NovelToon NovelToon
Sahabat

Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Tamat
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

cerita kehidupan sehari-hari (slice of life) yang menyentuh hati, tentang bagaimana tiga sahabat dengan karakter berbeda saling mendukung satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

penyesalan

Di malam harinya, langit sudah mulai tertutup oleh tirai kegelapan yang hanya diselingi oleh beberapa titik cahaya bintang yang bersinar lemah. Rohita yang baru saja selesai membersihkan kamar kostnya, secara tidak sengaja melihat keluar melalui celah tirai jendela kamar. Mata matanya yang tajam langsung tertuju pada sosok lelaki yang sedang berjalan dengan langkah lambat dan sedikit tergesa-gesa di depan area kost. Tidak diragukan lagi, itu adalah Arga—wajahnya yang dikenalinya dengan baik bahkan dalam cahaya yang terbatas.

Perasaan yang tidak bisa dijelaskan secara tepat muncul dalam hati Rohita. Setelah menolaknya ketika dia mengajak pergi ke pantai, rasa penasaran yang tak terkontrol mulai menggoda dirinya. Tanpa berpikir panjang, Rohita segera mengambil jaket tipis yang ada di kursi, lalu keluar dari kamar dengan hati-hati agar tidak membuat suara yang terlalu keras. Dia bergerak dengan diam-diam, mengikuti langkah-langkah Arga dari kejauhan, menjaga jarak agar tidak terdeteksi.

Langkah Arga seolah membawa dia ke arah yang tidak terlalu jauh dari kost. Rohita yang biasanya mudah marah dan tidak suka menyembunyikan perasaannya, kini merasa diri berbeda—hati yang biasanya panas berdebar dengan cepat karena campuran rasa penasaran dan sesuatu yang dia tidak bisa namai. Dia terus mengikuti dengan hati-hati, kadang-kadang bersembunyi di balik tiang lampu jalan atau sudut bangunan ketika Arga seolah akan melihat ke belakang.

Sepanjang perjalanan, Rohita tidak bisa tidak memikirkan apa yang membuat Arga keluar sendirian di malam hari. Apakah dia sedang marah karena ditolak tadi? Atau ada hal lain yang sedang membekas di pikirannya? Pikiran itu membuat Rohita semakin penasaran, bahkan sampai dia tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di area yang lebih ramai dengan kedai kecil yang masih buka. Namun Arga tidak berhenti di salah satu kedai itu, melainkan terus berjalan menuju sudut yang lebih sunyi, di mana ada sebuah taman kecil dengan beberapa kursi kayu yang tersebar.

Rohita berhenti di balik pagar taman yang cukup tinggi, menyembunyikan diri dengan baik. Dia melihat Arga berhenti di depan salah satu kursi, lalu duduk dengan wajah yang tampak berat. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya—sepertinya sebuah bungkusan kecil yang belum diketahui isinya. Rohita mencoba mendekat lebih jauh dengan hati-hati, ingin mendengar apa yang mungkin Arga ucapkan atau melihat apa yang dia lakukan. Namun sebelum dia bisa lebih dekat, suara langkah kaki wanita yang datang dari arah lain membuatnya segera kembali bersembunyi.

Perasaan cemas mulai muncul dalam diri Rohita. Mengapa Arga berada di situ sendirian? Siapakah wanita yang akan datang? Berbagai pertanyaan muncul dalam benaknya, namun dia tetap memilih untuk tetap diam dan mengawasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Langkah-langkah wanita itu semakin dekat, dan Rohita bisa melihat sosoknya yang mengenakan baju warna terang, membuatnya mudah terlihat meskipun dalam cahaya yang minim.

Rohita yang masih bersembunyi di balik pagar taman, mata matanya terpaku pada sosok wanita yang kini berdiri tepat di depan Arga. Wanita itu memiliki wajah yang ceria dengan senyuman yang lebar, dan gerak tubuhnya terlihat penuh dengan kepercayaan diri. Tanpa basa-basi, wanita itu duduk di sisi Arga dan mulai mengajak bicara dengan nada yang lembut namun penuh dengan godaan.

“Kenapa kamu sendirian di sini malam-malam, ya? Sepertinya kamu sedang punya beban berat di hati,” ucap wanita itu sambil menoleh ke arah Arga, tangannya secara perlahan mulai menyentuh lengan Arga. Rohita yang melihatnya dari kejauhan merasa hati nya seperti tertusuk oleh jarum yang tajam. Tubuhnya sedikit menggigil karena emosi yang mulai muncul, namun dia tetap menahan diri untuk tidak keluar dan mengganggu.

