Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"omong kosong!"
Sebuah tamparan keras terdengar saat Nayla baru saja membuka pintu rumah. Matanya melebar melihat Papanya menampar sang mamah.
"Mamah!"
Nayla berlari dengan sisa tenaganya dia mengulurkan tangan untuk membantu mamahnya berdiri tapi ditolak kasar oleh mamahnya. Mau tak mau Naila mundur dan membiarkan mamanya berdiri dengan sendirinya.
Tetapan mata Nayla langsung tertuju pada Papanya." Pa? Papa kenapa tampar mamah? Mama salah apa?!"teriak Nayla dengan suara seraknya.
“Bagus ya! Sudah berani sekolah, tapi sekarang sok jadi jagoan, bagaimana?” suara Bagus menggema, penuh amarah yang menggetarkan ruang tamu yang semula hening.
“Papa, kenapa? Nayla baru saja pulang, Pa... Nayla dari rumah sakit,” balas Nayla dengan suara bergetar, berusaha menahan kegelisahan yang menyesak dadanya.
“Oh, rumah sakit? Seharusnya kamu mati saja sekalian!” Ucap Bagus, wajahnya memerah, amarahnya meledak seperti gunung berapi yang tak tertahankan.
“Pa!” Suara Jevan yang tiba-tiba. Semua yang ada di ruang tengah membeku, udara berubah dingin, tegang oleh bentakan keras seorang pria yang biasanya tenang namun kini meledak bagai badai.
“Apa? Kamu membela perempuan sialan ini?” Bagus menunjuk tajam ke wajah Nayla, tatapannya penuh kebencian.
“Berani kamu melawan Papah Jevan?!” Bagus mengangkat kepalanya, wajahnya tertatih antara takut dan keberanian.
“Maaf, Pa... Aku cuma mau membawa Mama ke kamar,” suaranya nyaris serak, tapi ia melewati bayang-bayang kemarahan Bagus, meraih tangan Nayla yang gemetar, lalu berjalan menuju mamanya yang terisak di balik Nayla. Tangis dan amarah beradu di dalam ruang itu, menyisakan luka yang tak mudah disembuhkan, seakan setiap kata adalah belati yang menancap dalam keheningan malam.
Nayla diam di tempatnya memandangi punggung lebar kakak sulungnya yang mau nonton mamahnya ke kamar sampai akhirnya menghilang dari pandangannya.
Namun itu tidak berlangsung lama karena dengan tiba-tiba Papanya menyeret lengannya dengan kasar."kamu harus saya kasih pelajaran, anak sialan!"
"Pa, sakit pa...lepas!"
Papahnya menghempaskan lengan Nayla dengan kasar saat sampai di samping rumah, tepatnya di kolam renang rumahnya yang cukup luas.
"Kamu sudah banyak membuat masalah dua hari belakangan ini!"
"Maaf pa," cicit Nayla menundukkan kepalanya.
"Saya sudah bilang jangan berhubungan dengan laki-laki yang orang tuanya bermasalah seperti dia! Lihat sekarang! Putra saya terluka hanya karena dia membela kelakuan buruk kamu!"
Papanya memukul kepala Nayla cukup keras sampai kepala garis itu terbentur pilar di teras kolom. Nayla memegangnya kepalanya yang terasa sakit bahkan pandangan matanya mulai menjadi buram.
"Kamu itu sudah dikasih hati malah tidak tahu diri! Bersikap seenaknya pada Deviana! Memang kamu lebih baik dari dia?!"
Nayla dengan sekuat tenaga kembali menegakkan tubuh nya kemudian membalas tatapan Papanya." Setidaknya Nayla nggak playing victim kayak dia!"
Nayla menjerit begitu dirinya terjatuh karena papanya menendang kakinya dengan kasar. Akibat rasa sakit di kepalanya, Nayla jadi tidak kuat menahan tendangan papanya yang tiba-tiba.
"Saya lebih bangga memiliki keponakan seperti Deviana daripada memiliki anak tidak tahu diri seperti kamu!"
Nayla hanya mampu menangis dalam hati, matanya mungkin lelah karena terus menjadi perantara air matanya turun tanpa jeda.
"Pergi ke mana kamu semalam?!"
Gadis itu sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melawan, dia hanya diam menundukkan kepalanya. Namun keterdiamannya itu membuat tangan Papanya bergerak mencengkram dagunya dan otomatis membuatnya mendongak.
"Jawab saya! Kamu bisu, hah?!" Bentak papahnya langsung membuang wajah Nayla ke samping dengan kasar.
