Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Skandal
Senin pagi.
Julian berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah mantap. Di dalam tas ranselnya, tersimpan map cokelat berisi bukti korupsi Rian yang ia dapatkan dari Bang Jago.
Hari ini, ia akan mengakhiri tirani Rian. Ia akan menyerahkan bukti ini ke Pak Burhan, membersihkan namanya, dan mengambil alih Pensi kembali.
Julian merasa seperti jagoan di film aksi yang berjalan membelakangi ledakan. Ia membayangkan skenarionya: Rian dipanggil, Rian dipecat, dan Pensi berjalan lancar di bawah komando Julian (dan Alea).
Namun, saat ia berbelok menuju koridor utama, Julian merasakan sesuatu yang aneh.
Suasana sekolah terlalu... berisik.
Bukan berisik normal seperti siswa mengobrol. Ini berisik bisik-bisik. Ratusan pasang mata menatapnya saat ia lewat. Ada yang menunjuk-nunjuk, ada yang tertawa mengejek, ada yang menatap dengan pandangan jijik.
Julian mengerutkan kening. Ia memeriksa seragamnya. Rapih. Resleting celana? Aman.
Tiba-tiba, Raka berlari dari arah kelas IPS, napasnya ngos-ngosan. Wajahnya pucat pasi.
"JUL!" teriak Raka, tidak peduli sopan santun. Ia mencengkeram bahu Julian. "Gawat, Jul! Gawat darurat!"
"Kenapa? Rian tau soal bukti itu?" tanya Julian tenang, masih merasa di atas angin.
"Bukan! Cek HP lo! Cek Instagram Lambe Pelita Bangsa sekarang!"
Julian merasakan firasat buruk. Ia mengeluarkan HP-nya. Notifikasinya meledak. Ratusan mention dan tag.
Julian membuka akun gosip sekolah itu. Postingan terbaru baru diunggah 15 menit yang lalu, tapi likes-nya sudah ribuan.
Judulnya ditulis dengan huruf kapital merah:
TERBONGKAR: WAJAH ASLI SANG KETUA OSIS YANG 'SUCI'
Julian menahan napas. Ia menggeser slide foto itu.
Slide 1: Video Julian sedang berdansa dengan Alea di pesta, dengan caption: "Katanya mundur demi Olimpiade, kok malah asik pacaran sama cewek bermasalah?"
Slide 2: Foto Julian keluar dari Studio Bising lewat pintu belakang, memakai topi dan masker, tapi tas sekolahnya yang khas terlihat jelas.
Slide 3: Ini yang paling mematikan. Sebuah video zoom-in saat Phantom (Julian) sedang latihan di studio. Di video itu, Julian sedang menggulung lengan hoodie-nya karena kepanasan, memperlihatkan jam tangan kulit cokelat yang sangat ikonik—jam tangan mahal pemberian ayahnya yang selalu ia pakai di sekolah.
Di sebelah video itu, ada foto Julian sedang pidato upacara memakai jam tangan yang sama persis.
Caption di bawahnya tertulis:
"Si Jenius Kebanggaan Sekolah ternyata gitaris band urakan 'The Rebels' yang sering bikin onar. Namanya PHANTOM. Pantesan band sampah itu dilolosin audisi terus. Ternyata ordal (orang dalam). Munafik banget ya, ngelarang siswa gondrong tapi sendirinya main musik cadas."
Dunia Julian runtuh.
Telinganya berdenging kencang. Nguiiing...
HP di tangannya terasa licin oleh keringat dingin. Rahasianya... identitasnya... semuanya telanjang di depan publik.
"Ini... ini editan..." gumam Julian, suaranya bergetar, mencoba menyangkal kenyataan.
"Nggak ada yang percaya itu editan, Jul," bisik Raka lemas. "Anak-anak udah pada heboh. Mereka bilang lo pembohong. Mereka bilang lo manfaatin jabatan buat ngelancarin hobi lo."
"Wah, wah, wah. Liat siapa yang jadi selebritis dadakan."
Suara tepuk tangan sarkastik terdengar.
Julian mendongak. Rian berdiri di ujung lorong, didampingi Doni dan beberapa anak buahnya. Rian tersenyum lebar, senyum kemenangan mutlak.
Julian mengepalkan tangannya. Ia teringat map di dalam tasnya.
"Kamu..." geram Julian. Ia melangkah maju, hendak mengeluarkan bukti korupsi itu. "Kamu pikir kamu menang, Rian? Saya punya bukt—"
"Julian Pradana!"
Suara bariton yang menggelegar dari arah belakang menghentikan gerakan Julian.
Itu bukan suara ayahnya. Itu suara Pak Burhan, Kepala Sekolah.
Julian menoleh perlahan. Pak Burhan berdiri di pintu ruang guru. Wajahnya yang biasanya ramah kini merah padam menahan amarah. Di sebelahnya berdiri Pak Hadi (Guru BK) yang memegang tablet, menampilkan postingan Instagram terkutuk itu.
"Ke ruangan saya. SEKARANG!" bentak Pak Burhan.
"Tapi, Pak! Saya bisa jelaskan! Rian yang—"
"Saya bilang SEKARANG! Jangan buat saya menyeret kamu!"
Julian terdiam. Ia menatap Rian lagi. Rian hanya mengangkat bahu, membuat gerakan "resleting mulut" dengan tangannya, lalu tertawa tanpa suara.
Julian kalah langkah.
Dengan langkah gontai, Julian berjalan menuju ruang Kepala Sekolah. Ia melewati kerumunan siswa yang membelah jalan untuknya, bukan karena hormat, tapi karena ingin menonton si pesakitan lewat.
Di dalam Ruang Kepala Sekolah.
Julian berdiri menunduk. Di atas meja Pak Burhan, tablet itu masih menyala, memutar ulang video Phantom yang sedang menyabik gitar.
"Jawab jujur, Julian," suara Pak Burhan bergetar karena kecewa. "Apakah orang di video ini kamu?"
Julian ingin berbohong. Ingin bilang itu sepupunya, Junaedi, atau siapa pun. Tapi di hadapan bukti jam tangan yang begitu jelas, kebohongan hanya akan memperburuk keadaan.
"Iya, Pak," jawab Julian lirih.
"Astaga..." Pak Burhan memijat keningnya. "Kamu ini Ketua OSIS teladan. Aset sekolah. Calon peraih beasiswa. Kenapa kamu melakukan hal bodoh seperti ini? Main band di studio kumuh? Bergaul dengan anak-anak bermasalah seperti Aleandra? Berbohong soal alasan mundur?"
"Musik bukan hal bodoh, Pak," Julian mencoba membela diri, sedikit keberanian muncul. "Dan Alea bukan anak bermasalah. Nilai dia naik drastis karena dia punya motivasi."
"Motivasi apa?! Motivasi pacaran?!" potong Pak Burhan. "Julian, kamu sadar tidak? Reputasi sekolah dipertaruhkan. Orang tua murid mulai menelepon, bertanya kenapa sekolah membiarkan pergaulan bebas dan budaya urakan merusak siswa unggulan."
"Pak, ini cuma hobi..."
"Hobi yang membuat kamu berbohong!" Pak Burhan menggebrak meja. "Kamu bilang kamu mundur karena Olimpiade. Ternyata karena kamu sibuk main gitar! Kamu menipu saya, Julian."
Kata "menipu" menusuk hati Julian. Padahal dia benar-benar belajar mati-matian. Dia membagi waktu sampai kurang tidur. Tapi satu video ini menghapus semua kerja kerasnya.
"Dan yang lebih parah," lanjut Pak Burhan, nadanya berubah menjadi nada belasungkawa. "Ayah kamu sudah melihat ini."
Darah Julian berhenti mengalir. "Apa?"
"Komite sekolah mem-forward postingan ini ke beliau sepuluh menit yang lalu. Beliau... sangat marah. Beliau meminta sekolah mengambil tindakan tegas sebelum beliau datang ke sini siang ini."
Julian merasakan kakinya lemas. Ayahnya akan datang lagi. Dan kali ini, tidak ada Alea yang bisa menyelamatkannya dengan argumen cerdas. Kali ini, buktinya mutlak.
"Sekolah menskorsing kamu selama tiga hari untuk refleksi diri," putus Pak Burhan. "Dan band The Rebels... didiskualifikasi dari audisi Pensi."
Kepala Julian tersentak naik. "JANGAN, PAK!"
"Keputusan sudah final. Band itu sumber masalah. Aleandra dan teman-temannya memberi pengaruh buruk buat kamu."
"Pak, hukum saya saja! Jangan hukum band-nya! Alea sudah belajar keras buat nilai itu! Itu mimpi dia, Pak!" Julian memohon, air matanya mulai menggenang.
"Keluar, Julian. Bereskan barang-barangmu. Tunggu jemputan ayahmu di pos satpam. Saya tidak mau melihat kamu berkeliaran di sekolah hari ini."
Julian diusir.
Ia berjalan keluar ruangan dengan perasaan hancur lebur. Bukan karena dia diskors. Bukan karena dia malu. Tapi karena dia gagal melindungi satu-satunya hal yang berharga bagi Alea.
Pensi batal bagi mereka.
Di luar ruang Kepala Sekolah, Alea sudah menunggu. Wajahnya cemas. Raka, Dito, dan Beni juga ada di sana.
