NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4: Titik fokus yang bergeser

Karya Vian's

Satu minggu telah berlalu dengan damai. Savya sudah kembali ke rutinitasnya tanpa lagi melirik ke arah pintu dengan penuh harap. Hari ini, karena ayahnya sedang sibuk, Savya pergi ke sebuah toko optik dan kamera di pusat kota untuk membeli lensa yang ayahnya katakan Minggu lalu.

​Toko itu cukup ramai. Savya berjalan dengan langkah agak terburu-buru sambil mencocokkan kode pesanan di ponselnya. Di kepalanya hanya ada daftar pekerjaan rumah dan menu baru yang ingin ia diskusikan dengan Sila dan Farel.

​BRAKK!

​Langkah Savya terhenti mendadak saat bahunya menghantam sesuatu yang keras—atau lebih tepatnya, seseorang. Ponselnya hampir saja terlempar jika ia tidak segera mencengkeramnya kuat-kuat.

​"Eh, maaf! Maaf sekali, saya tidak melihat jalan," ucap Savya refleks sambil membungkukkan badan sedikit, rasa bersalah langsung menyergapnya.

​"Maaf, saya juga kurang memperhatikan," jawab sebuah suara bariton yang tenang.

​Suara itu. Savya membeku. Ada getaran familiar yang merambat dari pendengarannya menuju ingatan yang sudah ia coba kunci rapat-rapat selama seminggu ini.

​Savya perlahan mengangkat wajahnya. Ia merapikan jepit bunga matahari di rambutnya yang sedikit berantakan karena benturan tadi. Saat matanya bertemu dengan sepasang mata tajam namun teduh milik pria di hadapannya, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.

​Jaket hitam itu, aroma samar kayu cendana yang pernah tertinggal di kedai, dan tatapan yang sulit diartikan.

Pria misterius itu !! batin Savya berteriak.

​Dunia di sekitar toko lensa yang bising itu seolah mendadak senyap. Penyangkalan yang ia bangun selama tujuh hari terakhir runtuh seketika hanya dalam satu detik pertemuan mata.

Savya masih terpaku, matanya tidak lepas dari sosok di depannya. Ada perang batin yang hebat; antara ingin segera pergi menghindari kecanggungan atau menuntaskan rasa ingin tahunya yang sudah tertahan selama seminggu.

​Akhirnya, bibirnya bergerak sebelum akal sehatnya sempat mencegah.

​"Tuan?" suara Savya sedikit bergetar, namun cukup jelas untuk didengar di antara hiruk pikuk toko. "Sepertinya saya pernah melihat Anda... Apakah Anda adalah orang yang seminggu lalu berkunjung di kedai Thalassa Coffee?"

​Pria itu terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab, melainkan menatap Savya dengan intensitas yang membuat gadis itu refleks meremas tali tasnya. Keheningan di antara mereka terasa sangat kontras dengan keramaian di sekitar rak-rak lensa kamera.

​"Thalassa Coffee," pria itu mengulang nama kedai itu dengan suara baritonnya yang berat, seolah sedang mencicipi kembali kenangan di sana. "Sudut jendela dengan pemandangan jalan raya?"

​Savya mengangguk cepat. "Iya, benar. Anda duduk di sana berjam-jam hanya dengan satu cangkir kopi hitam."

​Satu sudut bibir pria itu terangkat, membentuk senyum tipis yang nyaris tak terlihat—namun cukup untuk membuat jantung Savya berdegup dua kali lebih cepat.

​"Daya ingat mu cukup tajam untuk seorang pemilik kedai yang sibuk," ucapnya tenang. "Ya, saya di sana minggu lalu. Dan jika saya tidak salah ingat, Anda adalah gadis yang terus memperhatikan saya dari balik meja bar."

​Wajah Savya memanas seketika. Ia tidak menyangka pria itu sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.

Savya berusaha meredam rona merah di pipinya dengan pura-pura sibuk merapikan letak jepit bunga mataharinya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengembalikan profesionalisme yang biasa ia tunjukkan di kedai.

"Saya hanya memastikan kenyamanan setiap pelanggan, Tuan," kilah Savya, meski ia tahu alasannya terdengar sangat lemah. "Tapi karena sekarang kita tidak sengaja bertemu lagi di sini... saya Savya."

Pria itu mengulurkan tangan. Gerakannya tenang dan pasti. "Valerius"

Hanya satu kata, singkat namun terasa begitu pas dengan pembawaannya yang misterius. Genggaman tangannya hangat, membuat Savya sedikit tertegun sebelum akhirnya mereka melepaskan kaitan tangan masing-masing.

"Dunia terasa sempit ya, Tuan," ucap Savya mencoba mencairkan suasana. "Apa yang membawa Anda ke toko lensa ini? Apakah Anda juga sedang mencari sesuatu?"

