NovelToon NovelToon
Sisa Rasa Yang Terlarang

Sisa Rasa Yang Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Drama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: HebiKage

Usai memutuskan hubungan dua setengah tahun dengan Reza, Tari merasa lelah dengan drama cinta dan tekanan keluarga. Belum sembuh sepenuhnya, ia dipaksa ibunya mengikuti kencan buta—dan takdir malah mempertemukannya dengan Aldo, adik kandung mantan pacarnya sendiri.

Wajahnya mirip, tapi sikapnya sangat berbeda: lebih dingin, lebih tajam, dan seolah menyimpan rahasia serta dendam tersembunyi. Pertemuan yang dipaksa keluarga perlahan membangkitkan perasaan yang tak seharusnya ada. Di tengah gosip lingkungan dan luka lama yang mulai terbuka kembali, Tari dihadapkan pada satu pertanyaan berat:

Apakah ia berhak merasakan bahagia di samping orang yang masih terikat erat dengan masa lalunya yang menyakitkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HebiKage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Yang Mulai Terlihat

Sudah berlalu satu bulan penuh sejak hari pertemuan yang penuh gejolak itu berlangsung di rumah orangtua Aldo. Satu bulan yang terasa indah bagaikan rangkaian mimpi yang nyata—penuh kebahagiaan sederhana yang tak pernah sekalipun berani kubayangkan sebelumnya akan menjadi milikku.

Hubungan kami kian hari kian tumbuh menjadi lebih dewasa dan kokoh. Tak ada lagi rasa ragu yang sempat mengganggu hati, tak ada lagi ketakutan akan perpisahan atau kesalahpahaman. Yang ada hanyalah keyakinan yang kuat, tumbuh bersemi di hati kami berdua: bahwa kami akan tetap bersama, saling menguatkan, di mana pun kaki kami berpijak dan ke mana pun takdir membawa kami melangkah.

Di sisi lain, kehidupan Reza dan Clarissa pun berjalan maju. Keduanya kini telah resmi bersuami istri dalam sebuah upacara pernikahan yang sederhana namun penuh makna, hanya dihadiri oleh keluarga terdekat dan sahabat karib saja. Aku dan Aldo tentu saja hadir di sana—posisi yang mungkin terdengar agak aneh jika dipikirkan orang lain: aku yang dulunya adalah kekasih Reza, kini hadir sebagai calon iparnya; sedangkan Aldo, adik kandung Reza, kini menjadi pendamping hidupku. Sungguh kisah yang unik dan tak terduga. Namun anehnya, semua itu terasa indah dan pas pada tempatnya.

Janin yang ada dalam kandungan Clarissa dijadwalkan lahir sekitar lima bulan lagi. Perubahan pada diri Clarissa sudah mulai tampak nyata: perutnya perlahan mulai membuncit, wajahnya tampak lebih bersinar dan segar, serta senyumnya kini lebih sering menghiasi bibirnya dibandingkan masa‑masa lalu. Adapun Reza, ia masih dalam masa belajar menjadi calon ayah yang baik—kadang terlihat canggung dalam bertindak, kadang pula panik sendiri mendengar keluhan Clarissa atau membaca buku tentang kehamilan. Namun hal yang paling berarti: ia sungguh berusaha. Dan usaha itulah yang menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih baik.

Sementara itu, kehidupanku sendiri berjalan seiring dengan kata‑kata yang kian hari kian bertumpuk di atas kertas. Aku menulis. Menulis setiap ada kesempatan—pagi, siang, maupun malam. Di sela‑sela waktu kuliah, di sela‑sela pengerjaan tugas, bahkan di waktu luang saat aku sedang duduk santai bersama Aldo. Tulisan itu tumbuh pesat hingga kini telah mencapai seratus halaman lebih. Aku menamai tokoh utamanya perempuan dengan nama Nisa, sedangkan tokoh laki‑lakinya bernama Satria. Ceritanya berkisah tentang kasih yang tumbuh di tengah batasan: seorang mahasiswi sastra yang jatuh hati pada seorang ahli psikologi forensik—yang ternyata adalah adik kandung dari mantan kekasihnya. Tentu saja aku menyebutnya karya fiksi. Namun lama‑kelamaan, batas antara kenyataan dan rekaan dalam tulisan itu mulai terasa samar dan hampir tak bisa dibedakan.

***

Pagi itu, di lingkungan kampus Universitas Indonesia.

