Satu pria menghancurkannya hingga tak bersisa. Pria lain datang untuk memungut kepingannya.
Hati Alina Oktavia remuk redam ketika kekasihnya memilih perjodohan demi harta. Ia merasa dunianya kiamat di usia 25 tahun. Namun, semesta bekerja dengan cara yang misterius. Di puncak keputusasaannya, takdir mempertemukannya dengan Wisnu Abraham duda dingin pengusaha tekstil yang telah lama menutup hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama terluka ini menjadi awal penyembuhan, atau justru bencana baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Sepatu Hak Tinggi Dan Medan Perang Baru
Lantai 30 Abraham Tower, Jalan Basuki Rahmat, Surabaya.
Pintu lift berdenting pelan, terbuka dan memuntahkan hawa dingin dari AC sentral yang jauh lebih menusuk daripada angin malam di Rungkut. Alina melangkah keluar. Tidak ada lagi rompi oranye, tidak ada lagi sepatu safety yang berat, dan tidak ada lagi debu kapas.
Hari ini, Alina mengenakan setelan blazer hitam dan rok span selutut yang ia beli dengan sisa tabungannya kemarin sore. Rambutnya masih dicepol rapi—simbol pengekangan emosinya—dan kakinya kini dibalut sepatu hak tinggi lima sentimeter yang berdetak tegas di atas lantai marmer mengkilap.
"Selamat pagi. Saya Alina Oktavia, asisten pribadi baru Pak Wisnu," ucap Alina datar pada resepsionis lantai eksekutif yang menatapnya dengan pandangan menilai.
"Oh, kamu yang dari gudang itu?" Resepsionis itu tersenyum miring, nada bicaranya menyiratkan keraguan. "Pak Wisnu sudah menunggu di dalam. Hati-hati, mood-nya sedang buruk pagi ini. Sekretaris lama meninggalkan kekacauan jadwal meeting."
Alina tidak membalas senyum sinis itu. Ia hanya mengangguk singkat dan berjalan lurus menuju pintu ganda dari kayu jati yang kokoh.
Di dalam ruangan yang luas dengan pemandangan panorama kota Surabaya itu, Wisnu Abraham duduk di balik meja kerjanya yang besar. Wajahnya keruh. Ia sedang membolak-balik berkas dengan kasar.
"Masuk," perintah Wisnu tanpa mendongak saat Alina mengetuk pintu.
Alina berdiri di depan meja. "Selamat pagi, Pak."
Wisnu melempar sebuah tablet ke arah Alina. "Jadwal saya hari ini berantakan. Asisten lama saya lupa mengonfirmasi makan siang dengan klien dari Jepang, dan data penjualan triwulan ketiga belum direkap. Kamu punya waktu dua jam sebelum meeting internal dimulai. Bereskan."
Itu bukan permintaan. Itu ujian.
Alina menangkap tablet itu dengan sigap. Ia tidak bertanya "bagaimana caranya" atau "siapa kontaknya". Ia tahu, di level ini, bertanya hal dasar adalah tanda ketidakmampuan.
"Baik, Pak. Ada lagi?"
Wisnu akhirnya mendongak, sedikit terkejut karena tidak mendengar keluhan. "Kopi. Hitam. Tanpa gula. Jangan sampai tumpah di berkas saya."
Alina berbalik badan dan langsung bekerja.
Dua jam berikutnya adalah neraka kecil bagi orang biasa, tapi bagi Alina, ini hanyalah bentuk lain dari manajemen gudang. Bedanya, yang ia atur bukan gulungan kain, melainkan ego manusia dan waktu.
Alina duduk di meja kerjanya yang terletak tepat di depan ruangan Wisnu. Telinganya menjepit telepon, tangannya mengetik di komputer, dan matanya membaca data di tablet sekaligus.
"Halo, selamat pagi, Pak Tanaka. Saya Alina, asisten baru Pak Wisnu. Mohon maaf sekali, ada pergeseran jadwal sedikit... Ya, saya mengerti Bapak sibuk. Bagaimana kalau kami upgrade reservasi makan siangnya ke Private Room di Shangri-La? Tentu, tagihan company account... Baik, terima kasih pengertiannya."
Klik. Satu masalah selesai.
Alina beralih ke rekap data. Ia membuka file Excel yang ditinggalkan sekretaris lama. Berantakan. Rumusnya salah semua. Alina mendengus. Dengan kecepatan mengetik yang sudah terasah di gudang, ia memperbaiki pivot table, menyinkronkan data dari server, dan mencetak laporannya dalam waktu 45 menit.
Tepat pukul 10.00, pintu ruangan Wisnu terbuka. Pria itu keluar sambil membenarkan dasinya, siap untuk marah jika persiapannya belum selesai.
Namun, sebelum Wisnu sempat membuka mulut, Alina sudah berdiri dan menyodorkan sebuah map biru rapi dan secangkir kopi yang masih mengepul hangat.
"Laporan penjualan triwulan sudah saya rekap dan saya tandai bagian yang mengalami penurunan, Pak," ucap Alina dengan nada monoton. "Pak Tanaka setuju memundurkan jadwal makan siang ke jam satu di Shangri-La, saya sudah pesankan menu omakase kesukaannya. Dan ini kopi Bapak. Hitam, tanpa gula."
