NovelToon NovelToon
Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Kisah Pedang Penakluk Tiga Ribu Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yuzuki chan

Kaisar Pedang Langit, Cang Yue, menemui ajalnya di ujung bilah sang saudara seperguruan, Feng Jiantian. Alih-alih lenyap menjadi abu, jiwanya menyeberangi lautan reinkarnasi dan menetap di tubuh Yan Xinghe—seorang pemuda lumpuh dengan meridian hancur di Benua Tanah Spiritual. Tanpa keajaiban instan, Xinghe harus memulai dari titik terendah. Bermodalkan ingatan masa lalu dan tekad baja, ia merangkak naik, menahan penderitaan luar biasa untuk menempa ulang tubuh fana-nya. Ini adalah epik perjalanan darah dan keringat menembus benua demi benua, membelah Tiga Ribu Dunia, demi merebut kembali takhta keabadian yang terampas.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuzuki chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7 eksekusi bintang berdarah dan langkah menuju awan

Malam bergemuruh saat kilat membelah langit kelabu di atas Desa Kabut Berbisik. Hujan yang turun rintik-rintik seketika berubah menjadi deras, seolah langit berusaha mencuci dosa yang akan segera tertumpah.

Saat kaki pengawal pertama menginjak garis merah yang terlukis di tanah pelataran keluarga Yan, udara di sekitar reruntuhan gubuk itu terdistorsi dengan hebat. Sebuah kubah energi tipis berwarna merah kehitaman melesat naik dari tanah, mengurung radius tiga puluh meter persegi dalam hitungan detik. Empat puluh kultivator bayaran yang menerjang masuk dengan teriakan buas mendadak terdiam. Suara hujan dari luar kubah menghilang seketika, digantikan oleh keheningan mutlak yang mencekik paru-paru.

Gongsun Tian yang berada di barisan belakang mengerutkan dahi. Firasat mematikan merayap naik dari pangkal tulang belakangnya. Sebagai praktisi Tingkat Kesembilan Penyempurnaan Tubuh, instingnya jauh lebih tajam dibandingkan para bayarannya.

"Berhenti! Mundur ke luar garis!" raung Gongsun Tian, mengangkat tombak peraknya.

Perintah itu terlambat diucapkan.

Di tengah kubah darah tersebut, Yan Xinghe yang duduk bersila perlahan membuka matanya. Manik matanya memancarkan kilatan ungu yang dingin. Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya menyatu membentuk segel pedang, lalu diarahkan ke langit yang tertutup energi formasi.

"Bintang Pertama: Pemisah Daging dan Tulang."

Bersamaan dengan kata-kata yang meluncur sedingin es abadi itu, tiga puluh enam pedang besi yang tertancap di berbagai sudut pelataran bergetar hebat. Logam-logam kusam itu merespons tarikan Niat Pedang dan katalisator darah yang mengalir di tanah. Dalam sekejap mata, puluhan pedang tersebut melesat terbang dari sarangnya, melayang di udara menentang hukum gravitasi.

Bilah-bilah pedang itu tidak lagi berwarna perak atau berkarat, melainkan memancarkan pendar merah darah yang menyilaukan. Mereka bergerak layaknya sekawanan hiu kelaparan yang mencium bau anyir di tengah lautan.

*Syuut! Syuut! Syuut!*

Jeritan pertama terdengar dari arah sayap kiri. Tiga orang pengawal terbelah menjadi dua bagian di bagian pinggang sebelum mereka bahkan sempat mengangkat senjata untuk menangkis. Formasi ini tidak menyerang dengan lintasan lurus, melainkan mengikuti pola rasi bintang yang bergerak acak dan melengkung di luar nalar manusia.

"Apa ini?! Sihir iblis!"

"Pedang-pedang itu hidup! Lari!"

Kepanikan meledak. Para pembunuh bayaran yang tadinya beringas kini saling dorong berusaha mencari jalan keluar. Walaupun begitu, saat mereka mencoba menerobos dinding kubah energi, sebuah tolakan keras melempar mereka kembali ke tengah pelataran. Mereka benar-benar terperangkap di dalam kandang pembantaian.

Pedang-pedang terbang itu terus menari. *Formasi Pembantai Dewa Tiga Puluh Enam Bintang* versi fana ini murni mengandalkan energi sisa darah musuh dan Niat Pedang milik Xinghe untuk bergerak. Setiap kali satu nyawa melayang, darah segar membasahi tanah, memberikan bahan bakar tambahan bagi formasi untuk berputar semakin cepat.

