seorang gadis bernama kayla diculik oleh orang misterius saat sedang bereda di club malam bersama teman temannya. pria misterius itu lalu mengurung kayla di sebuah ruangan yang gelap bagaikan penjara. kayla bertanya tanya siapa pria yang menculiknya.
apa yang akan dilakukan oleh penculik itu kepada kayla yuk baca kelanjutan kisah dari tahanan obsesi.
mencari ide itu sulit gusy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KAKAK ARIS
Harapan itu muncul kembali secara tak terduga saat sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti di depan gerbang. Dari layar monitor di ruang tengah, Kayla melihat seorang pria keluar dari mobil. Wajahnya sangat mirip dengan Aris, namun lebih dewasa, dengan gurat wajah yang lebih keras dan mata yang jauh lebih dingin.
Dia adalah Adrian, kakak laki-laki Aris.
Aris tampak sedikit terkejut namun menyambutnya dengan rasa hormat yang aneh. "Kakak tidak bilang mau datang," ucap Aris sambil membukakan pintu.
"Aku hanya ingin memastikan 'investasi' kita tidak rusak karena obsesi berlebihanmu, Aris," jawab Adrian dengan suara bariton yang lebih berat.
Kayla, yang saat itu sedang dipaksa duduk di sofa ruang tamu, melihat celah. Ia berpikir bahwa Adrian, sebagai orang luar yang baru datang, mungkin masih memiliki sisa kemanusiaan. Ia mengira Adrian tidak tahu seberapa jauh kegilaan Aris telah melangkah.
Upaya Penyelamatan yang Sia-sia
Saat Aris pergi ke dapur untuk mengambilkan botol wine terbaik, Kayla memanfaatkan waktu beberapa detik itu. Ia mendekat ke arah Adrian dengan langkah gemetar, matanya memancarkan keputusasaan yang luar biasa.
"Tolong..." bisik Kayla, nyaris tak terdengar. "Tolong saya, Pak. Adik Anda... dia gila. Dia menyekap saya, menyiksa saya... dia punya video yang mengancam hidup saya. Saya mohon, bawa saya pergi dari sini. Saya akan lakukan apa saja."
Kayla menatap mata Adrian, mencari setitik simpati. Ia berharap pria ini akan terkejut, marah, atau setidaknya menunjukkan rasa kasihan.
Namun, Adrian tidak bergerak. Ia hanya menatap Kayla dari atas ke bawah, seolah sedang menginspeksi barang dagangan yang baru saja dibelinya. Sebuah senyum tipis—yang sama persis dengan senyum Aris—muncul di bibirnya.
"Video itu?" tanya Adrian santai. "Aku yang menyarankan Aris untuk merekamnya sebagai asuransi. Sudut pandang kameranya bagus, bukan?"
Darah Kayla serasa membeku. Dunia seakan berhenti saat itu.
Tepat saat itu, Aris kembali dengan dua gelas kristal. Adrian menoleh ke arah adiknya tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
"Aris," panggil Adrian tenang. "Mainanmu ini baru saja mencoba merayuku untuk membawanya lari. Dia bilang kau gila."
Aris berhenti melangkah. Matanya yang tadi tampak tenang seketika berubah menjadi gelap, penuh dengan kemarahan yang tertahan. Ia meletakkan gelas itu di meja dengan denting yang keras.
"Begitu ya?" Aris berjalan mendekati Kayla, yang kini mundur hingga terpojok ke dinding. "Padahal aku baru saja memberinya kebebasan untuk duduk di ruang tamu, dan ini balasannya?"
Adrian tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa jiwa. "Kau terlalu lembut padanya, Aris. Kau membiarkannya bicara. Jika ini milikku, aku sudah memotong lidahnya agar dia hanya bisa mengeluarkan suara yang ingin kudengar."
Adrian kemudian bangkit dari duduknya, mendekati Kayla, dan mencengkeram rahang gadis itu dengan kasar—jauh lebih kasar dari yang pernah dilakukan Aris. Ia memeriksa wajah Kayla seolah sedang memeriksa kualitas porselen.
"Dia memang mirip Maya," ucap Adrian kepada Aris. "Tapi dia punya api di matanya. Kau harus memadamkan api itu sepenuhnya sebelum dia benar-benar membakarmu."
Aris mengambil sebuah remot kecil dari sakunya. "Terima kasih atas laporannya, Kak. Sepertinya dia butuh pengingat bahwa di rumah ini, tidak ada pahlawan."
Aris menekan sebuah tombol, dan seketika suara alarm melengking memenuhi ruangan, diikuti oleh kilatan lampu merah dari monitor-monitor yang menampilkan cuplikan video ancaman itu secara beruntun.
"Karena kau mencoba meminta bantuan pada orang lain," ucap Aris sambil menarik rambut Kayla agar gadis itu menatap layar. "Maka malam ini, kakakku akan menemaniku menonton 'pertunjukan' pribadimu. Kita lihat seberapa jauh harga dirimu bisa bertahan saat ditonton oleh dua orang sekaligus."
