Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Disengaja
Pagi datang tanpa pertanda.
Tidak ada sirene, tidak ada berita kilat, tidak ada pesan darurat. Hanya sinar matahari yang jatuh di meja dapur, memantul di cangkir kopi Carmela yang belum disentuh. Matteo membaca laporan harian dengan dahi sedikit berkerut—bukan karena angka, melainkan karena urutan.
“Ini aneh,” katanya.
Carmela mendongak. “Yang mana?”
“Lampiran ketiga,” Matteo menunjuk layar. “Tanggalnya mundur satu hari. Dan pengesahannya… bukan tanda tangan digitalmu.”
Carmela berdiri, mendekat. Ia tidak panik. Ia mengenali bau masalah—halus, nyaris sopan, tapi sengaja.
“Siapa yang mengunggahnya?” tanya Carmela.
Matteo menggulir. “Akun internal. Level akses tinggi.”
Carmela menutup mata sejenak. “Jadi ini bukan kebetulan.”
Satu jam kemudian, ruang rapat kecil terisi. Tidak banyak orang—hanya mereka yang perlu tahu. Kepala kepatuhan, direktur sistem, dan seorang staf senior yang wajahnya terlalu tenang.
“Ini terlihat seperti kesalahan administrasi,” kata staf itu. “Tanggal bisa salah input.”
Carmela menatapnya. “Tanggal bisa. Tanda tangan digital tidak.”
Keheningan menegang.
“Siapa saja yang punya akses untuk mengganti tanda tangan?” tanya Carmela, nada suaranya datar.
Direktur sistem menyebut tiga nama. Salah satunya… Rena.
Nama itu jatuh seperti benda ringan yang berbunyi keras di kepala Carmela.
Rena—orang yang selama ini dipercaya, yang berdiri bersamanya di hari-hari paling sulit, yang tahu celah-celah kecil karena ia ikut membangunnya.
“Panggil Rena,” kata Carmela.
Rena datang sepuluh menit kemudian. Wajahnya pucat, tapi matanya tajam. Ia duduk tanpa diminta.
“Ada apa?” tanyanya.
Carmela tidak memutar. “Ada perubahan dokumen tanpa otorisasi. Aksesnya dari akunmu.”
Rena menarik napas panjang. “Aku tidak melakukannya.”
Matteo menatap Carmela—diam. Ia tahu momen ini miliknya.
“Log sistem mencatat aktivitas dari akunmu,” lanjut Carmela. “Tepat pukul 02.14.”
Rena menggeleng. “Aku pulang lebih awal. Aku… aku memberikan akses sementara ke Davi.”
Nama kedua jatuh. Davi—staf kontrak, cerdas, ambisius, terlalu cepat belajar.
“Kenapa?” tanya Carmela.
“Dia bilang ada pembaruan mendesak,” jawab Rena. “Aku—”
“Kamu melanggar protokol,” potong Carmela, suaranya tetap tenang. “Kenapa kamu tidak melapor?”
Rena menunduk. “Aku pikir… aku bisa memperbaikinya sebelum terlihat.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada pengakuan apa pun.
Rapat ditutup tanpa keputusan final. Carmela meminta waktu dua jam. Tidak lebih.
Di lorong, Matteo menyusulnya. “Mereka sengaja menaruh umpan.”
Carmela mengangguk. “Dan Rena menggigitnya—bukan karena serakah, tapi karena loyalitas yang salah arah.”
“Pilihanmu?” tanya Matteo.
“Belum,” jawab Carmela. “Tapi aku tahu konsekuensinya.”
Dua jam itu digunakan Carmela untuk satu hal: menelusuri niat.
Ia membaca log, membandingkan versi, menelpon satu saksi yang tidak tercatat, lalu duduk sendiri—tanpa ponsel, tanpa gangguan. Ia tahu pola ini: kesalahan kecil yang membuka pintu, lalu tuduhan besar yang menyusul. Jika ia melindungi Rena, integritasnya dipertanyakan. Jika ia mengorbankan Rena, pesan ketakutan akan menyebar.
