Kemandirian Nayanika Gentari Addhitama mulai terkikis karena seorang lelaki yang 10 tahun lebih tua darinya, Erza Naradipta. Pesona lelaki yang dipanggil paman itu tak terbantahkan. Demi sebuah benih suka yang tumbuh menjadi cinta membuat Nika rela menjadi sosok lain, manja dan centil hanya untuk memikat lelaki yang bertugas menjaganya selama kuliah di luar negeri.
Akankah cinta Nayanika terbalaskan? Ataukah Erza hanya menganggapnya sebagai keponakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Begitu Manis
"I Miss You."
Mata Nika mengerjap dengan cepat. Lalu, meletakkan punggung tangannya di kening Ezra. Memastikan suhu tubuh lelaki itu normal.
"Paman lagi enggak demam kan?" Ezra pun berdecak kesal.
Sudah susah payah mengatakan kalimat itu malah responnya di luar dugaan. Gadis di hadapannya selalu saja menguji kesabaran
"Kembali ke apartment."
Nika memundurkan tangannya karena sang pengawal hendak menariknya. Menggeleng dengan begitu cepat.
"Baru tiga hari," ujar Nika sambil menunjukkan tiga jarinya.
"Nayanika--"
"Tinggal empat hari lagi. Tahan dulu ya kangennya."
Nika pun berlari menjauhi Ezra dengan senyum yang begitu lebar. Bahagia? Sudah pasti. Beda halnya dengan Ezra yang kembali mengerang kesal. Sekarang gadis itu bagai belut, sulit untuk dipegang.
Dipandangnya layar ponsel di mana wallpaper ponselnya adalah foto Ezra yang dia ambil diam-diam. Begitu tampan dan dewasa. Nika sungguh jatuh cinta pada sosok lelaki yang sikapnya hampir mirip dengan sang papi. Namun, dia juga sadar akan banyak perbedaan di antara mereka nantinya. Usia yang jauh berbeda, serta strata sosial.
Perempuan jika sang lelaki sudah mulai mendekat akan melakukan tarik ulur, tapi Nika tak akan melakukan itu. Lebih baik jujur akan perasaan walaupun pelan-pelan. Nika juga tahu jikalau Ezra bukan tipe lelaki yang mudah mengatakan perasaan secara blak-blakan.
Setelah mengatakan kalimat keramat, tak ada yang berubah dari sosok Ezra. Tetap seperti dulu. Dan Nika hanya bisa membuang napas kasar.
"Berharap apa sih?" Kesal sendiri.
Mencintai lelaki modelan kulkas berjalan harus penuh kesabaran. Terkadang tak sesuai dengan yang diharapkan. Ini yang Nika inginkan dan harus bisa berdamai dengan kenyataan.
Waktu terus berputar dan sama sekali tak ada kabar. Sungguh hatinya teramat kesal. Sudah waktunya makan siang. Rasanya enggan untuk keluar. Tapi, Lucy dan Meilan terus memaksa untuk makan di sekitaran kampus.
Baru saja duduk, seorang kurir datang dan memberinya paper bag dari kedai teh susu yang biasa Nika minum. Dan tak lama seorang pramusaji sudah membawa makanan untuk Nika.
"Saya belum pesan," ucap Nika sopan.
"Tapi, makanan; ini sudah dipesan seseorang untuk Anda."
Hah?
Lucy dan Meilan saling pandang. Sedangkan Nika tengah mencari ponselnya karena ada getaran dari dalam tas. Nama sang pengawal tertera di layar.
"Ya--"
"Makanan buat kamu sudah saya pesan. Dan bill tagihan makan siang kalian bertiga saya yang bayar."
Nika tersenyum dan tak lupa mengucapkan terimakasih. Nika sudah underestimate kepada Ezra. Ternyata ada hal tak terduga yang lelaki itu lakukan. Sungguh di luar ekspetasinya karena begitu manis.
"Kenapa?" tanya Lucy yang penasaran melihat wajah Nika yang berbinar.
"Silahkan pesan makan siang apa aja. Kalian enggak perlu bayar."
"Serius?" Nika mengangguk. Senyum gadis itu melebar ketika melihat antusiasme kedua sahabatnya dalam memilih makanan.
Selang sepuluh menit, dua orang lelaki berpakaian formal masuk ke kedai. Meilan menyenggol lengan Nika yang tengah asyik menikmati makan siang.
"Itu bukannya paman kamu dan orang yang ngajak kamu bicara tempo hari?" Nika mengikuti arah pandangan sang teman.
Nika hanya mengangguk dengan mata yang menatap dalam kearah Ezra yang juga menatapnya. Gadis itu tersenyum ke arah sang pengawal. Tak ada senyum balasan. Sayangnya, dia lupa jika pengawalnya itu jelmaan manekin hidup yang ditempel kulkas dua pintu.
Jarinya sudah sangat gatal ingin mengirimkan pesan kepada lelaki yang begitu datar bak papan bangunan. Tapi, dia harus menahan. Menunggu lelaki itu mengambil inisiatif lebih dulu.
Ujung mata Ezra terus menatap ke arah Nika yang begitu asyik berbincang dengan kedua temannya. Gadis yang ceria itu sangat cantik walau hanya dengan make up tipis. Wajahnya yang kecil serta senyumannya yang manis membuat mata Ezra tak bisa berpaling.
"Pak bos!"
Suara Chandra membuat Ezra berdecak kesal. Begitu mengganggu. Atensinya pun mulai beralih pada sang asisten yang ada di depannya. Telinga mendengarkan, tapi jari mulai mengetikkan sesuatu.
"Kalau ada yang diinginkan bilang aja."
Nika yang sudah membaca pesan sang pengawal mulai melengkungkan senyum. Ternyata manekin hidup itu bisa juga berkata manis.
Ketika Nika beranjak, Ezra pun ikut beranjak Bukan untuk pergi melainkan untuk membayar tagihan makanan Nika dan dua temannya. Chandra berdehem ketika lelaki itu kembali ke meja. Seperti biasa Ezra tak akan meladeni tatapan Chandra. Mengorek informasi terhadap Ezra begitu sulit.
.
Baru saja meregangkan otot karena tugas yang menggunung, ponselnya bergetar dan nama seseorang muncul di layar.
"Turun!"
Hanya satu kata, dan panggilan pun diakhiri. Sontak decakan kesal keluar dari bibir Nika. Dilihatnya jam di ponsel yang sudah menunjukkan angka sembilan. Gadis cantik itu menuruti perintah sang pengawal. Lelaki dengan pakaian formal seperti biasanya sudah berdiri menunggunya. Mereka berdua sudah saling berhadapan, tapi tak ada yang memulai percakapan.
Dahi Nika mengkerut ketika melihat Ezra melepas jas hitam yang dia gunakan. Tubuhnya menegang ketika jas itu dipakaikan di pundaknya.
"Kita makan mie di kedai depan."
Nika tersenyum ketika lelaki itu sudah berjalan di sampingnya. Hening, tapi mampu membuat Nika bahagia. Tempat yang mereka tuju cukup ramai. Dengan sangat sigap Ezra menjaga gadis itu, tak membiarkan tubuh Nika tersenggol oleh pengunjung lain.
Wajah bahagia nampak begitu jelas ketika semangkuk ramen sudah ada di depannya. Nika pun sudah sangat tidak sabar untuk menyantapnya. Tak ada obrolan, tapi siluet bahagia terpancar dari keduanya.
"Kenyang!" Ezra pun tersenyum tipis mendengar ucapan Nika.
Lelaki itu mulai berdiri diikuti Nika. Tangan Ezra yang tetiba menggenggam tangan Nika membuat gadis itu sedikit terkejut. Tidak dengan Ezra yang dengan santai sudah menarik tangan Nika keluar dari kedai. Terus saling menggenggam sampai tiba di depan asrama.
Nika yang biasa aktif kini menjadi manusia pasif. Hanya saling pandang tanpa bisa berucap..
"Masuk gih. Udah malam," titah Ezra dengan tatapan teduh. Nika pun mengangguk.
Lelaki itu membantu Nika melepaskan jas miliknya yang ada di bahu gadis cantik di hadapannya. Kembali dua insan itu saling pandang.
"Selamat mal--"
Cup!!
Nika sudah berjinjit mengecup pipi Ezra Naradipta membuat tubuh lelaki itu mematung. Wajahnya nampak syok.
"Selamat malam, Gege."
Semakin menegang-lah tubuh Ezra mendengar panggilan yang berubah dari seorang Nayanika. Terdengar begitu manis. Sedangkan gadis cantik nan nakal itu sudah berlari menjauhi Ezra dan segera masuk ke asrama.
"Gege," ulang Ezra sambil tersenyum dan memegang pipi yang Nika kecup.
**** BERSAMBUNG ****
Boleh kali minta komennya...
wes angel klo udh dalam pengawasan elang kaga bakal bisa nemuin dah ntar si paman🤭
dan .... kira-kira Nika pergi ke mana ya .
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍
lanjut terus kak semangat moga sehat slalu 😍😍😍