NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

terbongkar

Sepanjang perjalanan menuju rumah Nara, genggaman tangan mereka tak pernah terlepas.

Raviel menggenggamnya dengan erat, seolah takut gadis di sampingnya menghilang begitu saja jika ia lengah sesaat. Sementara itu, Nara hanya bisa duduk kaku, mencoba menyesuaikan napasnya dengan detak jantung yang sejak tadi tak beraturan.

Dari kursi depan, Ethan sesekali melirik lewat kaca spion. Bibirnya melengkung tipis.

Jadi begini rasanya melihat bosnya jatuh sejauh ini, batinnya.

Fenomena langka. Sangat langka.

Nara menyadari tatapan itu. Ia melirik canggung ke arah Ethan, lalu kembali menunduk. Jemarinya bergerak kecil, berusaha menarik tangannya dari genggaman Raviel.

“Lepasin,” bisiknya pelan. “Kamu nggak malu dilihatin asisten kamu?”

Raviel menoleh santai, ekspresinya tenang—terlalu tenang.

“Biarkan saja,” jawabnya ringan. “Anggap Ethan makhluk halus.”

Ethan yang mendengarnya hampir tersedak napas sendiri.

Untung bos gue… batinnya, sambil menahan kekesalannya.

“Tangan aku sakit,” protes Nara lirih. “Kamu genggam terus.”

Raviel berhenti sejenak, lalu menurunkan pandangannya ke tangan Nara. Dengan gerakan lambat—nyaris sengaja—ia mengangkat tangan itu dan mengecup punggungnya singkat.

“Yang mana yang sakit, hm?”

Mata Nara membelalak. Seketika ia menarik tangannya, wajahnya memerah hingga ke telinga. Ia memalingkan wajah ke jendela, berpura-pura fokus pada pemandangan malam, meski dadanya terasa panas.

Raviel hanya tersenyum tipis. Puas.

Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan rumah Nara. Lampu teras menyala redup, suasana tampak sepi seperti biasanya.

“Eh—motorku,” ucap Nara mendadak cemas. “Aku parkir ditempat tadi, Jangan-jangan diangkut orang.”

“Tenang, Nona Nara,” jawab Ethan cepat sebelum Raviel membuka suara. “Semua sudah saya urus. Motor Anda aman.”

Nara mengembuskan napas lega, meski tetap merasa kikuk berada di antara dua pria itu.

Raviel mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya merendah namun sarat tekanan.

“Dengarkan aku, Ara,” ucapnya pelan. “Kalau hidup bersamaku, hidupmu akan enak apalagi seranjang bersamaku.”

Nara menoleh, menatap Raviel tajam.

“berhenti bicara yang aneh-aneh,” balasnya kesal. “Mulut kamu itu nggak ada filternya.”

Raviel tertawa kecil, rendah.

“Kamu akan terbiasa.”

“Dasar pria menyebalkan,” gerutu Nara sambil membuka pintu mobil dengan kasar. Ia turun tanpa menoleh lagi, langkahnya cepat menuju rumah. Bahkan ucapan terima kasih pun terlupakan, tenggelam oleh kekesalan yang menguap di dadanya.

Ethan menghela napas panjang setelah pintu rumah itu tertutup rapat.

"sejak kapan bosnya mes*m seperti ini” batin Ethan heran

Raviel bersandar di jok, menatap rumah Nara yang kini sunyi.

Setelah memastikan tak ada pergerakan mencurigakan di sekitar rumah Nara, Raviel memberi isyarat singkat.

“Kita pulang ke mansion.”

“Baik, Tuan.”

Mobil kembali melaju, meninggalkan rumah sederhana itu.

Gadis itu sudah kembali berada dalam jangkauannya.

Dan kali ini, ia tidak akan melepaskannya lagi.

★★★

Nara menggosok rambutnya dengan handuk, sisa air masih menetes ke bahu. Meski jam sudah menunjukkan larut malam, ia tak akan bisa tidur jika rambutnya terasa lengket. Setelah memastikan rambutnya setengah kering, ia meraih ponsel dan bersandar di sandaran tempat tidur.

Layarnya dipenuhi notifikasi.

Pesan dari Tasya.

Nar, gue denger lo keserempet motor.

Lo gimana? Udah baikan?

