jinyu menatap peta itu. Hutan terdalam. Tantangan baru. Dalam hatinya, api kegembiraan menyala.

"Saya terima, Komandan."

Dua jam kemudian, Jinyu berdiri di gerbang utara kamp. Di punggungnya, sebuah ransel besar berisi perlengkapan dasar: pisau lipat, korek api anti air, garam, kain kasa, dan sebotol air. Tidak ada makanan. Tidak ada tenda. Hanya itu.

Pelatih Wu mendampinginya. "Ingat, Jinyu. Kalau darurat, tembakkan flare ini." Ia menyerahkan sebuah tabung kecil. "Tim penyelamat akan datang dalam 2 jam. Tapi pakai hanya kalau benar-benar kritis."

Jinyu menerima, menyimpannya di saku.

"Kau siap?"

Jinyu mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, ia melangkah masuk ke hutan. Salju tipis mulai turun, membungkus pundaknya dalam sekejap.

Di belakang, Xia Feng berteriak, "JINYU! HATI-HATI!"

Lin Yue menambahkan, "KEMBALI DENGAN SELAMAT!"

Jinyu tidak menoleh, hanya mengangkat tangan memberi isyarat. Lalu ia menghilang di balik pepohonan.

Hari pertama.

Jinyu berjalan masuk semakin dalam. Pepohonan di sini berbeda—lebih tua, lebih besar, dengan akar-akar menjulang seperti ular raksasa. Kabut tipis menyelimuti, membuat jarak pandang terbatas. Suara burung aneh terdengar dari kejauhan, diikuti lolongan binatang.

["Seram juga,"] sistem berkomentar.

Biasa aja. Dunia kiamat lebih seram.

["Tapi di sana kau punya kekuatan. Sekarang kau cuma manusia."]

Jinyu tidak menjawab. Ia mencari tempat yang cocok untuk bermalam. Di dekat sungai kecil, ia menemukan ceruk batu yang cukup besar. Dengan pisau, ia memotong ranting-ranting pinus, membuat atap darurat. Lumut kering ia kumpulkan untuk alas tidur.

Sore tiba, api unggun kecil menyala. Jinyu duduk bersandar, menikmati kehangatan. Perutnya keroncongan.

Besok harus berburu.

Hari kedua.

Jinyu bangun dengan tubuh kaku. Udara dingin menusuk tulang. Ia memukul-mukul tubuhnya untuk melancarkan peredaran darah. Setelah sarapan air putih, ia mulai menjelajah.

Sungai di dekatnya ternyata berisi ikan. Dengan pisau, ia membuat tombak sederhana dari ranting. Berdiri diam di air dingin, menunggu. Satu jam kemudian, dua ikan cukup besar berhasil ditombak.

Jinyu tersenyum puas. Ia membersihkan ikan, lalu membakarnya di atas batu panas. Makan siang yang lezat.

Sore harinya, ia menemukan tanaman liar seperti jahe hutan dan bawang putih liar. Sistem bersorak, menyuruhnya mengambil. Jinyu menurut, menyimpannya di ransel.

Malam kedua, ia tidur lebih nyenyak, perut kenyang.

Hari ketiga.

Hujan turun deras. Jinyu terpaksa bertahan di ceruk batu, menunggu reda. Rasa bosan mulai menyerang.

["Jinyu, di dalam hutan ada banyak tanaman langka. Ayo cari!"]

sekarang sedang hujan, sistem.

["ALASAN! KAU TAKUT BASAH KAN?"]

Iya. Nanti flu.

["MANUSIA LEMAH!"]

Dasar sistem.

Yoyo mendesis geli dari dalam dimensi. Ia sesekali keluar untuk menemani, tapi lebih banyak tidur di tempat hangat.

Hari keempat.

Hujan reda. Jinyu melanjutkan perjalanan. Kini ia masuk lebih dalam, melewati jurang-jurang curam. Di sini, pepohonan lebih jarang, digantikan bebatuan besar dan semak belukar.

