Yitno... Ya namanya adalah Suyitno, seorang laki-laki berusia 36 tahun yang tak kunjung menikah. Ia adalah pemuda baik, tetapi hidupnya sangat miskin dan serba kekurangan.
Baik itu kekurangan ekonomi, pendidikan, wajah dan masih banyak hal lainnya yang membuatnya merasa sedikit putus asa dan berkecil hati. Ia tinggal bersama ibunya yang seorang janda.
Ia pemuda yang rajin dan tak malu bekerja apapun. Iman dan mentalnya berubah semenjak ia menghitung usianya, dan melihat teman-teman sekampungnya yang semuanya sudah berkeluarga. Ia malu, ia pun ingin menikah tetapi tak ada seorang gadis pun yang mau dengannya.
Semua gadis seperti menghindarinya, entah karena Ia miskin, atau karena ia tak rupawan, atau mungkin karena keduanya. Hingga suatu hari ia bertemu dengan seorang kakek yang akan merubah hidupnya.
apakah yang akan dilakukannya? ikuti terus kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celoteh Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selidik
Sore hari, Yitno termenung memikirkan cara menghadapi dukun bernama Mbah suro itu. Setelah sekian lama berfikir sambil boker, Akhirnya ia memiliki ide cemerlang tentang bagaimana ia menangani dukun tersebut.
Selepas magrib Yitno langsung beraksi. Ia mendatangi rumah dukun tersebut yang lumayan agak jauh. Tak lupa ia melilitkan kain kafan itu di perutnya. Butuh waktu 20 menit baginya sampai kesana dengan berjalan kaki.
Akhirnya ia sampai, tampak sebuah rumah yang terbuat dari lembaran papan tepat di depan sebuah perkebunan karet. Rumah itu berdiri sendiri tanpa ada tetangga.
Perlahan Yitno mendekati rumah tersebut, ia mengintip dari sela-sela antara dinding papan yang menyatu. Tampak seorang kakek sedang duduk menonton televisi seorang diri di temani segelas kopi dan secangkir kopi.
Di depan rumah tersebut tepatnya di teras tanah terdapat sebuah amben, sejenis bale yang terbuat dari kayu dan papan untuk duduk dan bersantai. Yitno lalu meletakkan sesuatu di amben tersebut, lalu mengetuk pintu rumah itu..
"Tok...tok...tok...."
Mbah suro yang sedang menonton televisi mengecilkan volume tv nya sembari menoleh ke arah pintu, ia tetap duduk tanpa beranjak berdiri..
"Tokk..tok...tok..."
Sang Mbah mengerutkan keningnya...
"Gak ada suara orang permisi memanggil? Apa medi? " Sang Mbah itu sedikit bingung "Siapa...!!" Ucap si embah sedikit berteriak
Yitno tak menjawab ia terus mengetuk pintu itu, hingga Mbah Suro membukakan pintu.. Terlihat Mbah suro tolah toleh melihat di sekitarnya tapi tak ada siapa pun...
"Hmm..Mbah ini ternyata gak bisa ngeliat aku...ternyata dia gak sesakit yang ku takuti.." gumam Yitno dalam hati
Mbah Suro melihat sebuah plastik yang tergeletak di amben terasnya, dengan penuh curiga ia mendekati plastik tersebut dan mengambilnya, belum saja ia membukanya terdengar suara...
"Duduk Mbah, aku mau ngomong..!!" Ucap Yitno yang membuat Mbah suro bingung tolah toleh ia hendak kabur masuk ke dalam rumahnya...
"Saya bilang duduk saya mau ngomong..!!" hardik Yitno lebih keras
Mbah suro dengan perasaan takut dan bingung perlahan menyandarkan bokongnya di amben yang di lapisi tikar anyaman tersebut.
"Si..siapa kamu...? Tunjukan wujudmu...!!" Ujar Mbah suro sembari menoleh mencari arah sumber suara
"Ada yang mau saya tanyakan sama Mbah, apa permintaan Tarman dan istrinya kepada Mbah?"
Mbah suro mengerenyitkan keningnya. "Kamu jin, atau manusia? Tunjukan wujudmu..!"
"Mbah gak berhak bertanya, Mbah cukup jawab pertanyaanku. Aku bisa aja bunuh Mbah sekarang juga. Kita gak usah berdebat masalah itu! Jadi jawab pertanyaanku tadi!" Tegas Yitno sekali lagi
"Apa urusanmu? Siapa kamu? Apa kau pelakunya?"
