NovelToon NovelToon
Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Mata Malaikat Dan Titisan Si Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Iman Darul

Seorang bayi terlahir dalam keadaan cacat buta diberi nama Jalaludin Al Bulqini. Kesaktiannya di dapatkan dari darah sang ibu yang ternyata keturunan Si Buta Dari Gua Hantu.

Di saat bersamaan lahir seorang bayi yang juga buta, yang akan menjadi lawan antara putih dan hitam. baik dan buruk.

mereka memperebutkan mustika yang ternyata tersimpan di dalam tubuh seorang perempuan yang lahir di waktu yang sama, keturunan Ratu Ageng Subang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iman Darul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Kelopak Mata yang Tertutup

Seminggu telah berlalu sejak malam yang menggosongkan rambut Rismawati, namun suasana di rumah kayu Ciampea itu masih terasa seperti medan perang yang baru saja gencat senjata. Ahmad Syihabudin duduk di kursi kayu ruang tamu, memperhatikan istrinya yang sedang sibuk menyuapi Jalaludin.

​"Neng, itu botol ketiga. Apa nggak kekenyangan si dede?" tanya Ahmad, matanya melotot melihat betapa cepatnya susu formula itu tandas.

​Risma tidak menoleh, tangannya tetap kokoh memegang botol. "Akang lihat sendiri, kan? Kalau dilepas, dia nangisnya bukan kayak bayi, tapi kayak orang lagi demo! Hauwek, hauwek! begitu suara lapar badannya."

​Ahmad mendekat, mengamati wajah bayi yang tenang itu. "Tapi matanya, Neng. Sudah tujuh hari, kok nggak ada niat mau melek sedikit pun? Apa dia masih ngantuk gara-gara efek setrum tempo hari?"

​"Makanya, ayo kita ke Puskesmas sekarang. Aku juga hariwang, Kang. Takutnya kelopak matanya kelengketan atau bagaimana," jawab Risma sembari menggendong Jalal yang tampak sangat puas setelah menghabiskan susunya.

​Sesampainya di Puskesmas, keruwetan baru dimulai. Di sebuah ruangan kecil yang bau karbolnya menyengat, seorang bidan senior bernama Bu Siti menatap Ahmad dan Risma dengan tatapan penuh selidik. Ia membolak-balik tumpukan berkas di meja dengan kasar.

​"Namanya siapa tadi? Jalaludin Al Bulqini? Lahir tanggal sembilan belas September?" tanya Bu Siti, suaranya ketus.

​"Betul, Bu Bidan. Itu anak kami, ganteng kan?" Ahmad mencoba mencairkan suasana dengan senyum khas Arab-nya.

​Bu Siti meletakkan kacamata di ujung hidung. "Masalahnya, Pak Ahmad, saya sudah cek semua buku register persalinan minggu lalu. Tidak ada nama Rismawati yang melahirkan di sini. Di dukun beranak Mak Odah juga tidak ada laporannya. Ini bayi dari mana?"

​Ahmad tertegun, melirik Risma yang mulai gelisah. "Anu, Bu... lahirnya di rumah. Dadakan. Pas petir gede itu, lho."

​"Lahir di rumah kok tidak lapor?" potong Bu Siti cepat. "Zaman sekarang lahir di rumah itu prosedurnya ribet. Ini bayinya sah tidak? Jangan-jangan Bapak nemu di pinggir kali?"

​"Sembarangan!" Risma menyambar, suaranya naik satu oktaf. "Ibu lihat muka suami saya, terus lihat muka bayi ini. Mirip kan hidungnya? Masa saya nemu bayi yang nyetrum begini di kali?"

​"Nyetrum?" Bu Siti mengernyitkan dahi.

​"Maksudnya... menggetarkan hati, Bu," Ahmad cepat-cepat menimpali sambil menginjak kaki Risma di bawah meja. "Begini saja, Bu Bidan yang terhormat. Kita damai saja. Tolong buatkan surat keterangan lahirnya, biar kami bisa urus Akta. Berapa biayanya? Saya bayar, asal jangan dipersulit. Kasihan matanya nggak mau buka."

​Bu Siti diam sejenak, menatap Ahmad lalu menatap Jalal yang anteng di gendongan. Setelah terjadi tawar-menawar yang alot dan Ahmad terpaksa merogoh kocek lebih dalam dari tarif resmi, Bu Siti akhirnya luluh.

​"Sini, biar saya periksa dulu matanya," kata Bu Siti sembari memakai sarung tangan karet.

​Ia menyalakan senter kecil, mengarahkan cahayanya ke kelopak mata Jalaludin yang tertutup rapat. Ia mencoba membuka kelopak itu dengan jempolnya secara perlahan. Ahmad dan Risma menahan napas. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding yang lambat.

​Setelah beberapa menit yang terasa seperti satu jam, Bu Siti mematikan senternya. Ia menghela napas panjang dan menatap Risma dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

​"Bu Risma, Pak Ahmad... saya harus bicara jujur," suaranya merendah.

​"Kenapa, Bu? Kurang vitamin ya?" tanya Risma, mencoba tertawa kecil meski tangannya gemetar.

​"Bayi ini... dia buta sepenuhnya. Bukan karena kelopak matanya lengket, tapi memang sarafnya tidak merespons cahaya sama sekali. Dia tidak akan pernah bisa melihat dunia ini, Pak, Bu."

​Deg. Jantung Ahmad seolah berhenti berdetak. Ia menatap Risma yang seketika pucat pasi.

