NovelToon NovelToon
Penghianatan Tak Termaafkan

Penghianatan Tak Termaafkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Selingkuh / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."

​Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.

​Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.

​Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.

Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.

By: Miss Ra

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 9

Jakarta selalu memiliki aroma yang sama, sebuah campuran ganjil antara debu jalanan yang panas, asap knalpot yang menyesakkan, dan ambisi yang tidak pernah padam dari gedung-gedung pencakar langitnya.

Namun bagi Kirana, kepulangannya kali ini membawa aroma yang sangat berbeda, aroma pembalasan yang dingin, setajam pisau bedah yang siap membedah busuknya kekuasaan keluarga Mahendra.

Tiga bulan di Singapura dan masa pengasingan yang sunyi di Bogor telah mengubah segalanya. Tidak ada lagi Kirana yang penuh keraguan atau Kirana yang mudah tersipu karena pujian murahan. Di bawah bimbingan Reza, pria yang telah kehilangan segalanya karena keluarga Mahendra, Kirana telah membangun Nirmala Capital. Sebuah firma ekuitas misterius yang dalam waktu singkat mulai menggerogoti kaki-kaki kekuasaan Mahendra Group melalui akuisisi diam-diam terhadap para vendor mereka.

Namun, Kirana tahu bahwa menghancurkan sebuah dinasti tidak bisa hanya dilakukan dengan menyerang dari luar. Ia harus masuk kembali ke jantung pertahanan mereka. Ia harus membiarkan musuhnya merasa sedang mendapatkan angin segar, membiarkan mereka merasa menang sekali lagi, sebelum akhirnya ia menarik tuas penghancur dari dalam.

Malam itu, Hotel Ritz-Carlton Jakarta menjadi saksi bisu kembalinya sang 'Ratu Es'. Acara Investment Summit yang dihadiri oleh para raksasa perbankan adalah tempat di mana keluarga Mahendra sedang mengemis kepercayaan investor. Proyek hotel mewah mereka di Bali kini mangkrak, ditinggalkan investor asing, dan berada di ambang kebangkrutan yang memalukan.

Kirana turun dari Mercedes-Maybach hitam pekat. Ia mengenakan gaun sutra berwarna perak metalik yang jatuh dengan sempurna di tubuhnya yang kini tampak lebih ramping namun memancarkan ketegasan.

Rambut bob pendeknya yang dipotong tajam memberikan kesan wanita yang memiliki kendali mutlak. Ia tidak mengenakan perhiasan apa pun kecuali sebuah jam tangan pria berukuran besar di pergelangan tangannya, sebuah simbol dominasi maskulin yang ia klaim sebagai miliknya.

"Ingat, Kirana," suara Reza terdengar melalui earpiece kecil yang tersembunyi di balik rambutnya. "Arka adalah mangsa yang lapar. Dia sedang terpojok secara finansial dan sosial. Dia akan mencari siapa saja yang bisa menyelamatkannya. Jadilah penyelamat itu, jadilah harapan palsunya, tapi jangan biarkan setitik pun emosimu tersentuh lagi."

Kirana menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di kaca lobi, dan melangkah masuk dengan langkah yang mengintimidasi.

Di dalam ballroom, suasana terasa sangat tegang bagi keluarga Mahendra. Arka tampak jauh lebih kurus dari terakhir kali Kirana melihatnya. Wajahnya yang biasanya penuh kesombongan kini dihiasi gurat kecemasan yang ia tutupi dengan senyum palsu yang melelahkan. Skandal taruhan itu telah membuatnya menjadi paria di mata kolega bisnisnya, meskipun pengaruh ayahnya masih cukup kuat untuk menjauhkannya dari jeruji besi.

"Belum ada kabar dari perwakilan Nirmala Capital?" tanya Surya Mahendra dengan suara rendah yang sarat akan amarah yang terpendam.

"Belum, Ayah. Mereka hanya bilang CEO mereka akan datang langsung malam ini," jawab Arka, matanya gelisah menyisir pintu masuk.

Tiba-tiba, suara riuh rendah terdengar. Kerumunan wartawan dan pengusaha terbelah seperti Laut Merah. Kirana berjalan masuk dengan ketenangan yang mematikan. Tujuannya hanya satu, meja utama di mana keluarga Mahendra duduk seperti bangsawan yang sedang jatuh miskin.