Aku baru saja selesai mengikuti ujian tengah semester mata kuliah Sastra Bandingan—ujian yang cukup melelahkan, di mana aku harus membandingkan dua karya sastra besar: Anna Karenina karya Leo Tolstoy dan Siti Nurbaya karya Marah Rusli. Dua kisah yang berlatar tempat dan budaya berbeda, namun memiliki benang merah yang sama: kisah wanita yang terperangkap dalam ikatan pernikahan tanpa cinta, kisah tentang pengorbanan yang mendalam serta penderitaan yang memilukan.

Aku melangkah keluar dari ruang ujian dengan langkah yang terasa berat dan gontai. Mataku terasa pedih dan berat karena kurang tidur beberapa hari belakangan, sedangkan perutku berbunyi nyaring menandakan belum ada makanan yang masuk sejak pagi.

"Tari!"

Aku menoleh cepat memandang sumber suara itu. Di sana, tepat di depan pintu masuk fakultas, Aldo berdiri tersenyum menyambutku. Tempat itu sama persis dengan lokasi di mana Reza dulu pernah membuat keributan yang memalukan. Namun hari ini, suasana begitu berbeda. Aldo tidak membawa seikat bunga mawar yang mencolok, tidak pula membawa spanduk besar berisi tulisan cinta seperti yang sering dilakukan kakaknya. Di tangannya, ia hanya membawa dua bungkus nasi uduk yang masih mengepulkan aroma sedap, serta senyum hangat yang selalu mampu menenangkan hatiku.

"Kamu kok ada di sini?" tanyaku sambil mempercepat langkah mendekatinya, kaget namun bahagia melihat kehadirannya.

"Datang menjemputmu sekaligus mengajak makan siang," jawabnya santai sambil mengangkat sedikit bungkusan makanan itu agar terlihat jelas. "Maya teman sekelasmu bilang, kamu berangkat pagi‑pagi sekali dan belum sempat sarapan."

Aku menghela napas panjang sambil tersenyum tipis. "Ah, rupanya Maya itu mata‑mata rahasiamu ya?"

"Mata‑mata yang setia dan bisa diandalkan," candanya sambil tertawa renyah. "Ayo kita pergi ke taman belakang, udaranya lebih sejuk di sana."

Kami pun berjalan beriringan menuju taman di belakang gedung fakultas—tempat favoritku yang teduh, di bawah naungan pohon trembesi besar yang rindang. Daun‑daunnya mulai banyak yang berguguran seiring datangnya musim kemarau yang kering. Aldo dengan sigap membentangkan jaketnya di atas permukaan bangku kayu yang agak terasa panas terkena sinar matahari, agar aku bisa duduk dengan nyaman tanpa merasa gerah.

"Ayo, makanlah dulu," katanya lembut sambil membuka ikatan bungkusan nasi uduk itu. Aroma gurih nasi yang dicampur dengan santan, bawang goreng, dan daun pandan segera menguar memenuhi udara di sekitar kami.

Aku mengambil sendok plastik yang tersedia, lalu menyantapnya dengan sangat lahap. Itulah nasi uduk dari warung langganan kami—rasanya pas, wangi semerbak, disertai potongan ayam goreng yang renyah serta sambal yang pedasnya pas sekali di lidah.

"Kamu kenapa diam saja? Ikutlah makan bersamaku," kataku setelah menyadari Aldo hanya duduk diam menatapku dengan pandangan teduh.

"Terima kasih, aku sudah makan tadi pagi sebelum berangkat dari rumah," jawabnya lembut.

"Masak sendiri kah?" godaku.

Ia tertawa kecil. "Kamu kan sudah tahu betul, aku sama sekali tidak pandai urusan dapur. Aku beli di warung dekat rumah saja."

"Wajar saja kalau begitu," jawabku sambil ikut tertawa.

Kami menghabiskan makanan itu dalam keheningan yang nyaman, hanya ditemani suara desau angin yang berhembus lembut di sela‑sela dahan, serta kicauan burung yang terbang berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Sesekali Aldo mengulurkan tangannya, dengan lembut menyeka sisa nasi atau bumbu yang menempel di sudut bibirku—gerakan kecil yang sederhana, namun selalu mampu membuat dadaku terasa hangat penuh kasih.

Setelah makanan habis dan bungkusan rapi sudah disisihkan, aku memberanikan diri membuka percakapan.

"Aldo..." panggilku pelan.

"Iya? Ada yang ingin kamu ceritakan?" jawabnya sambil menatapku penuh perhatian.

"Ada hal penting yang ingin kusampaikan padamu. Tentang tulisanku... novelku itu," awalku sambil menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian. "Tulisan itu sudah mencapai seratus halaman lebih sekarang."