Tiba-tiba, seekor ular berbisa melintas di depannya. Jinyu berhenti, mengamati. Ular itu besar, sepanjang 2 meter. Matanya waspada.

["Ular piton. Tidak berbisa, tapi lilitannya kuat."]

Jinyu memilih minggir, tidak ingin bertengkar. Tapi ular itu mengejar.

Kenapa dia mengejar?

["Mungkin kau dianggap ancaman. Atau... kau bau ikan."]

Jinyu menghela napas. Ia berbalik, menghadapi ular itu. Tubuhnya rendah, siap.

Ular itu menyerang. Jinyu menghindar dengan lincah, lalu dengan gerakan cepat, pisau di tangannya menghunjam tepat di kepala ular.

Selesai.

Jinyu menatap bangkai ular itu. Besok makan ular bakar.

Hari kelima.

Jinyu menemukan gua kecil di lereng bukit. Lebih baik dari ceruk batu. Ia memindahkan "markas" ke sana. Dinding gua melindungi dari angin, dan ia bisa membuat api lebih aman.

Sore harinya, ia berburu seekor kijang kecil. Dagingnya cukup untuk beberapa hari. Ia mengasapi sebagian, menyimpannya di gua.

Malam kelima, ia tidur nyenyak, ditemani gemercik air dari sungai bawah tanah di dalam gua.

Hari keenam.

Jinyu menjelajah lebih jauh. Di sini, ia menemukan jejak-jejak binatang besar. Tapak kaki lebar, cakar dalam. Hatinya waspada.

["Sepertinya itu harimau. Jejaknya masih baru."]

Jinyu mengangguk. Ia meningkatkan kewaspadaan. Malam itu, ia mendengar auman dari kejauhan. Suaranya menggema di antara lembah.

Hari ketujuh.

Pagi itu, Jinyu terbangun dengan firasat aneh. Udara terasa berbeda. Sunyi. Terlalu sunyi. Burung-burung tidak berkicau.

Ia keluar gua, mengamati sekitar. Di kejauhan, semak-semak bergerak. Perlahan, seekor harimau besar muncul.

Harimau itu raksasa. Tingginya hampir 1,5 meter di bahu, panjang tubuh lebih dari 3 meter. Belang-belang oranye dan hitam kontras di tengah salju. Matanya kuning menyala, menatap Jinyu dengan lapar.

Jinyu tidak bergerak. Ia menghitung jarak, kecepatan, sudut serang.

Harimau itu menggeram, rendah, dalam. Tubuhnya merendah, siap menerkam.

["Jinyu, ini harimau dewasa. Kuat dan berbahaya."]

Aku tahu.

Harimau itu menyerang.

Jinyu membanting tubuh ke samping, menghindari cakaran pertama. Ia berguling, bangkit, pisau di tangan. Harimau berputar, menyerang lagi. Jinyu melompat ke batu besar, lalu meloncat ke punggung harimau.

Harimau mengamuk, berusaha melemparkannya. Jinyu bertahan, satu tangannya mencengkeram bulu tebal, tangan lain menghunjamkan pisau ke leher harimau.

Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Harimau itu meraung kesakitan, berontak hebat. Jinyu terpental, jatuh ke tanah. Tubuhnya sakit, tapi ia cepat bangkit. Harimau sudah terluka, tapi masih bisa menyerang.

Pertarungan berlangsung sengit. Jinyu menggunakan segala teknik yang ia punya seperti kelincahan, kecepatan, ketepatan. Tubuh mungilnya bergerak seperti bayangan, menghindari setiap cakaran dan gigitan.

Akhirnya, setelah 10 menit pertempuran, Jinyu menemukan celah. Pisau di tangannya menghunjam tepat di mata harimau, menembus otak.

Harimau itu roboh. Getaran terakhir, lalu diam.

