Bagaimana jika orang yang kamu anggap biasa dan tidak penting dalam hidup mu ternyata adalah belahan jiwamu yang selama ini kamu cari.
Murat terpaksa menikahi Hanna, sahabat dari mendiang istriny zahra. Bagi Hanna ini adalah pernikahan impian karena Murat adalah cinta pertamanya, sedangkan bagi Murat pernikahan ini merupakan amanah yang harus dijalankan demi putranya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya... stay tune yah aku harap kalian suka dengan karyaku ini 🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fei yuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. CEMBURU
"Ada Apa?" Suara bariton Murat mengagetkan wanita itu.
"Tidak ada, hanya saja sejak tadi ponsel kakak berdering, aku hanya takut suaranya mengganggu putri kita". Hanna gugup karena tahu Murat tidak suka jika dirinya menyentuh ponselnya sembarangan.
Murat juga penasaran karena sejak tadi suara dering ponselnya tak berhenti, dia pun mengambil ponselnya untuk melihat nama si penelepon,
" Oooh.." tanpa berkeinginan mengangkatnya pria itu malah mengaktifkan mode pesawat.
Dia lalu menaruh kembali ponselnya dan langsung merebahkan tubuhnya. Tubuhnya terasa lelah sekali karena tadi harus berputar jauh hanya untuk mengantarkan Irine.
Hanna bingung kenapa Murat tidak mengangkat panggilan telepon itu. Dia tampak melamun. " Apa yang kau lakukan disitu?" Murat heran melihat istrinya yang hanya berdiri diam dan memperhatikannya.
Wanita itu menggeleng, dia lalu membaringkan tubuhnya disebelah suaminya. Pikiran Hanna masih melayang dengan nama wanita itu. Dirinya pernah mendengar nama itu tapi dimana.
Hanna mencoba menggali ingatannya tetapi tidak ada satu hal pun yang muncul tentang nama itu didalam ingatannya. Akhirnya karena tidak menemukan jawaban, Hanna pun berusaha memejamkan matanya, dia takut bangun kesiangan seperti sebelumnya.
...****************...
Pagi ini Murat sudah rapi dengan setelan kerjanya, dia sedang menunggu sarapan yang dibuatkan oleh istrinya. Disampingnya sudah ada Keanu yang terlihat tampan pagi ini.
" Papah kemalin abang cabut lumput banyak". Keanu sangat senang menceritakan kegiatan sekolahnya. Dia ingin membanggakan apa yang dipelajarinya disekolah pada Ayahnya.
Mencabut rumput adalah salah satu metode yang dilakukan oleh sekolah Keanu, tujuannya untuk mengembangkan keterampilan motorik anak.
" Anak Papah hebat" Murat mengacungkan jempolnya. " Kamu suka sekolah disitu, nak?" Dia sangat senang Keanu masuk Pra-scholl, terlihat bagaimana anaknya bertambah pintar terutama saat bocah itu menceritakan kegiatannya di sekolah.
"Ehmm..." Anak itu mengangguk mantap. " Tapi abang juga mau diantel sekolah sama papah". Wajah Keanu tampak sedih. Pasalnya teman temannya banyak yang diantar oleh ayahnya.
"Maaf yah sayang, sekarang Papah belum bisa antar abang sekolah, tapi nanti papah janji akan mengambil cuti kerja, biar bisa antar dan jemput jagoan papah kesekolah" Murat mengacak acak rambut putranya.
" Hole...hole...benel yah Pah." Murat mengangguk untuk meyakinkan anaknya. Pria itu akui, dirinya memang terlalu sibuk, ditambah lagi waktu jam kerjanya tidak memungkinkan untuk dirinya mengantar putranya ke sekolah.
Ayah dan anak itu berbincang sambil menyantap sarapan mereka. Murat tidak mau melewatkan momen bersama putranya pagi ini.
Oleh karena itu. dia menyempatkan diri untuk berbincang dengan putranya. Karena terkadang saat pulang dari kantor pun anaknya sudah terlelap.
Murat melihat jam tangannya, dirinya pun bersiap untuk berangkat ke kantor. " Okey jagoan papah, Papah berangkat dulu yah, Papah usahakan pulang cepat hari ini, okey".
" Okey Papah". Bocah itu mengacungkan kedua jempolnya.
Tring...tring...
suara ponsel Murat berdering, Murat yang sudah siap berangkat terpaksa berhenti sejenak, dia melihat layar ponselnya.
" Huft....ada apalagi sih". Meskipun sedikit kesal pria itu tetap mengangkat ponselnya. " Iya Irene, ada apa?". Suara Murat terdengar lembut.
Hanna yang sedang menyiapkan bekal untuk Murat, menghentikan kegiatannya sejenak. Hatinya merasa tercubit, tak pernah sekali pun suaminya berbicara lembut padanya.
Seingatnya dulu Murat selalu berbicara lembut hanya pada Zahra. Tetapi sekarang dia dengan wanita yang bernama Irine itu bisa berbicara sangat lembut.
Ada perasaan cemburu yang dirasakan olehnya. Tetapi Hanna mencoba berpikir positive, mungkin itu hanya rekan kerja suaminya, jadi tidak mungkin bagi suaminya untuk berbicara ketus seperti pada dirinya.
" Kakak bisa kah menjemputku, mobilku tiba tiba mogok, sekarang aku terjebak dijalan Anggrek kak". Irine bersuara manja disebrang sana.
" Maaf Irene aku tidak bisa, saat ini aku pun sudah terlambat kekantor". Hanna menguping pembicaraan Murat dengan wanita disebrang sana, meskipun hanya suara suaminya yang terdengar.
" Yah, kak aku mohon. Aku sendirian, sekarang aku sedang tidak bersama supir". Suara Irene memelas.
Murat malas sekali jika harus menyusul wanita itu. " Maaf tidak bisa Irine, kamu pesan saja taksi online atau apa mau aku pesankan dari sini?" Murat mencoba bernego agar waktunya tidak terbuang percuma.
" Baiklah, nanti aku berikan nomer bengkel langgananku, ...okey hati hati yah". Suara Murat benar benar lembut membuat telinga Hanna panas mendengarnya.
Setelah obrolan dengan anak bosnya yang cukup menyita waktu. Murat teringat akan bekalnya yang belum dia bawa. " Hanna, Dimana bekal...." Hanna datang tiba tiba.
" Inih.." Dia memberikan bekal pada suaminya dengan kasar, wajahnya pun cemberut seperti menahan kesal.
Lalu dia pun berlalu kedalam rumah, tidak seperti biasanya yang selalu menunggu mobil suaminya berangkat, kali ini wanita itu tampak acuh. Entah keberanian dari mana dia bisa bersikap seperti itu.
" Ada apa dengannya, aneh sekali?" Murat heran dengan kelakuan istrinya kali ini. Tetapi anehnya pria tampan itu tidak marah sama sekali. Dia pun mengabaikan sikap istrinya. Lalu dirinya segera berangkat kekantor.