Diwarnai dengan keegoisan karena didik keras sedari kecil, bukan hanya diterima tempat pendidikan ketika mereka bersekolah di akademi militer. Apakah cinta Agatha dan Jefry bisa mengalahkan sifat ego mereka???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taring Agatha Keluar
Sampai di rumah, Jefry dan Agatha melanjutkan hubungan panas mereka. Pagi - pagi Agatha sudah bangun dan menjalankan rutinitas biasanya.
"Sayang....???"
"Mas, adek disini." Jefry melihat istrinya dia merasa lega. Dia ketakutan Agatha masih marah dan meninggalkannya. Jefry langsung memeluk Agatha dari belakang.
"Mas malu, anggotamu lihat."
"Biarin aja, siapa suruh masih belum punya pasangan."
"Mas,......" Maria susternya Nael hanya tersenyum melihat majikannya.
"Kamu harus hamil deh."
"Hamil??? Ya ampun. Gara - gara tetanggamu idolamu, aku lupa, kalau aku memang sedang hamil."
"Agatha Anastasya???"
"Sori mas???" Mereka langsung ke kamar menunjukan hasil USGnya.
"Hampir satu bulan dek. Sebentar kita periksa mas temani."
"Adek buat janji sama dokter Sandra dulu."
Hasil pemeriksaan kandungan Agatha sehat. Dan sudah hamil dua bulan. Jefry merasa bahagia dan sedih, karena dia tidak bisa memanjakan istrinya di kehamilannya, malah kemarin dia melakukan hubungan dengan kasar, untung Agatha tidak pendarahan, padahal dia sudah memohon kesakitan. Di ruang kerja Agatha, Jefry memeluk istrinya dia menangis dan mencium perut Agatha.
"Maafkan papi sayang."
Papanya Jesica sudah dipindahkan ke rumah sakit umum. Agatha tidak bisa merawat papanya, meskipun pertolongan awal sudah Agatha lakukan. Sampai di rumah sakit umum. Ners disana sangat menyayangkan keputusan keluarga.
"Kenapa di pindahkan?? Dokter Agatha itu bagus. Bahkan kadang jika ada yang rumit masalahnya dokter kami meminta tolong dokter Agatha. Sangat di sayangkan." Perkataan ners di bagian neurologi membuat patah semangat Jesica dan Jeremy juga kekecewaan mamanya mereka.
"Nasi sudah menjadi bubur. Kita berdoa saja."
Hari ini Agatha dengan perut besarnya karena usia kandungannya sudah masuk enam bulan diminta dokter dirumah sakit umum kembali melakukan operasi saraf buat pasien kecelakaan. Waktu menuju ke ruangan operasi, Jesica melihat dari jarak jauh. Dia pun menghampiri Agatha.
"Jangan rasa kamu menang karena saya tidak bisa mendapat Jefry."
"Coba kamu kalau berani mengusik rumah tangga saya. Maka kamu orang pertama yang akan saya lapor, biar kamu dipecat dari profesi kamu."
"Kamu berani."
"Ya saya berani. Kamu cantik namun kalau kamu sebagai pelakor, kecantikanmu tidak akan dilihat apalagi kepintaranmu tidak dianggap. Kamu malah terlihat bodoh dan idiot. Permisi." Agatha meninggalkan Jesica dalam sakit hati.
"Satu lagi. Jangan bermimpi, karena kamu tidak perna dilihat spesial oleh suamiku bahkan dari dia kecil." Agatha tersenyum sinis kepada Jesica, sakit hatinya semakin menjadi. Sehingga semuka mukanya merah sampai kedua telinganya.
Operasi yang berlangsung sekitar dua jam pun berakhir. Di kota ini hanya ada satu dokter spesialis bedah saraf, jadi jika ada pasien yang membutuhkannya dia harus siap. Selesai operasi Jefry sudah berada di depan ruang tersebut menjemput istrinya. Dalam perjalanan pulang Agatha dan Jefry kaget karena mereka bertemu dengan Jeremy adik Jesica dan Mamanya.
"Nak Jefry, dokter tante mohon maaf." Jefry melihat Agatha istrinya.
"Istriku sudah memaafkan. Siapa yang sakit?"
"Papa, kaka Jef, sudah lima bulan disini." Jefry melihat ke istrinya.
"Suami tante, om mu Jef malas buat terapi sudah putus asa."
