NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Abi kembali menyendokkan bubur hangat itu ke mulut Liana dengan penuh kesabaran.

Setiap suapan kini terasa sedikit lebih ringan daripada sebelumnya.

Meski tembok di hati Liana masih berdiri kokoh, setidaknya suasana mencekam yang menyelimuti mereka sejak kemarin mulai menipis.

Setelah mangkuk itu benar-benar kosong, Liana menyandarkan punggungnya di bantal yang ditumpuk tinggi.

Ia menatap wajah Abi dengan mata yang masih sedikit sayu.

"Mana es krimnya?" tagih Liana dengan suara yang masih parau.

Abi yang sedang merapikan nampan, seketika menghentikan gerakannya.

Ia menoleh ke arah Liana dengan satu alis terangkat, lalu sebuah seringai jahil muncul di bibirnya.

"Lho? Tadi katanya bukan anak kecil? Tadi katanya nggak lapar?" ledek Abi sengaja memancing reaksi istrinya.

Liana langsung merengut, ia membuang muka sambil melipat tangan di depan dada, mengabaikan rasa perih di tangannya yang terpasang infus.

"Paman ih! Ya sudah kalau tidak mau belikan. Aku bisa beli sendiri!"

Abi tertawa lepas, tawa renyah yang terasa begitu tulus.

Ia sudah sangat merindukan sisi manja Liana yang satu ini.

Ia mendekat dan mengacak rambut Liana yang masih sedikit lembap dengan gemas.

"Iya, iya, Mas bercanda, Li. Mas tidak akan membiarkan 'anak kecil' kesayangan Mas ini merajuk seharian," ucap Abi lembut.

Abi kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu.

Ia memanggil Niluh yang sedang bersiap di ruang tengah.

"Niluh, tolong carikan es krim cokelat premium yang paling enak di daerah sini sekarang juga. Pastikan yang teksturnya paling lembut dan cokelatnya terasa pekat. Oh, jangan lupa tambah sedikit taburan kacang atau almond seperti yang biasa disukai anak kecil," perintah Abi sambil melirik jahil ke arah Liana.

Niluh tersenyum mengerti melihat perubahan suasana di antara majikannya.

"Baik, Tuan. Segera saya carikan."

Setelah pintu kembali tertutup, Abi kembali duduk di kursi samping ranjang.

Ia menatap Liana yang masih berusaha memasang wajah kesal, meski binar di matanya tidak bisa berbohong.

"Sambil menunggu es krimnya datang, kamu istirahat lagi ya. Supaya nanti siang dokter bisa lepas infusmu, dan kita bisa mencoba salah satu baju baru itu untuk jalan-jalan sore," bisik Abi sambil mengusap pipi Liana yang lebamnya mulai sedikit memudar.

Liana hanya bergumam tidak jelas, namun ia tidak menolak saat Abi menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lebih rapat.

Untuk sesaat, Liana membiarkan dirinya terbuai dalam perhatian pria itu, mencoba melupakan bahwa di balik kemanisan ini, masih ada badai yang menantinya di rumah mereka di Jakarta.

"Oh, Paman hampir lupa," ujar Abi tiba-tiba.

Ia menepuk dahinya pelan, menyadari ada satu hal yang jauh lebih penting daripada sekadar urusan makanan atau es krim.

Liana yang baru saja hendak memejamkan mata, tersentak pelan saat merasakan tangan Abi bergerak di ujung tempat tidur.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Abi membuka kembali selimut tebal yang menutupi kaki Liana.

Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh kulit kaki Liana, membuatnya sedikit kaget .

Abi melihat pemandangan yang membuat hatinya kembali mencelos dua garis merah yang membengkak di betis Liana, yang kini tampak sedikit basah karena infeksi setelah terkena air kolam semalam.

"Maaf ya, Li. Ini harus diobati supaya tidak semakin parah," bisik Abi dengan suaranya terdengar serak penuh dengan beban rasa bersalah yang kembali muncul setiap kali ia melihat luka itu.

Abi mengambil salep antibiotik yang diresepkan dokter Wayan tadi.

Ia menuangkan sedikit salep bening itu ke ujung jarinya.

Dengan napas tertahan, ia mulai mengoleskannya ke luka Liana.

"Ssshhh..." Liana meringis, jemari kakinya menekuk menahan perih yang menyengat saat salep itu menyentuh bagian luka yang terbuka.

"Sabar, Sayang. Tahan sebentar ya," gumam Abi.

Ia mulai meniup luka itu dengan lembut setelah mengoleskan salep, mencoba mengurangi rasa panas yang dirasakan Liana.

Liana menunduk, menatap puncak kepala Abi yang sedang berlutut di bawah kakinya.

