Yura bukanlah wanita lemah. Di dunia asalnya, dia adalah agen rahasia berdarah dingin dengan tatapan setajam elang yang mampu mengendus pengkhianatan dari jarak terjauh. Namun, sebuah insiden melempar jiwanya ke raga Calista, seorang ibu susu rendahan di Kerajaan Florist.
Grand Duke Jayden, sang pelindung kerajaan, yang membenci wanita. Trauma menyaksikan ayah dan kakaknya dikhianati hingga tewas oleh wanita yang mereka percayai, membuat hati Jayden membeku. Baginya, Calista hanyalah "alat" yang bisa dibuang kapan saja, namun dia terpaksa menjaganya demi kelangsungan takhta keponakannya.
______________________________________________
"Kau hanyalah ibu susu bagi keponakanku! Jangan berani kau menyakitinya, atau nyawamu akan berakhir di tanganku!" ancam Jayden dengan tatapan sedingin es.
"Bodoh. Kau sibuk mengancam ku karena takut aku menyakiti bayi ini, tapi kau membiarkan pengkhianat yang sebenarnya berkeliaran bebas di depan matamu," jawab Calista dengan jiwa Yura, menyeringai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KETERGANTUNGAN
"Jayden, di tempat asalku, ada pepatah, yaitu jika kau ingin kedamaian, bersiaplah untuk perang. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan agar Lorenzo bisa tidur nyenyak malam ini," ucap Calista pelan.
Jayden menoleh, menatap wajah Calista dari samping, yang terkena cahaya bulan.
"Dan bagaimana denganmu? Apa kau bisa tidur nyenyak setelah semua ini?" tanya Jayden, kembali menatap lurus ke depan.
Calista terdiam sejenak, dia teringat kehidupan lamanya sebagai Yura, di mana tidur nyenyak adalah kemewahan yang jarang dia miliki karena selalu waspada akan musuh, tapi di sini, di dunia ini, meski penuh intrik, dia merasa punya sesuatu yang berharga untuk dilindungi.
"Selama aku punya kunci gudang senjatamu di bawah bantal, aku akan tidur seperti bayi," canda Calista, mencoba mencairkan suasana.
"Dasar wanita gila senjata. Ayo, ini sudah larut, kamu butuh istirahat untuk pertunjukan besok di alun-alun," ucap Jayden tertawa kecil.
Saat mereka berjalan keluar dari aula, Owen mendekat dengan ragu.
"Mohon maaf, Yang Mulia, Nona Calista," ucap Owen.
"Ada apa lagi, Owen?" tanya Jayden, melihat ke arah Owen.
"Ini soal kamar Nona Calista, pelayan sudah menyiapkan kamar terbaik di sayap kanan istana, tapi Pengeran Lorenzo tidak mau berhenti menangis sejak Nona pergi ke perjamuan, sepertinya dia merindukan Anda," lapor Owen dengan wajah agak pasrah.
Owen tadi sudah berusaha membuat Pangeran kecil nya itu diam, tapi tidak berhasil, walaupun sudah berjam-jam dia gendong, tapi bayi kecil itu terus menangis.
"Bayi kecil itu benar-benar tahu cara memanggil kakaknya, ya?" ucap Calista langsung mendengus geli.
"Sepertinya kamu tidak akan tidur di kamar mewah mu malam ini, Lorenzo sudah menangkap mu lebih dulu," ucap Jayden melirik Calista.
"Yah, setidaknya dia bos yang jauh lebih baik daripada menteri-menteri tadi," jawab Calista riang.
"Ayo, Jay, kita lihat pangeran kecilmu yang rewel itu," lanjut Calista, berlalu pergi dari sana.
Mereka bertiga berjalan menuju kamar Lorenzo.
Di sepanjang lorong, para prajurit yang berjaga menunduk sopan, kali ini, hormat mereka bukan hanya untuk sang Grand Duke, tapi juga untuk Ibu Susu pengeran, yang berjalan di sampingnya, sang predator yang baru saja membersihkan tahta mereka.
Langkah kaki mereka bergema di lorong batu marmer yang dingin, namun suasana di antara ketiganya terasa jauh lebih hangat dibandingkan atmosfer mencekam di aula tadi.
Owen berjalan sedikit di depan, memandu mereka menuju kamar utama Pangeran Mahkota yang dijaga ketat oleh unit elit Pasukan Bayangan.
Oek
Oek
Oek
Suara tangisan melengking Lorenzo mulai terdengar bahkan sebelum mereka mencapai pintu kamar.
Tangisan itu bukan suara kesakitan, melainkan suara protes seorang bayi yang merasa diabaikan.
"Dengar itu, dia memiliki paru-paru yang kuat," gumam Jayden, dahi nya sedikit berkerut.
"Benar-benar darah Florist," lanjut Jayden, menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu suara bayi yang minta perhatian, Jay, bukan sedang memimpin pasukan," sahut Calista sambil mempercepat langkahnya.
Ceklekk.
Begitu pintu terbuka, terlihat tiga orang pelayan dan dua pengasuh yang sedang panik di samping ranjang bayi yang megah.
"S-salam Yang Mulia, Grand Duke."
Mereka langsung membungkuk dalam saat melihat Jayden, namun Calista melesat melewati mereka seolah identitas pelayan desa yang tadi dihina Count Miller memang benar-benar sudah menguap.
Calista langsung mengangkat Lorenzo dari tempat tidurnya.
