NovelToon NovelToon
Permaisuri Gendut

Permaisuri Gendut

Status: tamat
Genre:Fantasi Isekai / Time Travel / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: ANWi

Tiara Mo akan menghadiri kompetisi tinju tahunan, namun dalam perjalanan ia mengalami kecelakaan dengan truk tangki minyak , saat sadar ia sudah menempati tubuh permaisuri 200kg.

" APA APA INI ! APA PEMILIK TUBUH ASLI TIDAK BISA MENAHAN RASA LAPAR !" Pekik tiara mo kesal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15 : Sihir Hitam

Malam setelah Upacara Peringatan tidaklah tenang. Di dalam Paviliun Anggrek milik Selir Ning, suara barang-barang pecah terus terdengar. Guci-guci keramik mahal hancur berkeping-keping di lantai.

​"Bagaimana bisa?! Bagaimana bisa wanita jalang itu berdiri di sana dan membuatku terlihat seperti badut!" pekik Selir Ning. Wajah cantiknya kini tampak mengerikan karena amarah yang meluap.

​Bi Er berlutut gemetar di pojok ruangan.

"Nyonya, hamba rasa Permaisuri menggunakan sihir hitam dari Bangsa Tang. Tidak mungkin berat badannya menyusut dan kekuatannya bangkit secepat itu tanpa bantuan iblis."

​Selir Ning berhenti mengamuk. Ia mengatur napasnya yang memburu. Matanya menyipit licik. "Sihir hitam?

Benar... itu alasan yang bagus. Jika aku tidak bisa membunuhnya dengan racun, aku akan membunuhnya dengan hukum kekaisaran. Di Daxuan, sihir hitam adalah hukuman mati tanpa ampun."

​Sementara itu, di Paviliun Teratai yang jauh lebih tenang, Lin Yue sedang mengompres memar di tangannya dengan air dingin. Pertunjukan tadi siang memang memuaskan, tapi tubuh ini tetaplah manusia. Otot-ototnya yang baru bangun setelah sekian lama terasa seperti ditarik-tarik.

​"Yang Mulia, Anda luar biasa tadi," ucap Xiao Xiao sambil membawa nampan berisi sayuran kukus dan dada ayam tanpa kulit. "Para pelayan dapur sekarang bahkan takut menatap mata hamba saat hamba mengambil bahan makanan."

​Lin Yue tersenyum tipis. "Rasa takut adalah awal dari rasa hormat di tempat seperti ini, Xiao Xiao. Tapi jangan lengah. Selir Ning tidak akan diam setelah dipermalukan seperti itu."

​Benar saja. Tengah malam, saat Lin Yue baru saja hendak memejamkan mata, indra pendengarannya yang tajam menangkap suara gesekan halus di atas atap. Bukan langkah Han Shuo yang berwibawa, tapi langkah yang terburu-buru.

​Lin Yue tidak bangun dari ranjangnya. Ia tetap memejamkan mata, namun tangannya diam-diam meraih belati perak

pemberian Han Shuo di bawah bantal.

​Srak... srak...

​Sesuatu dijatuhkan melalui celah ventilasi. Sebuah bungkusan kecil yang mengeluarkan aroma dupa yang sangat menyengat—dupa pemancing roh yang sering diasosiasikan dengan praktik perdukunan terlarang.

​Tak lama setelah bungkusan itu jatuh, suara teriakan pengawal terdengar dari luar paviliun.

​"Buka pintu! Ada laporan tentang bau sihir hitam dari Paviliun Teratai!"

​Lin Yue membuka matanya. Ia langsung mengerti permainannya. Fitnah sihir hitam. Klasik sekali, batinnya sinis.

​Para pengawal yang dipimpin oleh kasim kepercayaan Ibu Suri mendobrak pintu. Selir Ning muncul di belakang mereka, tampak mengenakan jubah tidur seolah-olah dia baru saja terbangun

karena "gangguan roh".

​"Yang Mulia Permaisuri, mohon ampun atas kelancangan kami, tapi bau ini... ini adalah aroma terlarang," ucap sang kasim dengan nada menuduh.

​"Geledah!" perintah Selir Ning dengan nada panik yang dibuat-buat. "Jangan biarkan sihir ini mencelakai kaisar!"

​Para pengawal langsung menuju sudut tempat bungkusan itu jatuh. Namun, saat mereka mengambilnya, Lin Yue bangkit dari ranjang dengan gerakan tenang.

​"Apakah itu yang kalian cari?" tanya Lin Yue sambil menunjuk ke arah bungkusan di tangan pengawal.

​"Ini adalah bukti kuat, Yang Mulia!" seru sang kasim.

​Lin Yue tertawa pendek, suara tawanya terdengar kering dan meremehkan. "Coba buka bungkusan itu baik-baik. Dan kau, Kasim, apakah kau yakin hidungmu tidak tersumbat oleh debu?"

