Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.
Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.
Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.
Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Seperti Keluarga
Mansion Mahendra terasa sangat sunyi malam itu. Lampu-lampu besar di ruang tengah memantulkan cahaya hangat yang lembut di lantai marmer. Namun tak ada seorang pun yang berani berbicara terlalu keras. Karena semua perhatian tertuju pada satu pemandangan kecil di sofa panjang itu.
Agam tertidur lelap sambil menggenggam tangan Arkana erat. Jemari kecil anak itu melingkar penuh percaya di tangan besar pria tersebut. Sedangkan Arkana hanya duduk diam tanpa menarik tangannya sedikit pun. Dan suasana mendadak terasa aneh sekaligus hangat.
Kemuning memperhatikan semuanya dari samping sofa sambil menahan napas. Ia belum pernah melihat Agam setenang ini di dekat orang asing. Biasanya adiknya akan menangis atau bersembunyi di belakang tubuhnya. Namun sekarang Agam justru memegang Arkana seperti mencari rasa aman.
Arkana menatap tangan kecil Agam beberapa detik terlalu lama. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang menyentuhnya tanpa takut. Tanpa menginginkan uang, kekuasaan, atau keuntungan apa pun. Dan perasaan itu terasa asing bagi Arkana Mahendra.
Tatapan pria itu perlahan turun ke wajah Agam yang tertidur karena lelah. Ekspresinya jauh lebih lembut dibanding biasanya. Tidak ada aura dingin ataupun tatapan tajam yang biasa menekan ruangan. Hanya ketenangan aneh yang membuat semua orang ikut diam.
Kemuning diam-diam merasa dadanya menghangat melihat itu. Selama ini ia selalu berpikir Arkana terlalu dingin untuk dekat dengan anak kecil. Namun pria itu justru membiarkan Agam menggenggam tangannya tanpa keberatan. Dan hal kecil itu terasa sangat berarti bagi Kemuning.
Agam bergerak kecil dalam tidurnya sambil mengerutkan dahi. Selimut di tubuh mungilnya sedikit bergeser ke bawah. Dan tanpa berpikir panjang, Arkana langsung membetulkan selimut itu perlahan. Gerakannya hati-hati seolah takut membangunkan Agam.
Kemuning langsung terpaku menatap Arkana cukup lama tanpa sadar. Tatapan gadis itu terlalu lembut sekarang. Sampai Arkana perlahan mengangkat kepala dan menangkapnya sedang memperhatikan. Sudut bibir pria itu bergerak tipis samar.
“Kenapa menatapku seperti itu?” Suara Arkana terdengar rendah di tengah sunyi mansion.
Kemuning langsung tersentak kecil seperti ketahuan mencuri sesuatu. Wajahnya langsung memanas malu.
“A-aku tidak menatap.” Kemuning buru-buru memalingkan wajah sambil menunduk gugup. Namun justru reaksi itulah yang membuat Arkana hampir tersenyum lagi. Karena pria itu mulai menikmati kepolosan Kemuning tanpa sadar.
Mahardika memperhatikan semuanya diam-diam dari dekat tangga. Tatapan pria tua itu tampak rumit malam ini. Seolah ia sedang melihat potongan keluarga yang dulu pernah hilang. Dan hal itu membuatnya diam lebih lama dari biasanya.
Tak lama kemudian, para pelayan membantu membawa Agam ke kamar kecil di samping kamar Arkana. Namun anak itu tetap menggenggam tangan Arkana bahkan saat tidur. Sampai akhirnya Arkana sendiri yang perlahan melepaskan genggaman kecil tersebut. Dan Agam baru benar-benar tenang setelah Kemuning ikut berbaring di sampingnya.
Pagi datang lebih cepat dari yang diperkirakan Kemuning. Semalaman ia hampir tidak tidur karena terus memeriksa suhu tubuh Agam. Rambut panjangnya berantakan dan matanya sedikit sembab karena lelah. Namun tangannya tetap lembut mengusap dahi adiknya penuh perhatian.