Arga yang awalnya tampak tidak peduli, perlahan mulai merespon ucapan wanita itu. Rohita tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan dengan jelas, namun gerakan tubuh Arga yang mulai rileks dan senyumannya yang muncul membuatnya merasa semakin tidak nyaman. Tak lama kemudian, wanita itu semakin berani—dia mendekatkan wajahnya ke arah Arga, tangannya mulai mengelus-elus bahu Arga dengan lembut. Rohita bisa melihat bagaimana Arga tidak menghindari sentuhan itu, bahkan malahan mulai merespons dengan cara yang sama.

Saat wanita itu menarik wajah Arga lebih dekat dan bibir mereka hampir bersentuhan, Rohita merasa dunia nya seolah runtuh. Semua perasaan yang dia coba sembunyikan—rasa sayang yang tidak dia akui, rasa iri yang muncul ketika melihat Dewi dan Devi bersama pacarnya, bahkan rasa menyesal karena telah menggodanya lalu meninggalkannya begitu saja—semua itu muncul sekaligus dengan sangat kuat. Dia tidak menyangka bahwa Arga akan dengan mudah menerima godaan wanita lain begitu saja, padahal baru saja dia mulai menunjukkan perhatian padanya.

Perasaan sakit hati dan kesalahan yang luar biasa menghantui Rohita. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah menolak ajakan Arga pergi ke pantai, karena telah bertingkah dingin padanya setelah melepaskan pelukan sembunyi, bahkan karena pernah meninggalkannya begitu saja dengan motornya. Semua keputusan yang dia ambil seolah menjadi kesalahan besar yang membuatnya kehilangan apa yang mungkin bisa menjadi sesuatu yang berharga. Tanpa bisa menahan lagi, Rohita berbalik dan mulai berlari meninggalkan taman itu, mata matanya sudah mulai berkaca-kaca karena air mata yang ingin keluar namun dia tetap menahannya sebisa mungkin.

Langkah kaki Rohita terasa sangat berat saat dia berjalan kembali menuju kost. Wajahnya yang biasanya penuh dengan semangat atau kemarahan kini hanya menunjukkan ekspresi muram yang dalam, seperti tertutup oleh awan gelap yang tidak bisa dihilangkan. Setiap langkahnya semakin lambat, dan dia tidak bisa menghindari pemikiran tentang apa yang baru saja dia saksikan di taman Arga yang menerima godaan wanita lain terus bermain di benaknya seperti film yang tidak bisa dihentikan.

Ketika akhirnya sampai di depan pintu kost, Rohita melihat beberapa lampu di area depan sudah dimatikan, menunjukkan bahwa sebagian besar penghuni sudah beristirahat. Dia masuk dengan hati-hati melalui pintu gerbang, lalu berjalan menuju kamar nya yang berada di lantai dua. Sepanjang jalan, tidak ada seorang pun yang melihatnya, dan itu membuatnya merasa semakin sendirian.

Sesampainya di kamar, Rohita langsung menutup pintu kamar dengan keras, membuat suara yang cukup terdengar di koridor kosong. Dia menjatuhkan jaketnya ke lantai tanpa peduli, lalu langsung berlari ke arah ranjang dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Hanya dalam hitungan detik, air mata yang sudah lama dia tahan mulai mengalir deras ke pipinya. Tangisannya terdengar lembut namun penuh dengan kesedihan dan penyesalan yang mendalam.

Dia menangisi semua hal yang telah terjadi—menangisi bagaimana dia selalu tidak bisa mengendalikan emosinya yang pemarah sehingga sering menyakiti orang lain tanpa sengaja, menangisi bagaimana dia telah merendahkan perhatian Arga dengan bertingkah seenaknya, dan menangisi bagaimana dia telah kehilangan kesempatan yang mungkin bisa membuatnya bahagia. Rohita yang selalu menunjukkan diri sebagai orang yang kuat dan tidak bisa dikalahkan, kini terbongkar sebagai seseorang yang lemah dan penuh dengan keraguan diri.

Air matanya terus mengalir, membasahi bantal dan selimutnya. Dia tidak bisa berhenti memikirkan Arga dan wanita itu—apakah mereka masih bersama di taman? Apakah Arga benar-benar telah pindah hati? Semua pertanyaan itu hanya membuatnya semakin menangis. Kadang-kadang dia menangis dengan suara keras, kadang-kadang hanya meratap pelan. Waktu seolah berhenti bagi dia, dan satu-satunya yang ada dalam dirinya adalah rasa sakit yang luar biasa dan penyesalan yang tidak bisa diubah lagi. Sampai akhirnya, kelelahan menguasai tubuhnya dan dia tertidur dengan wajah yang masih basah karena air mata, dengan pemikiran yang penuh dengan kegelapan dan keraguan tentang masa depannya.