Terus bayinya gimana? Dia nggak kenapa-kenapa kan?

Gue khawatir sama lo.

Belum sempat membalas, ponselnya bergetar lagi. Kali ini panggilan masuk.

“Nar, lo ke mana aja sih? Gue khawatir, tau!” suara Tasya terdengar kesal begitu panggilan tersambung.

“Maaf, Sya. Aku abis mandi,” jawab Nara pelan.

“Tapi lo nggak kenapa-kenapa, kan?”

“Enggak. Cuma sempat masuk rumah sakit karena kram. ”

“Jangan bikin gue khawatir lagi,” gumam Tasya.

“Iya… maaf.”

Hening sejenak, sebelum Nara menghela napas panjang.

“Sya… misalnya kalau aku nikah sama cowok yang bikin aku hamil, gimana menurut kamu?” tanyanya hati-hati.

“Emang lo udah ketemu sama dia? Respon dia gimana?” tanya Tasya cepat.

“Dia mau tanggung jawab sih dari awal. Tapi Aku masih marah dan kecewa, awalnya nolak. Tapi dia bilang aku harus mikirin kandungan, anak ini butuh figur ayah.”

“Bagus dong. Berarti tuh cowok masih waras.”

“Aku… nikah dua minggu lagi.”

“Hah?” Tasya terdiam sesaat. “Yang bener lo? Secepat itu?”

“Iya. Aku juga bilang terlalu cepat, butuh pendekatan. Tapi dia bilang nggak nerima penolakan.”

“Ya… jujur aja, lebih cepat lebih baik sih.”

Nara menggigit bibirnya. “Bunda belum tau, Sya. Aku takut beliau marah.”

“Nanti kita cari waktu yang pas. Oh iya, nama cowok itu siapa?”

“Raviel.”

“Raviel?” Tasya mengulang pelan. “Kok gue kayak pernah denger ya… tapi di mana gitu.”

“Mungkin cuman namanya yang sama,” jawab Nara.

“Mungkin. Yaudah, Nar. Gue tutup dulu, Papa manggil.”

“Iya.”

Panggilan berakhir. Nara menatap layar ponselnya sebentar sebelum membuka aplikasi belanja. Ia memutuskan membeli beberapa perlengkapan membuat kue—cetakan dan mixer lamanya sudah terlalu usang. Selagi masih ada uang, lebih baik diganti.

Baru saja memasukkan barang ke keranjang, sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Tidur.

Nara mengernyit.

Siapa? balasnya singkat.

Tak sampai lima detik, pesan berikutnya muncul.

Calon suami kamu yang paling ganteng.

Mata Nara membulat.

Raviel? batinnya.

Ia mengira pria itu tipe yang dingin dan pendiam. Ternyata… narsis juga.

Ia berguling ke samping, memikirkan balasan yang tepat. Baru saja ponsel itu diletakkan, pesan lain masuk.

Jangan berguling-guling. Nanti anak kita pusing.

Nara langsung duduk.

Dia kok tau?

Kamu masang mata-mata? tulis Nara curiga.

Kepo.

Kesalnya naik. Pandangannya beralih ke sebuah boneka di sudut tempat tidur—boneka yang sejak tadi terasa mengawasinya.

“Oh…” gumamnya pelan.

Ia mendekat, memeriksa bagian belakang boneka itu, dan benar saja—sebuah kamera kecil tersembunyi rapi di balik jahitan.

“Ck,” desis Nara. “Ngapain sih masang beginian?”

Tanpa ragu, ia langsung menelepon Raviel.

Nada sambung terdengar, lalu suara rendah itu masuk ke telinganya.

“Kangen, hmm?”

“Idih, pede. Kamu yang masang kamera di boneka ini, kan?” sentak Nara.

“Yah… ketauan,” jawab Raviel santai. “Pinter juga gadis aku.”

“Kamu kira aku bodoh?”

“Enggak juga.”

Kesalnya memuncak. Nara langsung mematikan panggilan tanpa pamit, lalu melempar ponsel ke samping bantal. Ia merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga ke dada.

Lelah.

Bukan cuma fisik, tapi juga hati.

“Dasar pria aneh,” gumamnya sebelum akhirnya memejamkan mata.

Mending bobo cantik.

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!