Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya
Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Di dalam ruang rapat yang pengap oleh ketegangan, suasana semakin tidak terkendali. Ibu Rendi berdiri sambil menunjuk-nunjuk Raisa dengan tas bermereknya, wajahnya yang penuh riasan tampak bengis.
"Kamu itu cuma guru biasa di sini, jangan sok suci! Saya tahu gaji kamu sebulan tidak seberapa dibandingkan uang jajan Rendi. Kamu cuma mau cari panggung kan dengan menjatuhkan anak saya?" maki Ibu Rendi tanpa saringan.
Pak Baskoro menimpali dengan suara yang merendahkan, "Sudah berapa banyak uang yang dijanjikan keluarga Vina sampai kamu berani memfitnah anak saya begini? Sebutkan angkanya, saya bisa bayar sepuluh kali lipat supaya kamu diam dan urusan ini selesai!"
Mendengar hinaan yang begitu rendah terhadap integritas rekan kerjanya, Pak Fajar, seorang guru olahraga yang biasanya santai kinj berdiri dengan wajah merah padam. Ia menggebrak meja sekali, membuat Ibu Rendi tersentak.
"Cukup, Pak, Bu! Jaga bicara Anda!" seru Pak Fajar lantang. "Bu Raisa adalah guru yang paling peduli pada masa depan murid-murid di sini. Tidak ada satu rupiah pun yang bisa membeli kebenaran yang terjadi pada Vina. Anda seharusnya malu, datang ke sini bukan untuk meminta maaf atau mencari solusi, tapi malah menghina orang yang mencoba meluruskan moral anak Anda!"
Pak Surya, sang Kepala Sekolah, yang sedari tadi mencoba bersikap diplomatis, kini juga kehilangan kesabarannya. Ia melepas kacamata dan menatap Pak Baskoro dengan sorot mata yang dingin.
"Pak Baskoro, selama ini sekolah sangat menghargai donasi dan pengaruh keluarga Anda. Tapi perlu Anda garis bawahi, sekolah ini bukan tempat untuk menormalisasi kejahatan," ujar Pak Surya dengan nada rendah namun mematikan. "Saya berdiri sepenuhnya di belakang Bu Raisa. Apa yang beliau sampaikan bukan tuduhan kosong, melainkan berdasarkan laporan awal yang sangat valid."
"Owh, jadi kalian semua bersekongkol?" Ibu Rendi tertawa sinis, matanya melotot. "Dasar guru-guru tidak tahu diuntung! Kalian tahu siapa kami? Saya bisa pastikan besok kalian semua kehilangan pekerjaan kalau tetap melanjutkan drama ini!"
Raisa, meski hatinya teriris mendengar hinaan itu, tetap duduk tegak. Ia tidak membalas makian dengan makian. Ia hanya menatap kedua orang tua itu dengan rasa iba yang mendalam.
"Pak, Bu," suara Raisa terdengar tenang namun berwibawa, memotong segala hiruk-pikuk. "Silakan hina saya sesuka hati Anda. Tapi ingat satu hal kebenaran tidak akan berubah hanya karena Anda merasa lebih tinggi dari orang lain. Saat ini, yang kita bicarakan adalah seorang anak perempuan yang dunianya hancur. Jika Anda tetap memilih buta demi ego, maka hukum yang akan membuka mata Anda dengan cara yang jauh lebih menyakitkan."
Hinaan yang dilontarkan Ibu Rendi semakin menjadi-jadi dan mulai menyerang ranah pribadi. Ia berdiri dengan raut wajah meremehkan, menatap Raisa dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sangat menghina.
"Saya sudah curiga dari awal," ucap Ibu Rendi dengan nada sinis yang tajam. "Guru macam apa yang bisa membuat Ketua yayasan dan guru olahraga sampai pasang badan begini kalau bukan karena ada 'main belakang'? Kamu pakai cara apa, hah? Merayu Pak Surya dan Pak Fajar supaya mereka mau membela kebohongan kamu ini?"
Pak Baskoro tertawa pendek, mendukung istrinya. "Pantas saja kalian begitu semangat menyudutkan anak saya. Ternyata di balik seragam guru ini, ada drama picisan. Berapa harga harga diri kalian sampai mau disetir oleh perempuan ini?"
Ruangan itu seketika menjadi sangat dingin. Pak Fajar mengepalkan tangannya hingga bergetar, sementara Pak Surya tampak sangat terpukul karena integritas profesinya diinjak-injak dengan tuduhan yang sangat rendah dan tidak berdasar.
Namun, Raisa justru menunjukkan kekuatan mental yang luar biasa. Ia berdiri perlahan, matanya menatap tenang tepat ke arah Ibu Rendi. Tidak ada air mata, tidak ada teriakan balasan.
"Pak Baskoro, Ibu," suara Raisa terdengar sangat jernih di tengah ketegangan itu.
