Ketika usia tujuh tahun, Qinara kehilangan segalanya. Ayahnya, pengusaha pertambangan yang penuh cinta, meninggal dalam kecelakaan yang mencurigakan. Tak lama setelah itu, ibunya yang sudah lama dia curigai berselingkuh, dengan terang-terangan membawa pria cinta pertamanya dan anak hasil hubungan lama ke rumah—dan menguasai semua harta ayahnya.
Perlakuan tidak adil menjadi bagian sehari-hari. Ibunya lebih membela anak tiri daripada dia, dan ketika Qinara mencoba membicarakan kecurigaan bahwa ayahnya dibunuh, dia diusir dengan kasar. Hanya membawa pakaian di tubuh dan kotak kecil yang diberikan ayahnya, dia meninggalkan rumah dengan hati hancur dan janji terukir dalam benak: aku akan mengambil kembali hak ayah dan aku.
Melalui perjalanan yang penuh kesusahan, Qinara bertahan di panti asuhan, menemukan bakatnya di bidang hukum, dan berjuang untuk pendidikan. Setiap langkahnya dipacu oleh dendam—butuh waktu bertahun-tahun untuk mengumpulkan bukti, menghadapi ancaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PIDATO DI TENGAH RIBUAN MATA
Mentari pagi menyinari kampus Universitas Indonesia dengan cahaya yang terang dan penuh harapan. Qinara, yang sekarang berusia dua belas tahun lebih sembilan bulan, berdiri di depan pintu aula besar yang akan menyaksikan pidatonya. Hari ini, dia akan memberikan pidato di acara penutupan tahun ajaran Fakultas Hukum—berhadapan dengan lebih dari 3.000 mahasiswa yang akan lulus, dosen, dan tokoh hukum nasional. Tangan dia sedikit gemetar, tapi hatinya penuh tekad.
Pak Rio berdiri di sebelahnya, memberinya dorongan semangat. "Qinara, jangan takut. Kamu telah melalui banyak hal yang lebih sulit dari ini. Semua orang ada di sini untuk mendengarmu," ucapnya dengan suara lemah tapi tegas.
Qinara mengangguk, meraba kotak pemberian ayahnya yang dia bawa. Di dalamnya, ada surat ayahnya yang dia baca berkali-kali, dan selembar kertas yang dia tulis sendiri—catatan utama pidatonya. Dia melihat ke dalam cermin yang terpasang di dinding koridor, melihat wajahnya yang sudah tumbuh dewasa—mata yang cerah, rahang yang tegas, dan senyum yang penuh keyakinan. Dia adalah gadis yang telah melalui perjuangan luar biasa, dan sekarang dia siap untuk berbicara.
Pak Santoso dan Pak Slamet juga ada di sana, bersama dengan beberapa anak dari panti asuhan dan Sekolah Hadian. Mereka semua tersenyum padanya, memberinya kekuatan yang dia butuhkan. "Kamu pasti bisa, Nak. Ayahmu pasti bangga melihatmu sekarang," kata Pak Santoso dengan senyum lemah.
Beberapa menit kemudian, pembawa acara memanggil nama Qinara. "Selanjutnya, kita akan mendengar pidato dari seseorang yang telah menginspirasi banyak orang—Qinara, pendiri Yayasan Hadian dan Sekolah Hadian untuk Anak Miskin!"
Suara tepuk tangan yang meriah terdengar dari dalam aula. Qinara mengambil napas dalam-dalam, memegang kotak pemberian ayahnya, dan memasuki aula. Ketika dia muncul di panggung, dia terkejut melihat jumlah orang yang ada di sana—semua mata tertuju padanya. Tapi dia segera menyadari bahwa ini adalah kesempatan untuk menyebarkan pesan ayahnya, pesan tentang keberanian, kebenaran, dan kasih sayang.
