"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33.
Setelah meninggalkan kantor kepolisian, perjalanan pulang mereka terasa lebih hening dari biasanya. Dimas dan Raka sesekali melirik Leon, tampak ingin bertanya namun ragu untuk memulainya. Begitu tiba di halaman rumah Leon dan duduk santai di teras, akhirnya Dimas membuka suara.
“Jadi, maksud lo tadi beneran, Leon? Dunia cerita yang lo tulis itu benar-benar ada, dan lo pernah hidup di sana selama lo koma lima tahun di dunia ini?” tanyanya dengan nada penuh rasa ingin tahu.
Leon mengangguk pelan, matanya menerawang seolah melihat kembali kenangan yang masih terasa jelas. “Bukan cuma ada, Dim. Rasanya lebih nyata dari yang bisa gue jelaskan. Anginnya, suaranya, bahkan perasaan gue saat di sana semuanya terasa hidup. Dan seperti yang dibilang Reza, gue nggak cuma membayangkannya. Roh gue benar-benar ada di sana.”
“Terus soal Putri Liora itu?” sambung Raka hati-hati. “Lo bilang lo jatuh hati padanya. Itu juga bukan sekadar bagian dari cerita yang lo buat?”
Leon tersenyum tipis, namun ada rasa rindu yang terlihat jelas di wajahnya. “Awalnya dia memang karakter yang gue tulis. Tapi begitu gue berada di sana, dia berubah menjadi sosok yang nyata. Dia punya pemikiran sendiri, perasaan sendiri, dan cara pandang yang mengajarkan gue banyak hal. Lama-kelamaan, perasaan itu tumbuh dengan sendirinya, bukan karena gue merencanakannya. Gue benar-benar ingin bertemu dia lagi, tidak hanya sebagai roh, tapi dengan wujud yang utuh.”
Dimas dan Raka saling berpandangan, lalu mengangguk mengerti. Mereka mungkin tidak sepenuhnya memahami hal yang terasa mustahil itu, tapi mereka percaya pada sahabatnya sendiri.
“Kalau memang ada caranya, dan itu berarti buat lo, kita dukung,” kata Dimas tegas. “Tapi ingat pesan Reza. jangan terlalu lama di sana. Kita nggak mau lo hilang lagi begitu saja.”
“Gue ingat,” jawab Leon.
Sementara itu, Bimo hanya duduk di sudut sambil mendengarkan dengan tenang. Di luar terlihat ia ikut mendukung, namun di dalam hatinya ia terus mencatat setiap detail yang disampaikan Leon. Ia menyimpan dengan rapi penjelasan tentang tempat yang sunyi, buku catatan, dan batas waktu yang diberikan.
Setelah teman-temannya berpamitan pulang, Leon memberanikan diri masuk ke dalam rumah untuk menemui kedua orang tuanya. Ia menemukan Pak Indra dan Bu Ina sedang duduk di ruang tengah, menunggu kabar lengkap dari kejadian siang itu.
“Yah, Bu, aku mau bicara sesuatu yang penting,” ucap Leon setelah duduk di hadapan mereka.
Dengan hati-hati, Leon menceritakan semuanya mulai dari penjelasan Reza tentang keberadaan dunia cerita itu, cara untuk masuk ke sana dengan raga aslinya, hingga keinginannya untuk bertemu kembali dengan orang-orang yang ia sayangi di sana. Ia juga menyampaikan pesan tentang batas waktu agar orang tuanya tidak terlalu cemas.
Pak Indra dan Bu Ina mendengarkan dengan saksama, sesekali saling bertukar pandangan. Wajah mereka tampak khawatir, namun mereka juga melihat ketulusan dan keinginan yang besar di mata putra mereka.
“Nak, Ibu dan Ayah sudah kehilangan kamu selama lima tahun,” kata Bu Ina dengan suara lembut namun penuh perasaan. “Rasanya takut kalau kamu pergi lagi dan tidak bisa kembali. Tapi Ibu juga tahu, ini adalah bagian dari hidup kamu yang tidak bisa dipisahkan. Kalau ini yang membuat kamu merasa lengkap, Ibu dan Ayah tidak akan melarang. Tapi berjanjilah, kamu akan menjaga diri dan kembali tepat waktu.”
Leon merasa haru mendengar jawaban itu. “aku janji, Bu, Yah. aku akan kembali, karena di sini juga ada tempat yang aku cintai.”
Mendapat izin, Leon mulai mempersiapkan segalanya. Ia ingat syarat pertama yang disampaikan Reza. harus mencari tempat yang benar-benar sunyi, jauh dari kebisingan, dan bebas dari gangguan apa pun. Setelah memikirkan berbagai kemungkinan, ia teringat sebuah tempat yang jarang dikunjungi orang sebuah gua kecil di lereng bukit di pinggiran kota, tempat yang sering ia datangi saat masih kecil untuk menenangkan pikiran. Tempat itu sepi, jauh dari keramaian, dan memiliki suasana yang tenang.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Leon berpamitan kepada orang tuanya. Ia membawa serta buku catatan cokelat kesayangannya, air minum secukupnya, dan menutup pintu rumah dengan hati-hati. Ia berjalan kaki menuju bukit itu, melewati jalan setapak yang mulai ditumbuhi rumput. Sesampainya di mulut gua, ia melihat ke dalam suasana di sana sejuk, hening, dan hanya diterangi cahaya matahari yang masuk dari celah atap gua. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada suara orang, hanya hembusan angin pelan yang berdesir.
“Ini tempat yang tepat,” gumam Leon pelan.
Ia masuk lebih dalam, duduk bersila di bagian paling tengah gua, lalu meletakkan buku catatan itu di atas pangkuannya. Sebelum membukanya, ia menarik napas panjang, memusatkan seluruh pikiran dan perasaannya. Di saat yang sama, di luar sana, Bimo yang diam-diam mengikuti pergerakan Leon dari kejauhan tersenyum licik. Ia sudah tahu di mana tempat itu berada, dan ia bertekad akan segera mencoba caranya sendiri bahkan mungkin sebelum Leon sempat kembali.
kecuali kalau Si Bimo udah di ajak ke dunia menakjubkan itu jadi dia punya niat mau berkuasa. 😶
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