NovelToon NovelToon
BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

BOSS GALAK ITU CALON SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Eunoia Fashion

Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Berita tentang insiden di ruang rapat divisi pemasaran menyebar lebih cepat daripada wabah flu di musim pancaroba. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam, grup WhatsApp karyawan yang diberi nama samaran *'Lambe Turah Mahardika Undercover'* pasti sudah dipenuhi ribuan pesan baru. CEO kita yang terkenal sedingin es dan secuek batu nisan, Arkan Mahendra, baru saja tertangkap basah tersenyum—bahkan memuji—Manajer Pemasaran yang kini merangkap sebagai istrinya yang sah.

Bagi para karyawan, ini adalah anomali alam semesta tingkat tinggi. Kiamat sepertinya memang sudah dekat.

Aku kembali ke kubikel ruang kerjaku dengan perasaan campur aduk. Gengsiku sebagai wanita karier yang independen rasanya sedang dikuliti hidup-hidup, tapi di sisi lain, jantungku masih berdisko ria mengingat kecupan kilat Arkan di ujung hidungku tadi. Namun, lamunanku buyar saat melihat pemandangan aneh di meja kerjaku.

Rina, asistenku yang biasanya memanggilku dengan sapaan 'Mbak Naura' sambil mengunyah keripik kentang, kini berdiri tegak di samping mejaku dengan postur tubuh layaknya prajurit keraton. Di atas mejaku, terdapat segelas air mineral mahal berbotol kaca yang diimpor dari pegunungan Alpen, lengkap dengan selembar tisu yang dilipat membentuk angsa.

"Mbak... eh, maksud saya, Yang Mulia Ibu Direktur," sapa Rina dengan suara bergetar dan kepala menunduk dalam. "Apakah suhu AC di ruangan ini sudah pas untuk kulit sensitif Ibu? Atau Ibu ingin saya memanggil teknisi untuk menurunkan suhunya satu derajat lagi?"

Aku memijat pelipis yang mendadak berdenyut nyeri. "Rina, hentikan omong kosong ini. Sejak kapan kamu memanggilku Yang Mulia? Dan air apa ini? Di mana botol minum plastik bergambar Hello Kitty-ku?"

"S-sudah saya buang ke tempat sampah daur ulang, Bu! Benda plastik murahan seperti itu tidak pantas menyentuh bibir Nyonya Mahendra!" cicit Rina panik.

Aku menghela napas panjang, meratapi nasibku. Inilah yang paling kutakutkan dari pernikahan terang-terangan ini. Jarak sosial mulai tercipta. Timku yang biasanya suka menggosip soal diskon *skincare* denganku kini menatapku layaknya vas bunga porselen dari Dinasti Ming yang salah sentuh sedikit bisa memicu perang dunia.

"Dengar, semuanya!" seruku sambil berdiri, menatap seluruh staf divisi pemasaran yang kini menghentikan pekerjaan mereka. "Aku ini masih Naura! Manajer kalian yang sering memalak camilan kalian saat tanggal tua. Pernikahanku dengan Pak Arkan tidak mengubah hierarki kerja di ruangan ini. Jadi, kembalilah bersikap normal, atau aku akan mencoret bonus akhir tahun kalian!"

Ancaman itu sepertinya cukup ampuh. Bahu Rina merosot lega, dan beberapa staf mulai kembali bernapas normal.

"Syukurlah, Mbak Naura," Rina mengusap dadanya. "Habisnya, aura Pak Bos tadi ngeri banget. Kami kira kalau kami salah ngomong sedikit, besok kami sudah dideportasi ke pulau terpencil."

"Nah, untuk membuktikan bahwa aku masih Naura yang dulu," aku melirik jam tangan yang menunjukkan pukul dua belas siang, "hari ini aku yang traktir makan siang. Kita makan di bawah. Ayam Geprek Bu Tejo level lima, seperti biasa!"

Sorak-sorai langsung pecah di ruang pemasaran. Mengunjungi kantin bawah tanah atau yang sering disebut *'Underground Food Court'* adalah ritual suci karyawan Mahardika Group. Tempat itu panas, sumpek, beraroma minyak jelantah bercampur keringat perjuangan, tapi menyimpan surga kuliner paling lezat sekota Jakarta.

Tanpa mengirim pesan kepada suamiku yang sok berkuasa itu—karena aku tahu dia pasti akan melarang keras—aku menyelinap turun ke lantai dasar bersama timku.

Suasana kantin sangat ramai. Suara denting spatula beradu dengan wajan, teriakan pesanan, dan gosip antarkaryawan menggema di udara. Aku berdiri di antrean panjang stan Ayam Geprek Bu Tejo, menghirup aroma cabai rawit merah yang digoreng garing. Ini adalah kebebasan!

"Bu Tejo! Gepreknya lima porsi, ya! Yang satu cabainya dua puluh biji, jangan pakai tomat!" seruku ceria saat giliranku tiba.