Aldo sedikit mengangkat alisnya, tampak takjub namun senantiasa mendukung. "Seratus halaman? Itu jumlah yang luar biasa banyaknya... padahal baru sebulan terakhir ini kamu tekuni secara sungguh‑sungguh."

"Aku menulisnya hampir setiap hari. Kadang sampai larut malam, saat suasana di kosan sudah sepi dan tenang," jelasku.

"Kamu ini... jangan sampai lupa menjaga kesehatan dan beristirahat dengan cukup ya," ingatnya lembut namun tegas.

"Aku sudah istirahat kok. Tadi malam aku baru berbaring dan memejamkan mata pukul tiga pagi," jawabku sekenanya.

Aldo menggeleng pelan sambil tersenyum pasrah. "Tidur pukul tiga pagi itu sama sekali bukan istirahat yang baik, Tari. Itu namanya begadang."

Aku tersenyum canggung. "Aku tahu, tapi aku tak bisa menahannya begitu saja. Ide‑ide cerita itu terus mengalir tak mau berhenti. Setiap kali aku mencoba memejamkan mata, seolah‑olah tokoh‑tokoh dalam ceritaku itu berbisik‑bisik di telingaku, meminta agar kisah mereka segera kutuliskan dan kuselesaikan."

Aldo tertawa renyah mendengar penuturanku itu. "Kamu ini persis seperti orang yang kesurupan roh penulis."

"Ya... kesurupan ide dan imajinasi," jawabku ikut tertawa.

"Apapun namanya, aku sangat senang melihatmu seperti ini," ucapnya kemudian, menatapku lekat‑lekat dengan sorot mata yang bangga. "Kamu tampak begitu bersemangat, penuh gairah, berapi‑api... persis seperti orang yang benar‑benar menemukan makna hidupnya. Dan aku suka melihatmu hidup dengan penuh semangat begini."

Aku menatap wajahnya yang teduh itu, lalu bertanya dengan sedikit rasa ragu yang masih tersisa. "Kamu... kamu tidak pernah merasa bosan kan, Aldo?"

"Bosan? Bosan dengan apa?" tanyanya balik, tampak bingung.

"Bosan mendengarkan ceritaku yang selalu sama. Hampir setiap kali kita bertemu, pasti saja aku membahas hal yang sama: tokoh ini, tokoh itu, konflik yang muncul di bab ini, jalan cerita yang berubah di bab itu... seolah tak ada hal lain yang menarik bagiku selain tulisan itu," ungkapkan kekhawatiranku.

Aldo segera meraih tanganku, menggenggamnya erat dan hangat. "Tari, ketahuilah hal ini: aku tidak akan pernah, dan takkan pernah merasa bosan mendengarkan segala hal yang berkaitan dengan impian‑impianmu."

"Aldo..." gumamku haru.

"Karena bagiku, impianmu adalah bagian tak terpisahkan dari dirimu sendiri. Dan aku... aku jatuh cinta pada seluruh dirimu—mulai dari yang paling indah hingga hal‑hal kecil yang sekiranya mungkin dianggap orang lain sepele," ucapnya tulus tanpa ragu sedikit pun.

Aku tersenyum sambil menundukkan wajah, tersipu malu mendengar kata‑katanya yang begitu manis dan dalam. "Kamu ini suka sekali bicara berlebihan."

"Aku tidak berlebihan. Aku hanya bicara apa adanya, sesuai apa yang tertulis di dalam hatiku," bantahnya lembut namun tegas.

"Baiklah, baiklah... aku percaya," jawabku sambil mengelus punggung tangannya.

***

Menjelang pukul dua siang, ponselku yang tergeletak di samping pangkuan tiba‑tiba bergetar keras. Di layar tertulis nama penelepon: Mama.

Aku mengangkatnya dengan perasaan yang agak campur aduk—Mama jarang sekali meneleponku di tengah hari begini kecuali ada hal yang cukup penting.

"Halo, Ma? Ada apa di rumah?" sapaku.

"Tari, ada surat resmi datang untukmu dari kampus," ujar Mama dari seberang telepon. "Amplopnya tebal sekali, kertasnya terlihat bagus dan mewah."

Aku mengernyitkan dahi, penasaran sekaligus bingung. "Surat dari kampus? Isinya kira‑kira apa, Ma?"

"Aku belum membukanya sama sekali. Takut salah, ini kan surat tertutup yang ditujukan khusus padamu," jawab Mama. "Sebentar ya, Mama kirimkan fotonya lewat pesan WhatsApp supaya kamu bisa lihat sendiri."