"Tuduhan yang Anda lontarkan barusan adalah cerminan dari cara Anda memandang dunia. Ketika Anda tidak lagi memiliki argumen untuk membela kesalahan putra Anda, Anda mulai menyerang martabat orang lain dengan fitnah yang menjijikkan."
Raisa melangkah satu tapak lebih dekat ke arah meja. "Silakan hancurkan reputasi saya jika itu bisa membuat Anda merasa lebih terhormat. Tapi perlu Anda tahu, di sini kita sedang bicara tentang Vina, seorang siswi yang haknya telah dirampas. Dan tidak ada satu pun fitnah Anda yang bisa menghapus fakta bahwa Rendi harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum."
"Berani kamu—!" Ibu Rendi hendak memaki lagi, namun kalimatnya terputus.
Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Dokter Sari masuk dengan jubah putihnya, wajahnya tampak sangat lelah namun matanya memancarkan ketegasan yang mutlak. Ia tidak mengucapkan salam, melainkan langsung meletakkan sebuah map merah tebal di tengah meja, tepat di depan Pak Baskoro.
"Saya Dokter Sari, yang menangani Vina secara langsung," ucapnya dengan nada dingin yang langsung membungkam ruangan. "Sebelum Anda melanjutkan fitnah terhadap Bu Raisa, saya sarankan Anda baca hasil pemeriksaan fisik dan psikis ini. Di dalamnya ada bukti forensik yang tidak bisa Anda beli dengan uang, dan tidak bisa Anda bantah dengan kekuasaan."
Pak Baskoro terdiam sejenak melihat map merah di atas meja, namun kesombongannya jauh lebih besar daripada rasa takutnya. Alih-alih merasa bersalah, ia justru merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah buku cek. Dengan gerakan yang sangat meremehkan, ia menuliskan angka yang fantastis, lalu menyobeknya dan meletakkannya di atas laporan medis tersebut.
"Saya tahu kalian semua hanya butuh kompensasi," ucap Pak Baskoro dengan suara yang kini merendah namun tetap angkuh. "Ini cek dengan nilai yang jauh lebih besar dari gaji kalian selama setahun dikalikan sepuluh. Ambil ini, tutup mulut kalian, dan pastikan laporan ini tidak pernah sampai ke tangan kepolisian. Anggap saja kejadian semalam tidak pernah ada."
Ibu Rendi ikut menimpali sambil menyandarkan punggungnya, kembali merasa di atas angin. "Nah, itu tawaran yang adil. Kalian bisa beli mobil baru, rumah baru, dan siswi itu... siapa namanya? Vina? Keluarganya bisa pindah ke luar kota dan memulai hidup baru dengan uang itu. Semua senang, kan?"
Suasana ruangan menjadi sangat hening. Pak Surya dan Pak Fajar terpaku melihat angka yang tertera di sana. Namun, sebelum ada yang sempat menyentuh cek tersebut, Raisa melangkah maju. Tanpa ragu, ia mengambil lembaran kertas itu dan merobeknya menjadi dua, lalu empat, hingga menjadi serpihan kecil di hadapan orang tua Rendi.
"Anda pikir harga diri Vina dan integritas kami bisa dibeli dengan kertas ini?" suara Raisa bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang sudah di puncak.
"Setiap rupiah yang Anda tawarkan adalah penghinaan bagi setiap luka yang dialami Vina. Anda mencoba menukar masa depan seorang anak dengan uang? Itu menjijikkan!"
"Berani kamu merobek cek itu?!" teriak Pak Baskoro, wajahnya merah padam.
"Saya bukan hanya berani merobek cek Anda, Pak," balas Raisa dengan tatapan yang sangat tajam. "Saya juga berani memastikan bahwa uang Anda tidak akan bisa membeli hukum. Jika Anda punya uang sebanyak ini, simpanlah untuk membayar pengacara terbaik, karena mulai detik ini, sekolah secara resmi menyerahkan kasus ini sepenuhnya kepada pihak kepolisian."
Dokter Sari mengangguk mendukung. "Bu Raisa benar. Hasil visum ini sudah terintegrasi dengan sistem pelaporan rumah sakit. Tidak ada jumlah uang di dunia ini yang bisa menghapus data digital dan kesaksian kami."
Pak Surya yang tadinya ragu, kini ikut berdiri tegak di samping Raisa. "Silakan keluar dari ruangan ini, Pak Baskoro. Kami tidak menerima suap dalam bentuk apa pun. Keadilan untuk Vina tidak dijual."
Di luar ruangan, Dara, Gavin, dan Dafa yang sempat menguping pembicaraan tersebut melalui celah pintu, terdiam seribu bahasa. Mereka baru saja melihat bagaimana kekuasaan mencoba membungkam kebenaran, dan bagaimana seorang guru berdiri teguh melawannya.