Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Menjadi Anak Baik
Wajah yang berbeda ditunjukkan oleh sang bos penguasa. Semua karyawan sudah mulai ketar-ketir. Ezra Narasipta memang jarang berbicara, tapi ketika amarahnya meluap akan seperti iblis jahat yang tak kenal ampun. Mulutnya yang tajam, serta tindakannya yang kejam.
"Ada masalahkah, Pak Bos?"
Tak ada respon apapun membuat Chandra, sang asisten menutup mulutnya dengan rapat. Jika, sudah begini suasana hati bosnya itu sedang tak bagus. Jangan sampai salah bicara jika tak ingin dimutasi ke Afrika untuk ternak gajah.
Sekretaris yang setiap hari menunggu Ezra di depan ruangan sudah tersenyum begitu manis. Baru saja hendak membuka suara, tangan Ezra diangkat dan segera masuk ke dalam ruangan.
"Katakan apa saja jadwal Pak Bos hari ini," pinta Chandra mewakili bosnya yang sedang sedikit sensi.
.
Hembusan napas kasar keluar dari bibir lelaki yang sudah duduk di kursi kebesaran. Dua kata yang terngiang di kepala, manekin hidup. Diambilnya ponsel yang ada di saku dalam jas, banyak pesan yang masuk, tapi tak ada pesan si anak gadis. Biasanya jam segini sudah ada pesan dari Nayanika.
"Sudahlah!"
Kembali fokus pada pekerjaan. Apalagi hari ini banyak rapat penting yang tak bisa diwakilkan. Disela rapat, tak biasanya lelaki itu membuka ponsel. Para anggota rapat saling pandang karena merasakan ada sedikit keanehan.
Di lain tempat seorang gadis sudah duduk di kantin kampus untuk malam siang. Senyum kecil pun melengkung.
"Ternyata udah setengah hari enggak godain si manekin."
Ponsel kembali diletakkan. Tak ada niatan untuk mengganggu lelaki yang bertugas menjaganya. Hari ini dia akan menjadi anak baik. Hari ini dia akan menjadi anak baik. Bukan tanpa alasan, Nika merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Sudah excited, tapi tak direspon.
"Boleh duduk di sini?"
Lelaki tinggi dengan senyum yang cukup manis berkata dengan sangat sopan. Nika mengangguk karena lelaki itu adalah Yuhan, teman sekelasnya. Awalnya ragu untuk berbincang, tapi setelah memulai obrolan malah nyambung sampai menimbulkan gelak tawa di antara keduanya.
Drrt ...
Paman Tampan
Saya akan sedikit telat jemput kamu
Hanya dibaca, tanpa dibalas. Nika pun kembali mengobrol dengan Yuhan yang satu frekuensi dengannya. Dan Ezra, masih menatap layar ponsel. Menanti balasan dari orang yang dia kirimkan pesan. Hingga setengah jam berlalu, pesannya tak jua dibalas. Wajah tak bersahabat kembali muncul.
"Mundurkan rapat jam empat sore nanti."
"Tapi, ini klien pen--" Tatapan tajam yang Ezra berikan langsung menutup bibir Chandra. Dia hanya bisa mengangguk patuh daripada dicincang hidup-hidup.
Berhubung sudah mendapat informasi akan dijemput telat, Nika memilih duduk sejenak di taman kampus. Tak disangka Yuhan pun ada di sana. Kembali mereka berbincang begitu asyik. Nika yang memang mudah bergaul serta sikap Yuhan yang hampir mirip dengan seseorang membuat Nika nyaman.
Getaran ponsel membuat obrolan mereka terhenti. Tak ada angin tak ada hujan, salah satu kontak menghubunginya.
"Lima menit gak keluar. Saya seret "
Tubuh Nika menegang. Baru saja hendak membalas, panggilan itu sudah diakhiri. Sontak Nika segera berdiri. Dan bergegas pergi dari taman. Namun, tangannya dicekal oleh lelaki yang masih duduk di kursi panjang.
"Ada apa?"
"Paman aku udah jemput.
Yuhan segera berdiri. Dengan penuh percaya diri dia berdiri dan berkata, "Aku temani."
Tatapan datar dan begitu tajam membuat langkah Nika terhenti. Tak biasanya lelaki yang mengenakan pakaian formal berdiri di samping mobil ketika menjemputnya.
"Itu Paman kamu?"
Mata Ezra bagai elang ketika melihat ada lelaki yang berdiri di samping Nika dan membisikkan sesuatu. Anggukan kecil tak ayal dari penglihatannya. Ezra mulai menggerakkan mata. Nika yang sangat paham akan tatapan sang paman mulai kembali melangkahkan kaki. Tanpa diduga Yuhan ikut melangkah dan mendekat ke arah Ezra. Dia membungkukkan badan untuk menyapa.
"Jangan marah sama Nika, Paman."
Mata Ezra membola mendengar panggilan dari lelaki itu kepadanya.
