Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.
“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.
Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”
“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: Kotak kenangan
Tiga hari setelah pemakaman, rumah dinas itu terasa seperti peti es. Tidak ada lagi lalu lalang tamu, tidak ada lagi aroma sedap malam yang dipaksakan. Hanya ada bau debu dan keheningan yang tebal.
Cakra kembali bekerja. Ia menganggap pekerjaan adalah benteng terbaik dari kesedihan. Ia berangkat subuh, kembali larut malam. Seragamnya selalu rapi, tindakannya selalu teratur. Ia berbicara kepada Alisa seperlunya: "Sudah makan?" "Sudah kerjakan PR?" "Tidur."
Dialog mereka terasa seperti daftar periksa tugas.
Alisa tahu, di balik ketegasan itu, Ayahnya masih rapuh. Ia selalu ingat malam ia melihat Cakra menangis. Sejak saat itu, ia berusaha keras untuk menjadi Alisa yang ‘tidak merepotkan’. Ia membersihkan piringnya sendiri, merapikan buku sekolahnya, dan tidak pernah mengeluh saat Ayahnya harus pergi dinas mendadak.
Suatu malam, sekitar pukul sembilan, Alisa terbangun karena haus. Ia keluar kamar dan melihat lampu ruang kerja Cakra masih menyala. Biasanya Cakra akan langsung tidur setelah mengeceknya.
Alisa berjalan perlahan menuju pintu. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya kecil dari meja kerja.
Cakra duduk di sana, bukan di depan tumpukan dokumen dinas, melainkan di kursi santai di sudut ruangan. Di tangannya, ia memegang sebuah foto Shifa. Foto pernikahan, saat Ibunya tertawa lebar dengan gaun putih sederhana.
Cakra tidak menangis. Ia hanya menunduk dalam-dalam, lalu mengangkat foto itu pelan-pelan. Ia menciumnya—bukan ciuman singkat—tapi ciuman lama, seolah ingin menyerap kehangatan dari kertas foto yang dingin itu.
Alisa berdiri mematung. Ia merasakan sakit yang dalam, sakit karena melihat Cakra begitu sendirian dengan dukanya. Ayahnya sangat mencintai Ibunya, dan kehilangan itu membuat Cakra seperti kehilangan kemampuan untuk bernapas lega.
Alisa mundur perlahan ke kamarnya. Ia tidak minum. Ia berbaring, memejamkan mata, dan air mata yang seharusnya jatuh di makam Ibunya kini tumpah diam-diam di bantal.
Aku tidak boleh menangis di depan Ayah.
Ayah harus kuat.
Alisa tahu, kekosongan itu tidak bisa diisi dengan seragam dan tugas. Kekosongan itu adalah suara tawa Ibunya di pagi hari, adalah aroma masakan yang selalu mengepul hangat, adalah tangan lembut yang mengusap keningnya sebelum tidur.Empat minggu berlalu. Cakra mulai sering pergi penugasan luar kota, meninggalkan Alisa di bawah pengawasan tetangga sebelah atau pengasuh yang datang sore hari.
Alisa, yang kini duduk di bangku kelas enam SD, menghabiskan waktunya dengan menjelajahi rumah dinas itu. Ia mencari sisa-sisa kehangatan.
Ia ingat, Ibunya pernah mengatakan menyimpan sesuatu yang sangat berharga di lemari pakaian lama di gudang. Lemari itu terkunci.
Alisa mengambil kunci cadangan yang tergantung di gantungan di dapur. Dengan jantung berdebar, ia membuka pintu gudang yang berbau apak. Setelah menggeser beberapa tumpukan koran bekas, ia menemukan lemari kayu kecil itu.
Di dalamnya, tersimpan kotak kayu berwarna cokelat tua.
Alisa duduk di lantai gudang yang dingin, membuka kotak itu perlahan. Bukan perhiasan mahal, tapi benda-benda yang sangat personal.
Hal pertama yang ia temukan adalah sepucuk surat, kertasnya sudah menguning dan lipatannya rapuh. Itu surat dari Ayahnya, Cakra, saat mereka masih pacaran.
Alisa membaca cepat. Ayahnya menulis janji untuk selalu pulang dan menyebut Shifa sebagai 'pangkalan utamanya'—tempat berlabuh setelah semua badai. Alisa tersenyum kecil. Ayahnya yang sekarang terlalu serius, terlalu kaku. Membaca surat ini membuatnya menyadari Cakra dulunya juga bisa puitis dan romantis.
Di bawah surat itu, ada sebuah foto Polaroid. Foto Ayahnya sedang tertawa lebar, konyol, dengan wajah penuh lumpur, dan ia mengenakan helm Ibunya yang kebesaran.
"Astaga, Ayah," bisik Alisa geli.
Ayahnya yang ada di foto itu adalah Ayah yang sama sekali tidak ia kenal. Ayah yang sekarang hanya tahu cara tegap dan memberi perintah. Kontras sekali dengan tawa lepas dalam foto Polaroid itu.
Ia menemukan beberapa lembar kertas lusuh berisi tulisan tangan Ibunya. Itu adalah puisi. Puisi tentang senja, tentang menunggu di dermaga, dan tentang kekhawatiran yang hanya dipahami oleh seorang istri prajurit.
Alisa membaca salah satu baitnya:
Seragammu adalah kulit keduamu, dan aku hanya bisa menunggu. Hatiku selalu berdebar di antara dua janji—janji setiamu padaku, dan janji suci pada negara.
Pikiran Ibunya terasa begitu nyata, begitu jujur. Shifa juga merasakan ketakutan yang sama.
Terakhir, Alisa menemukan sebuah Buku Harian Berkulit Merah Marun milik Shifa.
Alisa membuka halaman pertama. Isinya adalah tulisan yang ceria, penuh harapan. Shifa menuliskan setiap detail kecil tentang kehidupan mereka, dari bagaimana ia berdebat kecil dengan Cakra tentang resep masakan, hingga kebahagiaannya saat mengandung Alisa.
Alisa tenggelam dalam kisah itu. Kisah cinta orang tuanya bukanlah dongeng sempurna, tapi penuh tawa, pengertian, dan perjuangan menerima konsekuensi menjadi pasangan seorang prajurit.
Alisa Pradipta Putri, yang baru sepuluh tahun dan sudah dilarang menangis, kini menemukan cara lain untuk memproses perasaannya: melalui kata-kata.
Ia tidak bisa bertanya pada Ayahnya. Ayahnya terlalu sibuk menjadi tegar. Ia tidak bisa bertanya pada Tante Mia. Tante Mia terlalu sibuk mengasihani.
Tapi ia bisa membaca. Dan ia bisa menulis.
Membaca tulisan Ibunya membuatnya merasa Shifa masih ada, masih berbicara. Malam itu, Alisa menutup kotak kenangan Shifa dan bertekad. Ia tidak akan membiarkan kisah keluarganya hilang dalam keheningan rumah dinas.
Keesokan harinya, saat berbelanja di koperasi markas, ia membeli sebuah buku tulis bersampul biru. Ia akan menuliskan semua kenangan yang ia takutkan akan hilang, semua ketakutan yang tidak bisa ia ucapkan, dan semua cerita yang ia temukan dari buku harian merah marun Ibunya.