"Nayla tenangin diri pa," gumam naylanmasih menunduk.
Papanya berjongkok berhadapan dengan tubuh Nayla, menyadari hal itu membuat wajah Nayla semakin menunduk tidak ingin menatap iris mata tajam sang papa.
"Belajar jadi kupu-kupu malam kamu, hah?! Kamu mau mempermalukan keluarga saya? Mau balas dendam kamu?!"
"Pa cukup! Cukup nuduh Nayla kayak gitu, nggak ada sedikitpun keinginan Nayla untuk jahat ke papah ataupun keluarga ini." Bantah Nayla, udah sakit hati mendengar tuduhan yang keluar dari mulut papahnya sendiri.
Bagaimana bisa seorang ayah menuduh hal buruk kepada anaknya sendiri, ayah macam apa dia? Dan bagaimana bisa Nayla tidak sakit hati mendapatkan ucapan buruk dan kasar dari ayahnya sendiri? Sakit? Tentu saja lebih sakit dari kekerasan fisik yang selalu Papanya perbuat padanya.
"Ibu dan anak sama saja! Sama-sama jalang murahan! Kamu pikir saya akan lulus dengan ucapan kamu itu, ha?! Jangan harap!" kaya papahnya sambil berdiri dengan membuang wajah ke arah lain.
Nayla tetap menangis dalam hati, gadis itu bergerak mendekat meraih kaki Papanya." Pa.. Nayla ini sebenarnya siapa? Nayla bukan anak kandung papa ya? Papa bersikap seperti ini cuma sama Nayla sedangkan kedua kakak Nayla tidak pernah diperlakukan seperti ini." WhatsApp Nayla mendongakkan kepalanya menatap Papanya. Namun Papanya itu hanya diam sambil menatap tajam ke arah kolam.
Karena merasa diabaikan, Nayla menggoyangkan kaki Papanya. "Jawab pa,, Nayla ini sebenarnya anak siapa? Dan apa salah Nayla sampai membuat papa sama benci ini pada Nayla?"
Papanya menendang kepala Nayla sampai membentur gelar di belakang tubuh gadis itu, tidak hanya itu papanya juga menampar wajah Nayla setelahnya.
"Diam kamu!"
Sungguh perpaduan rasa sakit yang begitu hebat, disaat kepalanya merasakan sakit yang luar biasa dia kembali dihantam sakit lainnya pada bagian wajah. Nayla rasanya tidak kuat hanya untuk menyangga kepalanya sendiri. Bahkan dia tidak bisa mendengar jelas bentakan papanya yang begitu keras.
Belum usai rasa sakit itu, sebuah Nayla sudah diseret pakta oleh Papanya sampai menuju ke tepi kolam renang.
"Sakit pa .."Nayla merintih karena papanya menarik rambutnya dengan kasar sehingga rasanya seakan mau lepas. Lalu di detik berikutnya di depan Layla sudah ada kolam dengan kedalaman 2 meter, sadis itu berusaha keras pemberontak tapi semuanya sia-sia karena tenaga Papanya yang jelas lebih besar darinya.
Lalu tiba-tiba tubuhnya terlempar ke dalam kolam.
Air langsung menelan tubuh Nayla begitu ia jatuh ke dalam kolam. Suara percikan keras menggema di malam yang dingin itu, seolah menjadi saksi betapa kejamnya perlakuan yang baru saja ia terima.
Tubuhnya tenggelam begitu saja.
Tidak ada perlawanan.
Tidak ada usaha untuk berenang ke atas.
Seolah untuk pertama kalinya Nayla benar-benar menyerah.
Air masuk ke hidung dan mulutnya, membuat dadanya terasa sesak. Namun anehnya, rasa itu tidak lebih menyakitkan dibandingkan semua yang telah ia rasakan selama ini. Tamparan, hinaan, penolakan semuanya jauh lebih menyesakkan daripada sekadar kehilangan napas.
Di dalam air, matanya terbuka perlahan.
Pandangan buram.
Gelap.
Sepi.
“Kalau ini akhir… mungkin gak apa-apa…”
Pikirannya melayang.
Ia teringat semua hal.
Tentang bagaimana ia selalu berusaha menjadi anak yang sempurna.
Tentang bagaimana ia selalu belajar sampai larut malam hanya untuk mendapatkan pengakuan.
Tentang bagaimana ia terus mencoba… meski tak pernah dihargai.
Dan tentang bagaimana semua itu… tetap tidak pernah cukup.
Air mata bercampur dengan air kolam, tak terlihat, tak terasa.