NovelToon NovelToon
Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Kontrak 10 Miliar Istri Rahasia Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / CEO / Teen School/College / Nikah Kontrak / Cintapertama
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

​"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
​Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
​Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
​Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
​Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32: Pesta Bisnis dan Penyamaran

Pesta bisnis dan penyamaran dimulai dengan sebuah tamparan kenyataan yang sangat pahit saat Gwenola dipaksa mengenakan topeng hias berwarna perak yang menutupi separuh wajah cantiknya. Xavier menarik tali pengikat topeng itu dengan sedikit kencang hingga Gwenola merasa kulit wajahnya sedikit tertekan dan sangat tidak nyaman. Di depan cermin raksasa kediaman mewah, mereka berdua nampak seperti pasangan penguasa yang sangat serasi namun menyimpan ribuan duri di dalam hati masing-masing.

Gaun merah darah yang membalut tubuh mungil Gwenola jatuh dengan sangat sempurna, menonjolkan keanggunan yang nampak sangat kontras dengan statusnya sebagai siswi sekolah menengah atas. Xavier mengenakan setelan jas hitam yang sangat kaku dengan pin emas berbentuk kepala serigala yang berkilat sangat tajam di bawah cahaya lampu. Aura pimpinan perusahaan yang sangat dominan terpancar kuat, seolah ia siap untuk menerjang siapa pun yang berani mengusik rahasianya malam ini.

"Ingatlah, malam ini kau bukan Gwenola sang siswi sekolah, melainkan asisten pribadiku yang tidak boleh mengeluarkan sepatah kata pun tanpa izinku," bisik Xavier dengan suara yang sangat rendah.

Gwenola hanya bisa mengangguk pelan sambil meremas jemari tangannya yang terasa sangat dingin dan sangat lembap karena rasa gugup yang luar biasa. Ia merasa terjebak di dalam sebuah permainan peran yang sangat berbahaya di mana kesalahan sedikit saja bisa membongkar skandal pencucian uang yang dituduhkan dalam pesan gelap tadi. Hatinya terus berdenyut kencang saat mobil mewah mereka mulai melaju menuju sebuah hotel bintang lima yang menjadi lokasi pertemuan para petinggi bisnis dunia bawah tanah.

"Bagaimana jika ada orang yang mengenali suaraku atau mataku di balik topeng bodoh ini, Xavier?" tanya Gwenola dengan nada yang sangat penuh dengan kecemasan.

Xavier tidak menoleh dan tetap menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang sangat kaku dan sangat tidak tersentuh oleh emosi apa pun. Ia menggenggam tangan Gwenola dengan sangat kuat, seolah ingin menyalurkan sedikit keberanian meskipun ia sendiri sedang memikirkan strategi untuk menjebak pengirim pesan misterius tersebut. Tekanan di dalam mobil itu terasa sangat menyesakkan hingga Gwenola merasa ingin sekali membuka jendela untuk menghirup udara malam yang bebas.

"Jika itu terjadi, maka aku akan memastikan orang itu tidak akan pernah bisa berbicara lagi seumur hidupnya," jawab Xavier dengan nada yang sangat dingin dan sangat mematikan.

Setibanya di hotel, mereka disambut oleh barisan pengawal yang sangat ketat dan sangat teliti dalam memeriksa setiap tamu yang datang membawa undangan emas. Gwenola melangkah di samping Xavier dengan kepala yang tertunduk, mencoba menghindari tatapan mata para tamu lain yang nampak sangat penuh dengan selidik dan rasa ingin tahu. Wangi parfum mahal yang sangat menyengat memenuhi aula besar tersebut, bercampur dengan suara dentingan gelas kaca yang saling bersentuhan dengan irama yang sangat formal.

"Tetaplah berada di belakang punggungku dan jangan pernah melepaskan kaitan tanganmu dari lenganku," perintah Xavier saat mereka mulai memasuki kerumunan orang-orang kaya tersebut.

Tiba-tiba, seorang pria paruh baya dengan kumis yang sangat tebal datang mendekat dan memberikan salam yang nampak sangat ramah namun penuh dengan maksud tersembunyi. Pria itu menatap Gwenola dengan pandangan yang sangat tidak sopan, seolah sedang menilai harga dari barang antik yang dibawa oleh Xavier ke pesta tersebut. Gwenola merasakan bulu kuduknya meremang karena ia mengenali lambang perusahaan yang tersemat di kerah baju pria asing yang sangat mencurigakan itu.

"Siapa gadis cantik di balik topeng perak ini, Xavier? Sepertinya kau membawa koleksi baru yang sangat segar untuk pertemuan kita malam ini," goda pria itu dengan suara yang sangat serak.

Xavier hanya tersenyum tipis yang nampak sangat tidak tulus dan ia segera mempererat rangkulannya pada pinggang Gwenola dengan sangat posesif. Ia tahu bahwa pria di hadapannya adalah salah satu pesaing bisnis yang paling licin dan selalu berusaha mencari celah untuk menjatuhkan kekuasaan perusahaannya. Ketegangan di antara kedua pria itu mulai memuncak saat mereka mulai membicarakan masalah kontrak kerja sama yang sangat rahasia dan sangat berisiko tinggi.

"Dia adalah orang kepercayaanku, dan sebaiknya kau menjaga jarak jika tidak ingin kehilangan jari-jarimu yang sangat berharga itu," ancam Xavier dengan nada yang tetap tenang namun sangat tajam.

Gwenola merasa sangat terhina dijadikan bahan pembicaraan seperti itu, namun ia harus tetap diam sesuai dengan instruksi yang telah diberikan sebelumnya. Ia memperhatikan sekeliling ruangan dan matanya tiba-tiba menangkap sosok wanita misterius yang tadi pagi masuk ke kantor Xavier tanpa izin. Wanita itu sedang berdiri di sudut ruangan sambil memegang sebuah alat komunikasi dan ia nampak sedang memperhatikan Gwenola dengan senyuman yang sangat licik.

"Xavier, lihat wanita itu, dia terus menatap kita sejak kita masuk ke dalam aula ini!" bisik Gwenola sambil menarik sedikit jas suaminya.

Xavier melirik ke arah yang ditunjuk oleh Gwenola dan raut wajahnya seketika berubah menjadi sangat beringas seolah ia ingin segera menghancurkan wanita tersebut di tempat. Ia menyadari bahwa penyamaran mereka mungkin sudah tidak berguna lagi karena orang-orang yang berbahaya sudah mulai bergerak untuk melakukan jebakan. Tanpa menunggu waktu lama, Xavier menarik Gwenola menjauh dari kerumunan menuju sebuah balkon yang sangat sepi dan sangat gelap di ujung aula.

"Sesuatu yang buruk akan segera terjadi, kau harus segera pergi melalui pintu belakang sementara aku mengalihkan perhatian mereka semua!" perintah Xavier dengan sangat mendesak.

Gwenola menggelengkan kepalanya dengan sangat keras karena ia tidak ingin meninggalkan Xavier sendirian di tengah kepungan musuh yang sangat banyak dan sangat bersenjata lengkap. Rasa benci yang selama ini ia pelihara nampaknya mulai terkikis oleh rasa takut kehilangan sosok pria yang meskipun kejam namun selalu melindunginya dengan nyawa. Namun, Xavier tidak memberikan pilihan dan ia justru mendorong Gwenola menuju tangga darurat yang sangat dingin dan sangat sunyi.

"Pergilah sekarang juga jika kau masih ingin melihat hari esok, Gwenola!" teriak Xavier saat terdengar suara ledakan kecil dari arah aula utama hotel tersebut.

Gwenola berlari menuruni tangga dengan gaun merahnya yang berkibar-kibar dan air mata yang mulai mengalir membasahi topeng perak yang ia kenakan. Ia mendengar suara tembakan yang sangat nyaring bersahut-sahutan di atas sana, menandakan bahwa pesta bisnis itu kini telah berubah menjadi sebuah medan pertempuran yang sangat berdarah. Di tengah pelariannya, Gwenola tiba-tiba dihadang oleh dua orang pria bertubuh besar yang mengenakan seragam pelayan namun memegang senjata tajam yang sangat mengerikan.

"Mau lari ke mana, nyonya muda? Tuan kami sudah sangat lama menunggumu untuk memberikan pelajaran yang sangat setimpal," ucap salah satu pria tersebut sambil menyeringai lebar.

Gwenola memundurkan langkahnya hingga punggungnya menyentuh dinding beton yang sangat keras dan ia merasa sangat terpojok tanpa ada jalan keluar sedikit pun. Ia mencari benda apa saja yang bisa digunakan untuk membela diri namun tangannya hanya menemukan sebuah bros emas yang sangat tajam di dadanya. Keberanian yang muncul dari rasa putus asa membuat Gwenola siap untuk melawan siapa pun yang mencoba menyentuhnya dengan tangan kotor mereka.

Tiba-tiba, lampu di area tangga darurat tersebut padam secara total, menyisakan kegelapan yang sangat pekat dan sangat menakutkan bagi siapa pun yang berada di sana. Gwenola mendengar suara hantaman benda tumpul serta teriakan kesakitan dari kedua pria yang tadi menghadangnya dengan sangat angkuh. Ia merasakan sebuah tangan yang sangat besar dan sangat hangat membekap mulutnya dan menariknya masuk ke dalam sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi di balik dinding.

"Diamlah jika kau tidak ingin mereka menemukan keberadaan kita di dalam lubang tikus ini," bisik sebuah suara yang sangat familiar namun nampak sangat berbeda dari biasanya.

Gwenola terkejut saat menyadari bahwa sosok yang menyelamatkannya bukanlah Xavier, melainkan seseorang yang seharusnya tidak berada di tempat yang sangat berbahaya seperti ini. Cahaya dari alat komunikasi yang ia pegang menyinari wajah penyelamatnya, memperlihatkan raut wajah yang sangat penuh dengan luka memar dan sangat mengenaskan. Kejutan besar ini membuat Gwenola merasa seolah-olah ia sedang masuk ke dalam sebuah jebakan baru yang jauh lebih besar dan jauh lebih menyakitkan bagi hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!