NovelToon NovelToon
Love In The Palace

Love In The Palace

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Fantasi Timur
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: naura hasna

Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Melintasi Jalan Angin

Setelah melewati jebakan ilusi yang hampir memecah belah hati mereka, semangat rombongan justru terasa semakin menguat. Mereka menyadari bahwa kepercayaan satu sama lain adalah perisai terkuat yang tidak bisa ditembus oleh sihir atau kekuatan apa pun. Dengan keyakinan itu, langkah kaki mereka melaju lebih mantap menuju puncak Bukit Angin Tinggi, tempat tersembunyinya Permata Angin.

Semakin mendaki, medan perjalanan berubah menjadi lereng yang semakin curam dan terbuka. Pepohonan rapat perlahan digantikan oleh semak-semak pendek dan bebatuan yang terhampar luas. Angin yang bertiup di sini bukan lagi sekadar hembusan biasa — ia bergerak berputar-putar, berubah arah secara tiba-tiba, dan membawa suara desisan yang terdengar seperti bisikan ribuan suara.

“Angin adalah unsur yang paling bebas dan tidak terikat,” kata Valerius sambil memegang jubahnya agar tidak terbawa terpaan. “Ia bisa membawa kabar baik dari tempat jauh, tapi juga bisa berubah menjadi badai yang menghancurkan apa pun yang menghalangi jalannya. Untuk menguasainya, kita tidak boleh berusaha menahannya, melainkan harus belajar bergerak mengikuti iramanya.”

Elara mengangguk sambil merasakan hembusan itu menyentuh wajahnya. Ia bisa merasakan energi yang mengalir dalam angin itu — cepat, ringan, namun juga sulit diprediksi. Berbeda dengan unsur sebelumnya yang memiliki wujud tetap, angin selalu berubah bentuk dan arah, mencerminkan sifat perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan.

Setelah mendaki selama setengah hari penuh, mereka akhirnya tiba di puncak bukit. Di sana, pemandangan terbentang luas hingga ke cakrawala, namun perhatian mereka langsung tertuju pada sebuah dataran melingkar yang dikelilingi oleh tiang-tiang batu kuno. Di tengah lingkaran itu, udara berputar membentuk pusaran angin yang tenang namun padat, dan di jantung pusaran itu bersinar terang Permata Angin, berwarna putih keperakan yang memancarkan cahaya seperti kabut tipis.

Begitu mereka melangkah masuk ke dalam lingkaran batu itu, pusaran angin itu langsung meluas, menyelimuti seluruh ruangan dan menciptakan dinding udara yang tidak bisa ditembus. Suara berhembus semakin keras, lalu berubah menjadi nada bicara yang jelas dan lembut, namun terdengar datang dari segala arah sekaligus.

“Selamat datang di tempat di mana waktu terasa bergerak lebih cepat dan segala hal terasa ringan. Aku adalah penjaga jalan angin. Bumi memberi kekokohan, Air memberi ketenangan, Api memberi semangat — namun Angin memberi kebebasan untuk melaju dan kemampuan melihat gambaran yang lebih luas. Apakah kalian siap menerima kekuatan ini?”

Valerius melangkah maju, menunduk hormat. “Kami datang untuk menyatukan seluruh kekuatan pelindung agar keseimbangan alam bisa dipulihkan kembali. Kami memohon izin untuk mengambil permata ini.”

Suara itu terdengar seperti tertawa pelan, berhembus mengelilingi tubuh mereka.

“Permintaan yang baik. Namun ingatlah — kebebasan tanpa arah hanya akan membuatmu tersesat, dan perubahan tanpa tujuan hanya akan membawa kekacauan. Ujian kali ini adalah tentang keteguhan hati di tengah perubahan yang terus berlangsung. Ikutilah jalanku, dan buktikan bahwa kalian tidak akan tergoyahkan meski segala sesuatu di sekitarmu berubah bentuk.”

Seketika, tanah di bawah kaki mereka lenyap. Mereka merasa melayang di udara, dikelilingi oleh pusaran cahaya dan angin yang membawa mereka melintasi pemandangan yang terus berubah dengan sangat cepat. Dalam sekejap mata, mereka melihat masa lalu kerajaan — kejayaan saat tujuh permata bersatu, masa perang, hingga saat Morgrath pertama kali dikurung. Lalu pemandangan itu berubah lagi, memperlihatkan kemungkinan-kemungkinan masa depan yang berbeda:

Satu gambaran memperlihatkan kerajaan yang damai dan makmur, di mana mereka hidup bahagia berdampingan. Gambaran lain menunjukkan kegelapan yang menelan segalanya, di mana Morgrath memerintah dengan kekuasaan mutlak. Bahkan ada gambaran lain yang memperlihatkan Elara kembali ke dunianya sendiri, hidup tenang namun selamanya merindukan Aetheris, sementara di sini kekosongan ditinggalkan dan perlahan melemah.

Semua kemungkinan itu terlihat begitu nyata dan meyakinkan, seolah semuanya bisa terjadi hanya dengan satu keputusan kecil.

“Lihatlah,” bisik suara angin. “Masa depan belum ditentukan. Setiap pilihan membuka jalan yang berbeda. Jika kalian terus melangkah, risiko kegagalan tetap ada. Jika kalian berhenti sekarang, kalian bisa menghindari bahaya, namun juga kehilangan kesempatan untuk menciptakan kebaikan. Jalan mana yang akan kalian pilih?”

Pertanyaan itu menguji sisi pandang mereka. Bagi Valerius, ia melihat beban tanggung jawab yang semakin besar — jika ia gagal, bukan hanya nyawanya yang melayang, melainkan nyawa seluruh rakyatnya. Bagi Elara, ia melihat kemungkinan untuk kembali ke kehidupan yang aman dan teratur di dunianya sendiri, jauh dari bahaya dan pertarungan.

