"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Keesokan harinya, Aira tidak bisa fokus melakukan apa pun. Ia merasa bersalah sekaligus kesal. Namun, sebagai istri, ia tahu ia tidak boleh membiarkan konflik ini berlarut-larut. Ia pun mendapat ide.
Ia meminta koki dapur untuk membantunya menyiapkan beberapa kotak bakwan jagung dan sambal terasi spesial. Ia juga membuat nasi bakar bungkus daun pisang, makanan yang dulu sangat disukai Dewa saat mereka masih makan di teras kontrakan.
"Pak Bambang, kita ke Surabaya sekarang," perintah Aira.
"Surabaya, Nyonya? Tapi ini sudah sore, lewat darat atau udara?" tanya Pak Bambang kaget.
"Tolong carikan tiket pesawat paling cepat. Saya mau kasih kejutan buat Mas Dewa," ucap Aira mantap.
Nyonya Widya yang melihat menantunya sibuk di dapur bertanya dengan heran. "Aira, kamu mau ke mana?"
"Mau nyusul Mas Dewa, Ma. Dia lagi merajuk karena cemburu," jawab Aira sambil tersenyum malu.
Nyonya Widya tertawa kecil. "Dewa itu memang mirip ayahnya. Kaku seperti batu tapi hatinya lembut kalau sudah ketemu istrinya. Pergilah, bawa dia pulang dengan selamat."
Malam itu, Dewa sedang duduk di balkon hotelnya di Surabaya, menatap lampu kota dengan perasaan hampa. Ia menyesal telah menutup telepon Aira kemarin. Ia ingin menelepon balik, tapi gengsinya sebagai CEO setinggi gedung yang ia bangun.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan di pintu kamar hotelnya.
"Hans? Aku bilang tidak mau diganggu," seru Dewa tanpa menoleh.
Ketukan itu kembali terdengar, kali ini lebih berirama. Dewa dengan kesal bangkit dan membuka pintu.
"Aku bilang tidak mau..." Kalimat Dewa terhenti.
Di depan pintunya berdiri Aira. Ia mengenakan gamis sederhana, jilbabnya sedikit berantakan karena perjalanan jauh, dan di tangannya ia memegang sebuah tas bekal yang sangat familiar.
"Ada yang pesan bakwan jagung tanpa cemburu?" tanya Aira dengan senyum manis yang membuat hati Dewa runtuh seketika.
Dewa terdiam selama lima detik penuh, sebelum akhirnya ia menarik Aira masuk ke dalam kamar dan memeluknya sangat erat. "Ai... kamu gila ya? Kamu terbang sendirian ke sini?"
"Habisnya ada orang kaya yang sifatnya seperti anak kecil, jadi aku harus samperin," ledek Aira di dalam dekapan Dewa.
Dewa melepaskan pelukannya, menatap wajah Aira dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku, Ai. Aku cuma... aku tidak tahan membayangkan ada laki-laki lain yang melihat senyum kamu sesenang itu. Aku tahu aku egois."
Aira mengusap pipi Dewa. "Mas... senyumku ke Adit itu cuma senyum ramah ke teman. Tapi senyumku yang ini," Aira tersenyum sangat tulus, "cuma milik Mas Dewa. Paham?"
Dewa mengangguk pelan, ia merasa sangat kecil di depan ketulusan istrinya. Ia kemudian melihat tas bekal yang dibawa Aira. "Itu... bakwan jagung?"
"Iya. Masih hangat lho. Tadi aku minta pramugari di pesawat buat jaga suhunya," canda Aira.
Mereka pun duduk di karpet hotel yang mewah, makan nasi bakar dan bakwan jagung dari satu piring yang sama, persis seperti yang mereka lakukan di kontrakan. Kemewahan hotel bintang lima itu mendadak terasa seperti rumah yang hangat.
"Mas," panggil Aira di sela-sela makan mereka.
"Ya, Sayang?"
"Terima kasih ya sudah bekerja keras buat aku dan Mama. Aku tahu Mas capek, harus urus perusahaan yang besar ini. Aku janji akan selalu ada di samping Mas, biar Mas tidak merasa sendirian lagi," ucap Aira dengan mata berkaca-kaca.
