NovelToon NovelToon
Menantu Ibu

Menantu Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Nikah Kontrak / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Me Nia

Kontrak kerja Tya di pabrik garmen akan segera berakhir. Di tengah kalut karna pemasukan tak boleh surut, ia mendapat penawaran jalur pintas dari temannya sesama pegawai. Di hari yang sama pula, Tya bertemu seorang wanita paruh baya yang tampak depresi, seperti akan bunuh diri. Ia lakukan pendekatan hingga berhasil diajak bicara dan saling berkenalan. Siapa sangka itu menjadi awal pilihan perubahan nasib. Di hari yang sama mendapat dua tawaran di luar kewarasan yang menguji iman.
"Tya, maukah kau jadi mantu Ibu?" tanya Ibu Suri membuyarkan lamunan Tya.
"HAH?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33 Maaf Dari Hati

Sambil menunggu Diaz datang, Tya memutuskan merapikan dulu tempat tidur Diaz yang berantakan. Wajahnya kembali memanas dan pastinya memerah karena teringat lagi kejadian membangunkan dan yang terlihat bangun lebih dulu justru burung dalam sangkar. "Joko...help! Otak aku patok nih biar bersih."

Suara gagang pintu diputar terdengar jelas oleh Tya bersamaan dengan ranjang super king sudah selesai dirapikan. Sedikit berdebar melihat Diaz yang menutup pintu dan kini mata bertemu mata.

"Tunggu mau ke mana?" Diaz mengikuti arah langkah Tya yang menghindar saat akan didekati.

"Buka tirai, buka jendela dulu. Biar udara segar masuk. Boleh, kan?"

"Buka tirainya pakai ini." Diaz mengambil remot yang ada di meja. Dengan keringat yang belum seberapa, ia duduk di sofa memperhatikan Tya menekan tombol setelah diberitahu tutorialnya.

Tak dipungkiri Tya memandang takjub saat tirai berwarna abu tua bergeser otomatis. Dari kualitas kainnya bisa dibayangkan harga tirai gorden itu jauh bagaikan langit dan bumi dengan gorden yang dipasang di rumahnya. Ini kali pertama ia buka gorden karena kemarin lalu dibukakan dan ditutupkan oleh sang pemilik kamar. "Kalau buka jendela pakai remot juga, Mas?"

"Nggak lah. Pakai tangan. Kan dislot."

"Oh oke-oke." Tya dengan gerak cekatan membuka jendela. Dari empat jendela yang berjajar, dua jendela merupakan kaca mati. Semilir angin sejuk memasuki ruang kamar saat dua jendela lainnya dibuka.

"Kalau mau main ke balkon, kuncinya digantung di ujung gorden. Sibak aja."

Tya menoleh ke arah yang ditunjuk Diaz. "Iya nanti kalau mau." lalu ia menghampiri Diaz dan duduk di ujung sofa berbentuk letter L. "Mas, maaf ya tadi tarik selimut. Aku disuruh Ibu harus bangunin Mas Diaz tiap hari."

"Kenapa harus teriak? Aku kaget tau." Diaz melipat kedua tangan di dada diiringi menatap tajam.

"Sama aku juga kaget soalnya...sudahlah jangan dibahas. Besok-besok aku banguninnya harus cara apa biar Mas Diaz mudah bangunnya. Masukin cicak ke dalam baju atau gimana?"

"Emang kau nggak takut cicak?"

"Nggak dong. Kecoa juga berani aku tangkap asal terlentang dulu si kecoa nya. Ku jewer kumisnya."

Diaz bergidik. "Udah skip. Aku jijik sama dua makhluk itu."

Tya menyeringai. "Jadi dengan cara apa biar mudah bangun?"

"Usap kepala."

"Serius?" Tya menatap tak percaya.

"Coba aja besok. Aku mau mandi." Diaz berdiri lalu melangkah cepat menuju walk in closet.

Tya setengah berlari mengejar langkah Diaz. "Mas....beneran aku harus siapin baju? Katanya kemarin itu bilangnya privasi, nggak boleh buka-buka lemari. Nggak amnesia kan, Mas bos?"

"Situasional aja. Hari ini kau harus belajar mix and match. Biar next time kalau aku sibuk, mendadak harus ke luar kota, kau udah bisa handle urusan wardrobe. Kemeja, jas, dan celana panjang di lemari ini. Per dalaman di laci itu. Aku akan nilai hasil kerja kau setelah mandi." Setelah menunjukkan lemari khusus pakaian formal, juga laci kedua dari deretan empat laci, Diaz berlalu menuju pintu kamar mandi.

Tya menganga sambil mengedip berulang-ulang. "Berat... ini tugas berat. Aku belum pernah urus pakaian laki-laki." Meski mendesah, ia tak urung mendekati lemari baju lebih dulu. Isi pakaian formal itu semuanya berderet dalam gantungan. Membuat mudah melihat warna.

Daripada salah, Tya mengambil ponsel yang tersimpan di meja rias. Bertanya pada Google. "Hari Senin cocoknya ke kantor pakai setelan warna apa untuk pria."

Setelah mendapat petunjuk dari Google, Tya memilih dua setelan—setelan formal dan business casual. Saatnya beralih membuka laci. Terlihat deretan pakaian dalam berupa kaos singlet dan celana yang tersusun rapi digulung seperti terlur dadar. "Oh...size L."

Pintu kamar mandi terbuka. Diaz melihat Tya duduk di ujung sofa sebelah kanan sambil membelakangi. Bibirnya mendadak mengulas senyum samar.

Kenapa pagi ini gua mood swing. Tadi kesel sekarang happy.

Diaz melihat deretan pakaian yang disimpan di ujung sofa sebelah kiri. Memakai pakaian dalam dulu sebelum mengajak Tya bicara.

"Aku udah pakai kaos. Balik badan sini! Kenapa bajunya ada dua?"

Tya memutar badan dengan ragu-ragu. Matanya ditutup dengan telapak tangan yang direnggangkan. Mengintip dulu. Benar, Diaz tidak bohong. Kaos singlet warna putih sudah membungkus badan yang berotot. Dan ke bawahnya masih tertutup handuk.

"Mas Diaz pilih, mau yang formal atau yang semi formal? Kata Google mah yang ini disebut business casual."

"Jadi kau tanya Google?" Diaz mengangkat satu alisnya.

"Iya karna aku belum pengalaman. Kan ada ungkapan malu bertanya sesat di kamar."

"Di jalan."

"Kan ini lagi di kamar." Tya cengengesan.

Diaz geleng-geleng kepala. Yang ini mix nya nggak cocok dengan selera aku. Yang ini oke." Diaz memakai kemeja lengan panjang warna abu tua yang kata Tya disebut business casual. Paduannya dengan celana chinos warna hitam.

"Oke deh. Aku masukin lemari lagi." Tya bergegas mengambil dua gantungan pakaian yang tak terpilih agar tidak kusut.

Kenapa ini anak nggak nanya selera baju formal aku gimana.

"Mas, aku duluan turun ya."

"Nggak boleh. Kata Ibu harus turun bareng. Masih ada Tante Hani sama Ikram."

"Oh iya." Tya duduk kembali di sofa.

"Tadi ngobrol apa sama Ikram? Asyik banget kayaknya." Diaz mengenakan celananya dengan melepas handuk dulu tanpa canggung. Dan Tya sontak memejamkan mata. Membuat Diaz tertawa tanpa suara.

"Mas Ikram tanya soal kapan posting quote terbaru, terus tanya...." Masih dengan mata terpejam, Tya bercerita sejujurnya semua topik pembahasan dengan Ikram tadi. Ringan, lancar, dan tanpa beban.

"Aku udah pakai celana."

Tya membuka mata lalu menoleh. Ia hanya melihat punggung Diaz yang tengah membuka laci kemudian memasang sabuk yang baru saja diambilnya. Hidungnya menghirup aroma wangi maskulin saat laki-laki yang jadi suami kontraknya itu menyemprotkan parfum.

Jadi pengen cosplay jadi si Cumi sama si Luna. Menang banyak itu betina suka didekap di dada Mas Diaz sambil ditium-tium.