Pria yang biasanya begitu angkuh dan ditakuti di dunia bisnis, kini bersimpuh di depannya, mengobati luka yang ia ciptakan sendiri dengan penuh ketelatenan.

"Kenapa Paman tidak menyuruh Niluh saja yang melakukannya?" tanya Liana lirih.

Abi mendongak sejenak, menatap mata Liana dengan tatapan yang sarat akan penyesalan.

"Karena tangan ini yang membuat luka ini, Li. Maka tangan ini juga yang harus bertanggung jawab mengobatinya sampai sembuh. Mas tidak akan membiarkan orang lain menyentuh lukamu."

Liana terdiam, ia merasakan setetes air mata Abi jatuh mengenai punggung kakinya.

Pria itu kembali menunduk, melanjutkan tugasnya dengan tangan yang bergerak sangat lembut seolah-olah ia sedang memegang sesuatu yang paling berharga dan rapuh di dunia ini.

Setelah selesai, Abi kembali menyelimuti kaki Liana dengan sangat rapi.

Ia mencium kening Liana lama sekali, seolah-olah ciuman itu adalah mantra yang bisa menghapus semua kenangan buruk di antara mereka.

Baru saja Liana hendak memejamkan matanya untuk mencari sedikit ketenangan, pintu kamar diketuk pelan.

Niluh masuk dengan senyum ramah, membawa sebuah cup es krim cokelat premium yang tampak sangat menggoda dengan uap dingin yang masih mengepul di atasnya.

"Ini es krimnya, Tuan, Nyonya," ucap Niluh sambil meletakkan es krim tersebut di atas meja nakas.

Melihat cokelat pekat yang meleleh di bagian pinggirnya, Liana tidak bisa lagi berbohong pada perutnya.

Ia segera duduk tegak di atas tempat tidur. Abi dengan sigap membantu menyuapkan sendok pertama, namun Liana segera merebut sendok itu.

Ia makan dengan lahap, seolah rasa manis dingin itu adalah obat paling mujarab untuk jiwanya yang lelah.

Karena terlalu bersemangat, Liana tidak sadar ada noda cokelat yang tertinggal di sudut bibirnya, bahkan sedikit mengenai pipinya yang masih memar.

Ia makan dengan wajah belepotan, persis seperti anak kecil yang sedang merayakan kemenangan setelah menangis.

Abi yang melihat pemandangan itu tidak bisa menahan senyumnya.

Ia mengambil selembar tisu dan mendekatkan wajahnya ke arah Liana.

"Pelan-pelan, Li. Tidak ada yang akan merebut es krimmu," bisik Abi lembut sambil dengan telaten menyeka noda cokelat di bibir istrinya.

Liana terdiam saat merasakan sentuhan tisu dan tatapan hangat Abi yang begitu dekat.

Keheningan itu terasa berbeda, tidak lagi mencekam, melainkan sedikit canggung yang manis.

Abi menjauhkan tangannya, namun ia tetap menatap mata Liana dengan lekat.

"Li, Mas mau tanya satu hal."

Liana mendongak sambil masih memegang sendok es krimnya.

"Apa?"

"Jadi, sekarang kamu mau panggil suamimu ini apa?" tanya Abi dengan nada menggoda. "Mas? Paman? Atau... Mas Paman?"

Liana sempat tertegun karena panggilan "Paman" memang terasa sangat melekat karena sejak kecil ia memandang Abi sebagai pelindung dari generasi di atasnya. Namun, kini status mereka sudah berubah, dan kejadian semalam telah meruntuhkan banyak dinding di antara mereka.

Liana menunduk, memainkan sisa es krim di dalam cup-nya.

Setelah diam beberapa saat, ia menjawab dengan suara yang sangat rendah namun terdengar tegas.

"Mas Abi saja," ucap Liana pelan.

Jantung Abi seakan meloncat kegirangan mendengarnya.

Panggilan itu terasa jauh lebih intim, sebuah pengakuan kecil bahwa Liana mulai mencoba menerima keberadaannya bukan lagi sebagai Paman melainkan sebagai seorang suami.

"Boleh diulang? Mas kurang dengar," goda Abi, mencoba mencairkan suasana lagi.

"Mas Abi!" seru Liana dengan wajah yang sedikit memerah, antara kesal dan malu.

"Boleh diulang lagi, sayang?"

"Jangan buat aku berubah pikiran dan memanggilmu 'Kakek'!" jawab Liana sambil mengerucutkan bibirnya.

Abi tertawa lepas, tawa yang memenuhi ruangan itu.

Ia merasa seolah satu beban berat baru saja terangkat dari bahunya.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!