Dalam sepuluh tarikan napas, lima belas orang elit bayaran tewas dengan tubuh terpotong-potong. Darah menggenang hingga setinggi mata kaki. Aroma anyir yang pekat membuat beberapa pengawal yang masih hidup memuntahkan isi perut mereka.

Gongsun Tian menggeram penuh murka. Matanya merah menyala melihat hartanya—pasukan yang ia bangun selama puluhan tahun—dibantai seperti ayam di atas talenan. Ia memutar tombak peraknya dengan kecepatan tinggi, menciptakan perisai angin yang memantulkan tiga pedang terbang yang mengincarnya.

*Trang! Trang! Trang!*

Benturan itu membuat tangan Gongsun Tian kebas. "Bocah Iblis! Kau menggunakan sihir sesat! Aku akan menghancurkan inti formasimu!"

Gongsun Tian memusatkan pandangannya pada sosok pemuda kurus yang duduk tenang di tengah badai darah tersebut. Mengabaikan anak buahnya yang bergelimpangan merintih kesakitan, Kepala Desa itu memfokuskan seratus persen energi Tingkat Kesembilannya ke kedua kakinya. Ia melesat maju bagai badak cula raksasa, menabrak dan menginjak mayat bawahannya sendiri tanpa ampun demi mencapai posisi Xinghe.

Di sisi lain, Xinghe tidak sedang bersantai. Wajahnya sepucat kertas. Mengendalikan tiga puluh enam senjata terbang sekaligus menggunakan kesadaran spiritual tanpa dukungan Dantian yang mumpuni merupakan beban penyiksaan yang luar biasa. Darah segar menetes perlahan dari sebelah lubang hidungnya. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, berdenyut keras menahan tekanan.

"Fisik ini masih terlalu lemah," evaluasi Xinghe dalam hati. "Waktunya mengakhiri permainan kecil ini."

Melihat Gongsun Tian menerobos barikade pedang terbang, Xinghe mengubah segel tangannya. Tiga puluh enam pedang yang sedang berburu mangsa di seluruh pelataran mendadak berhenti di udara. Atas satu komando tak bersuara, puluhan bilah itu berputar arah, menukik tajam secara serempak menuju satu titik: Gongsun Tian.

Gongsun Tian yang sedang berlari kencang tiba-tiba merasakan hawa kematian mengepungnya dari segala penjuru. Ia menghentikan langkahnya secara paksa. Ia menusukkan pangkal tombaknya ke tanah, lalu meledakkan seluruh energi spiritual dari dalam meridiannya.

"Seni Bertahan Gunung Karang!"

Aura kuning kecokelatan meledak dari tubuh pria paruh baya itu, membentuk proyeksi lonceng batu raksasa yang menyelimuti tubuhnya. Ini adalah teknik pertahanan tingkat menengah yang tidak mungkin ditembus oleh senjata fana.

*BENTURAN BERTUBI-TUBI!*

Tiga puluh enam pedang darah menghantam lonceng batu itu seperti badai meteor. Suara dentuman memekakkan telinga mengguncang seluruh kubah formasi. Retakan demi retakan muncul di permukaan lonceng aura tersebut. Gongsun Tian memuntahkan seteguk darah, organ dalamnya terguncang hebat menahan pantulan energi, tekadnya untuk bertahan hidup membuatnya terus menyalurkan tenaga.

Pada hantaman pedang ketiga puluh lima, lonceng batu itu akhirnya hancur berkeping-keping. Pedang terakhir, pedang ketiga puluh enam, melesat lurus mengincar tenggorokan Gongsun Tian.

Dengan raungan keputusasaan bercampur amarah, Gongsun Tian mengayunkan tombak peraknya, menghancurkan pedang terakhir itu menjadi serpihan besi. Formasi darah di tanah seketika meredup dan padam. Kubah energi menghilang, membiarkan hujan deras kembali mengguyur pelataran yang kini menyerupai neraka dunia.

Dari empat puluh pengawal, tidak ada satu pun yang tersisa berdiri. Hanya tumpukan daging dan lautan merah yang mengelilingi Gongsun Tian.

Kepala Desa itu berdiri terengah-engah. Jubah mewahnya robek di belasan tempat, menyisakan luka sayat yang menyakitkan. Matanya menatap liar ke arah Yan Xinghe yang kini perlahan bangkit berdiri dari posisi silanya.