"Aku tau Mbah punya dua cucu perempuan, kalau Mbah gak mau dengerin ucapanku, besok pagi Mbah bisa ngeliat mayat cucu Mbah itu. Malam ini juga saya akan bunuh mereka. Apa Mbah masih mau tanya tanya lagi? Kalau memang itu mau Mbah saya pamit sekarang..." Ancam Yitno
"Ja..jangan..jangan saya mohon.. iya istrinya Tarman benar kemari, dia minta Mbah buat nyari siapa pelaku pembongkaran makam putrinya itu, besok mereka kemari membawa syarat yang sudah saya berikan."
"Hmm, Mbah udah tua, gak usah ikut campur masalah ini. Besok katakan kepada mereka jika pelaku yang sudah membongkar kuburan anaknya sudah pergi dari sini. Dia keluar kota dan meninggal karena kecelakaan.
Mbah gak perlu ikut campur, inget cucu Mbah..jika saya marah semuanya akan saya bunuh. Itu di plastik ada hadiah buat Mbah. Anggap itu itikad baik dari saya. Dan jangan macam-macam." Ucap Yitno lalu pergi meninggalkan Mbah suro yang masih terduduk diam.
Mbah suro perlahan membuka plastik hitam yang ternyata uang senilai sepuluh juta.
***
Keesokan harinya..
"Pak...Pak..! Cepetan lho" teriak istri Tarman yang sudah berada di kursi teras depan menunggu suaminya.
"Iya..ayok buk, kita berangkat"
Ya! malam itu, sekitar pukul 19.00 Tarman dan istrinya hendak pergi berkunjung ke rumah Mbah Suro, tampak istri Tarman memegang sebuah kantong plastik berwarna hitam. Plastik itu berisi syarat yang di minta oleh Mbah Suro.
Sepeda motor melaju perlahan di jalanan berbatu kasar yang belum di aspal halus khas pedesaan.
"Gak ada yang ketinggalan kan buk semua syaratnya?" Tanya Tarman kepada istrinya sembari mengendarai sepeda motor.
"Gak pak, udah aku bawa semua."
Sementara itu, Yitno sedang bersantai di warungnya yang belum terpasang pintu, ia sibuk memasang kabel lampu, sekedar mencicil pekerjaan agar tidak repot nantinya..
"Mas Yitno..." Sapa Tarman dan istrinya tersenyum
"Oh iya lek..." Jawab Yitno
"Mau kemana mereka? Apa jangan-jangan menemui Mbah Suro? Aku harus memastikan bahwa Mbah Suro tak membantu mereka dan mengikuti kemauanku!" Batin Yitno segera bergegas masuk ke dalam rumahnya. Ia langsung memakai kain kafan andalannya itu dan ia lilitkan di perutnya, tak lupa ia membawa sebilah parang.
"Kalau Mbah suro memberitahu, atau menerima permintaan lek Tarman.. Terpaksa aku harus membunuhnya. Aku tak punya pilihan lain." Batin Yitno bertekad dan langsung berlari ke arah rumah Mbah Suro melewati dan menerobos halaman belakang rumah para warga mencoba mencari jalan pintas tercepat.
Tak lama ia sudah berada di dekat rumah Mbah Suro... Terlihat Tarman dan istrinya baru saja sampai. Yitno sedikit bernafas lega, sepertinya Tarman dan istrinya itu juga baru saja sampai.
"Kok mereka baru nyampe? Kan naek motor? Hmm.. apa mampir ke warung dulu, beliin rokok buat Mbah Suro?" Batin Yitno
Yitno lalu berjalan perlahan mendekati rumah itu, ia menguping pembicaraan dari sela dinding papan rumah tersebut. Tarman dan istrinya duduk di ruang tamu beralaskan tikar anyaman..
"Ini Mbah aku bawa rokok, gula sama kopi buat Mbah..sama ini syarat yang Mbah minta kemarin" ucap istri Tarman
Mbah Suro hanya diam tak menjawab, tampak wajah ketakutan dan kekhawatiran terpancar jelas dari ekspresinya.
"Emm..jadi gimana Mbah, apa bisa Mbah nyari tahu siapakah pelakunya malam ini juga?"
"Bi..bisa, tunggu sebentar..." Jawab Mbah Suro ia lalu beranjak kebelakang membuat dua gelas teh manis dan di berikan kepada Tarman dan istrinya..