Dia berdiri di depan mikrofon, melihat ke arah penonton. "Selamat pagi, semuanya. Perkenalkan, nama saya Qinara. Saya berusia dua belas tahun, dan saya adalah anak yang kehilangan ayah karena pembunuhan, yang dikhianati oleh ibunya, tapi yang menemukan keluarga baru di orang-orang yang mencintai dan membantu saya."
Suara aula menjadi sunyi. Semua orang mendengarkan dengan seksama, tidak ingin melewatkan satu kata pun.
Qinara mulai menceritakan perjuangannya—tentang malam-malam yang dia lewati menangis karena rindu ayahnya, tentang bagaimana dia harus melarikan diri dari rumah untuk menyelamatkan dirinya dan bukti-bukti kasus, tentang bagaimana Pak Santoso, Pak Rio, dan Pak Slamet telah membantunya menemukan keadilan. Dia menceritakan tentang pengadilan yang penuh tegang, tentang bagaimana kesaksian Pak Slamet dan keberaniannya sendiri telah membuat Arman dan Laras mendapatkan hukuman yang pantas.
"Tahun lalu, saya menemukan kotak kayu yang milik ayahku. Di dalamnya, ada catatan tentang rencana dia membangun sekolah untuk anak-anak miskin. Dia selalu mengatakan bahwa pendidikan adalah kunci untuk merubah hidup, karena dia sendiri pernah sulit mendapatkan pendidikan ketika dia muda," kata Qinara, menyentuh kotak pemberian ayahnya. "Sekarang, sekolah itu sudah selesai dibangun. Ada lebih dari 100 anak yang bersekolah di sana, dan mereka semua memiliki impian yang besar—beberapa ingin menjadi dokter, beberapa ingin menjadi guru, dan beberapa ingin menjadi pengacara seperti yang saya impikan."
Dia melihat ke arah mahasiswa hukum yang ada di aula. "Kalian semua akan lulus sebagai pengacara. Kalian memiliki kekuatan untuk melindungi hak-hak orang lain, untuk mencari kebenaran, untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Jangan sia-siakan kekuatan itu. Jangan hanya bekerja untuk uang atau pangkat—bekerja untuk sesuatu yang lebih berarti, untuk membantu mereka yang tidak mampu membela diri sendiri."
Suara tepuk tangan terdengar lagi, semakin meriah. Beberapa orang menangis, terinspirasi oleh kata-katanya.
Qinara melanjutkan pidatonya dengan cerita tentang anak-anak di Sekolah Hadian. Dia menceritakan tentang Siti, seorang anak yatim yang sekarang menjadi siswa terbaik di kelasnya dan ingin menjadi pengacara untuk membantu anak-anak lain. Dia menceritakan tentang Dewi, yang suka melukis dan telah membuat lukisan untuk setiap anak di sekolah. Dia menceritakan tentang bagaimana anak-anak itu bekerja bersama-sama, saling membantu, dan membangun hubungan seperti keluarga.
"Kesuksesan saya bukan hanya milik saya sendiri. Ini milik semua orang yang telah membantu saya—orang-orang yang telah memberikan dukungan, uang, atau hanya kata-kata semangat. Ini milik ayahku, yang telah memberiku kekuatan dari surga. Dan ini milik anak-anak di panti asuhan dan Sekolah Hadian, yang telah mengajarkanku bahwa kasih sayang dan persatuan adalah hal yang paling berharga di dunia," kata Qinara dengan suara penuh emosi.
Dia mengambil surat ayahnya dari kotak dan membacanya dengan suara yang jelas: "Tetap kuat, tetap cerdas, dan jangan pernah menyerah. Semua hartaku adalah milikmu, tapi warisan terbesar yang kurasa adalah keberanian untuk mencari kebenaran dan kasih sayang untuk membantu orang lain."
"Ini adalah pesan yang saya inginkan semua orang di sini terima. Jangan pernah menyerah, bahkan ketika jalanan sulit. Cari kebenaran, berikan kasih sayang, dan buat perbedaan di dunia ini. Karena itu adalah warisan yang paling berharga yang bisa kita tinggalkan," ucap Qinara, menutup surat ayahnya.
Suara tepuk tangan yang meledak terdengar dari seluruh aula, berlangsung selama beberapa menit. Banyak orang berdiri, memberikan standing ovation untuk gadis kecil yang telah menunjukkan keberanian dan kebaikan yang luar biasa. Dekan Fakultas Hukum berdiri dan menuju panggung, memberikan medali penghargaan kepada Qinara.
"Qinara, kamu adalah contoh bagi kita semua. Kamu telah menunjukkan bahwa usia tidak pernah menjadi hambatan untuk melakukan hal yang besar. Kami dengan senang hati memberikan medali 'Pahlawan Hukum Muda' kepadamu, sebagai tanda penghormatan atas kontribusimu untuk keadilan dan kesejahteraan masyarakat," ucap dekan, dan suara tepuk tangan kembali terdengar.
Setelah acara selesai, Qinara dikelilingi oleh mahasiswa, dosen, dan wartawan. Mereka bertanya banyak pertanyaan, memberikan dukungan, dan mengucapkan terima kasih atas pidatonya yang menginspirasi. Seorang mahasiswa yang akan lulus berkata, "Qinara, kamu telah mengubah pandanganku tentang hukum. Aku akan bekerja di lembaga hukum yang membantu anak-anak yatim, seperti yang kamu lakukan."
Qinara tersenyum. Ini adalah apa yang dia inginkan—menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan.
Sore hari, mereka berjalan ke taman di kampus UI, menyegarkan diri setelah acara yang melelahkan. Pak Rio membawa surat baru yang tiba saat dia sedang di aula. "Qinara, ini dari pemerintah. Mereka ingin mengundangmu untuk berbicara di Istana Merdeka pada Hari HUT Republik Indonesia. Mereka ingin kamu berbicara tentang perjuanganmu dan warisan ayahmu kepada presiden dan para pejabat negara," ucapnya dengan senyum lebar.
Qinara terkejut dan senang. Ini adalah kesempatan yang luar biasa, kesempatan untuk menyebarkan pesan ayahnya ke tingkat tertinggi negara. "Aku akan pergi, Pak Rio. Aku ingin memberitahu presiden dan semua orang bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi besar, dan kita harus membantu mereka mencapai potensi itu."
Malam itu, Qinara mengunjungi makam ayahnya. Dia membawa medali yang dia terima dan foto dari acara penutupan tahun ajaran. Dia duduk di dekat makam, memandang nama ayahnya yang tertulis di batu nisan.
"Ayah, hari ini aku memberikan pidato di UI, di depan ribuan mahasiswa hukum. Mereka memberikan aku medali penghargaan. Dan pemerintah mengundangku untuk berbicara di Istana Merdeka. Aku telah melakukan banyak hal yang kamu harapkan, kan? Sekolah kita sudah berjalan dengan baik, yayasan kita telah membantu banyak orang, dan aku sedang mengejar impianku menjadi pengacara."
Dia membaca surat ayahnya sekali lagi, dan merasa kehadiran ayahnya semakin dekat. "Aku mencintaimu, ayah. Terima kasih telah memberiku kekuatan untuk melakukannya semua. Warisanmu akan hidup selamanya, di semua yang aku bangun dan di semua yang aku lakukan."
Mentari sudah terbenam, dan langit malam mulai menyala. Qinara berdiri, memegang medali dan foto, dan berjalan pulang. Dia tahu bahwa perjalanan hidupnya masih panjang, tapi dia yakin bahwa dia akan mencapai semua impiannya. Dia memiliki keberanian dari ayahnya, dukungan dari orang-orang yang mencintainya, dan tekad yang kuat untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.
Masa depan yang cerah menunggunya, dan dia siap untuk menghadapinya—dengan senyum di wajah dan cinta di hati.