NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Nyanyian Sunyi di Balik Gerbang Glanzwald

Langit di atas Eisenberg Manor atau Glanzwald sore itu tampak kelabu, seolah-olah awan-awan itu sendiri menanggung beban rahasia yang tersembunyi di dalam paviliun megah ini. Daisy duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh tumpukan naskah komik dan sketsa lagu yang belum selesai. Namun, pikirannya tidak ada pada pekerjaannya.

Ia menatap seorang wanita tua yang berdiri gemetar di hadapannya. Namanya Bi Martha, salah satu pelayan paling senior yang sudah bekerja di kediaman utama Eisenberg sejak Matthew masih memakai seragam sekolah militer. Martha adalah saksi bisu dari segala perubahan suasana hati sang Duke.

"Nyonya Muda, saya... saya tidak tahu apa yang Lady Beatrice katakan pada Anda," suara Martha hampir berbisik, matanya melirik ke arah pintu yang tertutup rapat.

Daisy meletakkan pena mahalnya dengan denting yang tajam. Ia menatap Martha dengan mata cokelat madunya yang jernih—tatapan yang biasanya lembut, kini terasa menusuk. "Bi Martha, aku tahu kau berada di sana saat kejadian empat tahun lalu itu. Aku tahu kau melihat bagaimana gadis bernama Maira itu hidup di bawah bayang-bayang ketakutan."

"Nyonya..."

"Jangan berbohong padaku," potong Daisy tenang namun tegas. "Statusku di rumah ini adalah sebagai istri Matthew. Tapi ingat, diluar bisa saja lebih daripada sekedar status. Jika aku mau, aku bisa memastikan masa pensiunmu menjadi sangat sulit. Tapi jika kau bicara jujur, rahasia ini akan terkubur bersamaku. Aku hanya ingin tahu siapa pria yang kunikahi ini sebenarnya."

Martha menelan ludah. Ia melihat sosok Daisy yang mungil namun memiliki aura otoritas yang tidak bisa ia bantah. Akhirnya, dengan tangan yang saling bertaut, wanita tua itu mulai bercerita.

"Tuan Muda Matthew... saat itu dia baru berusia dua puluh dua tahun, Nyonya. Dia sangat... berapi-api," Martha memulai dengan suara parau. "Maira adalah gadis yang malang. Dia sangat cantik dengan mata abu-abunya yang selalu tampak ketakutan. Tuan Muda terobsesi padanya karena Maira adalah satu-satunya hal yang tidak bisa ia kendalikan dengan perintah militer. Maira mencintai seorang dokter muda, dan itu membuat Tuan Muda murka."

Daisy mendengarkan setiap kata dengan napas tertahan.

"Tuan Muda mengurungnya di paviliun sayap barat. Dia mengancam akan menghancurkan hidup bibi Maira jika Maira mencoba pergi. Saya pernah melihat Maira bersujud di kaki Tuan Muda, menangis hingga suaranya habis, hanya untuk diizinkan keluar sebentar. Tapi Tuan Muda hanya berdiri di sana, menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah tangisan itu adalah musik baginya."

Hati Daisy mencelos. Bayangan Matthew yang tegak dan dingin saat ini, ternyata memiliki masa lalu sebagai pria yang kejam demi sebuah obsesi.

"Gadis itu... Maira, dia tidak mencintai Tuan Muda. Dia hanya takut. Hingga akhirnya bibinya nekat membantunya kabur saat Tuan Muda pergi berperang di usia dua puluh empat tahun. Tuan Muda mengamuk saat pulang, Nyonya. Dia mencari ke seluruh penjuru negeri, tapi dokter itu membawa Maira pergi sangat jauh. Setelah itu... Tuan Muda berubah. Dia menjadi sangat dingin dan tajam seperti yang Anda lihat sekarang."

Martha mendekat, suaranya mengecil menjadi bisikan yang sangat tipis. "Saya mohon, Nyonya Muda. Jangan pernah beritahu Tuan Duke bahwa saya menceritakan ini. Dia akan menghancurkan saya jika tahu rahasia lamanya terbongkar."

Daisy mengangguk perlahan. "Terima kasih, Bi Martha. Kau boleh pergi."

Setelah pintu tertutup, Daisy menyandarkan punggungnya di kursi. Ia merasa mual. Jadi, semua itu benar. Ia bukan sekadar pajangan; ia adalah upaya penebusan dosa yang gagal dari keluarga Eisenberg. Ia adalah istri pengganti yang dianggap lebih aman dan bermartabat untuk meredam kegilaan masa lalu Matthew.

"Kau menghancurkan hidup gadis itu, Matthew," gumam Daisy, air mata mulai menetes membasahi pipi porselennya. "Dan kau pikir kau bisa memperlakukanku sama? Kau pikir diammu saat ini adalah bentuk kelembutan? Padahal itu hanya cara baru untuk mengurungku."

Sementara itu, ribuan mil jauhnya di markas militer.