Arka terpaku. Gelas sampanye di tangannya bergetar hebat. Matanya membelalak, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Sosok yang ia pikir sudah hancur berkeping-keping kini berdiri di depannya dengan kekuatan yang sepuluh kali lebih besar.

"Kirana?" gumamnya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Kirana sampai di depan meja mereka. Ia tidak tersenyum. Ia hanya menatap Surya dan Arka bergantian dengan tatapan profesional yang sangat dingin.

"Selamat malam, Pak Surya. Pak Arka," suara Kirana jernih dan berwibawa. "Saya Kirana, CEO dari Nirmala Capital. Saya di sini untuk membahas minat kami terhadap proyek Bali Anda yang sedang bermasalah."

Surya Mahendra berdiri, wajahnya menunjukkan kebingungan yang bercampur dengan rasa hormat yang dipaksakan. "Kirana? Bagaimana bisa... maksud saya, kami mengira Anda sudah pensiun dari dunia ini."

"Dunia bisnis tidak pernah berhenti hanya karena satu malam yang buruk, Pak Surya," Kirana memotong dengan senyum tipis yang mematikan. "Saya telah beralih ke investasi strategis, dan kebetulan, aset Mahendra Group di Bali masuk dalam kriteria akuisisi kami."

Arka melangkah maju, mencoba mendekati Kirana dengan tatapan memohon yang sangat halus. "Kirana, aku tidak percaya ini kau. Kau terlihat... sangat berbeda."

Kirana menatap Arka seolah-olah pria itu hanyalah debu yang menempel di sepatunya. "Pak Arka, di ruangan ini, saya adalah calon investor Anda. Bukan mantan rekan bisnis, dan bukan apa pun yang ada di imajinasi Anda. Bisakah kita bicara secara profesional?"

Pertemuan itu berlanjut di ruang VIP yang lebih privat. Kirana mengeluarkan tabletnya dan mulai memaparkan angka-angka yang membuat Surya Mahendra terperangah. Kirana tahu setiap celah kebocoran keuangan mereka, setiap hutang tersembunyi, dan setiap kelemahan struktur bangunan mereka di Bali.

"Saya bersedia menyuntikkan dana sebesar lima ratus miliar rupiah untuk menyelamatkan proyek Bali," ujar Kirana tenang. "Tapi dengan satu syarat mutlak. Manajemen proyek harus berada di bawah kendali Nirmala Capital secara penuh, dan Pak Arka harus bekerja langsung di lapangan sebagai manajer operasional bawah pengawasan saya."

Arka terkejut. "Bekerja di lapangan? Di bawah pengawasanmu?"

"Jika Anda ingin menyelamatkan nama besar Mahendra, Pak Arka, Anda harus membuktikan bahwa Anda bisa bekerja keras di lumpur, bukan hanya bertaruh di kelab malam," balas Kirana tajam.

Surya Mahendra tidak punya pilihan lain. Bank sudah memberikan tenggat waktu penyitaan. "Kami setuju," ucap Surya berat, meski hatinya mendidih melihat putranya direndahkan.

Setelah Surya pergi, tinggallah Arka dan Kirana di ruangan itu. Keheningan yang canggung menyelimuti mereka.

Arka berdiri, mencoba melembutkan ekspresi wajahnya menjadi sosok yang paling rentan. "Kirana, aku tahu kau membenciku. Aku tahu apa yang terjadi di pesta itu adalah dosa terbesarku. Tapi melihatmu kembali seperti ini... aku merasa bangga, sekaligus sangat menyesal."

Kirana tidak bergeming sedikit pun. "Simpan kata-katamu, Arka. Aku di sini untuk bisnis, bukan untuk rekonsiliasi emosional."

"Dengar!" Arka mencoba meraih tangan Kirana, namun Kirana dengan cepat menariknya menjauh. "Aku sudah berubah. Skandal itu menghancurkanku secara mental. Aku menyadari bahwa aku telah kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar peduli padaku. Selama tiga bulan ini, aku tidak pernah berhenti mencari jejakmu."

"Kau mencariku untuk menyelamatkan sahammu, bukan karena kau mencintaiku," desis Kirana.

