Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Berantakan.
Bang Rama mengejar Dinda sampai ke kamar, menutup pintu dengan lembut agar suara Arben yang masih emosi tidak kedengar. Dinda duduk di ujung ranjang, wajahnya masih memerah tapi kini ditutupi khawatir.
"Ada masalah apalagi?? Kalau memang nggak boleh ya tidak akan Abang lakukan. Lagipula Abang juga tau batasan. Alhamdulillah juga Abang tidak jadi dokter kandungan, iya kan??" Kata Bang Rama.
Dinda menarik nafas dalam-dalam. Memang itulah yang ia rasakan saat ini.
"Dinda lihat Dira mual dan muntah, bagaimana kalau apa yang kita lakukan juga bisa bikin hal sama, padahal kita belum resmi. Bagaimana kalau Dinda hamil, Bang?"
"Ya terus kenapa??? kalau hamil juga ada bapaknya. Abang nggak akan lari, nggak pengen lari. Sudahlah, jangan mikir macam-macam." Jawab Bang Rama tegas, wajahnya menunjukan keseriusan.
Dinda duduk, kakinya serasa lemas namun nafasnya mulai tenang meskipun masih nampak rona cemas di wajahnya.
Bang Rama mengusap puncak kepala Dinda. "Tenang ya, Abang sudah mengambil langkah ini. Banyak berdo'a, semoga apapun yang Abang lakukan lancar tanpa halangan apapun, biar kita juga bisa cepat bersama.
\=\=\=
Beberapa waktu kemudian.
Bang Arben dan Bang Sanca sedang berbahagia menyambut buah hati mereka. Hanya Bang Rama sendiri yang masih terdiam, dalam hati kecilnya masih berharap ada keajaiban, malaikat kecilnya bisa hadir menolongnya dan keluar dari masalah pelik yang sedang di hadapinya.
Tak lama ada seorang anggota datang menghadap pada tiga pria yang berniat pulang, mereka berbincang santai usai korve tempat latihan tembak untuk esok hari.
"Ijin, danton.. Ada yang ingin bertemu dengan Pak Rama." Kata salah seorang anggota tersebut.
"Siapa?" Tanya Bang Rama.
~
Bang Rama duduk berhadapan dengan Meranti, namun kedua sahabatnya tetap mendampingi.
Ranti membawa perut besarnya. Sejenak Bang Rama terdiam, ia melihat Ranti dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kenapa kamu bisa sampai kesini??" Tanya Bang Rama.
"Sekarang Ranti sudah sadar, Ranti mau nurut sama Abang. Kita besarkan anak ini sama-sama ya, Bang..!!" Kata Ranti.
Bang Rama terdiam, tatap matanya iba namun hatinya kini tak lagi sama. Hanya melihatnya tidak lebih dari seorang manusia.
"Saya sudah katakan, saya sudah beristri."
"Aku tau, pasti itu yang akan kamu katakan. Jadi sebelum kesini, aku menemui wanita itu lebih dulu." Jawab Ranti.
"Maksudmu?????"
Ranti berlinang air mata di hadapan Bang Rama. "Aku sudah memohon agar dia pergi, akun sudah memohon padanya agar mengembalikanmu padaku. Dia belum punya anak, sedangkan aku... Aku butuh ayah untuk anak ku.."
"Apaa????? Cerita kita sudah selesai, Ranti. Kau sendiri yang memilih laki-laki b******n itu, kau yang membuat cerita kita hancur." Bentak Bang Rama.
"Tapi aku sudah minta maaf, aku tau aku salah, aku sudah tobat." Isak tangis Ranti kembali berlinang.
Tak ingin berdebat lagi, Bang Rama berlari ke arah parkiran lalu pulang ke rumah.
:
Bang Rama mencari Dinda kesana kemari. Tapi dirinya tidak menemukan Dinda.
Perintahnya pun segera beredar, beberapa orang anggotanya ikut mencari dinda.
Hingga malam pencarian, Bang Rama masih belum bisa menemukan Dinda di manapun.
"Dindaaaa..!!!!!! Dindaaaaaaaaaa???????"
"Sabar Ram.. Istighfar..!! Kita cari lagi besok ya, kamu juga " Bujuk Bang Arben.
Dari kejauhan terdengar langkah Bang Ardi datang. Wajahnya pias, lemas, keringat pun mengucur dari keningnya.
Bang Rama begitu emosi melihat sahabatnya itu. Ia berdiri dan langsung melayangkan hantaman ke wajah Bang Ardi.
"Kamuuu.. Kalau saja kamu tidak berulah, aku dan Dinda sudah bisa bersama."
"Kamu hanya menyalahkanku saja?????? Lantas kau apa????? Ranti???? Dia hamil anakmu, kan??? Aku mempertahankan Dinda karena aku cinta Dinda." Pekik Bang Ardi.
"Kau cinta tapi ibumu tidak. Apa kamu tau, seluruh uang gaji Dinda sebagai pramugari di minta ibumu, bahkan uang lembur pun di bawanya. Apa kamu juga tau kalau Dinda sampai kerja jadi SPG rokok agar dia bisa makan untuk menyambung hidupnya, itu semua karena ibumu yang be**bah." Bentak Bang Rama.
Bang Ardi terhuyung, sungguh dirinya syok mendengar ucapan Bang Rama. Bibirnya terbungkam. Sepatah kata pun tidak berani terucap.
Bang Rama hendak kembali menghajarnya namun Bang Sanca menarik Rama yang masih emosi. "Sudah, Ram..!! Sekarang bukan waktunya a untuk berkelahi. Kita harus fokus cari Dinda."
Tanpa berkata apa-apa, Rama melepaskan diri dan berlari lagi ke arah rumahnya. Hatinya berdebar kencang.
'Apa Dinda sudah pulang?'
Tapi ketika pintu dibuka, rumahnya masih sunyi dan kosong. Hanya ada selembar kertas di meja ruang tamu, tertutup asbak dengan rapi.
Tangannya gemetar saat mengambil kertas itu. Tulisan Dinda yang rapi terlihat jelas..
Maaf, Dinda pergi tanpa pamit. Mbak Ranti datang ke rumah tadi pagi. Dia menangis dan minta aku pergi dari hidupmu. Dia ingin Abang bertanggung jawab pada anaknya, dan Dindaa.. Dinda tidak siap untuk bersaing memperebutkan Abang apalagi Mbak Ranti mengandung.
Abang, Dinda tau tentang uang yang ibunya Bang Ardi ambil dariku. Dinda tidak marah, hanya lelah. Lelah berjuang sendirian, lelah merasa tidak pernah layak untuk siapapun.
Dinda minta maaf kalau Dinda tidak bisa menunggu setiap langkah Abang, ada yang lebih berhak. Semoga Abang dan Mbak Ranti serta anak Abang bisa bahagia. Jangan cari Dinda, Bang. Biarkan Dinda pergi, lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita.
Dinda.
Dada Bang Rama berdebar kencang, denyut nadinya tak beraturan. Terbersit rasa nyeri di dadanya. "Dindaaa.." Ucapnya lirih, tenaganya habis.
"Raam.. Ramaaaa.." Bang Arben menopang tubuh sahabatnya yang lemas.
//
"Ijin, Dan.. Ada seorang wanita pingsan di dermaga. Sepertinya hanyut terbawa ombak." Laporan salah seorang anggota di pulau seberang.
"Monitor, evakuasi dulu. Saya kesana sekarang..!!"
.
.
.
.
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara