SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Harga Sebuah Kegelapan
Hutan di sisi timur Ibu Kota Phoenix kini tak lebih dari hamparan tanah gersang yang dipenuhi abu. Udara di tempat itu masih bergetar akibat benturan dua energi yang saling bertolak belakang: emas yang agung dan hitam yang destruktif. Lin Xiao berdiri di tengah kawah raksasa yang ia ciptakan, rambut putih peraknya berkilau di bawah cahaya bulan yang pucat, sementara matanya yang ungu berpendar dengan cahaya yang tidak lagi terasa manusiawi.
Long Tian terhuyung mundur, zirah naga emasnya retak di bagian dada, memperlihatkan luka bakar hitam yang mengeluarkan asap tipis. Ia menatap Lin Xiao dengan pandangan yang bercampur antara amarah, ketakutan, dan obsesi yang gila.
"Kau... kau membakar esensi hidupmu sendiri demi kekuatan ini?" Long Tian mendesis, sambil menyeka darah dari sudut bibirnya. "Ruxue, kau benar-benar gila. Teknik itu akan membunuhmu dalam hitungan jam!"
Lin Xiao tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat tangannya yang kini dikelilingi oleh uap hitam yang membekukan udara. Dengan satu gerakan sentakan, ribuan duri hitam melesat dari tanah, memaksa Long Tian untuk melompat tinggi ke udara. Namun, di atas sana, Lin Xiao sudah menunggunya.
BAAAM!
Satu hantaman telapak tangan Lin Xiao mengenai perut Long Tian, mengirim Sang Putra Mahkota menghantam tanah dengan kekuatan yang mampu meruntuhkan gunung kecil. Long Tian memuntahkan darah dalam jumlah besar, kesadarannya mulai memudar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Long Tian merasakan kengerian murni dari kematian.
Namun, tepat saat Lin Xiao hendak memberikan serangan pamungkas, tubuhnya tiba-tiba membeku. Rasa sakit yang tak terbayangkan menghantam jantungnya—seperti ribuan jarum es yang dipaksa masuk ke dalam nadinya. Rambut putih peraknya mulai memudar, dan aura hitam yang meluap-luap tadi tersedot kembali ke dalam tubuhnya secara paksa.
‘Waktunya... habis...’ batin Lin Xiao sambil jatuh berlutut, napasnya tersengal-sengal.
Garda Phoenix yang tersisa, melihat pangeran mereka terkapar dan sang musuh melemah, segera merangsek maju dengan tombak terhunus.
"Lindungi Yang Mulia! Bunuh penyihir itu!"
Lin Xiao menatap ke arah pasukan yang mendekat dengan pandangan kabur. Ia mencoba mengangkat pedangnya, namun tangannya tidak lagi memiliki tenaga. Di saat kritis itu, sebuah bayangan besar menutupi langit di atasnya.
Seekor burung Elang Salju raksasa mendarat dengan dentuman keras, mengepakkan sayapnya hingga menciptakan badai angin yang mencerai-berberaikan para prajurit.
"Nona! Cepat!" suara Kepala Paviliun Gu terdengar dari punggung elang tersebut.
Gu melompat turun, menyambar tubuh Lin Xiao yang hampir pingsan, dan membawanya naik ke atas elang. Sebelum para pemanah kekaisaran sempat melepaskan anak panah mereka, elang raksasa itu kembali mengepakkan sayapnya dan melesat menuju langit malam, menghilang ke arah pegunungan barat yang belum terjamah.
Tiga hari kemudian, di sebuah lembah tersembunyi yang dikelilingi oleh kabut abadi.
Lin Xiao perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya, seolah-olah setiap tulang di tubuhnya telah dipatahkan dan disusun kembali secara kasar. Ia menemukan dirinya berbaring di atas tempat tidur dari tanaman obat yang sejuk di dalam sebuah gubuk kayu sederhana.
"Kau sudah bangun," sebuah suara lembut menyambutnya.
Lin Xiao menoleh dan melihat Yun'er sedang duduk di sampingnya, matanya sembab karena terlalu banyak menangis. Di sudut ruangan, Kepala Paviliun Gu sedang menumbuk ramuan obat dengan raut wajah yang sangat serius.