Kamar Arkana terasa jauh lebih hangat pagi itu. Sinar matahari masuk melalui jendela besar dengan cahaya keemasan lembut. Agam masih tertidur sambil memeluk bantal kecil di sisinya. Sedangkan Kemuning duduk di tepi ranjang sambil mengganti kompres perlahan.
Karena takut Agam sesak lagi, salah satu pelayan meninggalkan humidifier otomatis di kamar. Namun Kemuning malah berdiri bingung di depan alat tersebut sejak tadi. Ia menekan beberapa tombol asal sampai alat itu tiba-tiba mengeluarkan suara keras. Kemuning langsung panik sendiri.
“Astag— kenapa bunyi?” Kemuning buru-buru menekan tombol lain dengan wajah tegang. Namun humidifier itu justru menyemburkan uap terlalu banyak ke arah wajahnya. Membuat gadis itu refleks mundur kaget.
Belum selesai kepanikannya, vacuum robot di sudut kamar tiba-tiba bergerak sendiri. Benda bundar itu berjalan pelan mendekati kaki Kemuning. Dan gadis desa itu langsung membelalak panik seperti melihat makhluk hidup aneh. “Hah?!”
Kemuning buru-buru naik ke atas sofa kecil sambil memegangi dadanya sendiri. Wajahnya benar-benar tegang sekarang. Sedangkan vacuum robot itu tetap bergerak santai mengitari lantai kamar. Sampai suara rendah seseorang terdengar dari belakang.
“Itu bukan hantu.” Kemuning langsung menoleh cepat dan menemukan Arkana berdiri di dekat pintu kamar. Pria itu baru bangun tidur dengan kaus hitam tipis dan rambut sedikit berantakan. Dan untuk sesaat, Kemuning malah lupa cara bernapas.
Arkana berjalan mendekat sambil menatap vacuum robot itu datar. Lalu pria tersebut mematikannya hanya dengan satu tombol sederhana. Kemuning langsung merasa malu setengah mati. Sedangkan Arkana diam-diam menahan senyum.
“Aku pikir dia hidup.” Kemuning berbisik pelan sambil turun dari sofa perlahan. Wajahnya merah karena malu. Namun Arkana justru terlihat semakin sulit mengalihkan pandangan darinya pagi itu.
Kemuning memakai baju tidur longgar sederhana warna krem pucat. Rambut panjangnya acak-acakan alami sampai beberapa helai jatuh di pipinya. Tanpa riasan dan masih mengantuk, gadis itu justru terlihat terlalu polos. Dan Arkana mulai membenci kenyataan bahwa dirinya menyukai pemandangan itu.
Kemuning kembali panik ketika dispenser otomatis di meja tiba-tiba berbunyi sendiri. Ia refleks mundur sampai hampir menabrak dada Arkana. Untung pria itu cepat menahan bahunya dari belakang. Posisi mereka langsung terlalu dekat di pagi hari.
Tubuh tinggi Arkana berdiri tepat di belakang Kemuning sekarang. Satu tangannya melewati bahu gadis itu untuk mematikan dispenser. Sedangkan Kemuning langsung membeku karena bisa merasakan hangat tubuh pria tersebut. Jantungnya langsung berdetak tidak normal lagi.
“A-alat di rumah ini suka bergerak sendiri.” Kemuning berbisik malu sambil menunduk. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Arkana benar-benar tersenyum tipis. Senyum kecil yang membuat wajah pria itu terlihat jauh lebih berbahaya.
“Kalau takut, jangan melawan semua benda sendirian.” Nada suara Arkana terdengar rendah dekat telinga Kemuning. Membuat pipi gadis itu langsung memanas. Sedangkan Arkana sendiri mulai terlalu nyaman berada sedekat ini dengannya.
