NovelToon NovelToon
Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Dokter, Tolong Obati Hatiku Yang Alay Ini!

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter Genius / Cintapertama
Popularitas:120
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Awph

"Dokter, tolong! Jantungku berdebar seratus delapan puluh BPM, napasku sesak, dan duniaku berputar-putar!"
​Adrian menatap datar gadis berseragam SMA di depannya. "Itu karena kamu lari dari parkiran menuju ruangan saya tanpa sarapan, Lala. Bukan serangan jantung."
​Lala malah nyengir tanpa dosa. "Ih, Dokter salah diagnosa! Ini namanya penyakit Cintrong Stadium Akhir. Obatnya cuma satu: Vitamin D. Alias... Vitamin Dari Dokter Adrian!"
​Satu rumah sakit gempar. Bagaimana mungkin dokter paling jenius dan dingin bisa dikejar-kejar oleh bocil SMA yang otaknya hanya berisi konten dan drama? Namun, saat masa lalu Adrian yang kelam kembali menghantui, apakah keceriaan alay milik Lala bisa menjadi satu-satunya obat yang ia butuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Cemburu Buta Karena Pasien Cantik

Baru saja ia hendak menyuapkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya, pintu ruangan kembali terbuka dan menampakkan sosok pasien cantik yang merupakan seorang model terkenal. Perempuan itu melangkah masuk dengan keanggunan yang sangat memukau mata hingga aroma parfum bunga mawar seketika memenuhi setiap sudut ruangan kerja Adrian. Lala yang awalnya hendak melangkah pergi mendadak berhenti di ambang pintu dengan mata yang menyipit tajam dan penuh rasa curiga.

"Dokter Adrian, maaf saya datang tanpa janji temu karena ada masalah mendesak dengan bekas luka operasi di bahu saya," ucap model itu dengan nada manja.

"Silakan duduk Nona Sarah, saya akan segera memeriksa kondisi fisik Anda setelah saya merapikan meja ini," jawab Adrian sambil meletakkan kembali sendok plastiknya.

Lala merasa darahnya mendidih saat melihat cara model tersebut menatap Adrian dengan binar mata yang sangat menggoda dan sangat berani. Ia tidak tahan hanya berdiri diam melihat "wilayah kekuasaannya" sedang diinvasi oleh perempuan dewasa yang tampak sangat sempurna dalam balutan gaun sutra tersebut. Tanpa memedulikan etika, Lala kembali masuk ke dalam ruangan dan berdiri tepat di samping kursi periksa Adrian sambil berkacak pinggang.

"Dokter, kenapa pasien ini tidak mengantre seperti pasien yang lainnya di loket pendaftaran?" tanya Lala dengan suara yang sengaja dibuat ketus.

"Lala, ini bukan urusan kamu, Nona Sarah adalah pasien prioritas yang membutuhkan penanganan segera," tegur Adrian sambil memberikan isyarat agar Lala tenang.

"Prioritas karena dia cantik atau karena dia butuh perhatian lebih dari Dokter?" sahut Lala dengan bibir yang mengerucut sangat panjang karena cemburu.

Nona Sarah hanya memberikan senyuman tipis yang terasa sangat merendahkan bagi Lala sambil perlahan membuka kancing bagian atas bajunya untuk menunjukkan bahunya yang mulus. Adrian tetap bersikap profesional dengan mengambil sarung tangan medis lalu mulai memeriksa bekas luka yang dimaksud dengan sangat teliti dan sangat dekat. Lala yang melihat pemandangan itu merasa jantungnya seolah ingin meledak karena rasa cemburu buta yang sudah mencapai puncaknya.

"Dokter, bekas luka itu terlihat sangat baik, tidak perlu sampai harus menatapnya sedekat itu!" seru Lala sambil mencoba menyisipkan tubuhnya di antara mereka berdua.

"Berhenti mengganggu, Lala, jika kamu terus berisik, saya akan meminta petugas keamanan untuk mengeluarkan kamu dari sini!" ancam Adrian dengan nada yang mulai meninggi.

