Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Di meja makan, suasana terasa hangat namun penuh ketegangan bagi Anna. Papa terlihat sangat bersemangat menjamu tamu istimewanya, bahkan mengeluarkan perangkat makan terbaik yang mereka miliki.
Anna memanfaatkan momen saat Papa sedang mengambilkan nasi untuk berbisik pelan di dekat telinga Axel. "Paman, Papa itu sangat mengidolakanmu. Dia sering membaca berita tentang kesuksesan bisnismu di koran," ucapnya dengan wajah memerah.
Axel hanya memberikan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat, namun tatapannya tetap tertuju pada Anna dengan cara yang posesif. Sang Papa, yang merupakan seorang pengamat yang baik, mulai menyadari ada getaran yang tidak biasa di antara putrinya dan pria berkuasa di depannya ini.
"Silakan dicicipi, Tuan Axel. Ini masakan rumah sederhana, semoga sesuai dengan selera Anda," ujar Papa dengan ramah.
"Terima kasih. Masakan rumah selalu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya," jawab Axel dengan nada datar namun sopan.
Percakapan mengalir santai tentang ekonomi dan bisnis, hingga tiba-tiba Papa menatap Anna dengan dahi berkerut. "Oh iya, Anna. Semalam Papa sangat khawatir karena kau tidak pulang. Jolina bilang kau pergi duluan dari pesta. Memangnya kau tidur di mana semalam?"
Anna tersedak air minumnya. Wajahnya seketika pucat pasi, bingung harus menyusun kebohongan apa agar Papanya tidak jantungan. Namun, sebelum Anna sempat membuka mulut, Axel meletakkan sendoknya dengan tenang dan mengambil alih jawaban.
"Semalam hujan sangat deras dan Anna sedikit tidak enak badan," ucap Axel dengan suara yang sangat meyakinkan. "Karena jarak rumah Anda cukup jauh dan berbahaya dalam kondisi badai, saya memutuskan untuk membawanya ke apartemen saya agar dia bisa beristirahat dan berganti pakaian dengan layak. Saya harap Anda tidak keberatan karena saya lebih mengutamakan keselamatannya."
Papa tertegun sejenak, lalu matanya berbinar lega. "Ah, begitu rupanya. Tentu saja, Tuan Axel! Saya justru sangat berterima kasih karena Anda sudah menjaga putri saya. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika dia terjebak hujan di jalan."
Anna hanya bisa melongo melihat betapa mudahnya Axel membalikkan keadaan. Sementara itu, Axel melirik Anna dengan tatapan nakal, seolah-olah sedang menertawakan kepanikan gadis itu di dalam hatinya.
Setelah selesai sarapan yang penuh ketegangan namun berkesan bagi sang Papa, Axel bangkit dari duduknya dengan aura kewibawaan yang tetap melekat kuat.
"Terima kasih atas jamuannya. Saya harus segera ke kantor karena ada rapat penting," ucap Axel sambil menjabat tangan Papa Anna dengan formal. Sebelum melangkah pergi, ia sempat melirik Anna dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu berbisik sangat pelan, "Jangan biarkan Papamu menakutimu."
Begitu suara mesin mobil mewah Axel menghilang dari kejauhan, suasana rumah yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi ruang sidang. Papa Anna langsung melipat korannya dan menatap putrinya dengan tatapan menyelidik yang tajam.
"Anna, sini duduk," perintah Papa sambil menepuk kursi di depannya. "Sekarang jelaskan pada Papa. Bagaimana bisa seorang Axel Van Elion, pria yang jangankan menyapa, menoleh pada orang biasa saja jarang, tiba-tiba mengantarmu pulang bahkan sampai membela keselamatanmu?"
Anna menelan ludah, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Itu... dia hanya membantu, Pa. Kami kebetulan bertemu di pesta dan..."
"Kebetulan?" potong Papa dengan nada sangsi. "Papa melihat cara dia menatapmu tadi. Itu bukan tatapan orang yang 'kebetulan' menolong. Kau tidak sedang menjalin hubungan dengan paman dari mantan tunanganmu itu, kan? Dia itu pria berbahaya, Anna. Dingin dan tak tersentuh."
"Dia tidak sedingin itu, Pa," gumam Anna tanpa sadar, teringat bagaimana hangatnya pelukan Axel semalam.
"Apa?! Kau bilang apa tadi?" Papa semakin memajukan duduknya, menginterogasi setiap gerak-gerik Anna. "Anna, jujur pada Papa. Apa yang sebenarnya terjadi di apartemennya semalam? Jangan bilang kau..."