Matthew von Eisenberg berdiri di depan jendela tendanya, menatap salju yang mulai mencair. Di tangannya, ia memegang sepucuk surat lagi yang baru saja ia tulis. Namun, tumpukan surat di sudut meja yang tidak pernah dibalas oleh Daisy mulai membuatnya gila.

Sudah lima minggu. Lima minggu keheningan total dari Glanzwald.

"Ada apa denganmu, Daisy?" Batin Matthew. Suaranya tidak lagi terdengar seperti perintah militer, melainkan penuh dengan nada kebingungan yang rapuh.

Matthew mulai merasa sesak. Ia terbiasa dengan kepatuhan. Ia terbiasa mendapatkan laporan setiap hari. Tapi keheningan Daisy adalah jenis serangan yang tidak pernah ia pelajari di akademi militer. Ia mulai memeriksa setiap detail dari surat terakhir Daisy yang ia terima bulan lalu. Ia membacanya berulang-ulang, mencari apakah ada kata-kata yang salah, apakah ada nada yang menunjukkan kemarahan.

Ia tidak tahu bahwa Daisy sudah tahu segalanya.

Matthew meraih sapu tangan berinisial "D" di sakunya. Ia meremas kain sutra halus itu. Ia merindukan keheningan yang nyaman saat Daisy berada di dekatnya dulu. Ia merindukan bagaimana Daisy selalu menunduk saat mereka makan malam bersama, memamerkan tengkuknya yang putih.

Apakah dia jatuh sakit? Atau apakah ada pria lain yang mulai mendekatinya saat aku pergi?

Pikiran tentang pria lain membuat darah Matthew mendidih. Insting posesifnya yang dulu hampir menghancurkan Maira mulai bangkit kembali. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Jika dulu pada Maira ia merasa ingin mengurung, pada Daisy ia merasa ingin... dimengerti.

Ia ingin Daisy tahu bahwa ia tidak lagi pria berumur dua puluh dua tahun yang labil. Ia ingin Daisy tahu bahwa setiap malam di medan perang, ia hanya membayangkan aroma rambut hitam panjang istrinya.

"Daisy... balaslah satu kata saja," gumamnya.

Matthew mengambil pena dan menulis sebuah surat lagi. Kali ini bukan laporan militer. Bukan juga janji pulang.

"Daisy, keheninganmu lebih menakutkan daripada badai salju di sini. Beritahu aku apa yang salah. Jika kau ingin aku pulang sekarang juga, aku akan melepaskan jabatanku dan kembali padamu."

Ia menatap kalimat itu lama sekali sebelum akhirnya merobeknya. Gengsinya sebagai Jenderal Agung dan ketakutannya untuk terlihat lemah kembali menghalanginya. Akhirnya, ia hanya mengirimkan sebuah paket kecil berisi sebuah lencana keberanian militer yang paling berharga baginya, tanpa sepatah kata pun. Sebuah simbol bahwa ia menyerahkan kehormatannya pada wanita itu.

Di Glanzwald, Daisy menerima paket itu beberapa hari kemudian. Ia membuka kotak beludru kecil itu dan melihat lencana emas yang berkilau. Ia tahu apa artinya ini—ini adalah barang yang paling dibanggakan oleh Matthew.

Namun, Daisy hanya menatapnya dengan tatapan kosong.

"Kau pikir kehormatanmu bisa membeli perasaanku?" Daisy meletakkan lencana itu di atas meja dengan kasar.

Sifat mandiri Daisy kini bercampur dengan rasa muak yang mendalam. Ia mulai melakukan rutinitas baru: ia sengaja pergi ke kota lebih sering, menghadiri galeri seni, dan bertemu dengan rekan-rekan musisinya. Ia sengaja membiarkan wajahnya terpampang di media sosial dan berita, menunjukkan pada dunia—dan pada Matthew—bahwa ia baik-baik saja, bahkan sangat bahagia, tanpa kehadirannya.

Ia sedang membangun jarak yang mustahil untuk ditembus oleh Matthew. Ia ingin saat Matthew pulang nanti, pria itu akan menemukan seorang wanita yang tidak lagi bisa disentuh oleh tangannya yang berlumuran masa lalu.

"Jika kau ingin aku memohon dan menangis seperti gadis itu, kau salah besar, Matthew von Eisenberg," ucap Daisy sambil memotret matahari terbenam di dermaga. "Aku adalah Penulis Lagu. Aku yang menentukan bagaimana akhir dari cerita ini. Dan dalam ceritaku, Jenderal Agung tidak mendapatkan mawar yang ia lukai."

Daisy menatap lencana itu sekali lagi sebelum menutup kotaknya rapat-rapat. Ia memutuskan untuk tidak akan pernah membalas surat atau paket apa pun lagi sampai musim panas ketiga tiba. Biarlah Matthew tersiksa dalam ketidakpastian di sana, sebagaimana Maira dulu tersiksa dalam kurungan paviliun sayap barat.

Keheningan di Glanzwald kini bukan lagi sunyi yang damai, melainkan sunyi yang menantang. Sebuah perang dingin telah dimulai di antara pasangan yang kaku ini, dan kali ini, Daisy yang memegang senjatanya.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!