NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31. BAYANGAN DARI MASA LALU

Raungan monster terus mengguncang taman istana tanpa henti setelah berjam-jam.

Udara dipenuhi bau darah, debu, dan energi Abyss yang menyengat. Tanah yang sebelumnya terawat rapi kini berubah menjadi medan perang yang penuh kawah, retakan, dan bangkai monster.

Namun perlahan keadaan mulai berubah. Pasukan kekaisaran mulai mengambil alih kendali. Dan pusat dari perubahan itu adalah Rowan yang terus memberi banyak komando untuk setiap hal.

"Barisan ketiga maju!" teriak Rowan

"Jangan beri mereka ruang untuk berkumpul!"

"Unit tombak, sisi kanan!"

"Perisai pertahankan formasi!"

Perintah demi perintah keluar tanpa jeda dari mulut Rowan Dan selalu sesuai dengan situasi yang berubah setiap detik.

Para kesatria yang sebelumnya kewalahan kini mulai mampu bergerak dengan lebih efektif. Mereka bukan lagi kelompok individu yang berusaha bertahan hidup. Mereka kembali menjadi pasukan yang dipimpin oleh salah satu komandan terbaik Kekaisaran.

Rowan menerjang ke tengah kerumunan monster. Tombak yang digunakannya berputar di tangannya.

Satu tusukan, satu monster tumbang.

Satu ayunan, leher monster lain terputus.

Darah hitam menyembur ke udara.

Namun Rowan bahkan tidak melambat. Fokusnya sepenuhnya pada pertempuran.

"Kiri kalian! Menunduk!" teriak Rowan.

Seorang kesatria langsung menunduk.

Dan tombak Rowan melesat di atas kepala kesatria itu. Menusuk mata seekor monster yang hendak menyerang dari belakang.

Monster itu meraung, lalu ambruk.

"Terima kasih, Komandan!" teriak kesatria tersebut.

Namun Rowan sudah bergerak ke tempat lain.

Di sisi lain medan perang, Gareth memimpin kelompok kesatria lain. Pria berambut cokelat itu mengayunkan pedangnya. Membelah monster seperti memotong ranting kering.

"Jangan biarkan satu pun lolos ke dalam istana!" teriak Gareth.

Sebagai wakil ketua kesatria dan sahabat Rowan sejak kecil, Gareth memahami cara berpikir Rowan lebih baik dari pada siapa pun.

Mereka bergerak seolah memiliki pikiran yang sama tanpa perlu berbicara panjang lebar.

Satu menjaga garis depan. Satu menjaga sisi luar. Itu sudah lebih dari cukup.

Dan perlahan jumlah monster mulai berkurang.

Sementara itu di dekat retakan Abyss Aaron berdiri di udara. Jubahnya berkibar.

Puluhan lingkaran sihir berlapis memenuhi langit.

Petir-petir biru turun seperti hujan murka para dewa.

BOOOOOOM!!

Ledakan demi ledakan mengguncang taman.

Monster-monster hancur bahkan sebelum sempat keluar sepenuhnya dari retakan.

Aaron mengangkat kedua tangannya. Keringat mulai membasahi pelipisnya karena terus menerus menggunakan sihir skala besar tanpa henti selama berjam-jam.

"Masih belum cukup rupanya," gumam Aaron.

Ia mengerahkan lebih banyak mana kali ini.

Retakan Abyss mulai bergetar saat Aaron sedang berusaha menutupnya. Pekerjaan yang bahkan bagi Archmage seperti dirinya bukanlah hal mudah.

"Evan?! Aku butuh waktu! Alihkan perhatian para monster!" teriak Aaron.

"Kalau begitu cepatlah!" balas Evan.

Pria berambut hitam itu melompat ke udara.

Pedangnya menyala seperti bulan biru.

Lalu ....

SWOOOOOOSH!!

Gelombang api biru raksasa membelah medan perang. Belasan monster langsung menjadi abu seketika.

Evan mendarat dengan satu lutut, lalu kembali berlari. Pedangnya bergerak begitu cepat hingga sulit diikuti mata.

Satu tebasan.

Dua tebasan.

Tiga tebasan.

Monster-monster berjatuhan seperti rumput yang ditebas.