Xinghe mengusap aliran darah di hidungnya menggunakan punggung tangan. Ia mencabut pedang besi berkarat miliknya sendiri yang sedari tadi tergeletak di pangkuannya. Meskipun formasi telah hancur, ia tidak terlihat panik sedikit pun.

"Kau menghancurkan segalanya," desis Gongsun Tian, suaranya serak membawa dendam kesumat yang meluap-luap. "Keluarga Gongsun, kekayaanku, pasukanku, putraku! Aku akan mencabik-cabik jiwamu hingga kau memohon untuk tidak pernah dilahirkan!"

"Kau menabur benih badai saat kau memutuskan untuk menginjak yang lemah, Gongsun Tian. Malam ini, kau hanya menuai panennya," jawab Xinghe datar. Ia mengayunkan pedangnya ke samping, melepaskan sisa karat yang masih menempel berkat aliran energi petir ungu yang mulai menyelimuti bilahnya.

"Mati!"

Gongsun Tian tidak membuang waktu untuk berdebat. Ia melesat dengan kecepatan penuh, tombak peraknya berputar menciptakan bor angin yang menargetkan jantung Xinghe. Jurus *Tombak Pembor Awan*. Jarak sepuluh meter tertutup dalam sekejap mata.

Tingkat Kesembilan melawan Tingkat Ketiga. Perbedaan enam tingkat kecil ini adalah jurang yang secara logika tidak bisa dijembatani. Kekuatan fisik, kecepatan, dan kapasitas energi Gongsun Tian berada jauh di atas Xinghe.

Xinghe sangat menyadari hal itu. Jika ia menangkis pukulan ini secara langsung, tulang lengannya akan remuk seketika.

Saat ujung tombak itu nyaris menembus dadanya, kaki Xinghe bergeser setengah inci ke kanan menggunakan *Langkah Bayangan Hantu*. Tombak itu membelah pakaiannya, menggores kulit dadanya hingga mengeluarkan garis darah tipis, meleset dari sasaran fatal.

Di saat yang bersamaan, pedang Xinghe meliuk seperti ular berbisa, meluncur di sepanjang gagang tombak musuh menuju jari-jari Gongsun Tian.

Melihat serangan balik yang begitu licin dan presisi, Gongsun Tian terpaksa menarik kembali tombaknya dengan cepat. Keringat dingin menetes di pelipis sang Kepala Desa. Pemuda di depannya ini tidak memiliki energi kultivasi yang tebal, teknik dan sudut pandangnya dalam pertarungan sangat mengerikan. Tidak ada satu pun gerakan sia-sia. Setiap milimeter elakan dan tebasan dihitung dengan akurasi matematis tingkat dewa.

Pertarungan jarak dekat meledak.

Cahaya perak dari tombak dan kilatan ungu dari pedang saling beradu di tengah hujan badai. Suara dentingan logam bergema tanpa henti. Xinghe bertarung layaknya daun yang menari di tengah angin topan. Ia tidak pernah menghadapi serangan Gongsun Tian secara frontal. Ia menepis, membelokkan arah tenaga musuh, dan menyerang di titik-titik mati pertahanan sang Kepala Desa.

Sekuat apa pun batu karang, ombak yang menerjang tanpa henti pada akhirnya akan mengikisnya.

Batas fisik fana Xinghe mulai menunjukkan kelemahannya. Setelah menangkis lebih dari lima puluh pukulan berturut-turut, telapak tangan kanan Xinghe robek. Darah mengalir membasahi gagang pedangnya. Energi Tingkat Ketiganya terkuras cepat, sementara Gongsun Tian yang berada di Tingkat Kesembilan tampaknya memiliki cadangan tenaga yang tidak ada habisnya.

*BENTURAN!*

Gongsun Tian menyapukan ujung tombaknya dalam ayunan lebar berbentuk bulan sabit. Xinghe terpaksa menyilangkan pedangnya untuk menahan area yang tidak bisa ia hindari.

Tenaga kasar yang luar biasa melempar tubuh Xinghe sejauh lima meter ke belakang. Ia mendarat dengan keras, kakinya menggerus lumpur menciptakan dua parit panjang sebelum akhirnya berhenti. Ia memuntahkan darah segar. Tulang belikat kirinya retak.

"Hahaha! Sudah mencapai batasmu, Bocah?!" tawa Gongsun Tian menggema, dipenuhi kelegaan dan sadisme. "Trik licikmu tidak bisa menutupi fakta bahwa kultivasimu hanyalah sampah! Matilah kau dengan penyesalan!"