Valerius terkekeh tipis. "Bukan. Saya baru saja menyelesaikan pertemuan dengan seseorang di kafe sebelah, lalu memutuskan mampir ke sini sebentar untuk memeriksa sesuatu. Urusan saya sudah selesai."

"Kebetulan sekali," gumam Savya. "Saya di sini untuk membeli lensa baru. Sepertinya toko ini memang menjadi titik temu yang tidak terduga hari ini."

Valerius melirik jam tangannya sebentar, lalu kembali menatap Savya. "Sebenarnya, saya sedang bersiap untuk pulang sekarang. Perjalanan ke rumah cukup jauh, dan saya ingin sampai sebelum jalanan terlalu padat."

Savya mengangguk paham. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul entah dari mana karena pertemuan ini terasa begitu singkat, namun ia tetap tersenyum ramah. "Tentu, silakan. Hati-hati di jalan, Tuan."

"Sampai jumpa lagi, Nona. Mungkin di Thalassa Coffee, atau di tempat tak terduga lainnya," ucap Valerius sambil melangkah menjauh, meninggalkan Savya yang masih berdiri di antara deretan etalase lensa dengan detak jantung yang belum juga normal.

Setelah Valerius menghilang di balik pintu otomatis toko, Savya masih berdiri mematung selama beberapa detik, mencoba mencerna pertemuan singkat yang terasa seperti mimpi itu. Ia menarik napas panjang, merapikan kembali posisi jepit bunga matahari di rambutnya, dan memaksa kakinya untuk melangkah menuju konter pengambilan barang.

Savya menyerahkan secarik kertas pesanan ayahnya kepada petugas toko. Fokusnya sempat terpecah, namun ia berusaha tetap teliti saat memeriksa lensa kamera yang kini berpindah ke tangannya. Benda kaca yang dingin itu seolah menjadi pengingat bahwa ia masih berada di dunia nyata, bukan di dalam salah satu novel yang biasa ia baca untuk mencari ketenangan.

"Sudah lengkap semua, Mbak?" tanya petugas toko, membuyarkan lamunan Savya.

"Ah, iya. Sudah benar. Terima kasih," jawab Savya sambil memberikan senyum simpul.

Setelah memastikan lensa tersebut aman di dalam tasnya, Savya segera keluar dari toko. Sinar matahari sore menyambutnya, namun pikirannya masih tertinggal pada jabat tangan hangat dari pria bernama Valerius tadi.

Valerius. Nama itu kini punya wajah dan suara, bukan lagi sekadar bayangan misterius di sudut kedai.

Savya memutuskan untuk langsung pulang. Sepanjang perjalanan di dalam bus kota yang perlahan mulai padat, ia menyandarkan kepalanya di kaca jendela. Jika biasanya ia menutup diri untuk sekadar menenangkan diri dari keriuhan dunia luar, kali ini kesendirian itu ia gunakan untuk memutar ulang setiap kata yang diucapkan Valerius.

Sesampainya di rumah, suasana hangat namun ramai langsung menyambutnya. Ada perasaan syukur yang membuncah; ia telah membeli lensa baru yang di katakan oleh ayahnya dan secara tak sengaja mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya yang besar. Savya masuk ke kamarnya, meletakkan tasnya, dan menatap cermin sejenak—melihat gadis dengan jepit bunga matahari yang baru saja memulai babak baru dalam hidupnya.

Savya melangkah keluar dari toko optik dengan tas belanja yang ia peluk erat. Lensa pesanan ayahnya sudah aman di sana, namun pikirannya masih tertinggal pada perkenalan singkat tadi.

"Valerius." Nama itu terus bergema di kepalanya.

Alih-alih langsung menuju kedai, Savya memutuskan untuk pulang. Di dalam perjalanan, ia menyandarkan kepalanya di jendela kendaraan umum, menatap lalu lalang kota yang mulai jingga. Ia menarik napas panjang, membiarkan keheningan itu menyelimutinya—sebuah cara yang selalu ia gunakan untuk menenangkan diri dan memproses emosi yang meluap.

Sesampainya di rumah, Savya langsung menuju kamarnya yang tenang. Ia meletakkan lensa itu di meja, lalu berdiri di depan cermin. Ia menyentuh jepit bunga matahari di rambutnya—detail kecil yang kini punya kenangan baru karena sempat tertangkap oleh tatapan Valerius.

Hari ini bukan hanya tentang lensa untuk ayahnya, tapi tentang sebuah jawaban yang akhirnya ia temukan. Dengan hati yang lebih ringan, Savya menutup hari, siap menghadapi apa pun yang akan dibawa oleh hari esok di Thalassa Coffee.

..." Story by Vian's."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!