"Di mana... kita?" suara Lin Xiao terdengar serak.
"Kita berada di Lembah Tabib Hantu, Nona," jawab Gu tanpa menghentikan pekerjaannya. "Ini adalah wilayah terlarang yang tidak berani dimasuki oleh pasukan kekaisaran karena racun alami di udaranya. Tapi itu bukan masalah besarnya. Masalah besarnya adalah apa yang kau lakukan pada dirimu sendiri."
Gu mendekat dan menunjukkan sebuah cermin tembaga pada Lin Xiao. Lin Xiao terdiam. Wajahnya memang masih cantik dan pulih, namun sebagian besar rambut hitamnya kini tetap berwarna perak di bagian ujungnya—tanda permanen dari penggunaan Transformasi Nirwana Sejati. Lebih buruk lagi, ia bisa merasakan bahwa Inti Jiwanya retak. Kultivasinya merosot drastis dari Pembentukan Inti kembali ke Tahap Pembersihan Sumsum tingkat awal.
"Kau hampir menghancurkan fondasi hidupmu, Nona," ucap Gu dengan nada menegur yang jarang ia gunakan. "Jika bukan karena kekuatan Teratai Darah yang masih tersisa di tubuhmu, kau sudah menjadi mayat sekarang."
Lin Xiao mengepalkan tangannya yang gemetar. Ia tidak menyesal. Ia telah melihat ketakutan di mata Long Tian, dan itu adalah harga yang pantas ia bayar. "Berapa lama waktu yang aku miliki untuk pulih?"
"Tanpa bantuan luar, mungkin selamanya kau akan terjebak di tingkat ini," jawab Gu lesu. "Namun, ada satu legenda tentang Inti Dewa Kegelapan yang tersembunyi di dasar lembah ini. Jika kau bisa mendapatkannya, bukan hanya Inti Jiwamu yang akan sembuh, tapi kau akan melompat langsung ke Tahap Inti Emas."
Lin Xiao memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya dengan tekad yang lebih kuat dari sebelumnya. "Persiapkan aku, Gu. Aku tidak punya waktu untuk beristirahat. Long Tian tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan seperti itu. Dia akan memobilisasi seluruh kekaisaran untuk mencari kita."
Sementara itu, di Ibu Kota Phoenix, suasana seperti di dalam pemakaman. Long Tian duduk di ranjang istananya dengan tubuh yang dibalut perban. Di depannya, Feng Meili menangis tersedu-sedu, namun Long Tian bahkan tidak memandangnya.
"Pergi," ucap Long Tian dingin.
"Tapi Kakak Tian, aku hanya ingin—"
"PERGI!" bentak Long Tian hingga Meili lari keluar ruangan dengan ketakutan.
Begitu sendirian, Long Tian menyentuh luka di dadanya yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib istana mana pun. Luka itu terus mengeluarkan aura hitam yang mengikis energinya. Ia sadar, serangan Lin Xiao semalam bukan sekadar serangan fisik, melainkan kutukan energi yang akan menghantuinya selamanya jika ia tidak membunuh Lin Xiao.
"Berikan perintah ke seluruh provinsi," ucap Long Tian pada bayangan di sudut ruangan. "Siapa pun yang membawa kepala gadis berambut perak itu, akan diberikan gelar bangsawan dan sepuluh ribu koin emas. Dan panggil 'Tiga Tetua Penjaga Langit' dari pengasingan. Beritahu mereka... naga hitam telah bangun."
Perang besar baru saja akan dimulai. Lin Xiao kini menjadi buronan nomor satu di seluruh kekaisaran, namun di dalam Lembah Tabib Hantu, sebuah kekuatan kuno sedang menunggunya untuk diambil.
Lin Xiao berdiri dengan susah payah dari tempat tidurnya, menatap ke arah jurang yang gelap di luar gubuk. "Long Tian, kau pikir kau sudah menang dengan memukulku mundur? Kau salah. Aku hanya sedang mundur selangkah untuk mengambil ancang-ancang melompat ke tenggorokanmu."
Malam itu, di bawah cahaya bulan sabit, sang Mawar Hitam yang terluka mulai merangkak kembali dari jurang kematian, siap untuk menjadi bencana yang sesungguhnya bagi mereka yang berkhianat.