​Saat bungkusan itu dibuka, isinya bukanlah mantra sihir hitam, melainkan hanya campuran rempah-rempah dapur: kayu manis, cengkeh, dan kulit jeruk kering yang dibakar sedikit.

​Wajah Selir Ning membeku. "M-mustahil... baunya tadi..."

​"Baunya memang kuat karena aku sedang mencoba mengusir nyamuk-nyamuk pengganggu yang sering masuk ke kamarku tanpa izin," sahut Lin Yue sambil menatap Selir Ning tajam.

​Ternyata, sesaat setelah bungkusan asli jatuh dari atap, Han Shuo yang memantau dari kejauhan telah menukarnya secepat kilat dengan bungkusan rempah dapur sebelum pengawal masuk. Lin Yue menyadari kehadiran Han Shuo di detik-detik kritis itu.

​Selir Ning gemetar hebat. Ia merasa seperti masuk ke dalam perangkapnya sendiri.

​"Selir Ning," Lin Yue melangkah mendekat, tubuhnya yang kini mulai berbentuk tegap itu menaungi sosok selir yang mungil.

"Lain kali jika ingin menuduhku menggunakan sihir, pastikan kau tidak mengirim pelayanmu yang ceroboh untuk menjatuhkan 'bukti' melalui atap. Aku seorang petarung, indra pendengaranku bisa mendengar detak jantung tikus di balik tembok sekalipun."

​"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!" Selir Ning berteriak dan berbalik lari meninggalkan paviliun itu bersama para pengawal yang merasa malu.

​Setelah ruangan sepi, Han Shuo turun dari plafon kayu dengan gerakan tanpa suara.

​"Kau berhutang padaku," ucap Han Shuo datar.

​Lin Yue menyandarkan punggungnya ke pilar. "Aku tahu kau tidak melakukan itu gratisan. Apa yang kau inginkan?"

​Han Shuo menatap Lin Yue lama.

Tatapannya kini lebih dalam, tidak lagi hanya sekadar melihat alat balas dendam. "Besok, Kaisar Long Wei akan membawamu ke perburuan di hutan belakang istana. Itu bukan perburuan biasa. Selir Ning telah menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisimu di sana, dan kaisar akan berpura-pura tidak melihat."

​Lin Yue mengepalkan tangannya. "Bagus. Di hutan, tidak ada saksi mata. Itu tempat yang sempurna untukku mencoba teknik baruku."

​"Kau tidak mengerti, Lin Yue. Ada sepuluh orang pembunuh profesional. Kau tidak bisa melawan mereka sendirian dengan tubuh yang baru setengah pulih ini," tegas Han Shuo.

​Lin Yue mendekati Han Shuo, hanya berjarak satu jengkal. "Siapa bilang aku sendirian? Bukankah kau akan ada di sana, 'Pengawal Bayanganku'?"

​Han Shuo terdiam. Jarak yang sangat dekat ini membuatnya bisa melihat binar api yang liar di mata Lin Yue—bara yang sama yang ia rasakan saat tahtanya dirampas dulu.

​"Gunakan ini," Han Shuo menyerahkan sebuah pelindung lengan dari kulit baja.

"Besok, jangan hanya bertahan. Jika kau ingin tahta ini bergoyang, kau harus memulainya dengan meneteskan darah kaisar itu sendiri."

​Lin Yue tersenyum licik. "Aku mengerti. Darah dibalas darah." Ujar nya.

***

Happy Reading 😘

Mohon dukungan untuk

• Like

• Komen

• Subscribe

• Follow penulis

Terimakasih ❤️

1
💜 ≛⃝⃕|ℙ$°INTAN@RM¥°🇮🇩
mampir kak
ANWi: makasi udah mampir kaka cantik ~
total 1 replies
Erlina Ibrik
Berarti Han shuo adalah Putra mahkota atau Kaisar yang sesungguhnya..?
🧐
Erlina Ibrik
Semangat Author , awal cerita keliatan menarik 👍
ANWi: terimakasih sudah mampir kak erlina ~
total 1 replies
sahabat pena
happy ending... di tunggu karya baru nya Kak💪💪💕
sahabat pena: Sama-sama Kak
total 2 replies
sahabat pena
pilihan yg terbaik adalah mengikuti kata hati mu tiara mo. semangat lanjut Kak 💪💪💪
sahabat pena: sama sama kak
total 2 replies
Sribundanya Gifran
lanjut💪💪💪
ANWi: siap kakak cantik~
total 1 replies
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
ANWi: siap kak, terimakasi sudah mampir~
total 1 replies
sahabat pena
kurang waspada
ANWi: iya nih Lin Yue ga fokus , kenapa ya~
total 1 replies
sahabat pena
jangan bilang jodoh nya permaisuri itu han suo lagi? 🤣🤣🤣🤣
ANWi: waduh~
total 1 replies
sahabat pena
lanjut kak💪💪💪😘
sahabat pena
part awal masih penasaran. lanjut kak💪💪💪
sahabat pena: sama sama trs semangat kak💪💪💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!