Jinyu terhuyung, napas terengah-engah. Tubuhnya penuh luka cakaran, bajunya robek, darah mengalir dari beberapa tempat. Tapi ia berdiri. Masih berdiri.

Ia menatap bangkai harimau itu lama. Aku menang.

["JINYU! KAU HEBAT! Harimau sebesar itu kau kalahkan!"]

Jinyu tersenyum tipis. Lalu ia ingat sesuatu. Sistem, tulang harimau bisa jadi obat, kan?

["Iya! Tulang harimau dalam pengobatan Tiongkok disebut 'hugu', berkhasiat untuk menguatkan tulang dan sendi, mengobati rematik. Sangat berharga!"]

Bagus. Aku ambil.

Jinyu mengeluarkan pisau, mulai menguliti harimau. Prosesnya lama dan melelahkan. Ia mengambil tulang-tulang utama, menyimpannya di ruang dimensi. Kulit harimau ia bersihkan dengan salju, lalu digulung rapi, juga masuk dimensi. Dagingnya ia potong besar-besar, sebagian untuk dimakan, sebagian untuk diasapi.

Selesai semua, ia berjalan ke sungai terdekat. Tubuhnya penuh darah. Ia membersihkan diri, meskipun air dingin membuatnya menggigil.

Setelah bersih, Jinyu berjalan kembali ke arah gua. Namun di tengah jalan, ia mendengar suara rintihan. Lirih, lemah, seperti tangisan bayi.

Jinyu mengerutkan dahi. Ia mengikuti suara itu, masuk ke semak-semak lebat. Di bawah pohon besar, tergeletak seekor anak harimau. Masih sangat kecil, mungkin baru lahir beberapa minggu. Matanya tertutup, tubuhnya menggigil kedinginan.

Jinyu terpaku. Ini... anak harimau tadi?

["Sepertinya begitu. Induknya meninggalkan dia untuk mencari makan. Kemungkinan induk itu adalah harimau yang baru kau bunuh."]

Jantung Jinyu berdetak lebih cepat. Aku membunuh induknya.

["ho'oh."]

Anak harimau itu merintih lagi, suaranya memilukan. Perlahan, matanya terbuka. Dua bola mata biru pucat menatap Jinyu. Lalu, dengan lemah, ia merangkak mendekat, menggosokkan kepala ke kaki Jinyu.

Jinyu membeku.

Dia... menganggapku induk?

["Refleks bayi hewan. Yang pertama dilihat setelah lahir dianggap induk. Mungkin dia baru buka mata sekarang."]

Jinyu merasa dadanya sesak. Rasa bersalah yang aneh menyergap. Sebagai ratu iblis, ia tak pernah peduli pada makhluk lain. Tapi sekarang...

Ia berjongkok, mengulurkan tangan. Anak harimau itu menjilat jarinya dengan lidah kecil. Matanya memancarkan kepercayaan penuh.

Jinyu menghela napas panjang. Aku tidak bisa meninggalkannya.

["Mau kau apakan? Bawa pulang?"]

Iya.

["Kamp tidak akan mengizinkan."]

Simpan di dimensi. Rawat di sana.

["Dimensi? Tapi—"]

Kau bisa bantu kan, Yoyo?.

Yoyo yang sejak tadi diam, akhirnya keluar. Ular perak itu melingkar di bahu Jinyu, menatap anak harimau.

Shshsss~ "Jinyu, kau serius mau pelihara dia?"

Iya.

Shshsss~ "Tapi aku yang akan merawat? Aku ular, bukan pengasuh harimau."

Aku kasih sogokan. Daging harimau banyak. Kau bisa makan enak.

Yoyo diam. Lalu—

Shshsss~ "......sebulan."

Apa?

Shshsss~ "Aku mau jatah daging sebulan. Dan kau harus ajak aku jalan-jalan di dimensi setiap hari."

["WAH, YOYO NEGO!"]

Diam kau.