Tak berapa lama kemudian, sebuah foto masuk ke galeri pesanku. Kulihat sebuah amplop berwarna putih bersih dengan lambang Universitas Indonesia tercetak jelas di sudut kiri atas. Di bagian tengah tertulis namaku lengkap: Tari Winata, dan tepat di bawahnya ada tulisan tegas bertinta biru: Penerimaan Beasiswa.

Detik itu juga, rasanya jantungku berhenti berdetak sejenak karena kaget yang luar biasa.

Beasiswa?

Aku sama sekali tak ingat pernah mendaftar program beasiswa apa pun—setidaknya tidak secara sadar. Namun ingatanku segera melayang ke beberapa bulan yang lalu, saat dosen pembimbingku memintaku mengumpulkan berkas beserta kumpulan tulisan cerpenku untuk keperluan apa yang ia sebut sebagai "seleksi pertukaran sastra". Waktu itu aku menurut saja tanpa banyak bertanya, mengira hal itu hanya sekadar formalitas belaka yang takkan berujung ke mana‑mana. Ternyata... dugaanku salah besar.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku membaca isi surat itu lewat foto yang dikirimkan Mama. Mataku bergerak perlahan, meneliti setiap baris kalimat dengan saksama.

"Dengan surat ini, kami mengumumkan bahwa Saudari Tari Winata telah terpilih sebagai penerima Beasiswa Sastra Nusantara untuk jenjang pendidikan Magister Seni Penulisan Kreatif di Universitas Melbourne, Australia..."

Aku berhenti sejenak membaca. Otakku terasa kosong, seolah tak mampu memproses informasi besar itu.

Melbourne... Australia...

Jarak yang sangat jauh. Dan masa studi yang akan berjalan selama dua tahun penuh.

Aku menarik napas panjang, lalu kembali melanjutkan bacaan ke bawah.

"...Bantuan pendidikan ini mencakup pembiayaan penuh biaya kuliah, tunjangan biaya hidup sebulan, serta tiket perjalanan udara pulang pergi Jakarta‑Melbourne. Program pembelajaran dijadwalkan akan dimulai pada bulan Agustus mendatang..."

Agustus... tinggal sekitar empat bulan lagi dari hari ini.

Aku meletakkan kembali ponsel itu ke pangkuanku dengan perasaan yang berdesir hebat—antara bahagia luar biasa namun juga diselimuti kegelisahan yang mendalam. Aldo yang sedari tadi memperhatikan perubahan raut wajahku segera mencondongkan tubuhnya mendekat.

"Tari, ada kabar apa? Kenapa wajahmu tiba‑tiba menjadi pucat begini?" tanyanya dengan nada khawatir.

Aku menatapnya, mataku—aku yakin—terlihat lebar dan penuh keterkejutan, persis seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tak terduga.

"Aldo... aku... aku mendapatkan beasiswa," jawabku terbata‑bata.

Aldo mengernyitkan dahi, sedikit lega namun tetap ingin tahu lebih jauh. "Beasiswa? Jenis beasiswa apa yang membuatmu begitu terkejut begini?"

"Beasiswa Sastra Nusantara... untuk melanjutkan pendidikan Magister Seni Penulisan Kreatif di Universitas Melbourne, Australia," jelasku perlahan, menekan setiap kata agar ia paham betapa besarnya arti berita ini.

Aldo terdiam seribu bahasa. Matanya perlahan membelalak, tak kuasa menahan rasa takjub yang tiba‑tiba datang.

"Australia..." bisiknya pelan, seolah kata itu berat sekali untuk diucapkan.

"Iya, Aldo... Selama dua tahun lamanya. Aku harus tinggal dan belajar di sana selama dua tahun penuh," tambahku dengan nada yang mulai bergetar.

Aldo masih diam, menatapku lekat‑lekat, matanya bergerak cepat seolah sedang memproses segala kemungkinan yang akan terjadi ke depannya.

"Kamu... kamu marah kan, Aldo?" tanyaku ragu, hati kecilku mulai diliputi kekhawatiran. "Kamu kecewa karena berita ini?"

Aldo segera menggeleng tegas. "Sama sekali tidak marah, Tari. Aku hanya... sangat terkejut, itu saja."

"Benarkah? Kamu benar‑benar tidak marah?" ulangku memastikan.

Ia lalu meraih kedua tanganku, menggenggamnya erat seolah ingin menyalurkan kekuatan kepadaku. "Tari, ini adalah kesempatan emas yang jarang sekali didapatkan orang lain. Kesempatan yang luar biasa hebat. Kamu wajib menerimanya."