"Sejak kapan saya menikah dengan Bibi kamu?"
Hawa mencekam dapat Nika rasakan. Manekin hidup itu jarang sekali berbicara dan ternyata mulutnya begitu tajam. Nika segera masuk ke dalam mobil agar tak timbul permasalahan.
"Pa-man--"
Suara Nika membuat atensi Ezra beralih. Sang gadis yang harus dia jaga sudah duduk manis di dalam mobil.
"JANGAN PACARAN!"
Nika pun berdecak. Kalimat itu pasti dari sang papi. Sedari SMA sampai kuliah dia tak diperbolehkan menjalin hubungan yang biasa disebut pacaran. Katanya takut mengganggu pelajaran.
Mata Nika memicing ketika mobil melaju bukan ke arah rumah. Segera ditatapnya lelaki yang tengah fokus pada jalanan.
"Ke kantor, Saya ada meeting."
"Ya udah turunin di--"
Mobil tiba-tiba direm. Kepala Nika pun hampir terpentok dashboard. Bukannya menjelaskan kenapa mengerem mendadak, Ezra malah menatapnya dengan sangat tajam.
"Saya dibayar buat jagain kamu. Paham?"
Delikan kesal Nika berikan. Suasana mobil pun mendadak hening. Namun, ujung mata Ezra sesekali melirik ke arah Nika yang terlihat badmood.
Nika baru tahu jika Ezra bekerja di perusahaan cukup besar. Tubuhnya sedikit menegang ketika tangannya ditarik dengan begitu lembut. Semua karyawan yang ada di sana tercengang melihat Ezra dengan seorang perempuan.
Para karyawan di lantai lima melebarkan mata karena Ezra membawa masuk perempuan tersebut ke ruangannya. Bisik-bisik pun mulai terdengar.
"Kamu tunggu di sini. Selesai rapat akan saya jemput lagi."
Nika hanya mengangguk pelan. Tangan Ezra menunjuk ke arah meja di mana sudah tersedia buah potong, cemilan, teh susu hangat yang biasa Nika minum, serta cokelat asli Swiss.
"Itu semua buat kamu supaya enggak bosen nunggu."
Nika menggeleng pelan ketika Ezra sudah keluar dari ruangan. Rekor sekali seorang Ezra Naradipta berbicara banyak. Tengah asyik menikmati teh susu dengan cemilan terdengar suara pintu terbuka.
"Udah se--"
Kalimatnya menggantung karena bukan Ezra yang datang. Melainkan seorang wanita memakai rok mini.
"Lancang kamu ya masuk ke ruangan Pak direktur."
Nika masih duduk manis di tempat semula. Membiarkan wanita itu mengoceh tanpa henti. Namun, sebuah kalimat membuat Nika menghentikan kunyahan.
"Pak direktur enggak akan suka sama jalang murahan seperti kamu!"
Nika menggebrak meja dengan sekuat tenaga. Menatap wanita itu dengan tatapan penuh murka.
.
Melangkah dengan lebar demi menuju lantai lima. Meeting yang berlum selesai sudah ditinggalkan karena panggilan dari seseorang.
"Mau pulang."
Ketika pintu ruangan terbuka terlihat jelas wajah tak suka dari Nika. Matanya memicing ketika bukan hanya ada Nika di ruangannya.
"Gege!"
Panggilan itu kembali terdengar. Ezra segera menghampiri Nika. Sedangkan wanita yang tak lain adalah sekretarisnya sudah membuka suara. Inti dari ucapannya yakni menjelekkan Nika.
"DIAM!"
Tubuh sekretaris itu menegang. Baru kali ini Ezra membuka suara kepadanya, tapi berupa bentakan yang cukup keras. Sedangkan Ezra sudah menatap Nika meminta penjelasan.
"Cek CCTV." Jelas, singkat dan padat.
Sebelum Nika meminta, Ezra sudah menyuruh orang untuk mengeceknya. Tak menunggu lama, orang yang dipercaya Ezra tiba. Menunjukkan apa yang dimintanya.
"Cara basi!" ucap Nika dengan tatapan sinis ke arah wanita yang kini ketar-ketir.
Air muka Ezra sudah berubah. Ditatapnya wanita itu dengan nyalang. Wajah penuh permohonan mulai ditunjukkan.
"Candra!"
Sang asisten pun mengerti apa yang diinginkan oleh Ezra. Apalagi sang direktur sangat membenci ada orang yang masuk ke ruangannya tanpa seijinnya. Tangan Chandra sudah terangkat ke udara. Tubuh Ezra segera menghalangi tubuh Nika.
"Tutup mata."
Berbarengan dengan Nika menutup mata, kedua tangan Ezra menutup telinga sang gadis agar tak mendengar tamparan maut asistennya. Sontak jantung Nika berdegup.
"Harus sampai seperti inikah ngejaganya?"
...**** BERSAMBUNG ****...
Coba atuh tinggalin komennya 🤧
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