Namun kali ini, keraguan itu tidak lagi tumbuh menjadi rasa takut. Elara memandang ke arah Valerius, dan ia melihat keyakinan yang sama tergambar di mata kekasihnya.

“Semua gambaran itu hanyalah kemungkinan, bukan takdir yang pasti,” kata Elara dengan suara yang terdengar tenang namun tegas, meski terhanyut di tengah aliran angin. “Masa depan bukanlah sesuatu yang sudah tertulis dan harus kita ikuti, melainkan sesuatu yang kita bentuk dengan setiap langkah dan pilihan yang kita ambil. Bahkan jika ada risiko kegagalan, itu tidak berarti kita harus menyerah sebelum mencoba.”

Valerius mengangguk setuju, suaranya bergema menyatu dengan kata-kata Elara.

“Benar. Jika kita memilih jalan yang mudah dan aman, kita mungkin hidup tenang untuk sementara waktu, tapi selamanya akan merasa ada yang hilang. Kebebasan yang sesungguhnya bukanlah melarikan diri dari bahaya, melainkan memiliki keberanian untuk terus melangkah menuju tujuan yang kita yakini benar, apa pun perubahannya di sepanjang jalan.”

Begitu kata-kata itu terucap, pusaran angin yang membawa mereka melambat perlahan. Pemandangan-pemandangan masa depan yang beragam itu menyatu kembali menjadi cahaya putih, dan mereka kembali berdiri di atas tanah yang kokoh di tengah lingkaran batu.

Suara penjaga angin terdengar lagi, kali ini dengan nada yang lebih hangat dan penuh persetujuan.

“Kalian telah lulus ujian dengan bijaksana. Banyak orang tergoda hanya melihat hasil akhirnya saja — entah itu kemenangan yang indah atau kekalahan yang menakutkan — sehingga lupa bahwa kekuatan sejati terletak pada keteguhan hati dalam prosesnya. Angin akan mendukung mereka yang memiliki arah yang jelas, bukan mereka yang hanya mengikuti arus semata.”

Cahaya putih keperakan dari pusaran itu perlahan bergerak mendekat, lalu mengalir masuk ke dalam Permata Angin, membuatnya bersinar lebih terang dan terasa lebih ringan saat dipegang.

“Ambillah kekuatan ini. Ia akan membantumu melihat gambaran yang lebih luas, mendeteksi bahaya dari kejauhan, dan bergerak dengan lincah melintasi rintangan. Namun ingat, semakin banyak kekuatan yang kalian miliki, semakin besar pula godaan untuk menggunakannya demi keinginan pribadi. Tetaplah berpegang pada tujuan awal kalian.”

Valerius mengulurkan tangannya dan mengambil permata itu. Begitu tersentuh, ia merasakan aliran energi yang ringan dan cepat mengalir menyatu dengan ketiga kekuatan lainnya yang sudah dimilikinya. Sekarang, empat unsur utama telah bersatu: Bumi memberi landasan, Air memberi keseimbangan, Api memberi semangat, dan Angin memberi pandangan serta kecepatan.

Begitu mereka keluar dari lingkaran batu, perubahan langsung terasa di sekeliling bukit. Angin yang tadinya berhembus liar kini bertiup dengan lembut dan teratur, membawa aroma segar dan kabar dari seluruh penjuru wilayah. Daun-daun yang kering bergerak teratur seolah menari mengikuti irama yang indah.

Namun kegembiraan itu terhenti seketika ketika Kaelen menunjuk ke arah langit di kejauhan. Di ufuk barat, awan hitam yang jauh lebih besar dan padat daripada sebelumnya bergerak melaju ke arah mereka, menutupi cahaya matahari dengan cepat. Dari balik awan itu, terdengar suara gemuruh yang dalam dan dipenuhi amarah.

“Empat permata… masih tersisa tiga lagi, tapi kalian sudah melaju lebih cepat dari perkiraanku,” suara Morgrath bergema di udara, terdengar lebih keras dan dekat dari sebelumnya. “Kalian mengira kekuatan unsur cukup untuk menghentikanku? Tunggu saja sampai kalian mendekati tempat permata berikutnya — di sana kalian akan menghadapi ujian yang tidak bisa dipecahkan hanya dengan keberanian atau kepercayaan semata!”

Suara itu lenyap, namun tekanan yang ditinggalkannya terasa semakin berat. Valerius menatap ke arah awan gelap itu, lalu memeriksa peta kuno di tangannya. Wajahnya terlihat serius, namun matanya tetap mantap.

“Permata berikutnya adalah Permata Cahaya, tersembunyi di dalam Hutan Kenangan yang terletak jauh di selatan. Tempat itu dijaga oleh ingatan masa lalu, dan konon hanya mereka yang bisa menerima kebenaran tentang diri sendiri yang bisa masuk ke dalamnya.”

Elara memandang ke arah jalan yang terbentang di depan, lalu menggenggam tangan Valerius erat-erat.

“Masa lalu mungkin menyimpan rahasia yang menyakitkan, tapi ia juga menjadi bagian dari siapa kita sekarang. Kita akan menghadapinya bersama, seperti yang selalu kita lakukan.”

Mereka segera bersiap melanjutkan perjalanan, membawa empat kekuatan yang semakin menyatu, namun juga menyadari bahwa ujian mendatang akan menggali lebih dalam lagi ke dalam jati diri masing-masing — ujian untuk menerima seluruh sisi diri, baik yang terang maupun yang gelap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!