Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertengkaran 1
Nadia tidak menjawab. Ia terlalu malas berdebat dengan orang tua yang selalu merasa paling benar.
Kalau dibalik kepada Ibu Yuni, maukah beliau dipoligami sambil terus-menerus dibohongi?
Nadia berbalik lalu melangkah menuju kamar.
“Kalau orang tua bicara itu didengar!” seru Yuni dengan nada tinggi.
Langkah Nadia tidak berhenti.
Kalian menyuruhku mendengarkan? Mendengarkan apa? Kalian saja tidak pernah menganggap keberadaanku. Terus-menerus dibohongi, lalu sekarang disuruh menerima semuanya dengan pasrah. Apa mereka pikir aku tidak punya perasaan?batin Nadia terasa sesak.
Nadia duduk di tepi kasur sambil meremas ujung bajunya. Ingin sekali berteriak, tetapi untuk apa?
Ia juga ingin pergi dari rumah itu. Namun, masih ada beberapa hal yang harus dipastikan.
Nanda sebenarnya anak Raka atau bukan?
Kalau memang anak Raka, lalu siapa ibu kandungnya?
Kalau bukan Ratna, Nadia akan membawa Nanda menemui ibu kandungnya dan tetap mengurus gadis kecil itu bersama-sama.
Namun, kalau Nanda adalah anak Ratna dan Raka...
Nadia benar-benar tidak sanggup membayangkan kemungkinan itu.
Dadanya terasa semakin sesak.
Pintu kamar berderit pelan.
Raka masuk dan melihat Nadia yang duduk termenung dengan tatapan kosong.
Hatinya terasa nyeri. Nadia adalah istri yang hampir tanpa cela. Selama tujuh tahun menikah, perempuan itu selalu mengurus rumah, dirinya, dan Nanda dengan penuh kasih sayang. Namun, Nadia tidak bisa memberinya keturunan.
“Nad... maafkan aku,” katanya lirih.
Nadia menarik napas panjang.
“Ceraikan Ratna, Mas.”
Raka menjambak rambutnya sendiri lalu mengembuskan napas berat.
“Enggak bisa, Nad,” jawabnya putus asa.
“Kenapa?”
Kali ini Nadia menatap lurus ke arah Raka.
Raka terdiam. Wajahnya tampak berusaha menghindari tatapan istrinya.
“Enggak bisa, Nad. Tolong jangan bikin semuanya makin sulit.”
“Masih ada yang kamu sembunyikan dariku?” tanya Nadia tenang.
“Enggak ada.”
Nadia kembali menarik napas sebelum berkata pelan,
“Kalau begitu, ceraikan aku, Mas.”
Raka langsung mengangkat kepala lalu menggeleng cepat.
“Enggak bisa juga, Nad.”
“Kenapa?”
Senyum Nadia terlihat tipis, tetapi penuh luka.
Raka mengusap wajahnya kasar.
“Nanda sangat dekat sama kamu, Nad. Dan kamu juga sangat sayang sama Nanda.”
Sepertinya benar... Nanda anak Mas Raka,pikir Nadia. Dadanya terasa makin berat, walau wajahnya tetap berusaha tenang.
“Oh... jadi hanya karena Nanda?”
Raka segera menggeleng.
“Tentu saja aku juga masih mencintai kamu, Nad.”
“Bohong.”
“Bohong kenapa?”
“Kalau kamu cinta, kenapa kamu mengkhianatiku?”
Raka kembali diam.
Bahkan sampai sekarang, ia sendiri tidak mengerti bagaimana hidupnya bisa sampai seperti ini.
“Nad, tolonglah... semuanya sudah terlanjur. Anggap saja ini takdir,” katanya lemah.
“Kalau begitu, ceraikan saja aku atau Ratna. Anggap juga itu takdir.”
Raka tidak mampu menjawab.
Kesunyian terasa semakin dingin. Hanya suara jarum jam dan embusan napas yang terdengar di dalam kamar.
“Nad... tolonglah.”
Nadia menatapnya tajam.
“Tolong apa?”
“Bertahanlah. Demi aku. Demi Nanda.”
Nadia terdiam.
Dan Nanda memang titik terlemahnya.
Namun, sebelum mengambil keputusan, ia ingin mendengar kebenaran langsung dari mulut Raka.
“Mas, tolong jawab pertanyaanku.”
“Pertanyaan apa?”
Nadia menatap lurus ke matanya.
Tatapan yang membuat Raka tak lagi bisa mengelak.
“Kali ini aku ingin jawaban yang jujur.”
Raka mengangguk pelan.
“Ya... tanya apa saja.”
Nadia menarik napas dalam-dalam.
Dadanya naik turun menahan gemuruh yang terasa ingin merobek isi hatinya.
“Nanda sebenarnya anak siapa, Mas?”
Nadia melihat tubuh Raka bergetar sesaat. Napas laki-laki itu memburu. Tangannya meremas seprai dengan kuat.
“Anak kamu, kan?” tebak Nadia.