Esok harinya, matahari baru mulai menyingsing ketika Rohita sudah bangun dari tempat tidurnya. Wajahnya masih tampak pucat dan mata sedikit bengkak akibat menangis semalaman. Pikirannya masih terjebak pada adegan malam sebelumnya—Arga yang dengan mudah menerima godaan wanita itu. Benaknya berputar-putar dengan berbagai pertanyaan yang tak menemukan jawaban. Mengapa dia bisa begitu? Apakah semua yang pernah mereka alami hanyalah omong kosong belaka?

Tanpa berpikir panjang, Rohita mengambil topi dan sapu tangan yang ada di atas meja, lalu keluar dari kamarnya tanpa memberi tahu siapapun. Tubuhnya merasa berat, namun langkahnya tetap mantap saat dia berjalan menuju arah tempat yang sudah dia kenal baik. Tempat berkebun yang biasanya menjadi tempat dia melepaskan emosi ketika merasa kesal atau tertekan. Di sana, dia bisa merawat tanaman-tanamannya sambil menyampaikan segala isi hati yang sulit diucapkan dengan kata-kata.

Saat tiba di kebun, Rohita langsung meraih cangkul dan ember air yang sudah disiapkan di sudut. Dia mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar bedengan sayuran dan buah-buahan yang dia rawat sendiri. Gerakan tangannya cepat dan terkadang sedikit kasar—sifat pemarahnya yang biasanya muncul ketika dia tidak bisa mengendalikan emosi masih terlihat jelas. Setiap kali menyentuh tanah yang lembab dan merawat tanaman yang tumbuh subur, rasa sakit di dalam hatinya sedikit mereda. Dia berbicara perlahan kepada tanaman-tanamannya, seperti bercerita kepada teman terdekat. “Kalian baik-baik saja ya… tidak seperti manusia yang bisa dengan mudah menyakiti perasaan orang lain,” ucapnya sambil menyiram air ke atas daun-daun yang hijau segar.

Waktu berlalu begitu cepat. Ketika Rohita menyadari, matahari sudah mulai berpindah ke arah barat. Keringat sudah membasahi bajunya, namun dia merasa lebih lega daripada semalam. Tanpa berpikir lagi, dia memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke pantai. Dia ingin merasakan hembusan angin laut dan melihat ombak yang menggulung ke arah pantai—tempat lain yang sering membuatnya merasa damai.

Saat tiba di pantai, pasir hangat menyentuh kulit kakinya ketika dia melepas sepatunya dan berjalan ke arah air laut. Ombak datang dan pergi dengan irama yang tenang, seolah sedang membisikkan kata-kata penghiburan. Rohita duduk di tepi pantai, menyaksikan matahari mulai terbenam dengan warna jingga dan merah yang mempesona. Dia mengagumi keindahan alam yang ada di depannya, namun pikirannya masih terkadang terbang kembali pada Arga. Kadang-kadang dia merasa marah pada dirinya sendiri karena masih memikirkan pria itu padahal telah melihat dengan matanya sendiri bagaimana dia bertindak. Namun di sisi lain, rasa sakit yang ada di dalam hatinya tidak bisa begitu saja hilang begitu cepat.

Dia menghabiskan waktu lama di pantai, terkadang berjalan-jalan menyusuri bibir pantai dan terkadang hanya duduk diam menikmati suasana. Hingga akhirnya warna langit mulai berubah menjadi gelap dan udara menjadi lebih dingin, Rohita baru menyadari bahwa sudah sore hari. Dengan hati yang masih penuh dengan berbagai emosi, dia mulai berjalan kembali menuju arah kostnya, siap menghadapi apa pun yang akan dia temui setelah pulang.

1
𝐍𝟏𝐬𝐡𝐢𝐦𝐮𝐫𝐚
ceritanya baguss , tp karna kalimat nya terlalu panjang, dan dialognya yang nempel, bkin ak jadi bingung hehe, semangat thor🙏
Jing_Jing22
Aduh, nyesek banget lihat Dewi nangis sendirian begitu. 🥺 Untung ada Rohita yang lewat. Walaupun awalnya kelihatan galak, ternyata Rohita peduli banget. Semoga Dewi mau cerita masalahnya ya!
Wida_Ast Jcy
do re mi donk🤭🤭🤭 tiga sahabat dipanggil do re mi hehheh
Wida_Ast Jcy
Saran ya thor dialog dengan narasi ada baiknya dipisah lho. 🙏🙏🙏
Mingyu gf😘
bahasa formal sama bahasa sehari hari jangan di campur
Mingyu gf😘
Jangan terlalu suka kepo dengan orang yang gak di kenal
Anang Anang
lanjut
Dini
mantap
Dini
sangat mengispirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!