"Sshhh... kau ini kenapa, Pangeran Kecil? Aku hanya pergi sebentar untuk membereskan beberapa tikus got," bisik Calista lembut.
Ajaibnya, begitu Lorenzo merasakan dekapan Calista dan mencium aroma yang dikenalnya, tangisannya mereda menjadi isakan-isakan kecil.
Bayi itu menyandarkan kepala kecilnya di bahu Calista, jemari mungilnya mencengkeram kain gaun hitam sutra yang mahal itu hingga kusut.
Sementara Jayden masih berdiri di ambang pintu, bersedekap, memerhatikan pemandangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kelembutan yang jarang terlihat di matanya.
"Dia benar-benar hanya mau denganmu," ujar Jayden pelan.
"Bahkan setelah kamu mengenakan gaun mewah dan membawa bau darah dari aula, dia tetap tahu itu kau," lanjut Jayden, tidak bisa menutupi rasa kagumnya.
"Bayi tidak peduli pada jabatan atau pakaian, Jay, mereka hanya tahu siapa yang tulus menjaga mereka, dan kamu seharusnya belajar itu dari keponakanmu," jawab Calista menoleh, memberikan senyum tipis yang tulus, senyum yang sangat berbeda dengan senyum predatornya di meja makan tadi.
"Mungkin aku memang harus belajar banyak hal darimu, Calista, bukan hanya soal politik dan pedang," ucap Jayden berjalan mendekat, berdiri cukup dekat hingga dia bisa melihat wajah tenang Lorenzo.
Owen yang merasa suasana menjadi sedikit terlalu pribadi, berdehem kecil untuk memecah keheningan.
"Ehem!"
"Yang Mulia, saya akan memerintahkan pelayan untuk membawa susu hangat dan perlengkapan Nona Calista ke sini, sepertinya Nona akan menetap di kamar Pengeran malam ini," ucap Owen, melihat Calista dan Jayden.
"Ya, lakukan itu, Owen," jawab Jayden tanpa mengalihkan pandangan dari Calista.
"Dan pastikan penjagaan di luar kamar ini di perketat, aku tidak mau ada satu helai rambut pun yang terluka malam ini," lanjut Jayden, menatap Calista, dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
"Dimengerti Yang Mulia," jawab Owen, mengangguk kan kepala nya.
"Kau tidak perlu khawatir, Jayden, kamu pergilah istirahat, kamu punya banyak surat perintah eksekusi yang harus ditandatangani untuk besok pagi, kan?" ucap Calista duduk di kursi goyang di sudut kamar, perlahan menimang Lorenzo yang mulai tenang.
Hah...
Jayden menghela napas, menyadari beban tugas yang sudah menantinya di ruang kerja.
Namun, dia tidak langsung pergi, dia membungkuk sedikit, menatap Lorenzo, lalu beralih ke mata Calista.
"Terima kasih untuk hari ini," ucap Jayden dengan suara rendah dan berat.
"Tanpamu, perjamuan tadi mungkin akan berakhir dengan pertumpahan darah yang tidak terkendali, kamu membuatnya menjadi sebuah pesan yang jelas bagi seluruh kerajaan," lanjut Jayden, menatap dalam mata Calista.
"Aku hanya membantu mempercepat proses pembersihan, Duke," jawab Calista santai.
"Sekarang pergilah, kamu menghalangi sirkulasi udara di sini," lanjut Calista, sedikit menarik garis senyum tipis nya.
Jayden terkekeh singkat, suara yang jarang terdengar di istana yang kaku itu, dia berbalik dan melangkah menuju pintu, namun sebelum keluar, dia berhenti sejenak.
"Selamat malam, Calista. Tidurlah yang nyenyak, selama kunci gudang senjataku masih aman di bawah bantalmu," ucap Jayden, sebelum keluar dari kamar Lorenzo.
Calista menatap wajah polos Lorenzo yang sudah tertidur pulas, lalu jemarinya meraba belati emas yang masih tersembunyi di balik lipatan gaunnya.
"Besok akan menjadi hari yang panjang, Lorenzo," bisik Calista pada bayi itu.
"Tapi jangan takut, aku akan memastikan bahwa saat kau terbangun nanti, dunia ini sudah sedikit lebih aman untukmu," lanjut Calista, mencium pucuk kepala Lorenzo.
Mengenai respon dan tanggapan lawan bicaramu itu adalah hal yang tidak dapat kamu kontrol.
Dengan kunci utama adalah jujur, percaya diri, memilih waktu dan tempat tepat, serta menggunakan cara yang halus tapi jelas.
Cara mengungkapkan perasaan setiap orang berbeda-beda, ada yang mengungkapkan secara langsung, ada juga yang mengungkapkan melalui surat atau chat agar tidak bertatap muka langsung.
Memang menyatakan perasaan termasuk hal yang berat dilakukan, karena kita tidak pernah tau apa respon atau tanggapan dari orang yang kita tuju...😘💚🥰💜😍💗
Peringatan keras adalah teguran serius dan tegas yang diberikan kepada seseorang atau pihak yang melakukan pelanggaran, menunjukkan kesalahan fatal dan menjadi sanksi etika atau disiplin yang berat sebelum sanksi lebih fatal untuk efek jera.
Ini adalah tingkatan tertinggi dalam sanksi peringatan, mengindikasikan bahwa tindakan selanjutnya bisa lebih berat, seperti hukuman mati.