Kayla terjatuh ke lantai, menangis tanpa suara. Harapannya hancur berkeping-keping. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan satu monster, melainkan sebuah keluarga monster. Adrian dan Aris adalah dua sisi dari koin yang sama—kejam, manipulatif, dan tanpa hati nurani.
Situasi Kayla kini dua kali lebih berbahaya dengan adanya Adrian.
Kehadiran Adrian di rumah itu ternyata tidak mendinginkan suasana, melainkan menyulut api kegilaan yang baru dalam diri Aris. Alih-alih merasa terbantu oleh laporan kakaknya, Aris justru merasakan gejolak kecemburuan yang primitif. Melihat tangan Adrian mencengkeram rahang Kayla, melihat mata kakaknya menguliti lekuk tubuh gadis itu, membuat sesuatu di dalam otak Aris pecah.
"Cukup, Kak," ucap Aris dengan suara yang rendah dan bergetar. Ia melangkah maju dan menepis tangan Adrian dari wajah Kayla dengan kasar.
Adrian menaikkan alisnya, tampak terkejut dengan reaksi adiknya. "Kau posesif sekali, Aris. Aku hanya memeriksa kualitas 'koleksimu'."
"Dia bukan koleksi biasa. Dia milikku. Hanya mataku yang boleh menatapnya, dan hanya tanganku yang boleh menyentuhnya," desis Aris. Ia menyambar lengan Kayla dan menyeretnya berdiri, menyembunyikan tubuh gadis itu di belakang punggungnya sendiri, seolah ingin memutus pandangan Adrian.
Aris tidak lagi membiarkan Kayla berada di ruang tamu. Ia menyeret Kayla kembali ke kamar atas dengan langkah yang sangat cepat hingga Kayla beberapa kali tersandung. Begitu sampai di dalam, Aris mengunci pintu dengan tiga lapis keamanan digital.
Sifat posesif Aris meningkat menjadi tahap paranoid. Ia mulai merasa bahwa setiap sudut rumah yang bisa diakses orang lain adalah ancaman. Malam itu, Aris tidak tidur. Ia duduk di kursi di samping tempat tidur, memandangi Kayla yang meringkuk ketakutan dengan tatapan yang sangat intens—tatapan seorang pemilik yang takut barang berharganya dicuri.
"Kenapa kau bicara padanya, Kayla?" bisik Aris di kegelapan malam. "Apa kau pikir dia lebih baik dariku? Apa kau pikir dia akan membelaimu lebih lembut?"
Kayla hanya diam, tubuhnya bergetar hebat.
"Kau tidak boleh dilihat oleh siapapun lagi," lanjut Aris. "Mulai besok, jendela-jendela di ruangan ini akan ditutup permanen dengan plat baja. Kau tidak butuh melihat dunia luar, karena duniamu adalah aku. Kau tidak butuh cahaya matahari, karena kau hanya perlu bersinar di bawah mataku."
Besok harinya, Aris benar-benar menjalankan ancamannya. Ia memasang sensor gerak tambahan di seluruh kamar. Bahkan saat Kayla berada di kamar mandi, Aris akan berdiri di depan pintu, menuntut Kayla untuk terus berbicara agar ia tahu gadis itu masih ada di sana.
Ketika Adrian mencoba mengetuk pintu kamar untuk mengajak Aris bicara soal bisnis, Aris berteriak dari dalam tanpa membukakan pintu. "Pergi! Jangan mendekat ke kamar ini! Dia sedang istirahat!"
Adrian di luar hanya terkekeh, menyadari bahwa adiknya sudah benar-benar kehilangan akal sehatnya. "Kau akan menghancurkannya jika kau mendekapnya terlalu erat, Aris," teriak Adrian dari balik pintu.
Namun Aris tidak peduli. Ia justru mendekap Kayla lebih erat hingga Kayla sulit bernapas. Ia mulai mengganti semua pakaian Kayla dengan gaun-gaun yang lebih tertutup, seolah ia tidak ingin satu inci pun kulit Kayla terekspos, bahkan pada bayangannya sendiri di cermin.
"Hanya aku, Kayla... katakan padaku, hanya aku yang memilikimu," paksa Aris, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kayla.
Kayla, yang sudah tidak memiliki harapan lagi, hanya bisa berbisik dengan suara kosong, "Hanya kau, Aris. Hanya kau."
Jawaban itu membuat Aris tersenyum puas, namun matanya terus melirik ke arah monitor pengawas lorong, memastikan kakaknya atau siapapun tidak sedang mencoba mengintip ke dalam surga kecil yang ia ciptakan dengan paksa ini. Ketakutan Aris akan kehilangan kontrol membuat hidup Kayla menjadi semakin mencekam; ia kini tidak hanya dipenjara oleh dinding dan rantai, tapi juga oleh obsesi gila seorang pria yang menganggap cinta adalah penyekapan mutlak.
Sifat posesif Aris mulai menciptakan ketegangan antara dia dan Adrian.