Dewa meletakkan sendoknya, ia meraih tangan Aira dan menciumnya lama. "Bukan aku yang hebat, Ai. Tapi kamu. Kamu yang bikin aku mau pulang ke rumah. Kamu yang bikin aku ingin jadi orang yang lebih baik setiap harinya."
Malam itu, di Surabaya, konflik ringan mereka berakhir dengan pelukan dan janji untuk saling percaya. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi cemburu yang berlebihan.
Keesokan paginya, mereka kembali ke Jakarta bersama. Di bandara, Dewa terus menggandeng tangan Aira seolah takut istrinya akan hilang.
"Mas, malu dilihat orang! Mas itu CEO!" bisik Aira saat banyak orang memperhatikan mereka.
"Biar saja. Biar seluruh dunia tahu kalau CEO Pradipta Group sudah punya pemiliknya," sahut Dewa bangga.
Sesampainya di rumah, mereka disambut oleh pemandangan yang tidak biasa. Di halaman depan, sudah ada sebuah tenda besar yang sedang didirikan.
"Lho, ada acara apa, Ma?" tanya Dewa saat melihat ibunya sibuk mengatur pelayan.
Nyonya Widya tersenyum misterius. "Ini ide Mama. Karena kemarin peresmian yayasan baru berjalan lancar, Mama ingin mengadakan syukuran kecil-kecilan. Tapi, Mama ingin semua tetangga lama Aira di gang sempit itu diundang ke sini. Kita akan makan besar bersama mereka."
Aira menutup mulutnya karena tidak percaya. "Mama... Mama serius?"
"Iya, Aira. Mama ingin mereka tahu kalau kamu adalah kebanggaan kami." ucap Nyonya Widya tulus.
Aira langsung memeluk ibu mertuanya dengan erat. "Terima kasih, Ma... terima kasih banyak."
Dewa merangkul kedua wanita paling berharga dalam hidupnya itu. Ia merasa hidupnya kini benar-benar lengkap. Dari gang sempit menuju istana, cintanya pada Aira tetap sama, seperti bakwan jagung yang selalu hangat di setiap suasana.
~~
Malam harinya, rumah megah Pradipta berubah menjadi sangat ramai. Tetangga-tetangga lama Aira datang dengan wajah kagum namun tetap dengan keramahan mereka yang khas. Ada Bu RT yang cerewet, ada tukang sayur langganan Aira, bahkan anak-anak kecil yang dulu sering bermain di depan kontrakan.
Dewa tidak lagi memakai setelan jas mahal. Ia hanya memakai kemeja batik santai dan celana kain. Ia menyalami mereka satu per satu dengan ramah, tidak ada lagi aura CEO yang dingin.
"Wah, Mas Dewa! Ternyata benar ya jadi orang kaya! Dulu saya pikir Mas Dewa itu kuli beneran karena ototnya gede banget!" seru salah satu tetangga yang membuat semua orang tertawa.
"Otot saya gede karena sering bantu istri saya angkat jemuran, Pak!" sahut Dewa bercanda yang disambut tawa riuh.
Aira merasa sangat bahagia. Ia melihat teman-temannya makan dengan lahap, menikmati hidangan mewah yang disiapkan koki Pradipta namun dengan suasana yang sangat merakyat.
Di akhir acara, Dewa berdiri di depan semua tamu undangan sambil memegang tangan Aira.
"Terima kasih sudah datang ke rumah kami. Saya ingin menyampaikan satu hal... rumah ini terbuka untuk kalian semua. Karena tanpa doa dan kebaikan kalian saat kami susah dulu, mungkin kami tidak akan berdiri di sini hari ini. Dan yang paling penting," Dewa menatap Aira dengan penuh cinta, "terima kasih untuk istriku, Aira. Kamu adalah mahar terindah yang pernah diberikan Tuhan dalam hidupku."
Tepuk tangan membahana di halaman rumah Pradipta. Aira menyandarkan kepalanya di bahu Dewa, air mata bahagianya menetes.
...----------------...
**To Be Continue** ....