Dalam perjalanan pulang, Agatha coba berkomunikasi dengan ners yang bertugas di bangsal neurologi. Dan informasi bahwa papanya Jesica tidak bisa bekerja sama, emosinya tinggi. Semua anjuran dokter tidak di jalankan. Dan minggu kemarin serangan stroke ulang terjadi. Untungnya tidak membuat sampai pecahnya pembulu darah.
"Jahat ya papanya Jesica??"
"Waktu kita kecil, iya sih. Yang didengar hanya papa dan mama mertuamu. Istrinya saja dia bisa pukul." Agatha teringat pembicaraan mamanya Jesica dan Jesica sendiri tentang papanya yang punya simpanan. Makanya ketika tahu Jesica rencana mau menganggu rumah tangga Jefry dan dia, mamanya marah sampai menghajar Jesica, untung ada Jeremy adeknya disitu.
"Melamun apa sayang."
"Ngak mas tahu, keributan yang terjadi didepan ruangan ICU antara Jesica dan mamanya? Untung ada adeknya kalau tidak Jesica bisa koma. Di hajar sama mamanya dengan kayu besi bekas pagar taman depan ICU."
"Iya, mas tahu semua."
"Buah itu tidak perna jatuh jauh dari pohon induknya. Dalam kehidupan ini, kita berusaha hidup jujur dan tidak menyakiti orang lain." Jefry menepikan mobilnya dia memeluk Agatha istrinya dan mencium bibirnya dengan mesra.
"Agar kelak, anak - anak kita tidak diperlakukan jahat dengan orang lain ya mas."
"Iya sayang. Saling mengingat jika mas lupa, saling menegor jika mas salah ya dek. Jangan diami mas mu ini."
"Iya mas. Begitu pula ke ade ya mas." Jefry mengangguk.
Kandungan Agatha sudah membesar, dan dia sudah permohonan cuti melahirkan. Begitu pula dengan Jefry mau mendampingi istrinya. Kandungannya sudah mau sembilan bulan. Ulang tahun mereka bertiga di bulan yang sama sudah dirayakan di kediaman rumah komandan. Agatha menyewa catering. Pengucapan syukurnya di gabungkan pada tanggal kelahiran Agatha. Namun dia hari ulang tahun kelima Ezra Nathanael Wibowo tetap dirayakan mengundang anak - anak anggota dan anak - anak gereja. Sedangkan buat papanya hanya didoakan malam hari, dan makan bersama bersama semua anggota di kediaman. Selesai perayaan ulang tahun Nael.
Papa Jesica dan Jeremy tidak tertolong. Semalam sudah mengakhiri pertandingan hidupnya didunia. Sebenarnya papanya Jesica masih aktif berdinas, namun karena keselahannya dia dipecat dari tentara, bukan karena laporan istri, namun komandan menangkap tangan sendiri melihat beliau bersama perempuan lain. Pemakaman papanya Jesica dan Jeremy dihadiri oleh Jefry dan Agatha. Dengan baju kemeja hitam dan celana jins begitu pula Agatha menggunakan dress berwarna hitam, agar dia nyaman dalam kehamilan besarnya ini.
Agatha, Jefry, Nael, Maria dan Christ ajudan Jefry sudah bersiap untuk penerbangan ke Surabaya. Agatha akan melahirkan didokter yang sama yang menolong kelahiran anak pertamanya. Dan seperti kehamilan pertama, kehamilan kedua juga mereka mau tetap dirahasiakan. Namun banyak orang beranggapan bahwa bayi yang di kandungan Agatha perempuan. Karena Agatha sangat manis. Agatha dan Jefry berpikir bahwa mereka tidak melihat betapa cantik dan manisnya Agatha waktu hamil anak pertama.
"Orang - orang ngak tahu, bahwa kehamilan pertama, sayang juga paling manis."
"Iya sampai ada yang menjaga seperti adek ini tahanan." Jefry tersenyum. Dia langsung memberikan ciuman dibibir istrinya didalam pesawat.
"Papi malu, orang lihat loh."
"Kenapa harus malu, ini kan istri papi."
"Sayang mau anak keduanya laki atau perempuan?"
"Laki - laki aja, biar jagoan mami ada tiga."
"Kakak mau adik cewek mami. Yang cantik seperti mami.
"Papi juga mau cewek."
"Nanti mami ada saingannya. Kalau disayang kakak dan papi." Jefry tersenyum kepada Agatha langsung di cubit hidung istrinya.
"Laki atau perempuan sama saja, yang penting lahirnya selamat dan sehat."