Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBAKARAN
Sebenar nya Calista tidak punya surat itu, tapi dia tahu dari memori Calista asli bahwa ayahnya adalah seorang penjudi yang terlilit hutang, jadi tadi Calista hanya menebak-nebak, dengan informasi yang dia punya.
"K-kau... kau bukan Calista!" teriak wanita tua itu dengan gemetar.
"Calista kami gagap dan takut pada ayam!" teriak wanita paruh baya, menunjuk Calista.
"Setelah melihat kematian di depan mataku setiap malam di istana ini, Ibu, siapa yang masih punya waktu untuk takut pada ayam?" tanya Calista tertawa kecil, suara tawanya terdengar merdu namun menusuk.
Calista kemudian berbalik ke arah para semua bangsawan dan orang-orang Kuil.
"Jika kalian ingin bukti bahwa aku adalah Calista, tanyakan pada pria ini," ucap Calista menunjuk ayahnya.
"Tanyakan tentang luka bakar di punggung kakinya akibat jatuh ke tungku saat dia mabuk lima tahun lalu. Hanya putrinya yang tahu itu, bukan?" tanya Calista, melirik pria paruh baya yang tadi menjerit itu.
Ayah Calista asli itu terkesiap, wajahnya pucat pasi, itu adalah fakta yang hanya diketahui keluarga.
Dan Yura menemukannya di tumpukan memori Calista yang paling dalam.
"Jadi..." ucap Calista mendekat dan berbisik di telinga ayahnya, namun cukup keras untuk didengar Jayden.
"Pilih emas Isabella dan kepalamu hilang malam ini, atau ikuti permainanku dan kau pulang dengan kantong penuh tanpa harus masuk penjara karena penipuan kerajaan. Mana yang kau pilih, Ayah?" bisik Calista, dengan suara dingin dan menusuk.
Glek
Ayah Calista menelan ludahnya kasar, ini tidak seperti yang dia bayangkan, Calista yang dia kenal tidak berani berbicara seperti ini. Tapi ini?
Suasana di gerbang depan kediaman Jayden masih riuh.
Ayah Calista masih gemetar di bawah tatapan tajam putrinya. Namun, di tengah drama reuni keluarga yang penuh ketegangan itu, insting tajam Yura tiba-tiba berdenyut kencang.
Bukan karena ancaman dari orang-orang di depannya, melainkan karena bau yang sangat tipis tertiup angin dari arah timur.
Bau minyak tanah dan sesuatu yang terbakar.
Seketika mata Calista melebar, dia menoleh ke arah paviliun yang letaknya cukup jauh dari gerbang utama.
"Lorenzo..." desis Calista, dengan mata berkilat tajam.
"Ada apa?" yang Jayden menyadari perubahan raut wajah Calista.
"Tikus tua itu tidak sedang menyerang ku di sini, Jayden! Dia sedang membakar sarang ku!" teriak Calista, dengan rahang mengeras.
Tanpa mempedulikan gaun sutranya yang mahal, Calista langsung berlari secepat kilat menuju paviliun, meninggalkan kerumunan yang kebingungan.
Dia harus menyelamatkan Pangeran kecil nya.
Jayden yang tersentak langsung menoleh ke arah paviliun, benar saja, asap hitam mulai membubung tinggi dari arah bangunan kayu tersebut.
"Sialan!" umpat Jayden, mengepalkan tangannya kuat.
"PASUKAN! ARAHKAN SEMUA AIR KE PAVILIUN PANGERAN! SEKARANG!"
Teriak Jayden, suaranya menggelegar penuh amarah.
Di depan paviliun, api sudah menjilat-jilat pintu utama.
Para pelayan berlarian panik, namun beberapa pengawal Jayden tampak tergeletak dengan luka tusuk di leher, kali ini Isabella tidak hanya mengirim api, dia mengirim pembunuh bayaran untuk memastikan tidak ada yang keluar hidup-hidup.
Calista sampai di depan bangunan yang mulai membara, panasnya mulai menyengat kulit.
"BIADAB KAU ISABELLA!!"
Teriak Calista, darah nya mendidih, melihat keadaan tempat tinggal Pangeran Lorenzo.
Tanpa pikir panjang, Calista berlari menuju pintu, untuk menyelamatkan bayi susu nya.