Ketika waktu habis, Carmela kembali ke ruang rapat.
“Keputusan?” tanya direktur kepatuhan.
Carmela berdiri. “Kita pisahkan tiga hal: pelanggaran, niat, dan dampak.”
Ia menatap Rena. “Kamu melanggar protokol. Itu fakta.”
Rena mengangguk, air mata menggenang tapi tidak jatuh.
“Kamu melakukannya bukan untuk keuntungan pribadi,” lanjut Carmela. “Itu niat.”
Rena terisak. “Aku hanya ingin—”
“Aku tahu,” potong Carmela lembut. “Dan justru karena itu, dampaknya berbahaya.”
Carmela menghela napas. “Rena, kamu akan dinonaktifkan sementara. Audit penuh. Tidak ada perlindungan personal. Tapi juga tidak ada kriminalisasi.”
Ruangan sunyi.
“Dan Davi?” tanya Matteo.
“Kontraknya dihentikan. Aksesnya dibekukan. Kita serahkan ke proses hukum,” jawab Carmela.
Rena menatap Carmela—campuran sakit dan hormat. “Kamu… tidak menyelamatkanku.”
Carmela menatap balik. “Aku menyelamatkan sistem. Dan itu satu-satunya cara agar kamu punya jalan kembali.”
Keputusan itu bocor sebelum sore.
Judul-judul muncul, bernada ambigu. “Kepemimpinan Tegas atau Pengkhianatan Internal?” “Orang Kepercayaan Dinonaktifkan.” Tidak ada yang berteriak—tapi semua membaca.
Malamnya, vila kembali hening.
Carmela duduk di teras, menatap gelap. Matteo membawa selimut, menyampirkannya di bahunya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Matteo.
Carmela menggeleng pelan. “Aku tahu ini benar. Tapi benar tidak selalu ringan.”
Matteo duduk di sampingnya. “Mereka ingin kamu ragu.”
“Ya,” kata Carmela. “Dan aku hampir—”
Ia berhenti. Tidak melanjutkan.
Matteo menggenggam tangannya. “Hampir apa?”
“Hampir memilih orang daripada prinsip,” jawab Carmela jujur. “Dan itu akan mengajar sistem bahwa air mata lebih kuat dari aturan.”
Matteo tersenyum tipis. “Kamu memilih yang lebih sulit.”
Carmela menatapnya. “Kamu tidak marah?”
Matteo menggeleng. “Aku bangga. Dan sedikit takut.”
“Kenapa?”
“Karena mereka akan menaikkan taruhannya.”
Ponsel Carmela bergetar. Nomor tak dikenal.
Kamu lulus ujian pertama. Ujian berikutnya menyentuh yang paling dekat.
Carmela menutup layar tanpa menjawab.
“Pesan?” tanya Matteo.
“Ancaman,” jawab Carmela. “Yang sopan.”
Matteo berdiri, menatap gelap. “Kalau mereka menyentuh keluarga—”
“Mereka akan,” potong Carmela. “Dan kita tidak akan bereaksi. Kita akan mendahului.”
Matteo menoleh. “Kamu sudah punya rencana.”
Carmela mengangguk. “Audit kedua. Lebih dalam. Kita cari siapa yang memberi perintah pada Davi.”
Matteo tersenyum tipis. “Dan kalau namanya besar?”
Carmela berdiri. “Maka kita uji apakah mereka berani jatuh.”
Di kamar, sebelum tidur, Carmela membuka catatan kecilnya. Ia menulis satu kalimat, lalu menutupnya.
Kesetiaan tanpa batas adalah pintu masuk pengkhianatan.
Lampu dimatikan. Di luar, angin bergerak pelan—seperti napas yang ditahan sebelum lari panjang.
Bab ini selesai. Tapi permainan baru saja menaikkan level.