​"Maksudnya... selamanya, Bu Bidan?" suara Ahmad parau.

​"Secara medis, iya. Mohon bersabar ya. Ini surat-suratnya, silakan diurus administrasinya di depan."

----

​Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Ahmad mengendarai motor tuanya dengan kecepatan sangat rendah, sementara Risma di boncengan belakang terus memeluk Jalaludin erat-erat. Air matanya menetes mengenai kain bedongan sang bayi.

​"Kang... gimana kalau nanti dia besar? Masa dia nggak tahu rupa wajah ibunya sendiri?" bisik Risma di tengah deru mesin motor.

​Ahmad menarik napas dalam, berusaha tegar. "Ya nggak apa-apa, Neng. Kan ada Akang. Nanti kita jadi matanya Jalal. Kita ceritakan dunia ini lewat omongan. Lagian, mungkin ini berkah, biar dia nggak usah lihat betapa puyengnya Akang kalau lagi nggak punya duit."

​"Akang mah... masih bisa bercanda," Risma menyeka air matanya, sedikit tersenyum meski getir. "Tapi bener juga sih, nanti kalau dia sudah besar, dia nggak bakal tahu kalau bapaknya ini mirip orang Arab tapi hobinya makan jengkol."

​"Nah, itu poin plusnya!" sahut Ahmad, mencoba menghibur istrinya.

​Saat motor mereka melewati jalanan setapak yang sepi di dekat hutan bambu Ciampea, seorang kakek tua mendadak muncul dari balik pohon. Pakaiannya compang-camping, rambutnya putih panjang tak terawat, dan tangannya menengadah meminta-minta.

​Ahmad menghentikan motornya. "Aduh, Kek, bikin kaget saja."

​Ahmad merogoh saku, mengeluarkan uang receh sisa administrasi tadi. "Ini, Kek. Maaf cuma sedikit."

​Kakek itu menerima uang tersebut, tapi matanya yang keruh justru terpaku pada bayi di pelukan Risma. Ia mendekat, baunya seperti tanah basah dan kemenyan.

​"Anak ini..." suara kakek itu berat dan bergetar. "Dia lahir saat langit terbelah, bukan?"

​Risma tersentak. "Kakek tahu dari mana?"

​"Jangan sedih karena matanya gelap, Cah Ayu," kakek itu tersenyum, memperlihatkan giginya yang tinggal dua. "Dia adalah anak ajaib yang hanya lahir seribu tahun sekali. Matanya tertutup di dunia ini, tapi terbuka lebar di dunia yang lain. Dia bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat oleh raja-raja paling sakti sekalipun."

​"Maksud Kakek apa? Jangan nakut-nakutin," ujar Ahmad curiga.

​"Darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah yang dicari oleh para penguasa kegelapan. Jaga dia baik-baik. Kekuatan besar menuntut pengorbanan yang besar pula. Titisan Si Buta telah kembali untuk menyelesaikan apa yang belum tuntas."

​Kakek itu kemudian berbalik dan berjalan masuk ke dalam rimbunnya hutan bambu dengan langkah yang anehnya sangat cepat untuk orang seusianya. Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan.

​Ahmad dan Risma saling berpandangan. Hening menyelimuti mereka berdua.

​"Kang... kakek itu tadi bilang apa? Titisan Si Buta?" Risma berbisik ngeri.

​Ahmad menyalakan kembali mesin motornya. "Sudahlah, Neng. Mungkin itu orang gila yang kebanyakan baca novel Kho Ping Hoo kayak kamu. Masa anak kita dibilang titisan pendekar. Kita pulang yuk, si Jalal kayaknya mau minta makan lagi."

​Risma menatap wajah bayinya yang masih terlelap. "Tapi kalau dipikir-pikir, Kang... kalau dia emang sakti kayak kata kakek tadi, berarti yang diceritakan bapakku, benar, Neng turunan pendekar. Maling nggak bakal berani masuk ke rumah kita, kalau begitu."

​"Iya, Neng. Malah malingnya yang disuruh salto sama si Jalal," balas Ahmad sambil memacu motornya.

​Meskipun mereka mencoba bercanda untuk menutupi rasa guncang di hati, ada satu hal yang tidak bisa mereka sangkal. Sejak pertemuan dengan kakek itu, udara di sekitar Jalaludin terasa berbeda. Lebih dingin, namun lebih kuat. Di balik kelopak mata yang terkunci itu, sebuah kekuatan raksasa sedang mengintip, menunggu saat yang tepat untuk melihat dunia melalui cara yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh manusia biasa.

​"Jalaludin Al Bulqini," gumam Ahmad di dalam hati. "Apapun kamu nanti, kamu tetap anak Bapak."

​Dan di kejauhan, guntur kecil berbunyi di langit yang bersih, seolah menyahuti ucapan sang ayah. Pertaruhan hidup Ahmad baru saja memasuki babak yang jauh lebih serius.

1
Muqimuddin Al Hasani
💪 terimakasih
T28J
semangat a' /Rose//Rose//Rose//Rose/
T28J
keren pembukaan nya kak 👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
Sebuah karya yang diambil dari legenda Indonesia
T28J
👍👍👍
Muqimuddin Al Hasani
tadinya mau dioplos mbg
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣 untung nggak pake pestisida
T28J
anjay dioplos pakek darah
Muqimuddin Al Hasani
🤣🤣🤣 teu nyaho ieu rek komedi
T28J
eleuh eleuh si risma.. /Facepalm/
T28J
ngegeledak sia langsung mencret 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!