"NONA! JANGAN MASUK! APINYA TERLALU BESAR!"
Teriak Owen yang baru saja tiba dengan ember air.
Calista tidak mendengarkan, pikirannya hanya tertuju pada satu hal, bayi kecil yang tadi memegang jarinya dengan erat.
Tanpa ragu, Calista menyambar kain taplak meja dari taman, mencelupkannya ke bak air, lalu melilitkan kain basah itu ke wajah dan tubuhnya.
"LORENZO!"
Teriak Calista sambil menerjang masuk ke dalam kobaran api.
Di dalam, asap sangat pekat, kayu-kayu penyangga mulai berderit jatuh.
Tanpa memikirkan apapun, kecuali keselamatan bayi susu nya, Calista merangkak di lantai, mencari jalan menuju kamar utama.
Di sana, Calista melihat dua pelayan kepercayaan yang tadi dia tugaskan sudah tewas bersimbah darah di depan pintu kamar, dibunuh sebelum api membesar.
"Sialan kau, Isabella!" teriak Calista, penuh kemarahan.
BRAK
Calista menendang pintu kamar yang sudah mulai terbakar.
Oek
Oek
Oek
Di dalam boks bayi, Lorenzo menangis kencang, suaranya mulai serak karena menghirup asap, sementara di sudut ruangan, seorang pria berpakaian hitam dengan belati terhunus tampak bersiap untuk menghujamkan senjatanya ke arah bayi itu.
Pembunuh itu ingin memastikan Lorenzo mati sebelum api menghanguskannya.
"Coba saja kalau kau bosan hidup," ucap Calista dingin.
Deg
Suara Calista kali ini lebih dingin dan lebih berbahaya dari sebelumnya, terdengar seperti malaikat maut dari balik asap.
Pembunuh itu tersentak, tidak menyangka ada orang yang berani masuk ke neraka ini.
Sebelum dia sempat bereaksi, Calista sudah melompat, dengan gerakan akrobatik yang ekstrem, membuat pria itu terbelalak kaget melihat apa yang di lakukan Calista, di tengah-tengah kobaran api dan asap yang tebal.
Calista menggunakan momentum lompatannya untuk menghujamkan belati pemberian Jayden tepat ke tengkorak pria itu.
JLEP
BRUK
Pria itu ambruk tanpa sempat bersuara.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Calista langsung menyambar Lorenzo, membungkus bayi itu dengan sisa kain basah di tubuhnya, lalu mendekapnya erat di dada.
"Jangan takut, Nak. Kakak di sini," bisik Calista meskipun paru-parunya mulai terasa terbakar.
Jalan keluar sudah tertutup reruntuhan atap yang terbakar, mata tajam Calista menatap jendela besar di lantai dua, itu adalah satu-satunya jalan.
"Tidak ada jalan lain, aku harus keluar dari sini, aku tidak boleh mati sebelum membakar wanita tua itu beserta para pengikutnya," gumam Calista, mengeratkan dekapannya pada Lorenzo.
Calista berlari, menerobos tirai yang menyala, dan dengan kekuatan penuh menabrak kaca jendela hingga pecah.
BYARRR.
Calista melakukan hal gila, seperti yang sering dia lakukan di dunia nya dulu, saat di dalam keadaan terdesak, bedanya dulu Yura hanya sendiri, gapi sekarang di dekapan nya ada nyawa suci yang harus dia lindungi.
WUSS.
Calista terjun bebas dari lantai dua tepat saat bagian dalam paviliun itu runtuh total.
BHUK.
Jangan ragukan kemapuan seorang Yura, Calista mendarat dengan punggungnya untuk melindungi Lorenzo, dia berguling beberapa kali di rumput taman, dengan napas yang tersengal, wajahnya coreng-moreng oleh jelaga, dan beberapa bagian gaunnya hangus.
Melihat Calista dan keponakan nya yang baru saja terjun, Jayden langsung berlari mendekat, wajahnya pucat pasi, sebuah pemandangan langka bagi sang Grand Duke, berlutut di samping Yura.
"Calista! Kau tidak apa-apa? Lorenzo?" tanya Jayden bergetar.
Demi apapun Jayden akan sangat merasa bersalah, kalau sampai keponakan nya kenapa-kenapa, dan gagal melindungi satu-satunya pewaris sah kerajaan Florist.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.