Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang utama kembali
"Baiklah kalau begitu aku akan masuk, kabari aku jika kau akan kembali."
Dengan itu Bram menekan tanda merah pada layar, mematikan sambungan telepon. Kepalanya menoleh ke arah Hita yang duduk kedinginan pada kursi di luar apartemen, memeluk tubuhnya sendiri di dalam balutan jas kebesaran milik Bram.
Bram tau bahwa ada sesuatu yang terjadi diantara Dirga dan Hita meskipun perempuan itu menolak untuk bercerita. Di sepanjang perjalanan sudah berkali-kali ia membujuk, tapi Hita masih saja tak mau terbuka.
Dari keinginan Hita yang mengatakan tak ingin pulang, Bram tau bahwa semuanya sangat jauh dari kata baik-baik saja. Itulah mengapa ia kini membawa Hita kemari.
"Aku sudah mengabari temanku." Bram melangkah mendekat, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Hita. "Dia menyuruh kita untuk masuk. Kau bisa masuk sendiri jika tidak mau aku temani, beberapa saat lagi temanku akan datang dan kau bisa menginap di sini malam ini."
Hita mendongak menatap Bram, kepalanya menggeleng pelan.
"Apakah teman kakak tidak akan marah jika aku tinggal di sini malam ini?" tanyanya tak enak hati. "Aku tidak ingin merepotkan—"
"Tidak akan merepotkan, bukankah aku sudah mengatakannya?" Bram berlutut, menyetarakan tingginya dengan Hita. "Temanku ini adalah seseorang yang sangat dekat denganku. Dia aku tugaskan untuk menjaga nenek, dia sama seperti Wisnu," jelasnya. "Dia juga sering mengeluh kesepian, jadi akan menyenangkan baginya jika memiliki teman untuk malam ini. Bagaimana?"
Bram jelas sekali berusaha membuat Hita nyaman. Raut khawatirnya terlihat jelas, apalagi saat melihat Hita yang menggigil di dalam balutan jasnya.
"Baiklah kalau begitu." Hita mengangguk. "Jika kakak ingin masuk ke dalam juga tidak apa-apa," katanya. "Ini kan apartemen milik teman kakak."
Bram mengangguk. "Aku hanya tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman."
Bram berdiri, tangannya terulur ke arah Hita sebagai sebuah ajakan. Hita meskipun ragu-ragu pada akhirnya tetap meletakkan tangannya pada tangan Bram.
"Tanganmu dingin sekali," ujar Bram dengan gelengan jenaka, ibu jarinya mengelus lembut punggung tangan Hita. "Sudah seperti mayat saja."
Hita cemberut. "Kakak jangan bicara seperti itu."
Dengan kekehan ringan, akhirnya Bram menuntun Hita untuk masuk, tangannya begitu lancar memutar kunci dan mendorong pintu hingga ternganga.
Saat sudah sampai di dalam ruangan yang hangat, tautan mereka akhirnya terlepas. Senyum Bram mengembang saat melihat reaksi kagum Hita bahkan pada hal-hal sederhana. Sepertinya Hita ini tipe-tibe perempuan yang bersyukur atas segala hal.
"Aku sudah meminta izin pada temanku. Kau bisa meminjam pakaiannya." Bram melangkah melewati Hita semakin masuk ke ruangan. "Kau bisa benar-benar membeku jika terus mengenakkan pakaian basah itu."
Penghangat ruangan dihidupkan, lalu Bram melangkah ke arah kamar dan suara derit lemari yang dibuka membuat Hita tau apa yang tengah laki-laki itu lakukan.
Perempuan itu menghela napas panjang, benar-benar merasakan perbedaan sikap Dirga dan Bram padanya.
Baiklah, seharusnya dia tak berharap Dirga yang dingin itu akan bersikap seperti ini padanya, kan?
"Aku rasa ini cukup."
Hita menoleh saat Bram menghampiri dengan sepasang pakaian hangat. Sebuah sweater panjang berbahan lembut dengan warna putih polos, bersama juga celana kebesaran senada yang tampaknya akan sangat nyaman begitu dikenakan.