Begitu melihat Julian keluar dengan wajah seperti mayat hidup, Alea langsung menerjang.
"Jul! Gimana? Apa kata Kepsek? Lo nggak dikeluarin kan?" cecar Alea.
Julian menatap Alea. Menatap mata yang penuh harapan itu.
"Maaf," bisik Julian, suaranya pecah.
"Maaf kenapa?"
"Gue diskors tiga hari. Dan..." Julian menelan ludah yang terasa pahit. "Dan The Rebels didiskualifikasi. Kita nggak boleh tampil di Pensi."
Hening.
Wajah Alea memucat. "Apa?"
"Gara-gara gue," Julian menunduk, tidak berani menatap mata Alea. "Gara-gara gue gabung sama kalian. Gara-gara video itu. Kepala Sekolah nganggep gue kena pengaruh buruk kalian."
"Bangs*t!" teriak Raka, menendang tong sampah di dekatnya. "Si Rian anjing!"
Alea diam. Tubuhnya gemetar. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tidak menangis. Dia menatap Julian.
"Lo... lo nggak ngeluarin bukti korupsi Rian?" tanya Alea pelan.
Julian meraba tasnya. Map itu masih ada di sana.
"Percuma, Le," kata Julian putus asa. "Pak Burhan udah nggak percaya sama gue. Kalau gue ngeluarin bukti itu sekarang, dia bakal mikir gue cuma nyari kambing hitam buat nyelamatin diri sendiri. Gue udah dicap pembohong."
"Jadi lo nyerah?" suara Alea meninggi. "Lo nyerah gitu aja?! Lo biarin si Rian menang dan mimpi kita ancur?!"
"Gue harus gimana, Alea?! Bokap gue lagi jalan ke sini! Gue abis ini tamat! Gue bakal dikurung di rumah, mungkin dipindahin sekolah!" Julian meledak. Tekanan yang ditahannya akhirnya jebol.
"Lo pikir gue peduli sama nasib gue sekarang? Gue peduli sama lo!"
"Kalau lo peduli sama gue," potong Alea tajam, air mata akhirnya jatuh di pipinya, "harusnya lo lawan! Bukan nunduk kayak pengecut!"
"Gue emang pengecut!" teriak Julian. "Gue bukan rockstar kayak lo! Gue cuma anak penurut yang nyoba-nyoba nakal dan sekarang kena batunya! Harusnya gue nggak pernah dengerin lo! Harusnya gue nggak pernah masuk ke studio bau itu!"
Kata-kata itu meluncur tanpa sadar. Kata-kata penyesalan yang didorong oleh rasa panik.
Mata Alea melebar. Sakit hati terpancar jelas di sana. Lebih sakit daripada saat Julian pura-pura tidak kenal di koridor.
"Oh... jadi lo nyesel kenal sama kita?" tanya Alea lirih. "Lo nyesel kenal gue?"
Julian tersadar dengan apa yang baru saja diucapkannya. "Alea, bukan... bukan gitu maksud gue..."
"Cukup," Alea mundur selangkah. Ia menghapus air matanya kasar. "Gue ngerti. Kita emang beda dunia, Jul. Lo anak emas yang cuma apes dikit, gue sampah yang ngerusak masa depan lo. Sorry udah nyeret lo ke dunia gue."
"Alea, tunggu—"
Alea berbalik dan berlari pergi. Meninggalkan Julian, meninggalkan mimpinya yang hancur, dan meninggalkan hatinya yang patah.
Raka menatap Julian dengan tatapan kecewa. "Parah lo, Jul. Sumpah, parah."
Teman-teman band-nya pergi menyusul Alea.
Julian berdiri sendirian di koridor yang ramai itu. Terisolasi. Hancur. Dan di sakunya, HP-nya bergetar lagi.
Panggilan masuk: PAPA.
Julian menatap layar HP itu dengan pandangan buram oleh air mata.
Ini adalah titik terendah dalam hidupnya. Dia kehilangan jabatannya. Dia kehilangan reputasinya. Dia kehilangan band-nya. Dan dia baru saja menyakiti satu-satunya orang yang benar-benar memahaminya.
Julian mengangkat telepon itu, menempelkannya ke telinga dengan tangan gemetar.
"Halo, Pa..."
Suara di seberang sana dingin dan mematikan.
"Pulang sekarang. Supir sudah di depan. Jangan bicara sepatah kata pun. Nasib kamu Papa yang tentukan mulai detik ini."
Telepon ditutup.
Julian berjalan gontai menuju gerbang sekolah, menyerahkan dirinya pada takdir yang suram.
...****************...
BERSAMBUNG.....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️