“Aku... juga enggak tahu, Nad,” jawab Raka pelan.
“Waktu itu aku menemukan dia di depan sebuah ruko.”
“Dulu kamu bilang Nanda kamu ambil dari panti asuhan, Mas,” sanggah Nadia.
“Nad, maaf... aku lupa. Waktu itu aku lagi banyak pikiran.”
“Lagi-lagi kamu bohong, Mas.”
Raka terlihat benar-benar gelisah dan frustrasi.
“Nadia... aku capek,” katanya putus asa.
Ia menatap Nadia seolah berharap perempuan itu memahami sesuatu yang tidak sanggup ia katakan.
“Siapa pun Nanda, kamu mencintainya, kan?”
Kalimat itu menghantam Nadia tepat di dada.
Benar.
Siapa pun Nanda.
Anak siapa pun Nanda.
Cintanya pada gadis kecil itu tidak pernah berkurang sedikit pun.
Justru itulah yang membuat Nadia begitu takut.
Ya Allah... aku hanya berharap Nanda bukan anak Raka dan Ratna,batin Nadia lirih.
Raka dan Nadia sama-sama terdiam.
Namun, Nadia tahu.
Jawaban Raka barusan hanyalah kebohongan lain.
“Raka.”
Suara Yuni terdengar dari luar kamar.
Raka segera berdiri.
“Aku keluar sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah meninggalkan kamar.
Pintu tertutup.
Kini Nadia sendirian.
Haruskah aku bertahan?
Membayangkan hidup satu atap dengan Ratna saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
Coba tanyakan kepada perempuan mana pun, adakah yang sanggup tinggal bersama wanita yang telah merebut suaminya?
“Sepertinya cerai memang pilihan terbaik,” gumam Nadia lirih.
“Andai Nanda bukan anak Mas Raka... andai juga bukan anak Ratna, malam ini juga akan kubawa dia pergi jauh.”
Namun, semua petunjuk mengarah pada satu kenyataan yang paling ia takutkan.
Nanda adalah anak Raka.
Dan kemungkinan besar... anak Ratna juga.
Ah, kenyataan itu benar-benar membuat ulu hati Nadia terasa nyeri.
Nadia mencoba memejamkan mata, tetapi pikirannya terus berputar tanpa ampun.
Terdengar suara deru mobil dari halaman depan.
Sepertinya Raka baru saja keluar rumah.
Nadia masih duduk di tepi ranjang dengan tatapan kosong lurus ke depan.
Tidur terasa mustahil.
Ia melirik jam dinding.
Pukul sebelas malam.
Dengan tubuh lelah, Nadia mematikan lampu kamar lalu merebahkan diri. Namun, baru beberapa menit memejamkan mata, telinganya menangkap suara tawa yang sangat dikenalnya.
Tawa Nanda.
Nadia langsung membuka mata.
Keningnya berkerut.
Jam segini belum tidur?
Ia bangkit cepat.
Tanpa sempat mengenakan sandal, Nadia melangkah menuju kamar Nanda.
Pintu kamar dibuka.
Lampu dinyalakan.
Kosong.
Ranjang kecil itu tidak berpenghuni.
Nadia menahan napas. Pendengarannya dipertajam.
Lalu samar-samar terdengar suara cekikikan dari kamar tamu.
Kamar Ratna.
Seketika amarah Nadia melesat sampai ke ubun-ubun.
Ia melangkah cepat. Telapak kakinya menghantam lantai dengan keras.
Begitu sampai di depan kamar tamu, Nadia mengetuk pintu kuat-kuat.
“Ratna! Keluar!”
Tak ada jawaban.
Namun, suara tawa Nanda mendadak berhenti.
“Ratna! Keluar!”
Beberapa detik kemudian pintu terbuka.
Ratna berdiri di ambang pintu dengan senyum tipis yang begitu menyebalkan.
“Kenapa sih?” tanyanya santai.
Nadia tidak memedulikan Ratna. Pandangannya langsung mencari Nanda.
Gadis kecil itu duduk di atas ranjang sambil memegang tablet.
“Nanda, sudah malam. Besok kamu sekolah.”
Nanda menatap Nadia ragu-ragu.
“Tapi kata Mama Ratna boleh, Bunda.”
Rasa sesak dalam dada nadia terasa mendengar jawaban dari Nanda
Sedangkan Ratna terkekeh. Tertawa seolah merayakan kemenangan kecil.
“Ya ampun, Nadia. Sekali-kali biarin anak itu senang. Jangan terlalu kaku.” Ucapnya dengan senyum sinis penuh dengan sindiran.
Nadia berusaha menahan emosi. Melihat ke arah nanda dengan tatapan lembut
“Nanda, ayo kembali ke kamar. Sekarang waktunya tidur.”
Nanda menggeleng.
“Enggak mau, Bunda. Filmnya belum selesai.”
“Nanda.”
Suara Nadia kali ini lebih tegas.
Ratna melangkah maju, seolah membentengi anak itu.
“Jangan bentak-bentak anak kecil.”
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