Lampu kristal yang menggantung di ruang tengah kediaman keluarga Arkatama tidak pernah benar benar mampu menghangatkan dingin yang membeku di antara Kyna dan Julian. Lima tahun pernikahan seharusnya menjadi perayaan tentang kesetiaan namun bagi Kyna itu adalah lima tahun pengabdian dalam sunyi yang mencekam. Tepat pada malam peringatan pernikahan mereka sebuah kebenaran pahit terkuak melalui celah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Di sana di bawah kucuran air yang menderu Kyna mendengar suaminya menggumamkan satu nama yang selama ini menjadi hantu tak kasat mata dalam hidup mereka yakni Elara sang cinta pertama yang baru saja menginjakkan kaki kembali di tanah air.
Julian adalah pria yang membangun tembok es di sekeliling hatinya namun bagi Elara pria itu bersedia menjadi api yang menghangatkan. Setiap kali Julian pergi dengan alasan membantu seorang teman yang sedang kesulitan Kyna hanya mampu menjawab dengan seulas senyum tipis dan kata kata pendek yang menyembunyikan luka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Tulus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
"Aldri, kamu sudah sampai di rumah?"
Suara Anara di seberang telepon terdengar begitu lembut, bergetar tipis dengan nada cemas yang dibuat-buat, persis seperti gaya bicaranya yang biasa.
"Aku... aku cuma mau memastikan kamu aman. Maaf ya, gara-gara aku dan teman-teman datang tadi malam, kamu dan Kak Kyna jadi bertengkar hebat. Aku benar-benar merasa bersalah, Aldri. Kalau Kak Kyna masih marah, biar aku yang telepon dan memohon maaf langsung padanya. Aku nggak mau menjadi perusak di antara kalian..."
Kyna mendengarkan setiap bait kalimat penuh kepalsuan itu dengan ekspresi sedingin es. Tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi rasa sesak yang mencekik. Yang ada hanya rasa muak yang teramat sangat. Di atas ranjang, Aldrian masih mendengkur halus, terbuai dalam mimpi mabuknya, sama sekali tidak sadar bahwa seluruh topeng busuk yang ia pasang selama lima tahun ini telah runtuh sepenuhnya malam ini.
Kyna mendekatkan ponsel itu ke telinganya, menarik napas dalam-dalam, lalu berbicara dengan nada suara yang teramat tenang namun tajam menembus malam.
"Dia sudah tidur, Anara."
Keheningan yang mencekam seketika melanda ujung telepon sana. Napas Anara terdengar tercekat. Dia jelas tidak menyangka bahwa yang mengangkat ponsel Aldrian di tengah malam buta adalah Kyna.
"Kak... Kak Kyna?" suara Anara mendadak gugup, kehilangan ketenangan manisnya yang biasa. "Kenapa... kenapa ponsel Aldri ada di kamu? Aldri mana?"
"Bukankah sudah kubilang? Dia sedang tidur di sampingku," ucap Kyna, sengaja memberikan penekanan pada kata 'di sampingku' untuk memukul balik mental wanita itu. "Dia pulang dalam keadaan mabuk berat, meracaukan namamu, dan mengira aku adalah kamu. Dia bahkan mengemis maaf karena menganggap pernikahan ini adalah beban utang yang harus ia tanggung seumur hidup."
"Kak Kyna, jangan salah paham! Hubunganku dan Aldri—"
"Cukup, Anara. Aku tidak tertarik mendengar naskah drama sahabat murnimu lagi," potong Kyna dengan lugas dan dingin. "Simpan saja air matamu untuk besok. Karena dalam dua puluh sembilan hari lagi, aku akan mengembalikan pria yang paling kamu puja ini kepadamu dalam keadaan utuh. Kamu tidak perlu lagi menelepon suami orang secara sembunyi-sembunyi di tengah malam dengan nama kontak yang menjijikkan ini."
Sebelum Anara sempat membalas, Kyna langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
Ia menatap layar ponsel yang perlahan meredup, lalu dengan gerakan tanpa ragu, Kyna menghapus kontak "Nara Sayang" dari daftar ponsel Aldrian, kemudian melempar benda pipih itu ke atas dada suaminya yang masih terlelap.
Kyna membalikkan tubuhnya, melangkah perlahan keluar dari kamar utama tanpa menoleh lagi. Langkah kakinya yang pincang malam ini terasa jauh lebih ringan. Di dalam kamar tamu yang sunyi, Kyna merebahkan dirinya di bawah selimut, memejamkan mata dengan senyuman tipis di bibirnya. Kamar ini dingin, tetapi jiwanya telah merdeka.
Keesokan paginya, Kyna terbangun oleh suara kepanikan Aldrian yang berteriak memanggil namanya di koridor rumah. Ketika Kyna membuka pintu kamar tamu, ia mendapati Aldrian berdiri dengan wajah sekuning kertas, memegang tablet kerjanya yang menampilkan berita utama finansial pagi ini: Wibowo Group terancam sanksi perdagangan internasional karena seluruh portofolio karya seni yang menjadi jaminan investasi mereka ternyata adalah hak paten murni atas nama Kyna, dan firma hukum Sonia baru saja merilis surat pencekalan global yang melarang korporasi Aldrian menggunakan satu pun desain atau konsep tarian milik Kyna untuk proyek megah mereka bersama ayah Anara.