Pasukan kekaisaran mulai memegang kendali. Jumlah monster berkurang drastis dan retakan Abyss mulai mengecil sedikit demi sedikit.

Namun tiba-tiba ...

"Komandan Rowan!" seseorang berteriak. Suara itu penuh kepanikan.

Rowan langsung menoleh ke sumber suara.

Seorang kesatria berlari ke arah Rowan. Tubuh pria itu dipenuhi luka darah membasahi seragamnya.

Rowan langsung menyadari sesuatu; ini bukan laporan biasa.

"Ada apa?" tanya Rowan cepat.

Kesatria itu hampir jatuh ketika berhenti di depan Rowan.

"Kapten ..." Pria itu terengah. "... area bangunan timur..."

Jantung Rowan tiba-tiba berdebar. "Kenapa dengan area timur?"

Kesatria itu menelan ludah dan menjawab, "Minotaur raksasa muncul di sana."

Rowan membeku.

"Semua orang tidak bisa mengalahkannya." Kesatria itu tampak ketakutan.

Untuk sesaat tidak ada yang terjadi.

Namun tak lama wajah Rowan memucat.

Area bangunan timur adalah tempat Cecilia berada. Tempat Rowan meninggalkan gadis itu tadi. Tempat yang ia pikir aman untuk sang gadis.

"Cecilia ..." gumam Rowan.

Tangan Rowan langsung mencengkeram kerah zirah kesatria itu.

"Katakan padaku." Suaranya berubah kasar. "Bagaimana dengan Putri Cecilia?!" seru Rowan.

Kesatria itu sampai ketakutan.

"Tu-Tuan Putri ... monster itu menyerang Tuan Putri dan para kesatria, tadi Beliau tidak sadarkan diri," jawab sang Kesatria.

"Apa?" Darah di tubuh Rowan terasa dingin.

"Kami mencoba membawa Tuan Putri pergi. Tapi monster itu terus mengejar siapa pun yang membawa Tuan Putri menjauh. Para kesatria sedang menjaga Tuan Putri sekarang. Tapi kami tidak bisa keluar dari area itu," lanjut kesatria itu buru-buru.

Mata Rowan langsung memerah. Ia melepaskan kerah kesatria itu, lalu berbalik.

"Evan!" teriak Rowan

Pria berambut hitam yang tak jauh dari Rowan itu langsung menoleh.

"Apa?" sahut Evan.

"Bantu aku!" ujar Rowan panik.

Hanya dua kata, namun Evan langsung mengerti. Ekspresinya berubah, karena ia belum pernah mendengar nada suara Rowan seperti itu; nada suara seseorang yang sedang panik.Tanpa bertanya apa pun Evan langsung berlari mengikuti Rowan.

Keduanya melesat meninggalkan medan perang.

Sementara Aaron yang melihat mereka hanya bisa mengernyit.

"Jangan bilang ...." gumam Aaron yang seakan paham apa yang terjadi.

Rowan berlari secepat mungkin. Lebih cepat dari pada saat bertarung atau saat melawan monster.

Napas Rowan memburu dengan jantung berdebar keras. Pikirannya dipenuhi satu nama.

Cecilia.

Cecilia.

Cecilia.

"Aku bodoh. Aku benar-benar bodoh," gumam Rowan.

Ia mengutuk dirinya sendiri.

Bagaimana bisa ia meninggalkan Cecilia?

Bagaimana bisa ia percaya tempat itu aman?

Bagaimana bisa ia membuat kesalahan seperti ini lagi?

Lagi.

Kata itu menghantamnya.

Karena dua tahun lalu ia juga pernah melakukan kesalahan. Kesalahan yang membuat seseorang mati. Seseorang yang sangat penting baginya.

Dan sekarang ...

Jangan. Tolong jangan. Jangan sampai itu terjadi lagi, batin Rowan.

Evan yang berlari di sampingnya bisa melihat kepanikan di wajah Rowan. Dan itu membuatnya terdiam. Karena Rowan Ravens tidak pernah seperti ini.

Mereka akhirnya tiba di area bangunan timur. Dan pemandangan yang menyambut mereka membuat keduanya langsung berhenti.

Monster-monster mati berserakan.

Puluhan.

Mungkin lebih.

Tubuh-tubuh besar memenuhi tanah.