Jinyu menatap Yoyo. Ular itu memasang wajah sok tegas. Tapi di matanya, ada kilatan gemas melihat bayi harimau.

Baik. Sepakat.

Yoyo mendesis puas. Shshsss~ "Ayo, bawa dia masuk."

Jinyu menggendong bayi harimau itu dengan hati-hati. Tubuhnya hangat, kecil, berbulu lembut. Ia membuka pintu dimensi, masuk bersama Yoyo. Di dalam, ia membuatkan sarang dari kain dan lumut kering. Bayi harimau itu diletakkan di sana, langsung terlelap kelelahan.

Yoyo melingkar di sampingnya, mulai menjilati bulu bayi itu naluri keibuan muncul.

Jinyu menatap mereka berdua. Dadanya hangat.

Maafkan aku, induk harimau. Tapi anakmu akan kujaga.

Ia keluar dari dimensi, kembali ke hutan. Salju mulai turun lagi. Masih ada 7 hari tersisa.

Tapi kini ia tidak sendirian.

Malam ketujuh, Jinyu duduk di depan api unggun. Di sampingnya, bayi harimau—yang ia beri nama "Xiao Hu" (Harimau Kecil)—tidur pulas dalam gendongan kain. Yoyo melingkar di bahunya, ikut menikmati hangat api.

["Jinyu."]

Apa?

["Kau berubah."]

Berubah? Kayaknya aku kayak gini aja, gak ada tuh jadi laba-laba sunda

["Dulu kau ratu iblis, hati dingin, kau tidak mengerti arti mengasihani sesuatu. Sekarang kau bahkan mau merawat anak harimau."]

Jinyu diam. Lalu ia tersenyum kecil.

Mungkin itu yang disebut hidup.

Angin malam berdesir. Salju turun perlahan. Jinyu memeluk Xiao Hu lebih erat.

Tujuh hari pertama selesai.

Tujuh hari kedua akan segera dimulai.

1
Dewiendahsetiowati
keluarga Su pasti kangen berat sama jinyu.gimana kabar Yoyo dan Xiao Bai ya
Herli Yani
seru selalu buat deg-degkan rasa jangan lama2 y Thor 👍
Julia thaleb
shiou hu dan yoyo kan bisa tinggal diruang dimensi ..?
Cloudia: maaf ya, ini kelalaian saya. saya lupa buat bahwa mereka sengaja ditinggal untuk melatih anak didik miliknya makanya si Jinyu bilang supaya mereka tidak sedih. saya kelupaan buat🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
kenapa Yoyo dan Xiao Hu tidak di taruh di ruang dimensi jadi bisa ikut kemana2
Cloudia: sengaja ditinggal untuk melatih anak didiknya 🤭
total 3 replies
Dewiendahsetiowati
benar2 Ratu iblis sejati membunuh 1000 orang dalam semalam
XIA LING
lanjutkan 💪
nana
ditunggu up nya🤭
Dewiendahsetiowati
ditunggu up selanjutnya, bikin nagih bacanya..semangat terus thor
Dewiendahsetiowati
Ratu iblis yang masih punya hati
Dewiendahsetiowati
Jinyu mantab
Batara Kresno
bukannya diruang dimensi banyak senjata pistol kan punya dia
Cloudia: iya, tapi dia selagi bisa tanpa senjata dimensi nya ya digas terus
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin baca semakin candu dengan ceritanya,gak pernah bosan bacanya
Marsya
pokoknya the best dech ceritanya author,smangat slalu author👍👍👍👍
nana
lanjut min😍
Batara Kresno
kerem ceritanya thor semangat yerus buat up date ya sllu ditunggu
Batara Kresno
keren
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Ellasama
makin seruuu, makin banyak up ny/Hey/
Ellasama
up yg banyak y Thor, selalu suka SM karyamu💪
Ellasama
terus up y Thor jangan putus ditengah jalan /Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!