Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
"Ada apa?" Tanya teman di sampingnya.
"Sepertinya aku kenal sama dia,"jawab Gading sedikit ragu.
Mereka sejak kecil selalu bersama. Dia tahu Clara yang suka pada Edward.
Kalau boleh jujur, Clara sangat cantik tapi juga sangat pendiam. Cantiknya Clara hanya kecantikan biasa, tidak ada yang spesifik. Wanita seperti itu bukanlah kriteria yang Edward sukai.
Edward selalu menjaga jarak dengan Clara. Begitu juga mereka para sahabat Edward mereka juga tidak terlalu memperhatikan Clara.
Mereka tidak sering bertemu dengan Clara. Bertemu pun, mereka malas untuk sekedar menyapa.
Sebenarnya, mereka bahkan tidak begitu ingat perawakan. Gading masih ragu dengan apa yang dilihatnya barusan.
Namun, meski wanita barusan benar-benar. Dia juga tak mau memedulikannya.
Tanpa berkata-kata lagi, dia kembali masuk ke dalam ruangan.
......
Clara tidak memperhatikan Gading.
Begitu keluar restoran, dia langsung membawa Raisa pulang. Malam itu, dia pun harus menginap di rumah Raisa untuk menjaganya.
Raisa akhirnya terbangun. Saat melihat Clara bersamanya, dia lantas berterima kasih sambil memeluknya. Lalu berkata, "makasih ya, Clara semalam. Besok-besok aku traktir kamu makan, deh!"
Lara sudah selesai memasak sarapan. Dia menepuk kepala Raisa dengan lembut sambil berkata. "Cepat bangun, cuci muka. makannya udah mau dingin."
Raisa masih saja memeluknya. dia bahkan masih membenamkan wajahnya ke pinggang Clara seolah tak mau pergi. "Clar, kamu wangi, lembut, enak kalau dipeluk."celoteh Raisa tiba-tiba.
Clara yang mendengar itu pun tak bisa berkata apa-apa.
Selesai mencuci muka, Raisa tanpa kegirangan saat melihat sarapan belajar yang sudah clarasiakan di atas meja. Dia merasa, siapapun yang menikah dengan Clara, sama saja dengan menemukan harta karun.
Namun, teringat akan pernikahan Clara dan Edward. Dia tidak mengatakan karena khawatir akan membuat hati Clara terluka.
Raisa pun duduk dan menyantap sarapan sambil sibuk memainkan ponselnya.
Namun tak lama, laut wajahnya tiba-tiba berubah. "Edward sudah pulang, clar?" Tanyanya pada Clara.
"Ya," jawab Clara singkat.
Raisa memberikan ponselnya pada Clara.
Clara hanya melihatnya sekilas, terlihat status milik sahabatnya Edward, Gading.
Gading memasang beberapa foto yang tampak sedang berpesta semalam di statusnya.
Dia juga memasang judul cuitan [selamat ulang tahun cantik].
Meski berisi tentang ucapan selamat ulang tahun untuk Vanessa, hampir 5 foto yang dipajang adalah foto kebersamaan antara Vanessa dan Edward.
Terutama saat memotong kue Edward dan Vanessa memegang pisau dan memotongnya bersama.
Mengenai Elsa, gadis kecil itu dari awal hingga akhir tidak masuk ke dalam foto. Mungkin karena khawatir akan diketahui oleh anggota keluarga anggasta. Bagaimanapun, nenek keluarga anggasta dan nenek Clara berteman baik. Insiden antara ibu Clara dan Vanessa membuat nenek keluarga anggasta tidak menyukai Vanessa.
Nenek keluarga anggasta pasti akan marah besar seandainya tahu Edward membiarkan Elsa dekat dengan Vanessa.
Berbekal beberapa foto yang dipajang, semua orang pasti akan menyerah Edward dan Vanessa adalah sepasang kekasih.
Bisa dilihat, pesta ulang tahun itu memang disiapkan khusus Edward untuk Vanessa.
Teringat akan sambutan dingin yang diterimanya di hari ulang tahun setengah bulan lalu, Clara memilih untuk mengalihkan pandangannya.
"Clara," ucap Raisa khawatir menatap Clara.
"Aku baik-baik aja, apapun yang mereka lakukan bukan lagi urusanku." Clara mengembalikan ponsel Raisa sambil berkata, "aku sudah mengajukan cerai dengan Edward."
"Apa?!"
Raisa tampak terkejut, lalu lanjut berkata, "kamu, ini atas inisiatifmu sendiri, Clar?"
"Ya"
Sebenarnya, Raisa tidak pernah membenci Edward sebelumnya. Dia bahkan sempat kagum dan terpikat pada Edward.
Tidak ada hal lain, semua karena pria itu memang luar biasa.
Sedikit cerita, jama sekolah dulu Clara berhasil lompat kelas 3 tingkat dan lulus dari universitas ternama sebelum memasuki usia 18 tahun. Jalan tas mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi dan mendapat beberapa hak paten. Bagi Raisa hal itu cukup membuatnya takjub.
Namun, kabarnya Edward lulus dari universitas pada usia tiga belas tahun.
Begitu lulus kuliah, dia langsung melanjutkan studinya ke luar negeri.
Tak hanya itu, dia kembali. Dia sudah mendirikan beberapa perusahaan miliknya sendiri yang semuanya tercatat di bursa efek.