Saat Bram mengulurkan pakaian itu padanya, Hita langsung mendekat.
"Terimakasih." Hita tersenyum tipis, mengambil pakaian dari tangan Bram. Laki-laki itu langsung mengangguk sebagai jawaban.
"Toiletnya ada di sebelah sana, aku akan menunggu di sini dan menyiapkan coklat hangat," ujar Bram, menunjuk ke arah pojok ruangan.
Saat Hita berlari kecil ke arah kamar kecil, Bram tak bisa memudarkan senyumnya. Ada sesuatu dalam diri Hita yang selalu membuatnya merasa hangat. Perasaan ini biasanya ia dapatkan dari adik perempuannya yang membuatnya nyaman, dan kini Hita juga membuatnya merasa seperti itu.
Bahkan Bram sendiri tidak tau kenapa pagi tadi ia malah mengikuti Dirga dan Hita ke kantor. Itu tak pernah terpikirkan olehnya, tapi entah mengapa ia ingin mengikuti mereka. Itulah mengapa saat Bram melihat Hita keluar dari kantor dengan keadaan menangis ia buru-buru menghampiri.
Dengan gelengan pelan Bram melangkah menuju dapur, menyiapkan dua cangkir dan menghangatkan air.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kakinya mengetuk-ngetuk lantai saat menunggu, diiringi senandung pelan yang mengalun merdu sebelum...
Ting!
Suara dering keras dari telepon menghancurkan keheningan. Ponselnya berbunyi, tapi di sisi itu milik Pramahita juga berbunyi di sofa.
Bram mengangkat ponselnya, melihat nama Wisnu tertera pada layar. Lalu ia melangkah, mengintip siapa sekiranya yang kini menghubungi Hita.
Tepat saat itu pintu kamar mandi terbuka, menampakkan Hita yang cantik dengan balutan sweater dan celana longgar.
"Ada yang menelpon." Bram mengendikkan dagu ke arah ponsel Hita di sofa, lalu menatap miliknya.
Untuk sesaat Bram merasakan sesuatu yang membuatnya tak nyaman. Ia tak tau apa pemicunya, dan sepertinya hal yang buruk akan segera terjadi.
"Kak Dirga."
Gumaman Hita memecah lamunannya.
"Aku tidak mau mengangkatnya," ujar Hita, menurunkan volume ponselnya. "Kakak angkat saja panggilan Wisnu."
Bram tampak ingin menanyakan sesuatu saat mendengar keputusan Hita, tapi akhirnya ia menutup mulut mengangguk pelan, menggeser layar dan menyalakan loud speaker.
Itu gerakan naluriah, ingin juga Hita mendengar apa yang akan dikatakan oleh Wisnu. Sementara di sisi lain ponsel Hita masih bergetar tanpa suara di atas sofa.
"Selamat sore, pak."
"Ada apa?"
"Maaf karena menghubungi tiba-tiba seperti ini, tapi ini adalah perintah dari Pak Dirga."
Ucapan Wisnu itu membuat Bram sontak menoleh ke arah sofa, lalu beralih pada Hita yang balik menatapnya dengan ketegangan.
Perintah Dirga?
"Apa yang dia katakan?" tanya Bram, suaranya masih terdengar normal.
Jantung Hita berdegup kencang.
"Pak Dirga memerintahkan saya untuk menghubungi seluruh anggota keluarga untuk pulang."
Kerutan terlihat di sepanjang dahi Bram. "Kenapa seperti itu?"
Suara hening setelah pertanyaan Bram itu sungguh memekakkan. Ruangan terasa menyempit, membuat sesak diantara Bram dan Hita.
Kenapa rasanya gelisah seperti ini? Perasaan apa ini sebenarnya?
Saat akhirnya jawaban Wisnu terlontar, barulah terbukti penyebab badai yang tiba-tiba bergejolak itu.
"Nona Loria telah kembali."
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga