NovelToon NovelToon
Langit Pasar Subuh

Langit Pasar Subuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:19.6k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Dinara Sasikirana kembali memulai hidup baru dari nol pasca perceraiannya dengan Tri Bayu. Rumah tangga yang ia bangun selama 5 tahun harus kandas karena mantan suaminya berniat melakukan poligami.


Dinara mundur demi menyelamatkan harga dirinya, meski ia tak punya apapun yang jadi tujuan hidupnya.

" Kamu nggak mau pulang ke Ngawi aja, Di? " tanya Mela sahabatnya

" Pulang dengan status janda? Yang ada aku di caci maki sama ibu dan bapakku, belum lagi cibiran warga yang anti banget sama janda.

Padahal belum tentu juga aku tertarik sama suami mereka. Makanya aku milih untuk tetap di kota ini, aku harus kerja dan berdiri di kaki sendiri, Mel"

" Bagus Di, aku suka prinsip hidupmu yang nggak menye-menye. Buktikan kalau kamu bisa bangkit dan nggak jadi beban buat mantan suamimu "

Dinara memang sarjana lulusan S1 di bidang marketing, tapi sayangnya ijazah itu tak pernah ia pakai sejak lulus 3 tahun lalu.

Ia terus mencari pekerjaan meski tak mudah, hingga akhirnya ia diterima kerja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang, Nduk!

Di dalam ruangan kontrakan, Dinara terbaring lemah di atas kasur yang dialasi kain sprei bermotif bunga kecil-kecil. Tubuhnya terasa begitu ringkih, seolah tak ada tenaga sedikit pun yang tersisa untuk sekadar mengangkat kepala.

Demam tinggi yang menyerangnya sejak kemarin malam memang sudah perlahan turun, meninggalkan suhu tubuhnya yang kini kembali normal, namun kepalanya masih terasa berdenyut hebat. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, rasa pusing itu justru makin terasa, berputar seperti roda yang tak mau berhenti berputar.

Ia mencoba mengubah posisi tidurnya agar sedikit lebih nyaman, namun rasa sakit di sekujur tubuh membuatnya hanya bisa mengerang pelan sambil menggigit bibir bawahnya.

Dengan susah payah, Dinara membuka matanya yang terasa berat dan perih. Matanya kemudian tertuju ke arah nakas yang ada tepat di samping tempat tidurnya. Di sana, terlihat sebuah wadah sterofoam berisi bubur ayam yang masih mengeluarkan sedikit uap tipis, tanda makanan itu baru saja disiapkan dan diletakkan di sana belum lama ini.

Di samping wadah bubur itu, ada pula beberapa bungkus obat dan sebotol air minum kemasan, lengkap dengan selembar kertas kecil bertuliskan coretan tangan Mela.

Ra, makan buburnya terus minum obatnya ya! aku kerja siang pulang malam, kalau ada apa-apa telpon aku aja. Untuk makan malam, nanti Budhe Sri bawain kamu makanan!

Sebuah senyum tipis, terukir di bibir pucatnya. Di tengah kesendirian dan penderitaannya di tempat rantau ini, Mela adalah anugerah terbesar yang Tuhan kirimkan.

Dinara meletakkan kembali kertas itu ke tempatnya semula, lalu menatap bubur yang masih utuh itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mencoba duduk bersandar di dinding kasur, meski gerakan itu membuat kepalanya kembali berdenyut nyeri. Ia makan sedikit demi sedikit, rasanya tawar dan hambar di lidah, namun ia tahu ini penting agar tenaganya kembali. Ia juga meminum obat yang tersedia, menelan rasa pahit itu bersamaan dengan rasa pahit hidup yang selama ini ia telan sendirian.

Setelah selesai makan dan meletakkan kembali wadah kosong itu ke atas nakas, Dinara kembali bersandar lemas. Ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas dan membuka pesan di berderet.

Ia mengabaikan pesan masuk di grup, matanya tak kuat menatap layar lama-lama. Hari ini ia benar-benar tak ingin memikirkan urusan pekerjaan, biarlah Pak Aji atau Mas Ferdi yang mengurus semuanya. Tubuh dan jiwanya sedang butuh istirahat panjang.

“Duh, kepala kok rasanya puyeng banget ya?" gumamnya lirih, suaranya terdengar serak dan lemah, hampir tak terdengar.

Ia kembali memijat pelipisnya dengan gerakan lambat, berusaha meredakan rasa nyeri yang masih terasa menusuk. Matanya perlahan terpejam kembali, berusaha mencari ketenangan di antara rasa sakit itu.

Namun, belum sempat ia terbuai dalam mimpi, suara dering ponsel memecah keheningan ruangan itu. Bunyinya panjang dan jelas, membuat Dinara kembali membuka mata dengan agak kaget. Ia mengangkat kembali benda pipih itu, melirik nama yang terpampang di layar, dan seketika jantungnya berdegup lebih kencang.

" Bapak! "

Ada rasa kaget, ada rasa gembira, namun ada pula rasa takut yang menyelinap masuk ke hatinya. Sudah cukup lama rasanya ia tak mendengar suara ayahnya, Pak Djarot.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Dinara mengusap layar ponsel itu, mengangkat panggilan tersebut, lalu mendekatkannya ke telinga.

“Halo… assalamu’alaikum, Pak,” ucap Dinara pelan, berusaha mengeraskan suaranya agar tak terdengar sedang sakit.

Dari seberang sambungan, suara berat dan rendah milik Pak Djarot terdengar jelas, namun ada nada getar yang samar terselip di sana, seolah lelaki tua itu sedang menahan kekhawatiran yang menumpuk sejak lama.

“Wa’alaikumsalam, Nduk… Gimana kabarmu? Sehat-sehat saja di sana?”

Pertanyaan sederhana itu seolah menjadi pemicu yang membuat hati Dinara makin sesak. Ia menelan ludah, berusaha menahan agar suaranya tak bergetar hebat.

“Alhamdulillah aku baik, Pak. Bapak Ibu sehat? "

" Alhamdulillah. Kenapa suaramu serak begitu? kamu sakit Nduk? "

" Enggak kok Pak, cuma sedikit capek saja hari ini,” bohong Dinara berusaha menutupi fakta bahwa ia sedang terbaring sakit dan sendirian di kontrakan sempit ini.

Terdengar helaan napas panjang dari seberang sana, napas yang terdengar begitu berat dan penuh beban.

“ Yakin hanya kecapean? "

Mata Dinara seketika memanas. Air mata yang sedari tadi ditahan kini mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menyeka sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha agar suaranya tetap stabil.

“Benar kok Pak, aku cuma kecapekan biasa saja. Kerjaan lagi banyak, makanya begini. Bapak jangan khawatir berlebihan ya, aku bisa jaga diri baik-baik di sini,” ucapnya lagi, masih berusaha meyakinkan ayahnya, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.

“Banyak pekerjaan? Memangnya dirumahmu sedang ada acara? "

Dinara menekan rasa sakit di dadanya, ia tau seharusnya ia segera memberitahu masalah perceraiannya pada bapak dan ibu, bukan menutupinya seperti ini.

Kalimat terakhir itu membuat tubuh Dinara menegang. Ia diam, tak mampu menjawab sepatah kata pun. Mulutnya terasa kering, tenggorokannya tercekat hebat.

“Kalau capek, kalau sudah tak sanggup, berhenti saja, Nduk. Pulanglah ke rumah. Kamu masih punya Bapak, kamu masih punya Ibu di sini. Kenapa harus memaksakan diri bertahan di sana sendirian, menanggung semua beban berat itu seorang diri? Selama ini kamu diam saja, jarang pulang, jarang memberi kabar selain sekadar tanya sapa."

DEG!

" Pak, aku baik-baik saja kok. Aku tidak pubga beban apapun.... "

" Bapak adalah orangtua, nduk. Bapak membesarkan kamu meski dengan didikan yang keras, tapi percayalah kalau bapak yang paling hancur jika kamu terluka.

Bapak tidak tau apa yang sedang kamu hadapi, tapi perasaan Bapak selalu mengatakan jika kamu sedang ada dalam masalah. Pulang nduk, ceritakan semuanya pada kami, pada bapak dan ibukmu disini. "

" Pak... "

Suara Pak Djarot makin terdengar parau, seolah lelaki tua itu sedang menahan tangis yang sedari tadi ditahannya.