Pencapaian seperti itu berhasil Edward capai sebelum menginjak usia dua puluh tahun!
Perusahaan yang dirikan meliputi beberapa bidang seperti teknologi, kedokteran, hiburan, pariwisata dan lain-lain.
Beberapa tahun kemudian, dia mengambil alih anggasta Group sambil mendirikan perusahaannya sendiri.
Dalam beberapa tahun terakhir, diam dengan mudah membawa keluarga anggasta ke statusnya lebih tinggi.
Dalam lingkaran pertemanan mereka, semua pasti akan mengacungkan jempol saat membicarakan Edward.
Terlebih lagi, paras dan penampilan Edward juga sangat luar biasa.
Raisa pun tidak heran jenius seperti Clara akan jatuh hati pada Edward.
Di sisi lain, Edward memang cukup kejam terhadap orang-orang yang tidak disukainya.
Teringat bagaimana Edward selalu salah paham pada Clara dan sengaja menyia-nyiakan ketulusan Clara selama bertahun-tahun, WhatsApp pun kehilangan ketertarikannya pada pria itu.
Wisata betul seberapa besar cinta Clara pada Edward.
Selama ini minta berapa kali dia menyarankan pelari untuk bercerai
Namun Clara selalu menolaknya.
Tidak heran dia terkejut saat tahu Clara berinisiatif untuk bercerai dan pria itu.
Nafsu makannya sudah hilang, dia menataplah kau dan sedih sambil berkata, " apa yang sebenarnya terjadi?"
Hai saya yakin pasti terjadi sesuatu yang tidak diketahui. Bagaimana tidak? Clara yang selalu kukuh dan cintanya, kini berani mengambil inisiatif untuk bercerai.
Clara tampak berpikir sejenak, lalu berkata "sebenarnya bukan masalah besar juga, sih. Mungkin, aku udah cukup kecewa dan merasa lelah, jadi mau cerai."
Raisa memahami watak Clara. Dia tahu, begitu keputusan dibuat, Clara tidak akan mengubahnya dengan mudah meski untuk merelakan Edward sangat sulit baginya.
Clara sudah bertekad.
Raisa lantas memeluk sahabatnya ini.
"Nggak apa-apa, bercerai juga pilihan yang baik." Hiburnya.
"Ya" anggukan Clara.
Selesai sarapan, Clara meninggalkan kediaman Raisa dan langsung pergi bekerja.
Sebelum pindah ke rumah baru, meski bekerja di tempat yang sama. Clara dan Edward tidak pernah berangkat bersama. Salah satu harus berangkat terlebih dulu.
Selain itu Edward selalu menjaga jarak. Di kantor sekalipun, dalam sebulan belum tentu bisa bertemu.
Anehnya, saat sudah pindah Clara justru dua hari berturut-turut bertemu dengan pria itu.
Hari ini, penampilan Edward sama seperti sebelumnya. Tampan, tegap dan tenang. Sama seperti kebiasaan sebelumnya, setiap kali melihat Clara, ekspresi dingin di wajahnya semakin kuat.
Sekarang hanya melirik dan mengalihkan pandangannya. Sama seperti kemarin, dia menyapa dengan pelan, "pak Edward."
Setelah pria itu berjalan jauh, barulah dia masuk ke dalam perusahaan.
Hari ini entah Vanessa berkunjung lagi atau tidak ke perusahaan, Clara tidak peduli. Dia hanya ingin fokus dengan pekerjaannya.
Siang harinya, nenek keluarga harmosa meneleponnya.
"Clara, nenek dapat kiriman kambing dari kota lagan. Sekarang, cuaca mulai dingin. Malam nanti kamu datang ke sini, ya. Nenek udah minta orang masakan kambing untuk."
Hati Clara terasa hangat saat mendengar suara ramah neneknya, selalu menjawab, "baik, nek. sepulang kerja aku langsung ke sana."
Hari itu, lara tidak bertemu Edward kecuali di pagi tadi.
Clara sudah mengemasi barangnya dan bersiap untuk pulang. Namun, saat anda pulang Rio membelinya sebuah dokumen dan memintanya untuk menyelesaikan segera.
Clara pun terdiam.
Dia diminta untuk segera menyelesaikannya? Dia membaca sekilas dan menyadari dokumen itu tidak begitu penting dan bisa diselesaikan besok.
Kalau dulu, dia pasti akan dengan senang hati menerimanya dan berjanji akan menyelesaikannya secepat mungkin.
Intinya dia tidak ingin ada perlakuan khusus padanya.
, dia tidak ingin menjadi orang yang perfeksionis. Apalagi masih berkaitan dengan Edward. Terlebih lagi dia juga sangat lelah hari ini.
Clara hanya ingin pulang cepat waktu dan menemani neneknya, tidak ingin lembur.
Sebelumnya, dia selalu ingin menjalin hubungan yang baik dengan sekretaris pribadi Edward.
Namun sekarang, dia tak perlu melakukannya.
Ditambah lagi kejadian kemarin masih tengiang di benaknya. Bagaimana tidak, Rio menuduhnya tanpa bukti kemarin. Mana mungkin, dirinya bisa melupakan kejadian seperti itu begitu saja.
"Aku nggak bisa kerjain itu sekarang, aku mau pulang." Ucapnya dengan ada dingin sambil menatap Rio.