Darah hitam membanjiri halaman.

Sementara para kesatria justru banyak yang pingsan dan terluka parah. Sebagian bahkan hampir tidak bisa berdiri.

Jelas telah terjadi pertempuran yang sangat sengit.

Rowan langsung berlari ke salah satu kesatria.

"Di mana Putri Cecilia?!" tanya Rowan langsung.

Kesatria itu mengangkat tangan gemetar, menunjuk ke depan.

"Di sana ...."

Rowan langsung menoleh,.lalu membeku.

Karena di area terbuka depan bangunan, di tengah halaman yang dipenuhi reruntuhan. Seorang gadis sedang bertarung. Gaun tidurnya sudah robek di beberapa bagian. Rambut pirang platinumnya berkibar tertiup angin. Dan di tangannya terdapat pedang milik Rowan.

Cecilia masih hidup. Dan bukan hanya hidup ... gadis itu sedang melawan Minotaur raksasa sendirian.

Monster itu tingginya hampir lima meter. Tubuhnya sebesar rumah kecil. Otot-ototnya menggembung. Dan kapak raksasa di tangannya mampu menghancurkan batu dengan satu ayunan.

Namun yang membuat Rowan membeku bukanlah monster itu.

Melainkan Cecilia.

Gadis itu bergerak. Sangat lincah dan presisi.

Dan sangat ... familiar.

Cecilia menghindari kapak raksasa, berputar, lalu meluncur ke samping dan menusuk titik tertentu di kaki Minotaur.

Monster itu meraung keras.

Gerakan berikutnya tebasan diagonal digabung dengan langkah mundur lalu menusuk pendek dan memutar tubuh menjauh.

Semua gerakan itu ... sangat dikenal Rowan.

Sampai suara Evan terdengar penuh keterkejutan mengonfirmasikan apa yang Rowan pikirkan

"Bukankah itu ilmu pedang Ravens?" kata Evan.

Tubuh Rowan menegang.

Evan terus menatap Cecilia. "Itu teknik keluarga kita yang hanya diajarkan pada keluarga Ravens. Dan pasukan khusus Ravens. Bagaimana Putri Cecilia bisa menggunakannya?" katanya.

Dunia seolah berhenti saat Rowan memerhatikan lebih saksama. Ia menyadari sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Benar.

Itu memang ilmu pedang Ravens.

Bukan hanya mirip tapi benar-benar ilmu pedang Ravens.

Setiap langkah.

Setiap ayunan.

Setiap perpindahan posisi.

Semuanya.

Mustahil. Bagaimana bisa? Cecilia tidak mungkin mempelajarinya. Tidak ada alasan baginya untuk tahu, batin Rowan.

Namun kenyataan ada di depan mata.

Lalu Evan kembali berbicara dan kali ini membuat Rowan hampir kehilangan napas.

"Rowan?" panggil Evan.

"Ya?" sahut Rowan.

"Bukankah gerakan itu sangat mirip dengan mendiang Kapten Pasukan Khusus Ravens, Paman Colton?" ujar Evan.

Tubuh Rowan langsung membeku.

Nama itu. Nama yang selama dua tahun terakhir menghantui Rowan dan menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.

"Colton ..." ucap Rowan pelan.

Evan mengangguk perlahan. "Ya. Kapten Colton kita."

Jantung Rowan terasa sakit, tanpa sadar Rowan kembali memerhatikan Cecilia. Setiap gerakan, langkah, ayunan pedang.

Dan semakin Rowan melihat, semakin pucat wajahnya.

Karena yanh Evan katakan benar. Terlalu benar.

Cara Cecilia memutar pedang.

Cara Cecilia memindahkan berat tubuh.

Cara Cecilia membaca pergerakan lawan.

Semuanya sama seperti Kapten Colton.

Pria yang mengajari Rowan bertarung.

Pria yang menjadi guru pedang Rowan

Dan pria yang mati dua tahun lalu karena kesalahan Rowan.

Semua mirip sekali. Rowan berani mengatakan kemiripannya karena Rowan sudah mengenal Colton sejal kecil.

"Tidak mungkin ..." ucap Rowan gemetar.

Namun apa yang dilihatnya tidak bisa berbohong. Di depan sana rasanya Rowan sedang melihat bayangan Colton dalam tubuh Cecilia.