"Tya..."

"Hah! Apa?" Tya mengedip setelah pikirannya sedikit oleng ke kiri. Ia harus mendongak karena posisinya masih duduk di sofa saat Diaz melangkah mendekat. Padahal melamun tidak lama tetapi Daddy Cumi sudah menjelma rapi paripurna dari ujung rambut sampai ujung celana.

"Aku disuruh Ibu harus cium keningmu di teras nanti. Soalnya keluarnya barengan sama Tante Hani dan Ikram yang mau pulang ke Bandung."

"Dua juta!"

"Denda tidak berlaku kalau Ibu yang suruh. Denda berlaku kalau aku yang spontanitas cium." Tegas Diaz. "Baca lagi poin tentang 'harus bersikap natural seperti suami istri pada umumnya di hadapan orang lain selain Ibu', nggak amnesia kan?"

Tya mengerucutkan bibir dengan memasang ekspresi lesu. "Iya-iya. Tapi kilat aja ya, Mas. Satu detik. Takutnya kening aku lecet."

"Memangnya bibir aku seperti sikat kawat." Diaz memencet hidung Tya sambil menggeram gemas.

"Aww! Sakit ih." Tya hendak membalas dengan menoyor lengan Diaz, namun orangnya lebih dulu menghindar keluar dari pintu sambil tergelak. "Mau ku laporin sama Ibu. Mas Diaz udah KDRT gitu," sambungnya sambil mengekor dengan tangan mengusap-usap hidung.

Diaz menghentikan langkah dengan tiba-tiba. Membuat kening Tya menabrak punggungnya dan terdengar mengaduh. Ia memutar badan.

"Mana lihat bukti KDRT nya." Tanpa permisi, Diaz menyentuh dagu Tya.Perlahan diangkat sedikit ke atas. Wajahnya mendekat memperhatikan hidung kecil Tya yang mancung. "Nggak lecet, merah dikit aja. Maaf ya...nggak ada maksud kasar. Spontan karena gemas aja." Suaranya berpadu tatapan lembut bentuk permintaan maaf yang tulus dari hati.

1
N I A 🌺🌻🌹
harusnya sih gitu
N I A 🌺🌻🌹
betol betol betol😂😂😂😂
N I A 🌺🌻🌹
tingkah mu mas 😂😂😂😂
N I A 🌺🌻🌹
modus msh jalan ya mas🤭
N I A 🌺🌻🌹
judulnya bikin deg2an, smg mas diaz baik2 aja🤭😂 absen dulu lah mas diaz☝️🤭
Akhila Davina
hmmm... pertanyaan yg yg sengaja buat macing Tya, berharap menjawab "biar aku yg dpingi"🤭
Fatimah Arizky
mas diaz sabar yaa...tya hanya milik mu/Smirk/
💜🌷halunya jimin n suga🌷💜
bolak balik buka aplikasi cuma tungguin otor up......
SriYani
waduuh.. jangan2 berharap didampingi Tya niih wisuda nya..😍
Fatimah Arizky
hadeeehhh tehh...baca nya sampai degdegkan lo teh niaa😄 kya abis meraton puluhan kilo😄🤭
pliess tya dan diaz harus saling rukun dan sellu setia...
rizki harus legowo kalau mmng kau menyukai tya & sayang tya...cinta tqk harus memiliki.😍
wayan sriani
duh jd sedihkan dengar monolog Rizky....Tya jangan baper ya harus ingat ayang swami yg sudah posesif tingkat dewa🥰
Mujib
sabaaaaaar
Mujib
Yaqin lah Tya kalau mas Diaz tidak akan poligami
Sauqy Azieta
terima kasih sudah up kak.
mama nuha
pasti itu tya🤭🤭
Khodijah Cyti
alhamdulillah update🙏🙏
mama nuha
ada aja lah tingkahnya mu diaz🤣🤣
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
srimusvita
kenalin Diaz sm Rizky nya Tya biar kamu minta ditemani Diaz menghadiri wisuda Rizky sekalian bulan madu dan Rizki pun tak sedih...💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!