"Tidak! Aku serius," Arka tampak sangat emosional, matanya memerah. "Aku bahkan kembali ke panti asuhan itu setiap minggu, mencoba menemukan bayanganmu di sana. Anak-anak menanyakanmu setiap hari. Aku menyadari bahwa aku tidak hanya menyakitimu, tapi aku membunuh bagian terbaik dari diriku sendiri."

Arka mengambil sesuatu dari saku jasnya. Itu adalah kalung safir yang dulu diputuskan oleh Kirana. Rantainya sudah diperbaiki dengan sangat rapi.

"Aku menyimpannya. Aku memperbaikinya sebagai bentuk pertobatan. Aku berharap suatu saat aku bisa memakaikannya kembali di lehermu dan memohon satu kesempatan untuk menebus semuanya."

Kirana merasakan getaran kecil di hatinya. Apakah dia berakting lagi? batinnya. Namun, mata Arka tampak sangat berbeda kali ini, ada kesedihan dan kelelahan yang terlihat sangat nyata di sana. Namun, memori tentang suara tawa Arka di telepon malam itu kembali terngiang, menjadi perisai bagi hatinya.

"Simpan kalung itu untuk korbanmu berikutnya, Arka," Kirana berdiri. "Sampai jumpa di lokasi proyek Bali hari Senin besok. Pastikan kau memakai sepatu bot, karena kita akan bekerja di lumpur, bukan di lantai dansa."

Hari-hari berikutnya di Bali adalah ujian mental yang luar biasa bagi Kirana.

Proyek hotel itu terletak di tebing curam Uluwatu. Kirana sengaja memberikan jadwal kerja yang tidak manusiawi bagi Arka. Ia ingin melihat Arka menyerah. Ia ingin pria manja itu mengeluh dan menunjukkan sifat aslinya yang malas.

Namun, yang terjadi justru di luar ekspektasi.

Arka datang tepat waktu setiap pagi pukul enam. Ia mengenakan pakaian kerja sederhana yang murah, turun langsung ke area konstruksi yang berdebu, berbicara dengan para mandor dengan nada rendah hati, dan bahkan ikut mengangkat material saat mesin ekskavator mengalami kerusakan. Tidak ada lagi Arka yang sombong dan berbau parfum mahal, yang ada hanyalah pria yang bermandikan keringat dan debu semen.

Suatu sore, hujan badai mengguyur Uluwatu. Kirana sedang memeriksa draf arsitektur di bedeng darurat saat ia melihat Arka masih di luar, bergelut dengan lumpur, membantu para pekerja menutup tumpukan semen dengan terpal agar tidak hancur terkena air.

Arka masuk ke bedeng dalam keadaan basah kuyup, menggigil hebat karena suhu yang turun drastis.

"Kenapa kau melakukan itu? Kau bisa memerintah pekerja untuk melakukannya," ujar Kirana tanpa menatapnya, meskipun tangannya sedikit gemetar saat menyodorkan handuk.

Arka mengambil handuk itu, tersenyum lemah dengan bibir yang membiru. "Ini proyek kita, Kirana. Aku tidak ingin mengecewakanmu lagi. Jika semen ini rusak, kita terlambat satu hari, dan Nirmala Capital akan merugi. Aku tidak ingin menjadi beban bagimu lagi."

Kirana terdiam. Ia melihat Arka yang biasanya sangat memuja kebersihan kini kotor oleh lumpur proyek. Sisi kemanusiaan dalam diri Kirana mulai goyah. Ia teringat Arka yang dulu ia cintai, Arka yang tampak begitu peduli.

"Minumlah kopi ini," Kirana menyodorkan gelasnya sendiri.

Arka menerimanya, jari-jari mereka yang dingin bersentuhan sesaat. Kali ini, Kirana tidak menarik tangannya dengan cepat. Ia merasakan getaran kejujuran dari sentuhan itu.

"Terima kasih, Kirana," bisik Arka. "Bekerja di sini, di bawah perintahmu... ini adalah hal paling jujur yang pernah kulakukan dalam hidupku. Aku merasa seperti manusia kembali."

Selama seminggu di Bali, Arka melakukan manuver 'pertobatan' yang luar biasa rapi. Ia tidak lagi merayu dengan kata-kata manis yang murahan. Ia merayu dengan tindakan nyata. Ia membawakan makan siang sederhana untuk Kirana, ia memastikan Kirana tidak kelelahan, dan ia selalu mendengarkan setiap instruksi Kirana dengan kepatuhan seorang prajurit.