Dan kemudian Minotaur mengamuk. Monster itu mengangkat kapaknya. Lalu menyerang dengan seluruh kekuatan.

BOOOOOOM!!

Tanah meledak. Debu berhamburan.

Namun Cecilia bergerak terlalu cepat. Ia muncul di sisi monster.

Lalu ...

SWOOOSH!!

Satu tebasan tepat dan sempurna yang Cecilia lalukan kini membuat kepala Minotaur terpisah dari tubuhnya.

Dan monster langsung ambruk ke tanah.

Keheningan turun.

Cecilia berdiri di tengah debu dengan napas memburu. Pedang di tangannya berlumuran darah hitam.

Kemudian gadis itu melakukan sesuatu.

Sesuatu yang membuat seluruh tubuh Rowan gemetar hebat.

Cecilia mengayunkan pedangnya ke samping. Satu gerakan cepat dan keras untuk membersihkan darah dari bilah pedang.

Gerakan khas. Sebuah kebiasaan khas yang selalu dilakukan oleh satu orang setiap kali selesai menebas monster; gerakan khas Kapten Colton.

Karena sejak kecil Rowan melihatnya melakukan itu ribuan kali, jadi tidak mungkin Rowan salah karena gerakan itu seperti membentuk sabit selama beberapa detik saking cepatnya.

Dan saat itulah Cecilia menoleh ke arah Rowan. Tatapan safir itu melembut penuh kehangatan dan ... kerinduan. Seolah sudah lama menunggu Rowan datang.

Senyum kecil muncul di wajah gadis itu.

Tubuh Rowan mulai gemetar, tangannya bergetar dan napas tercekat.

Dua tahun lalu Rowan berdiri di medan perang menyaksikan jasad Colton dicabik oleh monster serigala karena keputusan dan perintah bodoh Rowan yang impulsif saat itu.

Dan sejak hari itu Rowan hidup dengan penyesalan.

Namun sekarang melihat Cecilia berdiri di sana.

Sesuatu di dalam diri Rowan runtuh. Dan untuk pertama kalinya setelah dua tahun. Suara Rowan bergetar seperti anak kecil.

"Paman Colton," ucap Rowan dengan mata basah.

1
Nisfu Romadhon
/Sob//Sob//Sob/mengandung 🧅🧅🧅ihh k Othor,,,
Archiemorarty: Selanjutnya lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
mengsedih /Cry/Rowan yang kuat ya
Nisfu Romadhon
ishh,,, ikut ngerasain nyesek nya Rowan,,, rindu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri,,,hiks/Sweat/
Archiemorarty: Apalagi meninggal karena salah komando si Rowan 😭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, akhir bab mengandung bawang 🧅🧅🧅hiks,,, Rowan teringat paman Colton sang Guru /Sob//Sob//Sob/
Archiemorarty: Nanti bakal lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
hih,,, dasar curang,,,g berani ngadepin Cecil sendirian mesti minta bantuan monster-monster lainnya buat pengalih perhatian,,, Cecil aku mendukungmu,,,kamu pasti bisa 💪💪💪
Archiemorarty: biasa lah yah, pengecut mah gitu 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aishh,,, musuh kembali datang
Nisfu Romadhon
aihh aihh,,,baru sadar udah dapat kissing aja Cecil,,, dasar Lowan mengambil kesempitan dalam kesempatan,,, ehh /Chuckle/
Archiemorarty: Abang Lowan emang suka gitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
g sadar bacanya sambil nahan nafas,,,huft,,,baru dihela nafas nya kalo bab nya selesai 🤦🫣
Archiemorarty: Napas kak napas 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Archiemorarty: Hahaha...kolosal nggak tuh 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Nisfu Romadhon: iya tuh✌️
total 2 replies
Nisfu Romadhon
cari in jodoh nya Evan k Othor,,, please /Whimper//Whimper//Whimper/
Archiemorarty: Abis Rowan ntar buat Evan yak 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
siapa si pengkhianat ini?🤔
Hary Nengsih
yg d imcar cecilia kayanya
Archiemorarty: Yeps 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
wow,,, Great Job Lowan👏👏👏/Kiss//Kiss//Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!