Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dipecat
"Nih!"
Pak Bani memberikan beberapa lembar uang pada Cakka yang kini hanya bisa berdiam diri, tertegun. Beliau tega memecatnya tanpa Cakka melakukan kesalahan apapun ditempat kerja. Harusnya hari ini, Cakka kembali bekerja seperti biasa. Tapi karena kejadian kemarin, ia malah disuruh berhenti dan menerima uang kompensasi.
"Demi Allah pak, saya tidak menyembunyikan Agni" bantahnya lagi, Cakka memastikan dirinya pada sang ayah yang menatap tajam, mematikan.
"Bersumpah sampai berani membawa nama tuhan, apakah kamu tidak takut?" Kening pak Bani menukik.
"Saya takut Allah pak, tapi saya benar tidak melakukannya"
Pak Bani menghela nafas panjang, menanam tangan dipinggang lalu memutar bola matanya. Seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan Cakka.
"Pergi kamu! Masih untung dapat kompensasi" ucap pak Bani bengis.
Cakka menggelengkan kepalanya, ia sampai berlutut memohon agar pak Bani tidak memecatnya.
"Pak tolong saya pak, saya masih butuh pekerjaan ini"
"Buat apa saya menolong kamu?! Gak tahu di untung!"
"Tapi saya benar-benar tidak melakukannya"
"Pergi! Sebelum saya menyuruh yang lain untuk mengusir kamu"
Pak Bondan, sedari tadi memperhatikan mereka berdua. Tak tega melihat Cakka di teriaki seperti itu, akhirnya pak Bondan datang, memegang kedua bahu Cakka. Secara perlahan membantunya untuk berdiri tegak.
"Aku antarkan kau pulang ya, jangan berlutut seperti tadi. Kau masih punya harga diri!" Ucap Bondan sesekali menatap pak Bani.
Langkah mereka berdua pun perlahan pergi meninggalkan pak Bani yang masih marah dan kesal. Di bawanya Cakka oleh pak Bondan ke parkiran motor. Sebelum menaiki kuda besi itu pak Bondan mengelus pundak Cakka beberapa kali sembari menatapnya begitu dalam.
"Kau itu anak yang kuat, segala ujian sudah kau coba. Aku yakin banget hadiahnya bukan cuma panci gratis! Pasti akan ada hal baru yang bisa mengangkat derajat kau, Cak"
Namun Cakka hanya bisa diam dan menganggukkan kepalanya beberapa kali. Ingin menangis. Namun, air mata yang biasanya selalu mengambang di bawah kornea kini rasanya sudah habis.
Yang ia rasakan hanyalah tubuh lemas, dan harapan yang pupus seketika.
"Naik Cak, kau nggak usah bayar bensin!"
Cakka menurut. Mereka menaiki motor pak Bondan. Motor tua, warna hitam, dengan jok yang sudah tercabik cakar kucing. Diperjalanan, Cakka diam saja. Meskipun pak Bondan mengajaknya bicara.
" Hari ini, kau naik motor butut aku! Besok, aku naik mobil kau. PAJERO! Ku do'akan kau jadi kaya. Biar si Bani gak seenak sama kau!" Bondan berusaha menghibur Cakka.
Tapi jawaban Cakka hanyalah sebuah senyuman tipis yang terpantul bayangnya dari spion motor. Pun pak Bondan melihatnya sekilas.
"Nggak usah sedih, rezeki gak bakalan ke mana. Besok aku carikan tempat kerja yang cocok buat kau. Aku pastikan, bosnya nggak kayak Bani. Dijamin deh bakalan betah. Sekarang— anggap saja lagi cuti sekolah. Kau dari dulu nggak pernah sekolah kan? SD aja nggak tamat. Kerja terus!"
Cakka tak mengerti dengan perkataan pak Bondan. Apakah itu sebuah hinaan atau pujian. Dia hanya bisa mengiyakan saja tanpa berkata lebih banyak.
Sampainya didepan rumah Cakka. Ada beberapa orang yang tak dikenal berdiri, berjajar rapih. Seperti menunggu kepulangannya.
Dari banyaknya orang-orang itu, Cakka hanya tahu satu nama yang baru ia dengar namanya beberapa hari kebelakang, yaitu Hendra. Ketika Cakka akan turun dari motor, tanganya ditahan pak Bondan.
"Siapa mereka?" Tanya Bondan sembari menatap wajah orang-orang itu satu persatu.
"Aku gak tahu" jawab Cakka dengan nada datar.
"Kau punya hutang?" Tanya Bondan lagi.
"Tidak!" Lagi Cakka menjawabnya tenang.