"Siap, Mbak Naura cantik! Eh, Ibu Direktur deng! Wah, suatu kehormatan wajan butut saya bakal masak buat istri bos besar!" goda Bu Tejo sambil tertawa lebar, tangannya lincah mengulek sambal di cobek batu raksasa.

Aku baru saja hendak membalas candaan Bu Tejo, ketika tiba-tiba, suhu udara di kantin bawah tanah yang panas itu mendadak anjlok hingga ke titik beku.

Suara keriuhan ribuan karyawan seketika lenyap, seolah seseorang baru saja menekan tombol *mute* massal. Yang terdengar hanyalah suara mendesis dari minyak panas di wajan Bu Tejo. Semua mata tertuju pada pintu masuk utama kantin.

Jantungku rasanya anjlok sampai ke mata kaki saat melihat siapa yang berdiri di sana.

Arkan Mahendra. Sang CEO diktator, sang penguasa tertinggi, suamiku yang luar biasa tampan sekaligus menyebalkan, berdiri dengan setelan jas mahalnya di ambang pintu kantin. Di belakangnya, Hadi mengekor sambil memegang sebuah rantang kayu bersusun tiga bermotif bunga sakura Jepang yang ukurannya sangat tidak masuk akal. Di belakang Hadi, dua orang petugas keamanan berwajah sangar berdiri berjaga.

Arkan mengedarkan pandangan elangnya ke seluruh penjuru kantin. Tatapannya menembus asap pembakaran sate dan aroma gorengan, hingga akhirnya berhenti tepat pada sosokku yang mematung di depan stan Ayam Geprek.

Rahangnya mengeras. Dia mulai melangkah.

Seketika, kerumunan karyawan otomatis membelah diri. Lautan manusia itu memberi jalan seluas jalan tol untuk dilewati sang CEO. Tidak ada yang berani menatap matanya; semua orang menunduk layaknya rakyat jelata yang sedang diinspeksi oleh raja tiran. Sepatu pantofel kulit mahalnya berbunyi di atas lantai ubin kantin yang sedikit lengket.

"Mati aku," gumamku pelan, menyembunyikan wajah di balik punggung Rina yang kini sudah gemetar hebat.

Arkan berhenti tepat di belakangku. Aura intimidasinya begitu kuat hingga Bu Tejo yang sedang memegang ulekan batu pun mematung dengan mulut setengah terbuka.

"Manajer Naura," suara bariton rendah nan mematikan itu mengalun di telingaku.

Aku memutar tubuh perlahan, memaksakan cengiran paling polos yang bisa kubuat. "Eh... Mas Bos. Selamat siang. Bapak lagi inspeksi fasilitas karyawan, ya?"

"Saya sedang menginspeksi kewarasan istri saya," desis Arkan tajam, matanya menatap horor ke arah wajan penuh minyak hitam di belakangku. "Bisa tolong jelaskan padaku, kenapa kamu tidak ada di ruanganmu saat saya datang menjemput untuk makan siang, dan malah berada di tempat yang sirkulasi udaranya dipenuhi oleh partikel kolesterol jahat ini?"

Gengsiku seketika meronta. "Ini namanya kantin, Arkan. Tempat orang makan. Dan partikel kolesterol ini yang bikin makanannya enak! Kami sedang pesan Ayam Geprek Bu Tejo, ini makanan legenda di kantor ini!"

Arkan mengernyitkan dahi dengan ekspresi jijik yang luar biasa teatrikal. "Ayam yang dipukul hingga hancur lalu dilumuri dua puluh biji cabai rawit? Naura, kamu punya riwayat asam lambung bulan lalu. Saya tidak akan membiarkanmu berakhir di ruang UGD pada minggu pertama pernikahan kita hanya karena kamu nekat menelan bom waktu lambung."

Sebelum aku sempat protes, Arkan mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada asisten setianya. "Hadi, bersihkan tempat ini."

Hadi segera maju dengan sigap layaknya ninja. Dia memilih meja plastik bundar berwarna merah di sudut kantin yang sedikit lebih sepi. Mengeluarkan sekotak tisu basah disinfektan dari dalam saku jasnya, Hadi mulai menggosok meja dan kursi plastik itu dengan gerakan kalap, memastikan tidak ada satu pun bakteri yang selamat.

"Silakan, Pak Arkan, Bu Naura. Area ini sudah seratus persen steril," lapor Hadi sambil mengatur napas.

Arkan menarik pergelangan tanganku dengan lembut namun tak terbantahkan, menuntunku ke meja plastik tersebut. Dia memaksaku duduk, lalu dia sendiri duduk di kursi plastik biru di depanku. Pemandangan seorang Arkan Mahendra duduk di kursi plastik kantin benar-benar surealis, mirip seperti melihat pinguin berjemur di padang pasir.

Seluruh kantin masih hening. Ribuan pasang mata diam-diam menonton kami layaknya sedang menonton *live-streaming* sinetron romantis kelas premium.

"Kalian semua," Arkan tiba-tiba bersuara, menatap dingin ke sekeliling kantin. "Kembali makan. Anggap saya tidak ada di sini."