Aku terperanjat mendengar jawabannya itu. "Apa? Maksudmu... aku harus pergi?"

"Tentu saja kamu harus mengambil kesempatan ini," ucapnya tegas namun tetap lembut. "Universitas Melbourne adalah salah satu universitas terbaik di dunia. Program yang kau ambil itu pas sekali dengan bakat dan minatmu dalam menulis. Dan semuanya ditanggung penuh oleh beasiswa. Ini mimpi yang menjadi kenyataan, Tari."

"Tapi Aldo... aku tak sanggup meninggalkanmu di sini sendirian," bantahku, air mata mulai menggenang di pelupuk mata.

"Kamu sanggup. Dan kamu harus berani melakukannya demi masa depanmu," jawabnya mantap.

Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Kamu... kamu bicara sungguh‑sungguh begitu?"

Aldo tersenyum—senyum yang terasa rapuh karena menahan berat hati, namun tetap tulus dan penuh keyakinan.

"Dengarkan aku baik‑baik, Tari," ucapnya serius. "Selama ini dalam hidupku, aku pernah kehilangan banyak hal berharga hanya karena aku terlalu takut mengambil risiko atau perubahan. Aku tak ingin hal yang sama menimpamu. Aku tak ingin kamu menyesal seumur hidup hanya karena kamu melepaskan peluang besar ini demi aku."

"Tapi aku justru takut kehilangan kamu kalau aku pergi jauh," suaraku pecah, menahan tangis.

Aldo tersenyum kembali, kali ini lebih hangat dan menenangkan. "Kamu takkan pernah kehilangan aku, Tari. Percayalah. Dua tahun itu sebenarnya bukanlah waktu yang lama."

"Bagaimana bisa dibilang tidak lama? Dua tahun itu panjang sekali, Aldo!" seruku tak setuju.

"Kalau kita hitung, dua tahun itu hanya sama dengan tujuh ratus tiga puluh hari. Sekitar tujuh belas ribu lima ratus dua puluh jam. Atau sekitar satu juta lima puluh satu ribu dua ratus menit saja," ucapnya pelan, menatap mataku dalam‑dalam. "Dan di setiap detik yang berlalu selama kamu berada di sana, aku akan selalu memikirkanmu, mendoakanmu, dan menunggumu pulang."

Air mataku akhirnya jatuh juga membasahi pipi. "Aldo... jangan bicara begitu, nanti aku makin sedih dan berat hati untuk berangkat."

"Aku sama sekali tak bermaksud membuatmu bersedih. Aku hanya ingin kamu paham betul: jarak sejauh apa pun takkan mampu mengubah perasaan yang aku miliki padamu," jawabnya lembut sambil mengusap air mataku dengan ujung jarinya.

"Aldo..."

"Pergilah, Tari. Kejarlah mimpimu setinggi langit. Jadilah penulis hebat yang selalu kamu cita‑citakan. Aku akan tetap ada di sini, setia menunggumu pulang kembali ke pelukanku."

Aku segera memeluknya seerat tenagaku, membenamkan wajah di bahunya, seolah tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. "Kamu sungguh yakin bisa menunggu begitu lama?"

"Aku yakin sepenuh hati," jawabnya tegas di sela‑sela pelukan kami.

"Dan... dan kamu takkan mencari orang lain untuk menggantikanku sementara aku pergi?" tanyaku lagi, masih dengan sisa keraguan kecil.

Aldo tertawa renyah—tawa yang ringan dan menyejukkan hati di tengah suasana yang penuh haru itu. "Wah, Tari... kamu kan sudah tahu sendiri, aku ini orangnya paling malas kalau harus berkenalan dan mendekati orang baru lagi. Butuh waktu bertahun‑tahun bagiku untuk bisa jatuh cinta sedalam ini padamu. Tak mungkin aku mau mengulangi proses yang panjang itu lagi dengan orang lain."

Aku ikut tertawa di sela‑sela tangis yang masih tersisa. "Kamu ini benar‑benar orang yang gila, Aldo."

"Ya, memang gila. Tapi kamu sendiri yang bilang kalau kamu suka sifatku yang begini kan?" candanya lembut.

"Ya... aku suka. Sangat suka," jawabku tulus.

Kami pun berdiam diri dalam pelukan yang erat itu, di bawah naungan pohon trembesi tua yang rindang, di tengah guguran daun kering yang tertiup angin, dan diiringi suara alam yang damai. Di saat itu juga, rasanya dunia terasa begitu berat karena jarak yang akan memisahkan, namun sekaligus penuh dengan harapan indah dan janji setia yang takkan pernah terputus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!