Lalu sang Mbah pamit masuk ke dalam kamarnya
"Silahkan diminum, saya bawa syaratnya ini ke kamar sebentar ya. Kalian tunggulah sebentar." Ucap Mbah suro
"Oh..iya Mbah, silahkan..kami tunggu kok." Jawab Tarman,
Yitno memicingkan matanya..."Mau apa Mbah itu? Kalau sampe dia ngasih tau terpaksa tiga orang ini saya bunuh semua!" Batinnya
Mbah suro yang berada di kamarnya, duduk di pinggir dipan tempat tidurnya, perlahan ia membuka kantong plastik hitam yang berisi daleman, foto dan tanah kuburan.
Ia menaruh kantong plastik tersebut lalu ia menyalakan sebatang rokok, mbah Suro tak melakukan ritual apapun, ia hanya duduk diam menghabiskan rokoknya..
Setengah jam kemudian Mbah Suro keluar dari dalam kamarnya menuju ruang tamu menemui Tarman dan istrinya.
"Gimana Mbah? Apa sudah tahu siapa pelakunya?"
"Pelaku itu sudah mati, dia ada di luar kota. Mungkin setelah kejadian itu dia langsung pergi ke kota, dia meninggal kecelakaan motor." Jawab Mbah suro
Terlihat Tarman dan istrinya saling pandang
"Pelakunya, Warga kampung saya bukan Mbah?" Tanya Tarman
"Bukan, dia bukan berasal dari sini. Kalian tak mengenalnya. Menurut Mbah masalah ini tak perlu di perpanjang. Pelaku itu sudah menerima karmanya."
Yitno merasa lega, Mbah suro tak berani mengatakannya, dan mungkin Mbah suro pun tak mencari tahu tentang siapakah pelakunya..Tiba-tiba terdengar suara knalpot sepeda motor yang lumayan berisik..
Yitno memperhatikan, ternyata Hendro temannya saat SD dahulu, Hendro adalah anak bungsu dari Mbah Suro. Hendro bersama kedua putrinya berkunjung ke rumah ayahnya yang tak lain adalah Mbah suro itu sendiri.
"Oh ya udah Mbah, udah malem, kami pamit dulu..ini Mbah ada sedikit rezeki buat beli rokok" ucap istri Tarman memberi sebuah amplop.
"Gak usah, beneran...di simpen aja. Saya gak mau Nerima. Udah di bawa aja...makasih udah dikasih rokok sama kopi tadi."
"Matursuwon Mbah...kalau gitu kami pamit Mbah"
"Iya iya..hati-hati.."
Setelah Tarman dan istrinya pulang, Yitno merasa tenang ia tak harus membunuh siapapun. Tapi Yitno seperti masih tak puas, ia memutuskan tetap di situ.
"Kok firasat aku gak enak ya? Kayak ada yang gak beres..tapi apa ya?" Batin Yitno berfikir
"Sial...!!! Mbah itu masih mau nyari tau soal aku pasti.. iya syarat itu kenapa gak dia pulangin sama lek Tarman dan istrinya? Cari mati Mbah itu..!! Buat apa dia celana dalam Lastri? Mau di simpen gitu aja? Gak mungkin, pasti dia mau cari tau tentang aku kalau gak nyantet aku!."
"Mbah...!!!" Teriak kedua anak Hendro berlari dari teras memeluk Mbah suro..
"Weh putu (cucu) Kakung udah gede-gede ya, mana ibuk kok gak di ajak?" Ucap Mbah Suro
"Lagi nonton sinetron kesukaannya pak, gak mau ikut tadi, itu siapa pak yang barusan dateng,?" sahut Hendro
"Orang kampung sebelah, yang kain kafan anaknya di curi itu."
"Ohh..itu to orangnya? Terus minta tolong apa dia sama bapak? Bukannya pelakunya udah mati ya pak, Mbah di rawa angker itu kan pelakunya?"
"Hmm..bukan orang itu pelakunya.." jawab Mbah suro yang membuat Yitno memicingkan matanya mendengar itu...
"Mbah ini bisa tau kalau Mbah di rawa angker itu bukanlah pelakunya?" batin Yitno curiga
"Hah...!!! Bukan pak? Terus siapa?"
"Sssttt...!!! Nanti bapak ceritain, yang jelas orang itu masih sekampung sama dia."
Yitno pun semakin panik mendengar itu semua...