*Anggap tidak ada gundulmu!* jeritku dalam hati. Siapa yang bisa makan dengan tenang kalau ada CEO beraura malaikat maut duduk mengawasi di pojokan?!

Hadi meletakkan rantang kayu raksasa bergaya Jepang atau *Jubako* itu di atas meja steril kami, lalu membukanya satu per satu. Aroma mewah seketika mengalahkan bau minyak jelantah.

Tingkat pertama berisi susunan *sashimi* salmon segar dan telur ikan kaviar yang bersinar seperti mutiara. Tingkat kedua berisi potongan daging sapi *Wagyu A5* panggang tingkat kematangan *medium rare* yang disajikan dengan asparagus organik. Dan tingkat ketiga berisi nasi merah hangat dengan taburan wijen hitam.

"Ini makan siangmu hari ini," ucap Arkan mutlak, mendorong rantang itu ke hadapanku.

Aku menatap hidangan berharga jutaan rupiah itu, lalu melirik stan Bu Tejo yang kini terlihat sangat menyedihkan. Gengsiku sebagai pahlawan kelas pekerja belum mau menyerah.

"Arkan, aku sedang mentraktir timku. Aku tidak mungkin makan makanan semewah ini sendirian sementara stafku makan ayam geprek. Itu merusak citraku sebagai pemimpin yang merakyat!" bisikku tajam, mencondongkan tubuh ke depan agar tak terdengar orang lain.

Arkan menaikkan sebelah alisnya. Sebuah senyum miring yang sangat menyebalkan kembali terbit di bibirnya. Dia merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan dompet kulit hitam, dan menarik selembar kartu kredit berwarna hitam legam bertuliskan *'Arkan Mahendra - Infinite'*.

Dia menyerahkan kartu itu kepada Hadi tanpa menoleh. "Hadi, gesek kartu ini. Borong seluruh makanan di kantin ini. Beri tahu semua stan bahwa hari ini makan siang seluruh karyawan di gedung ini gratis. Tagihannya masukkan ke tagihan pribadiku."

Mata Hadi membelalak, namun dia segera mengangguk patuh. "S-siap laksanakan, Pak Bos!"

Dalam hitungan detik, Hadi mengumumkan berita tersebut lewat pengeras suara kantin. Sorak-sorai menggelegar dahsyat. Kantin yang tadinya tegang kini berubah layaknya arena konser perayaan tahun baru. Karyawan melompat kegirangan, berteriak memuja kebaikan sang CEO dan istrinya.

Aku ternganga. Arkan baru saja membeli gengsiku dengan cara yang paling kapitalis dan menyebalkan.

"Nah," Arkan menopang dagunya dengan tangan, menatapku dengan sorot mata yang tiba-tiba berubah sangat lembut, kontras dengan keriuhan di sekitar kami. "Masalah stafmu sudah selesai, Nyonya Mahendra yang merakyat. Sekarang, makan makanan sehatmu."

Aku mencebikkan bibir, merasa kalah telak, namun perutku yang berbunyi nyaring tak bisa lagi diajak kompromi. Kuambil sumpit kayu berukir itu dengan malas.

"Nasi merah rasanya seperti gabah," gerutuku pelan, sengaja memancing emosinya.

Bukannya marah, Arkan justru tertawa pelan. Sebuah tawa renyah yang sangat jarang kudengar, apalagi di tempat umum seperti ini. Dia merebut sumpit dari tanganku, mengambil sepotong daging Wagyu yang menggiurkan, lalu menyodorkannya tepat di depan mulutku.

"Buka mulutmu, Naura," perintahnya lembut namun posesif.

Mataku membelalak panik. "Arkan! Gila kamu?! Ribuan karyawan kita sedang menonton!" cicitku, wajahku pasti sudah semerah kepiting rebus saat ini.

"Saya tidak peduli. Biar mereka menonton," Arkan mencondongkan tubuhnya lebih dekat melintasi meja plastik merah itu. Matanya mengunci mataku dengan gairah dan kasih sayang yang membuat seluruh persendianku meleleh. "Buka mulutmu, Istriku. Atau saya sendiri yang akan membukanya dengan cara lain, tepat di sini, di depan wajan Bu Tejo."

Ancaman romantis bernada horor itu tak memberiku pilihan. Aku membuka mulutku sedikit, menerima suapan daging Wagyu yang rasanya langsung lumer di lidah, selezat hatiku yang kini meleleh tak bersisa.

Saat ujung jempol Arkan dengan lembut mengusap noda saus di sudut bibirku tanpa rasa canggung sedikit pun, riuh rendah suara siulan dan tepuk tangan menggema di seluruh kantin. Para stafku yang tadinya ketakutan kini bersorak menggoda, sementara aku hanya bisa menundukkan wajah dalam-dalam, menyembunyikan senyum malu-malu yang tak lagi bisa kutahan.

1
Maya Sari
Semangat💪
Eunoia Fashion: Terimakasih 🥰
total 1 replies
Read_Forever👄
bagus kak novelnya, semangat sampai tamat
Eunoia Fashion: terimakasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!