"Jangan turun! Pegang pinggang ku erat-erat" ucap pak Bondan menghidupkan kembali motornya.
"Memangnya, kita mau kemana?" Cakka bingung.
"Sudah, diam saja!"
Treng, Teng! Teng! Teng!
Pak Bondan menginjak pedal motornya beberapa kali, gas ditarik, seketika motor tua itu seperti cetah yang berlari kencang mengejar mangsanya. Pun tubuh Cakka hampir jatuh kebelakang, untungnya ia mengikuti arahan pak Bondan untuk memegang pinggangnya.
"Mau kemana kita?!!!!" Tanya Cakka berteriak seraya wajahnya menembus angin jalanan.
"Lihat kebelakang, orang-orang itu mengejar kita tidak?!" Tanya pada Bondan, sembari matanya fokus kedepan.
Kepala Cakka menengok kebelakang, sesuai arahan pak Bondan. Matanya menyipit untuk memastikan ada atau tidaknya Hendra dan orang-orang yang tadi menunggunya dirumah. Tapi yang terlihat hanya orang biasa dan mobil besar hitam yang berjalan dibelakang mereka.
"Mereka tidak mengikuti kita!" Ucap Cakka.
Terdengar helaan nafas dari mulut pak Bondan, motor ngebut pun perlahan memelan. Dan mereka berhenti dibawah pohon rindang.
Cakka turun dari motor begitupun dengan Bondan, mereka menghempaskan tubuhnya ke akar pohon yang menjalar keluar.
"Mereka itu menakutkan ya" pak Bondan.
"Pakaiannya saja" jawab Cakka singkat.
"Masa? Katanya kau gak kenal mereka, tapi kau tahu" Bondan.
"Hanya tahu pemimpinnya. Tukang fitnah dia!" Ujar Cakka, kesalnya terasa dipancing untuk diluapkan.
"Kau difitnah olehnya?" Bondan, tubuhnya tercekat untuk menatap wajah Cakka yang sekarang sedang memejamkan mata.
"Aku dipecat oleh pak Bani, karena dituduh menyembunyikan anaknya. Dan yang menuduh begitu ya si Hendra, calon suami sekaligus mantu pak Bani"
Pak Bondan tak percaya, tubuh yang tadinya merebah ke akar kini duduk menghadap Cakka yang masih berbaring nyaman.
"Yang benar kau?!"
"Aku ini buruk rupa pak, mana mau Agni denganku? Tiba-tiba si Hendra datang kerumah dengan pak Bani. Menghajar ku lalu menuduhku begitu! Tadi pagi, aku malah dipecat, aku tak mengerti dengan pikiran mereka. Bisa-bisanya percaya asumsi seperti itu!"
Seketika pak Bondan terdiam, menatap Cakka yang begitu berat menerima keadaan yang selalu jadi bahan tuduhan orang. Dahulu ketika Cakka pertama kali berkerja dengan pak Bondan, ada pekerja yang begitu membencinya.
Pekerja itu dengan tega menaruh handphonenya sendiri kedalam tas milik Cakka. Lalu berteriak seolah dia benar-benar kehilangan. Semua pekerja digeledah tasnya, termasuk Cakka. Begitu handphone itu ditemukan, hampir semua tersulut emosi dan Cakka akan dipukuli tapi, untungnya pada saat itu pak Bani bijak. Beliau mengecek cctv dan ternyata Cakka sedang fokus bekerja.
Malah, yang mencurinya Alvin sendiri. Memasukkan handphone itu kedalam tas Cakka.
Alvin, orang yang menuduh. Ia tidak tahu jika loker tas, tempat penyimpanan barang pekerja dipantau cctv. Alhasil, semua menyorakinya.
Huhhhh!!!!!!!!!!!!!
Dan Alvin menanggung malu yang begitu berat, sampai ia tak berani pergi bekerja lagi. Kini, tuduhan yang tak berbukti menghancurkan keuangan Cakka. Dan pak Bani, tidak sebijak dulu lagi. Beliau lebih percaya sang calon mantu dan membuang Cakka yang sudah rapih, rajin, ulet dalam bekerja.
Ketika pak Bondan sedang menatap penuh Cakka, tiba-tiba mobil hitam berukuran besar. Berhenti, tepat disamping mereka. Bondan dan Cakka langsung melihat kearah mobil itu. Pintunya terbuka lebar, satu persatu orang-orang tadi keluar dari dalam mobil. Mata Pak Bondan dan Cakka, membelalak.
"Cak!" Ucap Bondan seraya memegang Cakka.