“Bapak diam saja bukan bapak tidak tau, tapi bapak menunggu kamu yang mau cerita sendiri, menunggu kamu yang mau pulang sendiri. Tapi sampai kapan begini terus, Dinara? Sampai kamu hancur lebur sendirian di sana? Bapak sudah dengar semuanya, Nduk. Dari orang kampung, dari banyak mulut yang tak bisa ditutup. Bapak tahu kalau rumah tanggamu sudah berakhir. Bapak tahu kalau kamu sudah tidak bersama Tri, dan Bapak tahu kamu sudah tidak punya apa-apa lagi di sana selain tenagamu sendiri.”

Air mata Dinara akhirnya jatuh juga, meluncur membasahi pipi pucatnya. Ia terisak pelan, bahunya berguncang menahan tangis yang makin menjadi-jadi. Rasa malu yang selama ini ia bangun setinggi tembok, kini runtuh seketika. Ia pikir ia bisa menyembunyikan aib dan nasib buruknya ini selamanya, ternyata kabar itu sampai juga ke telinga orang tuanya di kampung.

“Maafkan aku, Pak” isaknya, suaranya pecah total tak lagi terbendung. “Aku malu, Pak. Aku pergi dari rumah dengan janji akan hidup bahagia, akan sukses, akan membahagiakan Bapak dan Ibu. Tapi lihatlah nasibku sekarang…

Aku hanya akan pulang membawa rasa gagal, membawa rasa malu. Aku sudah tidak punya apa-apa, Pak. Rumah, harta, suami, semuanya hilang, semuanya diambil orang. Aku pikir aku kuat, tapi ternyata aku lemah sekali, Pak. Aku gagal menjadi anak yang membanggakan bapak dan ibu.”

Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas panjang yang berat, lalu suara Pak Djarot terdengar lebih lembut namun tegas, penuh dengan kasih sayang yang begitu dalam.

“Jangan bicara begitu, nduk. Jangan pernah menganggap dirimu gagal, jangan pernah merasa dirimu hina. Dengarkan Bapak baik-baik, kamu tidak gagal, kamu bukan orang yang kalah. Kamu cuma dikhianati orang yang seharusnya menjagamu. Rumah tangga itu dibangun berdua, Nduk. Kalau satu orang berniat jahat, kalau satu orang berkhianat dan serakah, itu bukan salahmu. Itu bukan kegagalanmu.

Kamu sudah berjuang sekuat tenaga, kamu sudah berikan yang terbaik, kamu sudah setia dan sabar. Di mata Bapak dan Ibu, kamu tetap anak kami yang paling hebat, anak kami yang paling berharga. Harta? Rumah? Emas? Mobil? Semua itu hanya benda mati, Nduk. Bisa dicari, bisa hilang, tak ada harganya dibandingkan keutuhan jiwamu.”

Pak Djarot berhenti sejenak, seolah menguatkan hatinya sendiri sebelum melanjutkan ucapannya yang penuh haru.

“Bapak dan Ibu tidak pernah menuntut kamu harus kaya, harus punya jabatan, harus sukses duniawi. Kami cuma ingin kamu selamat, kami cuma ingin kamu bahagia dan sehat. Dulu kamu pergi mengikuti kata hatimu, kami ikhlas melepasmu. Sekarang kalau hatimu sudah terluka, kalau kakimu sudah lelah melangkah, pulanglah.

Rumah tua sederhana tempatmu lahir dan besar ini, pintunya selalu terbuka lebar untukmu. Tidak ada pertanyaan, tidak ada penghakiman, tidak ada rasa malu sedikit pun bagi kami untuk menerima kamu kembali. Kamu tetaplah Dinara kami, darah daging kami, bagian dari nyawa kami.”

Dinara semakin terisak hebat, tangisannya makin menjadi. Rasanya beban berat yang membebani pundaknya berbulan-bulan lamanya kini perlahan terangkat mendengar kata-kata ayahnya. Ada ketenangan yang aneh namun menyejukkan, menyelinap masuk ke dalam hati yang selama ini gersang dan penuh luka.

“Tapi Pak, aku takut nanti orang-orang di kampung menertawakanku yang pulang dalam keadaan begini. Aku takut jadi beban buat Bapak dan Ibu yang sudah tua,” ucap Dinara di sela-sela tangisnya, mengutarakan semua ketakutan yang selama ini menjadi penghalang langkahnya untuk pulang.