Ia mulai terbiasa melihat Kemuning dan Agam di kamarnya. Terbiasa mendengar suara mereka sejak bangun tidur. Dan terbiasa dengan suasana hangat yang sebelumnya tidak pernah ada di hidupnya. Itulah yang mulai terasa berbahaya bagi Arkana.
Tak lama kemudian, Agam akhirnya bangun sambil mengucek matanya pelan. Demamnya sudah sedikit turun meski wajah kecilnya masih pucat. Begitu melihat Kemuning dan Arkana berdiri berdekatan, anak itu langsung berkedip bingung. Lalu bertanya polos dengan suara serak kecilnya.
“Om ganteng tinggal sama Kakak juga?” Kemuning langsung tersedak udara sendiri mendengar pertanyaan itu. Wajahnya berubah merah padam dalam hitungan detik. Sedangkan Arkana justru diam beberapa saat.
“Untuk sementara.” Jawaban Arkana terdengar rendah dan tenang. Namun kalimat sederhana itu justru membuat jantung Kemuning semakin kacau. Karena entah kenapa terdengar terlalu seperti keluarga.
Sejak pagi itu, Agam mulai sedikit nyaman dengan Arkana. Meski masih malu-malu, anak kecil itu tidak lagi menangis saat pria tersebut mendekat. Bahkan beberapa kali Agam diam-diam mengikuti Arkana keluar kamar. Membuat para pelayan mansion mulai saling melirik heran.
Arkana Mahendra yang mereka kenal biasanya tidak tahan berada dekat anak kecil. Namun sekarang pria itu membiarkan Agam duduk di dekatnya saat sarapan. Bahkan membantu menuangkan susu ketika Kemuning sedang sibuk mengambil obat. Dan pemandangan itu terasa sangat asing.
Ratih Maharani memperhatikan semuanya dari ujung meja makan. Tatapan wanita elegan itu perlahan berubah semakin dalam. Ia melihat cara Arkana memperhatikan Kemuning tanpa sadar. Dan cara suasana meja makan itu mulai terasa seperti keluarga sungguhan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Arkana terlihat nyaman di rumahnya sendiri. Tidak dingin. Tidak penuh jarak. Dan Ratih mulai takut melihat perubahan itu.
Karena orang yang membuat Arkana berubah adalah Kemuning. Gadis desa sederhana yang bahkan tidak tahu cara memakai humidifier. Namun justru gadis itu berhasil masuk ke hidup Arkana perlahan. Terlalu dalam.
Malam harinya, hujan kecil kembali turun di luar mansion. Agam sudah tertidur pulas di tengah ranjang sambil memeluk bantal kecilnya. Sedangkan Kemuning ikut tertidur di samping adiknya karena terlalu lelah merawat Agam seharian. Kamar itu terasa tenang dan hangat.
Saat Arkana masuk ke kamar, langkahnya langsung berhenti di depan pintu. Cahaya lampu remang jatuh lembut di wajah tidur Kemuning yang damai. Sedangkan Agam masih memegang ujung baju kakaknya erat dalam tidur. Dan dada Arkana terasa aneh melihat pemandangan itu.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, kamar itu terasa hidup. Bukan sekadar ruang dingin tempatnya tidur setiap malam. Tetapi tempat yang terasa hangat saat ia pulang. Dan Arkana tidak tahu sejak kapan dirinya mulai menyukai itu.
Pria itu berjalan mendekat perlahan lalu mengambil selimut tambahan. Dengan hati-hati, Arkana membungkuk untuk menyelimuti tubuh Kemuning yang tertidur. Namun tepat saat pria itu hendak menjauh, jemari kecil Kemuning tiba-tiba memegang tangannya. Arkana langsung membeku.
Kemuning masih setengah tertidur. Matanya tidak terbuka sama sekali. Namun gadis itu menggenggam tangan Arkana pelan sambil berbisik lirih.
“Jangan pergi.”
Arkana langsung diam tanpa bergerak. Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada seseorang yang memintanya tetap tinggal.