Wajah Anna memerah padam. Ia teringat kembali ciuman mereka dan bagaimana Axel mengklaim dirinya sebagai miliknya. "Tidak ada apa-apa, Pa! Kami hanya... dia hanya merawatku karena aku kedinginan!" seru Anna sambil beranjak berdiri dan lari menuju kamarnya, meninggalkan sang Papa yang semakin curiga dan bergumam tentang betapa tidak mungkinnya seorang Axel Elion melakukan perbuatan tanpa motif tertentu.
Di kantor pusat Elion Group, udara terasa membeku seolah-olah pendingin ruangan telah diturunkan hingga titik nol. Semua staf di lantai atas menunduk dalam-dalam, tak ada yang berani bernapas keras saat mendengar suara barang pecah dari dalam ruang kerja sang CEO.
Axel duduk di kursi kebesarannya, menatap tajam ke arah seorang pria yang sudah babak belur, berlutut di atas lantai marmer dengan tangan terikat. Pria itu adalah salah satu orang kepercayaan Axel yang terbukti menjual data proyek "Velvet Bullet" kepada pihak lawan.
"Kau tahu, aku paling benci dua hal di dunia ini," suara Axel terdengar sangat tenang namun mematikan, lebih menakutkan daripada teriakan. Ia berdiri dan melangkah perlahan mengitari pria itu. "Kebodohan, dan pengkhianatan."
Axel mencengkeram rahang pria itu dengan kasar, memaksanya mendongak. "Kau pikir aku tidak akan tahu? Kau menjual rahasia perusahaan hanya untuk tumpukan uang yang bahkan tidak akan sempat kau nikmati."
"T-tuan... ampuni saya... saya terdesak hutang—"
"Hutang?" Axel tertawa dingin, sebuah suara yang tidak mengandung humor sedikit pun. "Karena hutangmu, kau mempertaruhkan nyawaku. Dan kau tahu apa hukuman bagi mereka yang berani bermain api denganku?"
Axel memberi isyarat kepada Jigar yang berdiri di sudut ruangan. "Jigar, aku tidak ingin melihat wajahnya lagi. Bawa dia ke gudang bawah tanah. Cabut semua kuku jarinya satu per satu agar dia ingat setiap sen yang dia curi dari penjualannya. Setelah itu, pastikan dia tidak bisa bicara atau menulis lagi selamanya. Aku ingin dia menjadi saksi bisu bagi siapa pun yang mencoba menusukku dari belakang."
"Tuan! Tolong! Jangan!" teriak pria itu histeris saat Jigar menariknya keluar dengan kasar.
Axel kembali duduk, mengusap tangannya dengan sapu tangan seolah baru saja menyentuh sampah. "Bersihkan lantainya," perintahnya dingin kepada sekretaris yang gemetar. "Dan pastikan keluarganya tahu bahwa mereka sekarang berhutang nyawa padaku."
Pikiran Axel kemudian beralih sejenak pada Anna, sosok yang semalam tidur di pelukannya. Hanya membayangkan wajah polos gadis itu yang mampu meredam sedikit amarah gelap yang sedang bergejolak di dalam dadanya pagi ini.
Di kantin sekolah yang ramai, Anna, Jolina, dan Emma duduk melingkari meja favorit mereka sambil menikmati bakso panas dan es jeruk. Suasana terasa sangat santai setelah jam pelajaran IPS yang cukup melelahkan.
"Kalian sudah dengar belum? Nanti malam ada festival kuliner besar di pusat kota!" seru Jolina dengan semangat sambil mengaduk minumannya. "Katanya bakal banyak stan makanan dari luar negeri, bahkan ada makanan Korea yang sering muncul di webtoon itu lho."
Emma langsung mengangguk antusias. "Iya! Aku dengar festivalnya cuma diadakan setahun sekali. Kita harus datang bertiga. Aku butuh asupan makanan enak setelah pusing menghitung rumus matematika tadi."
Anna yang tadinya hanya diam menyimak sambil tersenyum, ikut menimpali. "Wah, kedengarannya seru. Aku ikut ya! Aku juga butuh penyegaran, apalagi festival kuliner seperti itu biasanya suasananya bagus untuk mencari ide baru."
"Sempurna!" Jolina bertepuk tangan pelan. "Nanti malam kita berangkat bersama ya. Aku dengar di sana juga akan ada pertunjukan musik dan dekorasi lampu yang cantik sekali. Pokoknya kita harus mencoba semua jajanan yang viral."
"Setuju," sahut Emma. "Tapi jangan lupa pakai baju yang nyaman, ya. Aku tidak mau kita pulang dengan kaki lecet karena terlalu lama berkeliling stan makanan."
Anna tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya. "Tenang saja, aku pasti ikut. Rasanya sudah lama kita tidak pergi keluar bersama seperti ini."
Mereka bertiga pun melanjutkan makan siang dengan obrolan ringan, sesekali tertawa membahas hal-hal konyol di kelas,