“Biarkan orang mau bicara apa saja, Nduk,” jawab Pak Djarot tegas namun lembut. “Mulut orang memang tak ada ujungnya. Mau sebaik apa pun kita, pasti ada saja yang bicara. Biarkan mereka bicara, biarkan mereka menilai, itu urusan mereka. Yang penting Bapak dan Ibu tahu kebenarannya, Gusti Allah tahu apa yang kamu alami.

Jangan pedulikan omongan orang lain yang tidak memberi makan dan tempat tinggal buatmu. Tidak ada anak yang jadi beban bagi orang tuanya, justru kehadiranmu di sini nanti akan jadi obat paling ampuh buat kami, terutama buat Ibumu.”

Dinara meletakkan kembali ponselnya ke samping bantal. Ia memejamkan mata, bersandar lemas namun hatinya kini terasa sangat ringan, seolah beban berton-ton yang dipikulnya selama 2 tahun lamanya sudah terangkat seluruhnya oleh kata-kata bapak.

Di benaknya kini hanya ada satu tujuan: pulang. Pulang ke rumah tempat ia dilahirkan, pulang ke pelukan orang tua yang sangat menyayanginya, pulang untuk menyembuhkan luka dan menengok ibu. Semua keraguan, rasa malu, dan ketakutan yang tadi sempat menguasai pikirannya kini hilang tak berbekas.

Ia sadar sekarang, bahwa kebahagiaan sejati dan kekuatan terbesarnya bukan berasal dari kemewahan atau harta benda, melainkan dari kasih sayang tulus orang tua dan rumah yang selalu rindu kehadirannya.

Namun ia tidak akan pulang selamanya, sebab masih ada peperangan yang harus ia tuntaskan. kali ini ia janji akan keluar sebagai pemenang, tentu atas dukungan bapak dan ibu.

1
Farida Dewi
gercep bingitt sih ms langit,,,Ng deketin anakny dulu mlhn deketin biangnya dl,,alias buapaknyaa
ihhh gemezzz deh SM ms langit 🤭
nurul @zna
Mas Langit..... TOP BGT 👍🏻👍🏻👍🏻
my beee🐝
kak atta lagi dong
Aylan
cieee aku juga GK pernah di bawain martabak🤭 kalo pengen beli sendiri😄
ɴᴏᴠɪ
astaga semoga si mas Amad gak muntaber beneran ya 🤣🤣🤣
ɴᴏᴠɪ
kasian mas Tri buang berlian demi batu kali 😄😄
Hatnah Batulicin
jgn lama lama ya Thor..aku selalu nunggu up nya 🥰🥰🥰
ɴᴏᴠɪ
dukung kakak nya mas Tri biar kapok si Haura 🤣🤣 karma berjalan
ɴᴏᴠɪ
curiga mas Langit udh mulai ada rasa sama mba Dinara 🤭🤭
ɴᴏᴠɪ
gitu dnk suka sama Dinara yg strong ,jangan lemah lagi ya .
ɴᴏᴠɪ
Malaikat mah pasti lebih menang dari jin dasyim Din, tenang aja
agnesty ferdiana
cie mas langit jalur ordal🤣
Loly Askhara
ceritane mas langit ngapel sekalian ngobrol sama pak Djarot, aah mas langit pinteran jah 🤭🤭
nurul @zna
Mas Langit mulai PDKT sama camer biar langsung goool... 🤭
Ma Em
Sudah jelas itu Langit emang menyukai Dinara , ayolah kalau emang langit suka sama Dinara cepat lamar lalu resmikan jadi pasangan suami istri agar jin Dashim tdk akan ganggu Dinara lagi .
Vips_momsky: buru2 amat mba...ga sabar pgn kondangan ya 🤭🤭🤭
total 2 replies
gina altira
Mas Langit beneran suka sama Dinara, ayolah gaskeunn
rasahaz
waaahh yg mau pdkt ny ja lngsung lwat Bpk ny dlu bru nnti ank ny,, 😂😂😂💪
Lailatul Qadriah
waduh mas es..gercep bener😍🤭
Aku aja
Thorr.... aku tu males lho Baca Ceritamu yg masih baruu. Krn selalu bikin Penasaran, hrus nunggu tiap hariiii.
mau ku Author nulis sekali UP 10 Eps 🤭🤭🤭 But I Luv you Thor😍😍😍
Farida Dewi
ealahh kak atta,,LG menggebu bacanya ,,,kok y secimit 🤭🙏💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!