Lala terdiam sesaat dengan mata yang mulai berkaca kaca karena merasa dibela oleh orang yang paling ia sukai di depan wanita lain. Namun, rasa sedih itu segera berganti menjadi amarah yang ugal ugalan saat ia melihat Nona Sarah sengaja menyentuh tangan Adrian saat pemeriksaan berlangsung. Gadis sekolah itu segera mengambil botol pembersih kuman di atas meja lalu menyemprotkannya ke udara di sekitar mereka dengan sangat membabi buta.

"Udara di sini terasa sangat penuh dengan kuman kuman penggoda, harus segera disterilkan sekarang juga!" teriak Lala sambil terus menekan tuas penyemprot.

"Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa merusak mata pasien saya dengan cairan kimia itu!" bentak Adrian sambil berusaha merebut botol tersebut dari tangan Lala.

Terjadi aksi tarik menarik yang sangat sengit antara dokter kaku dan gadis kompor tersebut hingga cairan pembersih kuman itu tumpah membasahi jas putih Adrian. Nona Sarah yang merasa terancam segera berdiri dan merapikan pakaiannya dengan wajah yang tampak sangat kesal dan sangat terhina. Ia menatap Lala dengan pandangan jijik sebelum akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan tersebut dengan langkah kaki yang dihentakkan sangat keras.

"Dokter Adrian, saya akan melaporkan kejadian tidak menyenangkan ini kepada direktur rumah sakit!" ancam Nona Sarah sebelum menghilang di balik pintu.

"Puas kamu sekarang? Kamu baru saja menghancurkan reputasi saya di depan pasien penting!" teriak Adrian dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang sangat hebat.

Lala hanya menundukkan kepalanya dalam dalam sambil meremas ujung seragam abu abu miliknya yang juga ikut terkena tumpahan cairan pembersih. Ia menyadari bahwa tindakannya kali ini benar benar telah melampaui batas dan membahayakan karier Adrian yang sangat dicintai oleh pria itu. Keheningan yang sangat mencekam kemudian menyelimuti ruangan kerja tersebut hingga hanya terdengar suara detak jam dinding yang berdetak berulang ulang.

"Keluar dari ruangan saya sekarang juga, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan saya sampai saya yang memanggil kamu," ucap Adrian dengan suara yang sangat dingin dan datar.

"Tapi Dokter, aku melakukan ini karena aku tidak mau Dokter direbut oleh wanita bermuka dua seperti dia," jawab Lala dengan suara yang terisak isak.

Adrian tidak menjawab dan justru membelakangi Lala sambil melepas jas putihnya yang basah untuk dilemparkan ke dalam keranjang pakaian kotor dengan sangat kasar. Ia merasa sangat lelah dengan segala drama remaja yang terus mengikuti langkah kakinya setiap kali ia mencoba menjadi dokter yang baik. Lala melangkah mundur perlahan lahan dengan air mata yang mulai membasahi pipinya yang kemerahan karena rasa penyesalan yang sangat mendalam.

"Maafkan aku Dokter, aku janji tidak akan menjadi alay yang pencemburu lagi," bisik Lala sebelum akhirnya benar benar menghilang dari ruangan tersebut.

Adrian terduduk lemas di kursi kerjanya sambil menatap kotak makan siang dari Lala yang kini sudah dingin dan tidak menggugah selera lagi. Ia merasa ada sesuatu yang hilang saat suara berisik Lala tidak lagi memenuhi ruangannya, namun egonya masih terlalu tinggi untuk mengejar gadis itu. Pria itu memijat pelipisnya sambil merenungkan apakah ia sudah terlalu keras kepada satu satunya orang yang paling peduli pada kesehatan kulit dan perutnya.

Keesokan harinya, Adrian tetap menjalankan tugasnya seperti biasa namun ia merasa ada yang aneh karena petugas keamanan melaporkan bahwa tidak ada siswi sekolah yang terlihat mengintip di parkiran rumah sakit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!