Persahabatan yang solid dari masa sekolah akhirnya harus berkumpul pada satu Batalyon di sebuah daerah perbatasan karena suatu hal. Situasi semakin kompleks karena mereka harus membawa calon istri masing-masing karena permasalahan yang mereka buat sebelumnya.
Parah semakin parah karena mereka membawa gadis mereka yang sebenarnya jauh dari harapan dan tak pernah ada dalam kriteria pasangan impian. Nona manja, bidadari terdepak dari surga + putri sok tau semakin mengisi warna hidup para Letnan muda.
KONFLIK TINGKAT TINGGI. Harap SKIP bila tidak mampu masuk ke dalam cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Tak sadar ada perhatian.
Bang Rama tau Dinda masih terus memperhatikannya tapi ia berpura-pura tak tau, semua karena dirinya masih belum seratus persen menerima Dinda dalam hatinya.
"Besok jadwal tahapan sampulnya, kemana?" Tanya Bang Sanca.
"Besok ke Bintal." Jawab Bang Arben.
"Lama sekali, kapan selesainya??" Dira mulai rewel dan nampak tidak sabar.
"Sabar lah..!! Segala proses tidak ada yang instan." Bang Arben sampai emosi mendengar rengekan Dira.
"Sebenarnya semua bisa di batalkan, kan? Dira nggak cinta sama Abang, Abang juga nggak cinta sama Dira. Kenapa harus di paksakan untuk lanjut??" Ujar Dira.
"Ini bukan masalah cinta atau tidak, Dira..!! Ini semua demi tanggung jawab dan harga diri sebagai laki-laki. Pantang untuk kita lari setelah dapat masalah seperti ini." Jawab Bang Rama.
Dinda mengalihkan perhatian saat kedua bola mata Bang Rama balik menatapnya. Rasanya denyut nadinya berdesir semakin kencang padahal ia yakin tak ada 'hati' yang lebih untuk pria tersebut.
...
Sore hari. Semuanya sudah santai, kegiatan pun sudah usai. Bang Arben, Dira, Bang Sanca dan Fia sudah pergi masing-masing. Hanya tinggal Bang Rama sendiri menunggu Dinda yang belum juga selesai mandi.
"Lama sekali, apa yang kau gosok???" Omel Bang Rama kemudian menyeruput kopinya dan lanjut menghisap rokoknya.
cckkllkk..
Pintu kamar mandi terbuka, kepala Dinda menyembul dari balik pintu. "Bang.. Bisa minta tolong???"
Bang Rama menoleh, ia melihat rambut Dinda masih basah, air pun menetes hingga ke lantai.
"Apa??"
...
"Ayo sholat dulu, sampai rumah sudah nggak ada tanggungan..!!" Ajak Bang Arben.
"Abang aja, Dira nggak."
"Fia juga nggak." Kata Fia saat Bang Sanca menatapnya.
Bang Rama pun beranjak, matanya menatap Dinda dengan wajah cemas. "Ayo, Dinda juga datang bulan." Ucapnya pelan.
"Apa-apaan nih, bertiga janjian. Jangan bohong ya kalian??" Tegur Bang Sanca.
Bang Rama menarik lengan sahabatnya itu. "Sudahlah San, buat apa mereka bohong. Kalau sudah nikah nanti mereka sempat bohong, tinggal sikat saja."
:
Bang Rama baru keluar dari masjid menuju taman tapi kemudian dari kejauhan ia melihat ketiga gadis nampak lesu, terutama Dinda. Ia pun segera mempercepat langkah kakinya.
Kedua sahabatnya pun sigap melihat kondisi calon istri masing-masing.
"Biasanya minum obat apa, Din?" Tanya Bang Rama.
"Nggak minum obat, nggak tau obat yang cocok." Jawab Dinda, wajahnya pun sampai nampak pucat.
Bang Rama mengedarkan pandangan ke arah sekitar. Akhirnya di taman kota itu, tak jauh dari masjid ada sebuah apotek. Ia pun menuju kesana.
Tak lama Bang Rama kembali membawa obat dan tiga botol air mineral. Kedua sahabatnya menerima minuman tersebut tapi kemudian fokusnya beralih pada Dinda.
"Coba minum obat ini dulu, siapa tau reda." Bang Rama baru saja akan membuka bungkusnya, Dinda sudah beralih berlari menuju wastafel di sekitar taman.
Bang Rama kaget, ia segera mengikutinya lalu membantunya namun lagi-lagi dirinya di buat kaget saat Dinda benar-benar lemas dan bersandar padanya tanpa tenaga.
"Ya Allah.. Bisa parah begini kamu, Din..!!" Sigap Bang Rama mengangkatnya ke bangku taman.
Banyak orang berlalu lalang memperhatikan namun ia tak peduli. Dira dan Fia pun ikut membantunya.
"Pulang saja kah, Jalan-jalan nya lain kali saja, sudah malam juga. Dinda sudah nggak kuat tuh, Ram." Saran Bang Sanca.
"Iya Ram, besok juga masih lanjut ke bagian uadiensi dan psikologi. Tambah capek mereka besok." Imbuh Bang Arben.
Bang Rama menatap Dira dan Fia, tak enak juga dengan kedua calon istri sahabatnya itu. Tapi ternyata Dira dan Fia setuju untuk pulang karena mereka juga merasa lelah.
"Kalian balik saja duluan. Saya minta anggota untuk bawa mobil kesini. Takut Dinda pingsan di jalan." Kata Bang Rama.
...
Seorang mudi hanya berani melirik Dinda tanpa kata namun lettingnya yang ikut disana malah terang-terangan melihatnya secara langsung.
"Ram.. Enak nggak di senderin begitu??" Tanya Bang Garin.
Bang Rama enggan menjawab pertanyaan yang terdengar aneh di telinganya. Entah kenapa dirinya bisa bertemu dengan lettingnya yang begitu menyebalkan itu.
"Bini lu hamil ya??"
"Bisa diam nggak sih???? Dinda kecapekan aja. Sudahlah, jangan banyak komentar." Omel Bang Rama.
"Kata orang jaman dulu, kalau perut kembung tuh di tempelin daun jarak, badannya pakai irisan daun bawang sama merica."
"Ngawur, asal bunyi lu. Lu kira bini gue sop ayam????"
"Eehh nggak percaya, bener tuh."
"Bener-bener 'botol'." Suara Bang Rama sampai naik satu oktaf.
"Waahh.. Meremehkan, mbah gue dukun bayi. Emangnya lu, Ram.. Dukun ca*ul." Imbuh Bang Garin.
Mudi mereka menahan tawa karena masih memberi muka pada atasannya namun Bang Rama sudah berang. Kakinya terangkat hendak menendang Bang Garin tapi kemudian Dinda merintih.
"Baaaang..!!!!"
"Uusshh.. Maaf..!!!! Sebentar lagi sampai rumah. Tidur lagi ya..!!" Bang Rama mengurungkan niatnya lalu kembali mendekap Dinda.
Tiba-tiba Bang Garin menyodorkan tangannya. "Adek juga mau, Bang."
Sontak saja Bang Rama geram melihatnya. "Mau apa adek b*****t??? Mau Abang patahkan lehermu?????"
.
.
.
.
pada gelut ga niii kalau ketemu...
makin penasaran mba Nara👍
tetap💪💪🙏
Aduuh...piye to bang Ric....🥹
lanjut mba Nara