Malam terakhir di Bali, mereka berdiri di tepi tebing, menatap matahari terbenam yang merah padam di Samudra Hindia.

"Kirana," Arka memulai, suaranya terdengar sangat tulus di tengah suara deburan ombak yang dahsyat. "Aku tahu aku tidak pantas mendapatkan maaf. Tapi aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa aku bukan lagi pria bajingan di pesta itu. Aku mencintaimu... karena kau adalah satu-satunya cahaya yang tersisa di hidupku yang gelap ini."

Kirana menatap laut luas. Air mata mulai menggenang di kelopak matanya. Pertahanannya mulai retak. Profesionalismenya mulai goyah oleh serangan "kelembutan" Arka yang tampak begitu nyata dan tanpa pamrih.

"Arka... jangan lakukan ini padaku," bisik Kirana, suaranya pecah.

"Aku hanya menyatakan kebenaran yang terlambat," Arka mendekat, aroma air laut dan keringatnya terasa sangat nyata dan maskulin. "Berikan aku satu kesempatan lagi. Bukan sebagai CEO Nirmala, tapi sebagai Kirana yang dulu mengenalku."

Kirana menatap mata Arka. Untuk sesaat, ia melihat kembali pria yang ia puja dulu. Ia hampir saja menyerahkan hatinya kembali.

Namun, jauh di sebuah ruang gelap di Jakarta, Reza sedang menatap layar monitornya yang terhubung ke penyadap di ponsel rahasia Arka yang baru saja diaktifkan. Ia melihat sebuah pesan terkirim dari Arka kepada ayahnya, Surya Mahendra, tepat satu jam sebelum mereka berdiri di tebing itu.

"Umpan sudah dimakan, Ayah. Dia mulai luluh. Rencana 'Anak yang Bertobat' sukses besar. Dalam sebulan, Nirmala Capital akan ada dalam genggaman kita. Aku akan memastikan dia menyerahkan seluruh asetnya sebagai bukti bahwa dia telah memaafkanku sepenuhnya. Persiapkan akta pengambilalihan."

Kirana tidak tahu bahwa di balik air mata, lumpur, dan kerja keras Arka di Bali, sebuah jaring laba-laba yang jauh lebih besar dan lebih mematikan sedang ditenun dengan sangat halus. Dan kali ini, Arka bermain dengan nyawa sebagai taruhannya.

...----------------...

Next Episode....

1
anju hernawati
bagus jalan ceritanya author lanjut y .....
Miss Ra: siaaappp
total 1 replies
zhelfa_alfira
makin seru
Renjana Senja
nah bener. harus waspada sama barang asing gitu
Renjana Senja
eh. kiriman apa itu kalau boleh tau kawan?
zhelfa_alfira
wah keren²
zhelfa_alfira
lanjut²...
Sunaryati
Okey ku kira walau di penjara Bram tidak tinggal, orang yang serakah hal dunia biasanya sulit menerima kekalahan walau terbukti bersalah
Sunaryati
Menegangkan melebihi cerita mafia
Sunaryati
Semoga Arka selamat
zhelfa_alfira
semangat²
zhelfa_alfira
lanjut sama2 masih punya perasaan tapi ego masih sama² tinggi
zhelfa_alfira
dah selesai yang menegangkan kita tunggu yang manis2 nya lagi.😁🤭
zhelfa_alfira
wow seru nya cerita ini...
zhelfa_alfira
akhirnya keangkuhan arka selesai juga
zhelfa_alfira
bagus akhirnya ketahuan juga padahal reza sudah tau semua kebusukan arka...semangat²
zhelfa_alfira
entah lah bisa² nya masuk lobang yang sama...
zhelfa_alfira
keren² aku suka hancur kan dan hempaskan yang sudah menyakiti
zhelfa_alfira
keren
Miss Ra: /Kiss//Heart/
total 1 replies
zhelfa_alfira
wow keren aku suka karakter kinara tegas...semangat up kk author
zhelfa_alfira: sama² semangat
total 2 replies
zhelfa_alfira
lanjut²
Miss Ra: siaaap...

lanjut besok pagi ya kak..
good night...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!