Wisnu terdiam. Ia mengambil map itu, membukanya. Rapi. Sangat rapi. Bahkan ada sticky notes kecil berwarna kuning yang memberikan ringkasan poin penting, sesuatu yang tidak pernah dilakukan asisten sebelumnya.
Ia menyesap kopinya. Suhunya pas. Rasanya pas.
Wisnu menatap Alina. Gadis itu berdiri tegak, wajahnya tanpa ekspresi, menunggu instruksi selanjutnya. Tidak ada senyum genit, tidak ada upaya mencari pujian.
"Kamu menyelesaikan semua ini dalam dua jam?" tanya Wisnu, menyembunyikan rasa kagumnya.
"Satu jam empat puluh lima menit, Pak," koreksi Alina.
Sudut bibir Wisnu terangkat sedikit. Sangat tipis. "Bagus. Ikut saya ke ruang rapat. Kamu yang jadi notulen."
Sepanjang hari itu, Alina menjadi bayangan Wisnu. Ia duduk di pojok ruang rapat, mencatat setiap poin penting, menyiapkan dokumen sebelum diminta, dan bahkan dengan berani memotong pembicaraan seorang manajer pemasaran yang bertele-tele dengan menyodorkan data real yang membantah argumen manajer tersebut.
Aksi itu membuat seisi ruang rapat hening. Manajer itu wajahnya merah padam karena dipermalukan oleh "anak baru", tapi Wisnu justru tampak puas.
Sore harinya, saat matahari mulai terbenam dan kantor mulai sepi, Alina masih duduk di mejanya, merapikan jadwal untuk besok.
Pintu ruangan Wisnu terbuka. Pria itu keluar, menenteng jasnya. Ia berhenti di depan meja Alina.
"Pulanglah. Sudah jam tujuh," kata Wisnu.
"Sedikit lagi, Pak. Saya sedang mempelajari profil klien untuk besok."
Wisnu bersandar pada pinggiran meja Alina, menatap gadis itu lekat-lekat. Selama lima tahun terakhir, banyak wanita yang mencoba duduk di kursi itu. Ada yang cantik tapi bodoh, ada yang pintar tapi terlalu baper, ada yang kerjanya hanya menggoda Wisnu berharap dijadikan istri pengganti.
Tapi Alina... Alina berbeda.
Gadis ini bekerja seperti mesin. Efisien, dingin, dan mematikan. Tapi di balik tatapan mesin itu, Wisnu melihat api. Api ambisi yang membara.
"Kamu tidak lelah?" tanya Wisnu. "Dari gudang panas, langsung loncat ke tekanan tinggi begini?"
Alina berhenti mengetik. Ia menatap Wisnu.
"Lelah itu untuk orang yang punya tempat pulang, Pak. Saya tidak punya."
Jawaban itu membuat Wisnu tertegun. Kalimat itu... kalimat yang sama persis pernah ia ucapkan pada dirinya sendiri saat istrinya baru meninggal dan ia gila kerja.
Wisnu merasakan sesuatu berdesir di dadanya. Bukan cinta—belum—tapi rasa ketertarikan yang kuat. Rasa penasaran terhadap misteri bernama Alina Oktavia. Ia ingin tahu apa yang membuat gadis semuda ini memiliki jiwa setua dan sekeras itu.
"Kamu menarik, Alina," gumam Wisnu pelan.
"Maaf, Pak?"
"Tidak," Wisnu menegakkan tubuhnya kembali. Wajahnya kembali datar dan berwibawa. "Besok saya ada undangan pesta gala dinner kolega bisnis. Asisten harus ikut mendampingi. Siapkan gaun yang layak. Jangan pakai hitam-putih seperti pelayan restoran."
"Baik, Pak. Ada kriteria warna?"
"Merah," jawab Wisnu spontan, teringat warna gaun Alina saat pertama kali ia hampir menabraknya di jalan enam bulan lalu. "Merah marun. Itu cocok buat kamu."
"Dimengerti."
"Dan Alina..." Wisnu menatap mata gadis itu dalam-dalam. "Selamat datang di liga utama. Di sini musuhnya bukan debu, tapi serigala berbulu domba. Pastikan gigimu cukup tajam."
"Bapak tidak perlu khawatir," jawab Alina dengan sorot mata yang membuat Wisnu merinding kagum. "Saya sudah mengasah gigi saya selama enam bulan di neraka."
Wisnu tersenyum miring, lalu berjalan menuju lift.
Sepeninggal Wisnu, Alina menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia menghela napas panjang. Kakinya sakit karena sepatu hak tinggi, otaknya lelah. Tapi ia merasa puas.
Wisnu Abraham mulai mempercayainya.
Alina membuka laci mejanya, mengambil ponsel, dan membuka akun Instagram palsunya. Ia melihat postingan terbaru Sisca Angela: foto USG janin berusia 4 minggu dengan caption "Our little angel is coming soon."
Sisca hamil.
Tangan Alina gemetar, tapi bukan karena sedih. Ia meremas ponselnya.
"Hamil-lah," bisik Alina pada layar ponsel. "Bahagialah setinggi-tingginya, Sisca. Karena semakin tinggi kalian terbang, semakin sakit saat aku hempaskan nanti."
Alina menutup laci mejanya dengan kasar. Besok adalah gala dinner. Panggung pertamanya. Dan ia akan memastikan bahwa ia tampil sempurna, cukup sempurna untuk mulai menarik perhatian dunia, dan menghancurkan dunia Rendy Angkasa.