Gongsun Tian melompat tinggi ke udara. Ia menyalurkan seluruh sisa energinya ke dalam tombaknya. Aura perak membesar, menciptakan ilusi tombak raksasa sepanjang lima meter yang menukik turun dari langit. Ini adalah serangan pamungkas yang tidak menyisakan ruang untuk menghindar. Jurus yang menekan seluruh ruang di sekitar Xinghe.

Menatap maut yang jatuh dari langit, Xinghe tidak bergerak menghindar. Ekspresi wajahnya tidak menunjukkan ketakutan, melainkan sebuah kekecewaan yang samar.

"Kau benar. Fisikku saat ini adalah sampah," gumam Xinghe pelan, suaranya tertelan gemuruh hujan. "Kau lupa satu hal, Gongsun Tian. Pedang sejati tidak pernah ditebas menggunakan tangan, melainkan menggunakan hati."

Xinghe memejamkan matanya. Ia melepaskan genggamannya pada gagang pedangnya. Pedang berkarat itu melayang statis di depannya, tertahan oleh Niat Pedang yang pekat.

Di dalam Dantiannya, Sembilan Meridian Petir yang baru terbentuk bergetar hebat. Xinghe mengambil sebuah keputusan yang sangat gila dan merusak diri sendiri. Ia meledakkan tiga dari sembilan meridiannya secara sengaja!

*BOOOM!*

Rasa sakit yang merobek jiwa menghantam kesadarannya, menghasilkan ledakan energi guntur ungu yang seratus kali lipat lebih murni dan buas dari sebelumnya. Energi itu menyembur keluar dari dadanya, menyelimuti pedang yang melayang di depannya.

Mata Xinghe terbuka. Dunia di sekitarnya kehilangan warna, berubah menjadi monokrom. Di matanya, tombak raksasa yang menukik itu memiliki ratusan celah aliran energi yang rapuh.

"Seni Pedang Langit Pembelah Kesunyian: Kilatan Titik Nol."

Dengan dua jari telunjuk dan tengah kanannya, Xinghe menusuk udara kosong, mendorong pedang yang melayang itu ke depan.

Pedang besi usang tersebut melesat ke atas. Kecepatannya tidak bisa ditangkap oleh mata. Pedang itu berubah menjadi satu garis tipis cahaya ungu yang membelah rintik hujan, ruang, dan waktu.

*ZWAAASH!*

Tidak ada suara ledakan besar. Tidak ada gelombang kejut yang mengguncang tanah.

Pedang ungu itu menusuk tepat di ujung bilah tombak perak Gongsun Tian, menembus material baja murni itu seolah menembus tahu lembek. Cahaya ungu itu melesat membelah gagang tombak, lalu menembus dada Gongsun Tian dengan keheningan mutlak, dan akhirnya melesat menghilang ke awan mendung di langit malam.

Gongsun Tian mematung di udara sesaat, sebelum gravitasi menarik tubuh besarnya jatuh berdebum ke tanah yang berlumpur.

Tombak peraknya hancur menjadi serbuk halus tertiup angin. Di tengah dadanya, terdapat sebuah lubang seukuran ibu jari yang sangat rapi. Darah tidak mengalir dari lubang tersebut; energi petir Niat Pedang telah membakar dan menghancurkan seluruh organ internalnya hingga menjadi abu dalam sepersekian milidetik.

Mata Kepala Desa itu membelalak lebar menatap langit, dipenuhi keterkejutan dan penyesalan yang tidak akan pernah tersuarakan. Tiran Desa Kabut Berbisik telah menemui akhir perjalanannya.

Di ujung pelataran, Xinghe jatuh berlutut dengan satu kaki. Tubuhnya condong ke depan, menopang berat badannya menggunakan kedua tangan yang menekan tanah berlumpur. Darah mengalir dari mata, hidung, dan mulutnya sekaligus.

Ledakan tiga meridian itu adalah harga mutlak yang harus dibayar untuk memanggil seperseribu dari kekuatan masa lalunya. Tubuhnya saat ini berada di ambang kehancuran total. Kegelapan terus-menerus mencoba menarik kesadarannya.

"Bertahanlah..." Xinghe memaki dirinya sendiri, menggertakkan gigi yang berlumuran darah kotor. Menggunakan sisa-sisa kemauan bajanya, ia memaksa tubuhnya melakukan Seni Penempaan Tulang untuk meredam kekacauan energi di dalam dadanya.

Setengah jam berlalu dalam posisi berlutut di bawah guyuran hujan. Badai di dalam Dantiannya perlahan mereda, menyisakan kelelahan ekstrem yang membuat setiap tulangnya terasa seberat timah. Tiga meridian yang ia hancurkan harus disambung ulang di masa depan, prioritas utamanya saat ini adalah memulihkan kemampuan berjalannya.

Ia bangkit berdiri dengan susah payah. Kakinya bergetar hebat. Xinghe menyeret langkahnya menghampiri mayat Gongsun Tian. Ia tidak menaruh rasa iba sedikit pun. Dengan cekatan, tangannya merogoh saku jubah bagian dalam sang Kepala Desa.

Ia menemukan sebuah kantong kecil berbahan kain sutra biru dengan sulaman benang emas. Kantong Penyimpanan Ruang Tingkat Rendah. Sebuah benda yang sangat langka dan mahal di wilayah terpencil ini.

Xinghe mengirimkan secercah kesadaran ke dalam kantong tersebut, menghapus paksa sisa segel spiritual milik Gongsun Tian yang sudah melemah. Di dalam ruang sebesar lemari kecil itu, tersimpan lima ratus keping emas, belasan botol obat penyembuh luka tingkat dasar, sebuah peta kulit domba usang, dan sebuah plakat perunggu dengan ukiran awan mengambang.

"Plakat Identitas Paviliun Awan Putih," gumam Xinghe saat mengeluarkan benda tersebut. Ia teringat pada gadis bernama Lin Muxue yang ia selamatkan di Hutan Binatang Buas. Tampaknya keluarga Gongsun memiliki transaksi gelap atau relasi bisnis tertentu dengan faksi pedagang tersebut. Benda ini mungkin akan berguna untuk mempermudah perjalanannya nanti.

Xinghe memasukkan plakat itu kembali ke dalam kantong penyimpanan yang kini ia gantungkan di pinggangnya. Ia juga memungut beberapa pil penyembuh luka terbaik, menelannya sekaligus untuk menstabilkan retak di tulang belikatnya.

Waktunya meninggalkan tempat ini. Pagi akan segera datang. Bau darah puluhan mayat ini pasti akan mengundang perhatian penduduk desa atau binatang buas gunung.

Tanpa menoleh kembali ke puing-puing masa lalunya, Yan Xinghe melangkah keluar dari Desa Kabut Berbisik, membelah kegelapan malam menuju Hutan Binatang Buas, menyusul keluarganya.

Cahaya fajar menyingsing dengan warna keemasan yang pucat, menembus celah dedaunan Hutan Binatang Buas. Di balik tirai air terjun tebing kapur, gua sempit itu dipenuhi ketegangan yang menyesakkan dada.

Shen Yulan tidak memejamkan matanya sedikit pun semalaman. Ia duduk memeluk lututnya, matanya terus terpaku pada mulut gua. Di sudut lain, Yan Qingshan terbaring dengan wajah yang mulai mendapatkan kembali warnanya. Luka di bahunya telah berhenti berdarah, energinya masih terlalu lemah untuk bangkit. Yan Xiaoxiao tertidur pulas di atas tumpukan daun kering akibat kelelahan menangis.

Setiap gemerisik daun di luar gua membuat jantung Shen Yulan berdetak kencang, membayangkan pasukan keluarga Gongsun datang menyerbu.

Tiba-tiba, bayangan siluet manusia menembus tirai air terjun, melangkah masuk ke dalam gua dengan langkah berat yang tertatih.

"Xinghe!" Shen Yulan menjerit tertahan, air mata langsung membendung di pelupuk matanya. Ia bergegas berdiri dan menopang tubuh putranya yang nyaris ambruk.

Penampilan Xinghe sangat mengenaskan. Jubah kulitnya koyak moyak, sekujur tubuhnya dipenuhi darah yang sudah mengering. Wajahnya sepucat mayat, suhu tubuhnya sangat dingin. Meski begitu, sepasang mata gelapnya memancarkan ketenangan yang menghapus segala kecemasan di hati sang ibu.

"Semuanya sudah berakhir, Ibu," bisik Xinghe pelan, membiarkan ibunya membantunya duduk menyandarkan punggung ke dinding gua berbatu. "Gongsun Tian dan pasukannya telah musnah. Tidak ada lagi yang akan memburu kita dari desa itu."

Qingshan yang mendengar percakapan itu membelalakkan matanya, mengabaikan rasa sakit untuk sedikit mendongak. "Kau... membunuh Gongsun Tian? Sendirian?"

"Itu tidak penting lagi sekarang, Kakak." Xinghe menarik napas panjang, menahan rasa nyeri di dadanya. Ia mengeluarkan kantong penyimpanan sutra biru dari pinggangnya, lalu meletakkannya di hadapan Qingshan. "Ini adalah rampasan perang kita. Ada cukup emas di dalam sini untuk membeli sebuah rumah kecil di kota besar dan memulai hidup baru."

Shen Yulan menatap kantong itu dengan pandangan hampa. "Hidup baru? Apakah kita tidak akan kembali ke desa? Rumah kita..."

"Gubuk itu sudah menjadi abu, Ibu," potong Xinghe lembut, namun membawa nada final yang tidak bisa dibantah. "Desa Kabut Berbisik hanyalah wilayah pinggiran. Kematian Kepala Desa akan memancing investigasi dari sekte atau kota yang menaungi wilayah tersebut. Cepat atau lambat, mereka akan melacak kebenaran. Tinggal di sana sama dengan menunggu pisau algojo. Kita harus pergi jauh dari tempat ini, menyeberangi hutan, menuju wilayah yang tidak mengenal siapa keluarga Yan."

Qingshan terdiam merenungi kata-kata adiknya. Logika Xinghe sangat sempurna. Mereka tidak lagi memiliki tempat di lingkungan lama. Di saat bersamaan, prospek melintasi hutan belantara tanpa perlindungan formasi desa merupakan tantangan bunuh diri bagi rombongan yang terdiri dari wanita dan orang cedera.

"Ke mana kita akan pergi, Xinghe?" tanya Qingshan pasrah, mengakui adiknya kini bertindak sebagai pemimpin sejati keluarga ini.

Xinghe mengeluarkan peta kulit domba dari dalam kantong penyimpanan, membentangkannya di atas permukaan batu yang rata. Jarinya menunjuk pada sebuah simbol kota yang terletak sekitar lima ratus mil ke arah timur laut dari posisi mereka saat ini.

"Kota Awan Mengambang," ucap Xinghe, matanya memancarkan perhitungan tajam. "Itu adalah salah satu kota perdagangan terbesar di wilayah selatan Benua Tanah Spiritual. Kota itu tidak dikuasai oleh satu sekte tunggal, melainkan dewan asosiasi pedagang dan beberapa klan netral. Hukum di sana ditegakkan dengan uang dan kekuatan, tempat yang sempurna untuk menyembunyikan identitas sekaligus mencari sumber daya kultivasi yang lebih baik."

Xinghe menatap anggota keluarganya. "Kakak membutuhkan obat spiritual tingkat menengah untuk menyembuhkan luka akar di bahunya agar tidak cacat permanen. Aku membutuhkan material penempaan tingkat tinggi untuk menyambung kembali meridianku yang rusak. Di tempat terpencil seperti desa itu, kita hanya akan membusuk."

Mendengar adiknya menyebutkan meridian yang rusak, Qingshan merasa bersalah. Xinghe pasti telah mengorbankan fondasinya sendiri demi menyelamatkan mereka malam itu. Menggenggam erat tangan ibunya, Qingshan menganggukkan kepalanya dengan tegas.

"Baiklah. Setelah lukaku sedikit membaik agar bisa berjalan, kita akan bertolak menuju Kota Awan Mengambang. Kita tinggalkan nama desa rendahan ini di belakang kita," ikrar Qingshan.

Xinghe mengangguk pelan. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding batu dan memejamkan mata. Rencana perjalanan telah ditetapkan. Perjalanan sejauh lima ratus mil menembus pinggiran Benua Tanah Spiritual akan penuh dengan perompak, monster buas, dan kultivator pengelana yang tidak terikat hukum moral.

Ini adalah ujian pertama dari semesta yang lebih luas.

"Tiga Ribu Dunia terlalu luas untuk dipikirkan sekarang," batin Sang Kaisar Pedang. "Satu benua pada satu waktu. Aku akan memastikan keluarga ini berdiri di puncak fana, sebelum aku melangkah menembus langit untuk menagih hutang pada Jiantian."

Dengkur halus mulai terdengar dari napas Xinghe. Kelelahannya telah mencapai titik puncak. Gua kecil di balik air terjun itu menjadi tempat peristirahatan sementara yang tenang, melindungi sebuah keluarga yang kelak akan mengguncang fondasi tatanan semesta. Langkah pertama menuju keabadian yang berlumuran darah akhirnya telah tuntas, menyisakan jejak langkah baru di atas debu Benua Tanah Spiritual.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!